Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah selalu menjadi perbincangan hangat bagi masyarakat Minangkabau. Akan tetapi, secara utuh, dalam pemahaman kolektif masyarakat Minang, pemahaman tentang apa sebenarnya syara’ belum dapat diurai dan diungkai ke dalam bentuk yang komprehensif. Bagaimanakah syara’ bisa secara sempurna menjadi sendi-sendi adat? Pemahaman apa pula yang bisa dijadikan prinsip oleh orang Minang terhadap istilah: adat manurun, syara’ mandaki; syara’ mangato, adat mamakai? Bagaimana memaknai kitabullah?Apakah yang dimaksud di sana kitabullah atau justru khitābullah?  Diperlukan pendekatan yang terukur untuk mangaruak sahabih gauang seputar penafsiran apa yang digunakan orang Minang ketika akan memahami syara’sebagai sendi adat.

Pengertian Syara’

Syara’ secara bahasa (etimologi) adalah sebuah jalan lurus menuju sumber air untuk kebutuhan minum bagi orang yang tinggal di gurun. Syara’ berarti solusi bagi kebutuhan seseorang akan air. Singkatnya, tanpa air orang yang tinggal di gurun tidak akan bisa melangsungkan hidupnya. Hukum alamnya demikian. Sedangkan makna akhir (terminologi) syara’ (lebih tepat menggunakan syari’ah) adalah titah Allah kepada hamba-Nya dalam seluruh aspek perbuatan seperti aqidah, ibadah, mu’amalah, dan akhlak.

Satu pertanyaan muncul di titik ini: aspek mana saja dari syara’ yang menjadi sendi adat di Minangkabau? Apakah semua aspek dari syara’—aqidah, ibadah, mu’amalah, dan akhak—ataukah sebagian atau salah satu saja? 

Sepertinya, pertanyan ini tidak bisa dijawab dengan cepat. Sebab, realitasnya kekuatan Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (ABSSK) ini belum sampai pada tingkat yang sudah bisa dijadikan sumber hukum adat. ABSSK hanya falsafah yang kalau ditelusuri sejarahnya, belum bisa dipastikan, kapan dan atas dasar apa sesungguhnya falsafah ini disosialisasikan? Siapa saja pihak yang berkompeten hadir dalam forum penetapannya? Serta sejumlah pertanyaan lain yang mungkin muncul atas hal ihwal ABSSK ini. 

Pertanyaan-pertanyaan di atas menjadi relevan karena pengertian dari syara’ sendiri mengalami perkembangan. Terhadap aspek ibadah dan muamalah, secara khusus sudah ada kajiannya berupa fikih. Sementara, terhadap aspek aqidah berkembang ilmu kalam (theologi) yang membahas relasi hamba dan Tuhan. Sedangkan dalam aspek akhlak, berkembang menjadi ilmu tasawuf. Jadi, sekali lagi, aspek syara’ mana yang menjadi sendi adat dalam konteks ABSSBK tersebut?

Baca Juga:  NU dan Upaya Diseminasi Islam Nusantara (1)

Persoalan ini barangkali sangat perlu kembali diungkai sehingga terbentuk kerangka budaya atau hukum yang jelas dari ABSSK. Sebagai pendekatan awal, persoalan ini dapat didekati melalui pengenalan secara mendalam terhadap orientasi dari syara’. Sebagai sebuah sistem, Syara’ tidak tercipta secara kebetulan, tetapi dengan asas dan tujuan untuk mewujudkan maksud-maksud tertentu yakni mencapai mashlahat atau kesejahteraan bagi manusia. Mashlahat ada yang bertujuan untuk mewujudkan manfaat, kebaikan, kesenangan untuk manusia yang disebut (membawa manfaat) dan ada juga yang bertujuan untuk menghindarkan manusia dari kerusakan (menolak kerusakan). Adapun yang menjadi ukuran untuk menentukan baik-buruknya (manfaat dan mafsadat) sesuatu yang dilakukan adalah apa yang menjadi kebutuhan dasar bagi kehidupan manusia (secara berurutan disebut kebutuhan primer, sekunder, dan tertier).  

Orientasi Syara’

Orientasi syara’, atau dalam penamaan pakar ushul fikih disebut maqāshidu al-syarī’ah, tidak dapat dipahami kecuali dengan mengetahui apa yang dimaksud oleh syara’ dalam teks yang menjadi dalil penetapannya, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah. Maksud syara’ itu bertujuan untuk memelihara akal, agama, jiwa, keturunan, dan harta yang dikenal dengan Dharuriyah al-Khamsah

Adapun pengertian maqashid al-syari’ah secara terminologi telah dikemukakan oleh beberapa ulama ushul fikih. Dari penjelasan pakar seperti al-Ghazali, al-Syathibi, dan Abdul Wahab Khalaf, definisi maqāṣid al-syari’ah dapat diredaksikan sebagai berikut: Tujuan yang dikehendaki pembuat Syara’ dan rahasia-rahasia yang ditetapkan-Nya pada setiap hukum dari hukum-hukum-Nya. 

Prinsipnya adalah memberlakukan suatu hukum yang bertujuan untuk kemasalahatan bagi hamba Tuhan baik di dunia dan akhirat dengan cara meraih kemanfaatan dan menolak kemudharatan. Pengertian ini didekati dengan ilmu ushul fikih yang melingkupi aspek ibadah dan muamalah. Pengertian ini tentu akan berkembang bila didekati dari aspek Aqidah dan Akhlak.

Dapat dijabarkan, bahwa, tujuan dari perintah pelaksanaan Shalat adalah untuk mengingat atau terus berintegrasi dengan Allah melalui sejumlah ibadah, berdasarkan firman-Nya: laksanakanlah shalat untuk mengingatku. Berikutnya terdapat rahasia dari shalat, yakni mencegah perbuatan keji dan munkar, berdasarkan firman-Nya: Sesungguhnya shalat mencegah perbuatan keji dan munkar. Menurut pandangan Syathibi, tak satu pun titah Allah yang tidak mempunyai tujuan dan rahasia yang tersembunyi, serta Allah tidak mungkin membebankan sesuatu yang tidak dapat dilaksanakan hamba-Nya.

Baca Juga:  Puasanya Orang-orang Urban

Cara Mengetahui Orientsi Syara’ (Maqashid Syari’ah)

Pandangan ulama tentang bagaimana upaya mengetahui maqashid al-syari’ah oleh manusia seperti dikemukakan al-Syathibi terbagi menjadi tiga kelompok dengan corak pemikiran yang berbeda: PertamaZhahiriyah, memahami bahwa mengetahui orientasi syara’ adalah dengan merujuk langsung kepada teks syara’ yang akan dijadikan dalil sebuah hukum. Paham ini bisa pula dikatakan tekstualis, cenderung menutup pemaknaan kontekstual. Terhadap corak ini diasumsikan menstimulasi kelahiran paham fundamental. 

Corak kedua, menggali dan memahami orientasi syara’ tidak semata teks, tetapi melalui makna batin teks (bathiniyah). Menurut paham ini, maksud pembuat syara’ tidak terdapat dalam bentuk teks dan tidak pula sesuatu yang dipahami dari teks syara’ tersebut. Maksud pembuat syara’ adalah sesuatu yang berada di balik struktur teks. Salah satu pendekatan yang dipakai adalah dengan qiyas, yakni dengan tidak memandang stuktur teks semata. Apabila terdapat pertentangan antara teks dengan konteks yang bersifat rasional, maka yang didahulukan makna konteks secara rasional.

Ketiga, dikenal dengan ulama rashikhun fi al-‘ilmi, yakni para pakar yang memandang  menggali secara sunguh-sunguh tujuan atau orientasi syara’ melalui teks syara’ sesuai dengan kapasitas keilmuwannya. Proses penggalian pakar ini terhadap apa sesungguhnya orientasi syara’, tidak pula merusak teks syara’ dengan makna yang dicari-cari dari teks. Teks dan konteks disinergikan secara harmoni tanpa ada perselisihan dan pertentangan.  

Corak yang ketiga ini dianggap lebih sesuai dalam mencari bentuk syara’ karena dalam mencari orientasi syara’ yang mendatangkan mashlahah (kesejahteraan) manusia dan menolak segala bentuk kerusakan tidak terbatas pada teks syara’ saja dan tidak pula dengan pertimbangan akal semata. 

Apabila memandang dengan teks semata, akan lahir kesimpulan yang menjauh dari konteks. Tentu cara ini tidak dapat menjadi sendi pada adat Minangkabau yang pada beberapa konteksnya berbeda dengan teks syara’. Di Minangkabau, terdapat beberapa persoalan yang tidak ditunjuki langsung oleh teks syara’

Begitu juga, hanya menggunakan akal potensial semata akan membawa sesuatu yang tidak sesuai dengan tujuan syara’ yang sebenarnya. Hal ini disebabkan bahwa pada umumnya kecenderungan akal manusia mengatakan sesuatu itu baik apabila sesuai dengan akalnya, dan sebaliknya sesuatu disebut tidak bermanfaat apabila bertentangan dengan akalnya.

Baca Juga:  Ramadan dalam Literasi Digital

Sekadar mengupayakan jawaban terhadap aspek syara’ mana yang menjadi sendi adat Minangkabau, langkah pertama adalah dengan mendudukkan prinsip dari syara’ itu sendiri. Hingga titik ini, kita bisa menyatakan bahwa prinsip utama dari syara’ adalah tercapainya kemashlahatan dan terhindarnya kerusakan dari kualitas hidup manusia. 

Langkah selanjutnya, adalah menentukan aspek syara’ mana saja yang akan menjadi sendi adat. Saya setuju, keseluruhan aspek syara’ secara harmoni dijadikan sendi adat; tidak terbatas pada aspek ibadah dan mu’amalah saja sebagaimana cenderung dipahami di Minangkabau ketika memahami falsafah ABSSBK. Sebab, pembatasan pada aspek ibadah dan mu’amalah semata akan memicu keterbatasan pemahaman pada sisi normatif; boleh tidak boleh; atau halal dan haram semata. Penafsiran kembali terhadap teks syara’ dengan pendekatan yang kompetitif sesuai kepakaran masing-masing penafsir harus terjadi terus-menerus.

Dengan demikian, akal sebagai potensi yang diberikan kepada manusia sekaligus wahyu dan hadits sebagai teks syara’ semestinya bersinergi sehingga dapat dijadikan sendi adat di Minangkabau. Keberlanjutan proses menggali syara’ yang kontekstual ini merupakan kerja yang mutlak terjadi. 

Selanjutnya, yang penting ditelusuri kembali adalah terma Kitabullah yang tercantum dalam ABSSBK. Jamak dipahami bahwa kitabullah yang dimaksud adalah Al-Qur’an. Akan tetapi, sebuah pertanyaan layak untuk kita renungi: kitabullah (denga kaf) atau khitābullah (dengan kha)? 

Kitabullah merujuk kepada Al-Qur’an. Akan tetapi, Khitabullah berarti seluruh ketetapan Allah kepada manusia, tidak saja yang tertera dalam Al-Qur’an, melainkan juga yang termaktub dalam hadis yang kemudian melahirkan ilmu-ilmu keislaman. Secara makna, khitabullah lebih universal dibanding kitabullah. Ini yang secara berkesinambungan harus dinalar kembali oleh orang Minang.

Di puncak semua itu, dalam hal penggunaan nalar ini, tentunya tetap pada rambu-rambu yang dipesankan Ali bin Abu Thalib: lau kana ad-din bi al-ra’yi, lakana mishu al-haffaini asfal (kalau saja beragama itu semata dengan penalaran semata, maka menyapu sepatu mestinya pada bagian telapaknya). Wa Allahu A’lamu bi al-Shawab.[]      

Tinggalkan Balasan