Mentadarus sejarah perkembangan Islam dari masa ke masa memang selalu menarik. Ada saja hal-hal unik nan mencengangkan yang dapat kita saksikan dalam rangkaian fase sejarah yang terkoyak, tak terkecuali sejarah perkembangan Islam di Lombok; sebuah pulau kecil yang terletak di antara Pulau Dewata Bali dan Pulau Sumbawa. Pulau yang saat ini terkenal dengan keindahan wisata bahari tersebut, ternyata menyimpan tumpukan dokumen masa lalu (manuskrip) yang terkait dengan penyebaran dan perkembangan Agama Islam.

Tidak mencengangkan apabila terdapat sejumlah penelitian yang terkait dengan dokumen masa lalu itu. Seperti penelitian Jamaluddin yang berjudul “Sejarah Sosial Islam di Lombok Tahun 1740-1935: Studi Kasus Terhadap Tuan Guru.” Penelitian ini menyelipkan sejarah perkembangan Islam yang diambil dari beberapa manuskrip, semisal Babad Lombok dan Babad Selaparang. Selain itu, ada beberapa nama yang aktif mengkaji tentang manuskrip Islam di Lombok: M. Syatibi Al Haqiri, “Menelusuri Al-Qur’an Tulisan Tangan di Lombok”, Ali Akbar, “Tradisi Mushaf Al-Qur’an di Lombok”, Mustofa, “Mushaf Kuno Lombok: Telaah Aspek Penulisan dan Teks”, Lalu Muhammad Ariadi, “Haji Sasak: Sebuah Potret Dialektika Haji dan Kebudayaan Lokal”, Erni Budiwanti, “Islam Sasak: Wetu Telu Versus Waktu Lima”, Dick van der Meij, “Indonesian Manuscripts from the Islands of Java, Madura, Bali and Lombok”, dan peneliti-peneliti lainnya.

Dalam perjalanannya, masyarakat Muslim-Sasak mengenal istilah ‘Islam Waktu Telu’ dan ‘Islam Waktu Lima’. Dua terminologi itu mewakili model keberagamaan masyarakat Sasak semenjak datangnya penyebar Islam pertama dari Pulau Jawa hingga munculnya para Tuan Guru (Kiyai). Masyarakat yang dikategorisasikan dalam masyarakat ‘Islam Waktu Telu’dinilai telah ‘melenceng’ dari ajaran Islam yang sesungguhnya, karena model keberagamaannya yang lebih dekat kepada Hindu-Boda. Pada abad ke-19, seusai melaksanakan ibadah haji, para Tuan Guru melakukan proses islamisasi jilid dua pada masyarakat yang masih memegang teguh corak keberagamaan ‘Islam Waktu Telu’Beberapa tokoh yang termasuk dalam fase ini adalah Tuan Guru Umar Buntimbe, Tuan Guru Mustafa, Tuan Guru Amin. Jamaludin menduga bahwa beberapa Tuan Guru, seperti Tuan Guru Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, Tuan Guru Mutawalli, Tuan Guru Safwan Hakim telah melakukan dakwah pemurnian Islam pertama kali pada abad ke-18. Berbeda dengan Jamaludin, beberapa peneliti sebelumnya, seperti Erni Budiwanti dan Abd. Syakur beranggapan bahwa dakwah Tuan Guru dimulai pada pertengahan abad ke-20 M. Terlepas dari perdebatan itu, masyarakat Muslim-Sasak saat ini tidak berbeda dengan masyarakat Muslim pada umumnya. Namun di balik itu, ada hal penting yang harus ditelisik kembali: metode Tuan Guru dalam mengajarkan Islam.

Baca Juga:  Narasi Lain Lombok-Islam: Pandangan H. Lalu Anggawa Nuraksi

Secara umum, metode dakwah Tuan Guru cukup beragam: mulai dari membangun pondok pesantren sampai menggunakan ilmu kanuragan. Salah satu Tuan Guru juga menggunakan metode menulis dan membaca buku-buku klasik dalam mengajarkan masyarakatnya. Bukti tertulis tentang perjalanan dakwah Tuan Guru menggunakan metode tersebut adalah sebuah naskah yang sampai saat ini masih disimpan oleh salah satu anggota masyarakat di Batu Cangku. Kondisi naskah masih dalam kondisi terawat, karena menurut penuturan penyimpannya, naskah selalu dibersihkan setiap hari Kamis malam. Namun untuk pembacaan naskah sendiri telah jarang dilakukan, mengingat banyaknya naskah cetak yang lebih komprehensif menjelaskan tentang tata cara mengerjakan ibadah dalam Agama Islam. Naskah dibersihkan menggunakan kain khusus yang telah dipersiapkan sebelumnya. Hal ini tentu kurang baik untuk perawatan naskah kuno, karena reservasi naskah mempunyai teknik-teknik khusus dan alat yang khusus pula.

Secara observasional, naskah tersebut menggunakan kertas daluang(kertas kulit kayu). Jenis kertas ini lumrah digunakan pada naskah Jawa, hal ini yang membedakan antara naskah-naskah kesultanan Bima dan Sumbawa yang menggunakan kertas Eropa karena mendapat pengaruh kuat dari Sulawesi Selatan. Dari aspek ekonomi, harga kertas Eropa memang relatif lebih mahal dari daluang(kertas lokal). Oleh karena itu, jenis daluangbiasa digunakan di kalangan pesantren dan masyarakat biasa (dalam stratifikasi masyarakat Lombok dikenal dengan istilah “jajar karang”) pada umumnya. Sedangkan kertas Eropa biasa digunakan oleh lembaga-lembaga pemerintahan, istana, dan kalangan bangsawan (Sasak: menak) yang mempunyai kecukupan uang untuk membeli kertas. Di sisi lain, jenis kertas juga berpengaruh pola desain, semisal pihak keraton yang sering kali mempertimbangkan penggunaan kertas Eropa karena akan dihias sedemikian rupa untuk menggambarkan kemewahan dan kemegahan kerajaannya. Sedangkan bahan daluangmempunyai tekstur serat yang berbeda sehingga tidak dimungkinkan untuk melakukan hiasan. Oleh karena itu, jarang ditemukan tulisan yang berbahan duluangdengan hiasan yang indah. Begitu pula dengan naskah ini, tidak terdapat iluminasi yang indah di dalamnya.

Baca Juga:  Bung Karno, Api Islam dan Problem Khilafah

Naskah ini juga ditulis dengan menggunakan Bahasa Sasak dan Bahasa Jawa dengan menggunakan aksara Arab-Melayu. Kosa kata Bahasa Sasak yang sering dijumpai di naskah ini adalah lamun(Terjemah: jika atau apabila) dan amaca (membaca). Seperti dalam pembahasan salat, dalam naskah itu tertulis: lamun Ẓuhur … lamun Ṣubuḥ … lamun Aṣar … lamun Magrib … lamun Isya”sedangkan kata amaca dalam pembahasan tentang ucapan-ucapan ketika melakukan salat, seperti “Maka Amaca Qunut Ing Dalem Ṣubuh.” Sedangkan bahasa Jawa dapat dilihat dari penggunaan kata ing (di) seperti dalam potongan kalimat di atas. Dari naskah ini, kita dapat melihat akulturasi antara bahasa Jawa dan bahasa Sasak dalam satu naskah.

Dalam menulis ayat Al-Qur’an, naskah ini rasm imlā’i, namun masih terdapat beberapa kesalahan dalam penulisannya. Seperti ketika menuliskan ayat kursy; dalam naskah dituliskanولا يحط ون بشئ من علمه الابماسئا   sedangkan seharusnya ayat tersebut dituliskan dengan ولا يحيطون بشيء من علمه الا بما شاءselain itu, ada juga kesalahan dalam harakat seperti tulisan  yang seharusnya ditulisصلى الله عليه و سلمdengan menggunakan harakat ّpada huruf lāmdan masih banyak lagi kesalahan penulis (corrupt) yang lainnya. Oleh karena itu, jika naskah ini dibaca saat ini, pasti akan sangat kelihatan bahwa naskah ditulis bukan oleh kalangan yang terbiasa menulis Arab. 

Jika dilihat secara substansi, naskah yang ditulis menggunakan tinta hitam itu membicarakan tentang tata cara melaksanakan ibadah sehari-hari masyarakat Muslim pada umumnya. Pada awal naskah dituliskan pujian-pujian kepada Allah lalu disambung dengan barisan doa-doa yang di dalamnya dituliskan kalimat Syahadātain. Setelah itu, pembahasannya langsung mengarah kepada lafaz-lafaz azan yang harus dikumandangkan lima kali sehari semalam dan dilanjutkan dengan doa sebelum membaca Al-Qur’an. Lafaz niat salat menjadi pembahasan selanjutnya dan begitu pula dengan lafaz-lafaz yang lain yang harus dibaca ketika salat, seperti doa iftitāḥ, qunut dan lain sebagainya. 

Baca Juga:  Aceh Masa Sultan Alauddin Riayat Syah: Saudara Tua Turki Di Negeri Timur Jauh

Naskah tersebut juga tidak disertai dengan kolofon naskah, sehingga sulit untuk mengidentifikasi siapa dan kapan naskah tersebut ditulis. Namun menurut penuturan masyarakat, ada dua pendapat yang terkait dengan penulisan naskah tersebut. Pertama, naskah tersebut dibawa oleh Da’i yang berdakwah di tempat tersebut. Karena setelah tahun 1965, masyarakat Batu Cangku kedatangan seorang Tuan Guru dari Masbagik yang bernama Tuan Guru Mahsun. Secara berkala, Tuan Guru Mahsun dengan pengajian-pengajian yang dilakukan mampu mengubah corak keberagamaan masyarakat Batu Cangku dari ‘Islam Waktu Telu’ menuju ‘Islam Waktu Lima’. Sampai saat ini, tokoh tersebut sangat dihargai dan dihormati di tempat tersebut, sehingga banyak orang tua yang menyekolahkan anaknya di Pondok Pesantren Al-Ijtihad di Danger, Masbagik. Padahal, jarak antara Dusun Batu Cangku dengan Danger terbilang cukup jauh; 25 KM dan dapat ditempuh dalam kurun waktu kurang lebih 40 Menit menggunakan motor.Kedua,naskah tersebut ditulis oleh murid dari Tuan Guru Mahsun. Pendapat ini didasarkan dari tulisan naskah yang banyak mengandung kesalahan tulis, sebagaimana yang telah penulis jelaskan sebelumnya. Jika kita mempercayai pendapat kedua ini, maka peran dakwah Tuan Guru bukan hanya untuk menularkan ideologi keagamaan dalam konteks sosial-kebudayaan, namun juga menularkan semangat literasi dan memerangi buta huruf. Dari sini, kita juga dapat melihat metode dakwah yang tidak hanya mengandalkan ceramah keagamaan namun para Tuan Guru juga mengandalkan metode literasi karena melihat masyarakatnya yang belum bisa menulis.

Tinggalkan Balasan