Pada awal abad ke-16, Kesultanan Aceh menjadi penguasa Muslim terkuat di Asia Tenggara. Kesultanan ini, terletak di ujung barat Pulau Sumatera dan menjadi satu-satunya daerah yang memiliki nilai ekonomis/politis dalam pandangan orang Barat. Di masa ini, Aceh menjadi penguasa jalur perdagangan laut yang cukup disegani. Pelabuhan Aceh, muncul menjadi tempat perdagangan baru, serta berhasil mengalahkan pamor Malaka, yang sebelumnya menjadi pilihan favorit para saudagar Muslim untuk berdagang. Ramainya jalur perdagangan, memberi sumbangsih yang cukup besar bagi kemakmuran Kesultanan Aceh. Namun, karena pengaruhnya yang semakin kuat, Aceh hadir menjadi sebuah ancaman bagi Portugis, yang juga bernafsu untuk menguasai jalur perdagangan di sekitar Semenanjung Melayu. 

Pasca menguasai Goa (1510) dan Malaka (1511), Portugis mulai menggangu jalur perdagangan antar samudera. Jalur sebelumnya yang melewati Laut Tengah, Laut Merah, dan negeri-negeri mayoritas Muslim, mulai digeser ke arah Tanjung Harapan dengan maksud menguntungkan pihak Portugis. Sebagai basis terkuat oposisi penguasa muslim, Acehhadir menjadi garda terdepan dalam menghadapi intervensi tersebut. Sebagai bentuk perlawanan, Aceh kemudian membuat jalur perdagangan baru melewati Laut Merah, Mesir, dan Laut Mediterania, sebagai jalur tandingan. Dalam jalur perdagangan ini, komoditas rempah-rempah seperti: lada, cengkeh, dan sutera, merupakan barang-barang utama yang diperjualbelikan. Tingginya nilai ekonomis, membuat Aceh dan Portugis terus bersaing agar menjadi kekuatan tunggal yang bisa menguasai wilayah ini.

Selama beberapa tahun berikutnya, Aceh dan Portugis hampir terus-menerus dalam keadaan berperang. Dampaknya, kapal-kapal dagang dari Goa maupun Malaka, dilarang untuk bersandar di Pelabuhan Aceh. Portugis sempat unggul dalam perseturuan ini, ketika di tahun 1521, mereka berhasil menguasai pelabuan Pasai serta meletakkan orang-orang kepercayaanya di kawasan yang baru direbut ini. Penguasaan ini membuat Portugis dengan sesuka hati melakukan monopoli perdagangan, terutama pada komoditas lada dan sutera. Hal tersebut tidak bisa diterima oleh Aceh, akibatnya, pada tahun 1524, Aceh bangkit dan melakukan perlawanan terhadap Portugis di bawah komando Sultan Ali Mughayat Syah. Dalam pertarungan ini, Aceh berhasil mengungguli Portugis serta mengusir semua antek-anteknya yang selama ini masih loyal kepada mereka. Atas kemenangan tersebut, ia diangkat menjadi Sultan pertama Kesultanan Aceh dan menyatukan negeri-negeri Aceh yang sebelumnya sempat tercerai-berai.

Baca Juga:  Catatan Dua Abad Dimulainya Penjajahan Belanda di Minangkabau (Mei 1819-Mei 2019): Dari Literatur Ke Memori Kolektif

Setelah beliau mangkat, tahta Kesultanan Aceh dipegang oleh anaknya, Sultan Salahuddin Riayat Syah. Ia kurang cakap dalam memerintah dan memiliki perangai yang lemah. Akibatnya, Kesultanan Aceh mengalami konflik internal berkepanjangan, yang membuat kesultanan ini terus mengalami kemunduran, sampai hampir ditaklukan kembali oleh Portugis. Dalam kondisi genting, adiknya yang bernama Alauddin berhasil merampas tahta kesultanan dan menjadikan dirinya sultan ketiga penguasa Acehyang bergelar Al-Qahhar. Ia berhasil menaikkan citra Kesultanan Aceh yang sempat turun, mengusir bangsa-bangsa asing, dan menjalin hubungan diplomatik dengan imperium muslim besar lainnya. Ia juga memerintahkan perluasan wilayah Kesultanan Aceh, dari pesisir pantai sampai ke wilayah pedalaman Pulau Sumatera. Dengan berbagai macam kemajuan ini, banyak yang mengatakan masa kepemimpinannya disebut sebagai masa keemasan Kesultanan Aceh Darussalam.

Kedigdayaan Kekuatan Aceh

Kesultanan Aceh semakin menggencarkan ekspansi militernya ke wilayah pantai timur Sumatera. Kerajaan Aru mendapat giliran pertama dari penyerangan besar ini. Kerajaan Aru merupakan salah satu kerajaan terkuat dan menjadi sekutu utama Portugis. Selama menjalin hubungan persahabatan dengan Portugis, Aru selalu meminta bantuan armada perang ketika mendapat serangan dari musuh-musuhnya, termasuk Aceh. Penyerangan ini dilakukan sebagai bentuk perlawanan terhadap Portugis, yang sejak tahun 1511 menjadikan Malaka sebagai pangkalan militernya. Setelah bertempur dengan kekuatan yang cukup besar, akhirnya pada tahun 1539, Kerajaan Aru mengaku tunduk di bawah kekuasaan Aceh.

Setelah dari pesisir, pasukan Aceh kemudian diarahkan menuju daerah pedalaman yang dihuni masyarakat Batak. Sebelum melakukan penyerangan, Sultan Aceh berkirim surat kepada Raja Batak, agar dia mau masuk Islam dan menceraikan istrinya. Permintaan ini pun ditolak oleh Raja Batak, atas pertimbangan dari para penasehatnya, Sultan Aceh kemudian menyatakan perang terhadap Raja Batak. Awalnya, pasukan Raja Batak dapat menguasai jalannya pertempuran, dan menimbulkan banyak korban jiwa di pihak Aceh. Situasi segera berbalik, berbekal 300 pasukan tambahan dari Turki yang baru saja mendarat di Aceh, pasukan Aceh berhasil unggul dalam ronde kedua peperangan ini. Dengan sebuah taktik yang cukup cerdik, pasukan Aceh berhasil masuk menembus pertahanan pasukan Batak, kemudian membunuh tiga orang putra raja, 700 Hulubalang, dan para prajurit terbaiknya. Akibat kekalahan ini, Raja Batak juga mengaku tunduk di bawah kekuasan Sultan Aceh.

Baca Juga:  Masjid Agung Kauman Pleret dan Kebijakan Kontroversial Amangkurat I

Penguasaannya terhadap wilayah pesisir dan pedalaman, membuat Aceh semakin mempertegas posisinya sebagai kekuatan besar yang berada di ujung utara Pulau Sumatera. Kemenangan demi kemenangan yang berhasil ditorehkan pasukan Aceh, membuat persaingan dengan Portugis semakin meruncing. Selain perebutan wilayah, pertentangan agama, persaingan politik, dan rivalitas ekonomi, menjadi akar masalah konflik di antara dua kekuatan besar ini. Demi mempertahankan eksistensinya, sultan bersama para ulama Aceh menggelorakan perang suci melawan Portugis yang dipandang sebagai sebuah jihad fi sabilillah.

Sebagai persiapan guna menghadapi perang melawan Portugis. Sultan Alauddin Riayat Syah mengirim seorang utusan bersama berbagai macam hadiah, guna menjumpai Sultan Sulaiman Yang Agung (Sultan Turki Utsmani) dan memohon bantuan armada perang dalam melawan orang kafir, yang telah merebut Malaka dan menteror kapal-kapal di sekitar Samudera Hindia yang membawa rombongan jamaah haji menuju Mekkah. Sesampainya di Istanbul, utusan dari Sultan Aceh disambut dan diperlakukan dengan hormat. Sang utusan tidak mengetahui, bahwa penguasa Kesultanan Turki terlah berganti. Saat ia diberi kesempatan untuk bertemu dengan sultan, ia dipertemukan dengan Sultan Salim II, anak dari Sultan Sulaiman Yang Agung. Sultan Salim II segera menjawab permintaan dari Sultan Aceh, ia mengirim ahli pembuat senjata, prajurit, dan artileri, yang banyak membantu Aceh dalam perang melawan Portugis.  

Hubungan Mesra Aceh dan Turki

Kedekatan hubungan antara Aceh dan Turki sudah terjalin sejak abad ke-16 M. Bukti yang menguatkan adanya hubungan antara Kesultanan Aceh dan Turki Utsmani, ditemukannya ratusan koin emas di Desa Gampong Pande, Aceh. Dalam koin-koin tersebut, dijumpai adanya beberapa koin yang yang bertuliskan nama Sultan Alauddin Riayat Syah, berdampingan dengan nama Sultan Sulaiman Yang Agung sebagai penguasa Turki. Selain itu, catatan tertua yang menuliskan terjalinnya hubungan ini, ialah Kitab Bustanussalatin karangan Syekh Nuruddin al-Raniri bertahun 1638 M, yang menyebutkan bahwa Sultan Alauddin Riayat Syah adalah perintis awal kedekatan hubungan di antara dua Kesultanan Islam ini.

Baca Juga:  Menelusuri Manuskrip Islam di Lereng Gunung Rinjani

Kondisi geo-politik Kesultanan Aceh yang masih terus bersitegang dengan Portugis, mendorongnya untuk melakukan hubungan politik-militer dengan Turki. Bagi Aceh, Malaka dan Portugis adalah dua rintangan utama mereka untuk menjadi sebuah kesultanan adikuasa di utara Pulau Sumatera. Karena hal tersebut, akhirnya Aceh menjalin kerjasama dengan Turki yang pada waktu itu menjadi kekuatan Islam terbesar di Dunia Timur. Kesultanan Turki juga memiliki kepentingan lain terkait kerjasama ini, hal tersebut dimaksudkan untuk menjaga reputasinya dalam pergadangan rempah-rempah di Samudera Hindia.

Terjalinnya hubungan kerjasama yang stabil pada pertengahan abad ke-16 M, berbanding lurus dengan hubungan politik di antara dua kesultanan ini. Menurut laporan Dubes Venesia yang berada di Konstantinopel, Aceh dan Turki terus memiliki hubungan yang baik bahkan mesra. Sebagai ungkapan rasa syukurnya atas bantuan militer Turki, Sultan Alauddin Riayat Syah menulis sebuah surat yang ditujukan kepada sultan penguasa Turki, penggalan isi surat ini dapat kita lihat dalam buku Menuju Sejarah Sumatera, karangan Anthony Reid, isinya sebagai berikut“Jika tidak atas bantuan dari Yang Mulia, orang-orang kafir itu akan tetap membunuhi orang Islam yang tidak berdosa.”

Untuk terus menjalin kerjasama di antara sesama penguasa muslim, Sultan Salim II mengirim rombongan besar menuju Aceh, yang terdiri 15 kapal dagang, 2 perahu layar, dan perlengkapan perang lainnya. Rombongan ini dikepalai oleh Laksamana Kortuglu Hizir Reis, dan Mustafa Camus sebagai pembawa surat delegasi resmi dari Sultan Salim II. Setibanya di Aceh, rombongan ini disambut dengan begitu meriah dengan upacara kenegaraan resmi. Selain itu, menurut Snouck Hurgronje, Sultan Salim II juga membebaskan Kesultanan Aceh dari kewajiban menyerahkan upeti tahunan kepada pemerintan Turki Utsmani. Namun sebagai gantinya, Sultan Salim II memerintahkan penguasa dan rakyat Aceh, untuk merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan meriah, hal ini masih bisa terus kita jumpai sampai saat ini di Aceh.

Tinggalkan Balasan