Wilayah pinggiran Danau Toba adalah bagian dari administrasi Kabupaten Simalungun. Daerah Parapat adalah bagian dari pinggiran Danau yang menjadi pusat wisata. Menurut catatan sejarah, Islam di  Simalungun dimulai dari jejak para pendatang pada abad ke -19 [Agustono: 2012]; konon berasal dari daerah pesisir Timur pulau Sumatera. Islam memang sudah mayoritas di wilayah sisi pesisir itu.

Kehadiran Islam di Simalungun tidak mudah diterima. Politik kolonialisme telah membenturkan isu agama dan etnis sekaligus di wilayah yang dulu masuk ke wilayah Sumatera Timur ini. Sumatera Timur adalah wilayah bentukan kolonial Belanda saat berkuasa. Tidak ada catatan gerakan dakwah yang masif pada fase awal, Islam datang seiring dengan agama yang dianut oleh para pedagang yang bermigrasi untuk mencari kehidupan.

Tulisan ini tidak akan membahas tentang Islam di Kabupaten Simalungun secara keseluruhan dari perspektif sejarah seperti pada umumnya para akademisi kampus. Tulisan ini hanyalah catatan perjalanan seorang mahasiswa Muslim dari kampus dengan nama resmi berlabel Islam ke wilayah yang lebih dikenal ditinggali oleh masyarakat Kristen. Lebih kurang satu bulan saya habiskan menjelajahi beberapa sudut wilayah Parapat, mengamati dan berbincang lepas dengan penduduk lokal.

Selain sebagai Muslim, saya adalah seorang ‘batak diaspora’. Itulah agaknya mengapa lidah saya kaku kalau harus berbahasa batak. Saya bermarga Batubara, berasal dari Mandailing. Batak dan Islam/Muslim mungkin bukan kombinasi yang familiar bagi orang luar. Tapi itu masalah persepsi saja. Orang-orang luar Sumatera kalau mendengar Batak asosiasinya pasti Kristen. kecuali Batak Mandailing. Eh, nanti dulu soal ini akan jadi perdebatan. Saya menghindari membahas topik itu. Tapi, boleh lah nanti akan saya sambung perihal Batak bukan Mandailing atau Mandailing bukan Batak. Horas!

Begitu pula, Danau Toba sebagai sebuah satuan geografi juga dikenal sebagai wilayah yang ditinggali oleh penduduk Kristen. Iya, benar. Danau Toba memang penduduknya mayoritas beragama Kristen. Hal ini bisa dibaca dalam sejarah panjang Kekristenan di Sumatera Utara. 

Posisi saya sebagai pendatang, membawa identitas sebagai mahasiswa Islam, datang dengan tujuan belajar dari kehidupan masyarakat secara langsung, menjadikan posisi saya dan rombongan pusat perhatian banyak orang. Interaksi diantara pendatang dengan orang asli menggambarkan banyak hal, mulai dari relasi sosial, toleransi hingga bagaimana membangun kehidupan bersama dengan latar etnis dan agama yang berbeda. 

Baca Juga:  Corpus Coranicum: Majlis Pengkajian Alquran di Berlin

Oke, saya mencoba menggambarkan kawasan pinggiran Danau Toba khususnya Parapat dan sekitarnya, sebagai basis pengamatan tulisan ini. Orang-orang yang pertama kali mengunjungi Danau Toba untuk berlibur hampir bisa dipastikan akan mengunjungi kota Parapat. Ini juga wilayah yang menyimpan jejak pengasingan Bung Karno; kalau tidak percaya googling saja. Seperti pada umumnya kota-kota kecil di lokasi wisata, kondisinya cukup plural, meskipun ada kelompok yang dominan, biasanya adalah penduduk asli setempat. 

Pluralitas kota Parapat disebabkan tingkat interaksi yang tinggi masyarakat lokal dan pendatang yang mengadu nasib untuk mencari penghidupan. Kita tentu tahu etnis mana yang paling cepat gerakan migrasinya, yaitu orang-orang Padang aka Minang. Bahkan, Minang adalah salah satu identifikasi paling jelas tentang keberadaan Muslim di wilayah Prapat. Melalui Rumah Makan Padang, tentu saja. 

Sebagaimana Batak sudah diidentikkan dengan Kristen, Minang mendapatkan image Muslim. Memang benar ada kemungkinan rumah makan tersebut tidak dimiliki oleh orang Minang, tapi oleh pengusaha pada umumnya yang bisa membaca peluang. Tapi ada banyak rumah makan padang di sana. Sangat mungkin sebagian besarnya dimiliki oleh orang Minang, dan sebagaian besarnya adalah Muslim. Apakah ia asli atau Padang KW itu soal lain.

Penjelajahan saya mencakup kawasan Kecamatan Girsang Sipangan Bolon. Ada enam Nagori (Desa) di sini. Nama Nagori tersebut adalah Sibaganding, Sipangan Bolon, Sipangan Bolon Mekar, Girsang, Tigaraja, dan Parapat. Sangat mungkin Nagori juga menggambarkan pengaruh Minangkabau, karena kedekatannya dengan istilah Nagari yang digunakan di Sumatera Barat. Saya persilahkan pakar sejarah mengkonfirmasi hal ini. 

Menurut data statistik populasi kecamatan ini pada tahun 2018 berjumlah kurang lebih 600 Kepala Keluarga (KK); ini data terakhir yang saya dapatkan dari kantor kecamatan. Sebagai catatan, sensus hanya mencatat jumlah kepala keluarga. Anggaplah setiap KK beranggotakan 5 orang, kalikan saja, hasilnya bisa jadi total orang Islam yang ada di sana.

Kebanyakan keluarga muslim ini tinggal di wilayah Parapat. Sejauh saya berinteraksi dengan orang-orang muslim, rata-rata mereka berasal dari daerah Siantar, Medan, sekitaran Tapanuli yang bersuku Minang, Jawa dan Mandailing. Hanya ada satu masjid besar di kecamatan ini, tepatnya di pinggir jalan raya Siantar-Balige. Masjid ini merupakan ikon dan menjadi salah satu tempat berkumpulnya umat muslim.

Baca Juga:  Toleransi, Pesantren dan Islam Rahmatan Lil’âlamîn

Apa yang menarik dari kehidupan orang-orang muslim di sana? Dua hal yang ingin saya ceritakan: ekspresi budaya Islam masyarakat setempat dan interaksi antara Muslim pendatang dengan penduduk asli yang mayoritas beragama Kristen maupun Katolik.

Terkait dengan ekspresi budaya Islam, yang tampak hanya aktivitas keagamaan yang biasa dilakukan oleh umat Islam umumnya di daerah lain, seperti kegiatan pengajian Yasinan rutin sekali dalam seminggu, pengajian ini didominasi oleh kelompok ibu-ibu. Sementara Bapak-bapak jarang berkumpul atas dasar aktivitas keagamaan rutin, kecuali ada peringatan hari besar Islam. 

Keberadaan kelompok Islam di Parapat tidak serta merta memudahkan kita identifikasi. Tentu saja, tidak semua kegiatan ekonomi mereka berjualan nasi Padang; ada juga yang membuka warung makan lain. Persepsi masyarakat terkait Rumah Makan Padang telah sekilas saya singgung. Terkait rumah makan lainnya, identitas keislaman ditampilkan dengan simbol penanda ‘Rumah Makan Muslim.’ Simbol ‘Rumah Makan Muslim’ biasanya tidak selalu dalam bentuk tulisan. Terkadang ia berbentuk tulisan arab, kaligrafi Islam, atau tulisan ‘Makanan Halal’.

Namun demikian, sepanjang pengamatan saya, orang-orang yang makan di sana, hanya sebagian kecil para pelancong yang singgah, apalagi kalau yang berjualan misalnya tidak berbusana seperti muslim pada lazimnya. Menurut beberapa palancong yang saya ajak ngobrol, mereka ragu tentang kehalalan makanan meskipun ada simbol-simbol Islam, bagi mereka rumah makan padang lebih melegakan, meskipun harganya sundul langit alias mahal. Entah apa alasannya, mungkin soal lidah saja atau mungkin teologis, bisa jadi.

Kebutuhan akan lembaga pendidikan Islam adalah isu yang menarik. Di sana boleh dibilang, belum saya temukan lembaga pendidikan Islam tingkat Sekolah dasar ke atas. Kalau melihat komposisinya, ya wajar saja, siapa juga yang mau buka sekolah di sana, kalau jumlah siswanya tidak memadai untuk biaya oprasional sekolah. Namun kesadaran pentingnya pendidikan agama bagi anak-anak memunculkan lembaga pendidikan setingkat sekolah Raudatul Atfal (taman kanak-kanak), agar anak-anak mendapatkan pendidikan agama pada level dasar. 

Interaksi sosial yang terjadi selain karena faktor relasi ekonomi, warga juga sering menggunakan hari Jum’at dan Minggu untuk beraktivitas bersama bergotong royong membersihkan lingkungan masing-masing. Ada satu pemandangan yang unik dan asyik dinikmati dalam konteks keindonesiaan yang pernah saya saksikan di sana, yakni di sekolah. tidak jarang atau secara bergantian, ketika ingin memulai belajar di kelas, anak-anak diminta memimpin doa dan kalau di kelas ada yang beragama Islam, tentu akan mendapatkan giliran membawakan doa secara Islam. Menurut sekolah yang saya amati, hal ini adalah bentuk praktik saling memahami dan mencintai satu sama lain, meskipun berbeda agama sekaligus bahkan berbeda etnis. 

Baca Juga:  Politisasi Ayat, Terjemahisme, dan Post-Truth

Oh ya, ada kesan yang kuat yang saya tangkap terkait bagaimana orang-orang penduduk asli suku batak ini menghormati orang yang berbeda etnis maupun agama, mereka sangat ‘welcome’. Rumah yang kami tempati selama sebulan lebih misalnya, pemiliknya beragama Kristen, mereka tinggal di lantai 1 dan kami tinggal di lantai 2. Semua perserta KKN beragama Islam, ya pasti dunk, mahasiswa Universtias Islam Negeri, emang ada, mahasiswa UIN yang tidak Islam? Ada, tapi tidak di Sumatera Utara. 

Kedekatan peserta KKN dengan pimilik rumah bahkan seisi rumah termasuk anak-anak pemilik rumah begitu akrab. Kami sudah dianggap seperti anak sendiri, seperti tidak ada sekat etnis dan agama diantara kami. Bahkan sekali waktu saya ingin berkunjung kek Danau Toba dan butuh penginapan, tanpa keberatan dan sangat menganjurkan agar kami menginap di rumahnya.

Dengan anak-anaknya yang masih kecil juga tidak ada sekat, kamai bisa bermain bersama dengan leluasa, anak-anak tidak merasa canggung atau takut di doktrin menjadi Islam, kami juga merasa hal yang sama, tidak ada ketakutan akan ada proses kristenisasi.Interaksi sosial lainnya, beberapa penginapan yang dimiliki oleh non Islam ada yang menyediakan peralatan salat.

Penginapan yang dimaksud bukan hotel, melainkan penginapan biasa yang didalam rumahnya ada pemiliknya atau tempat tinggal pemiliknya satu bangunan dengan kamar-kamar yang disewakan. Terakhir perdebatan tentang wisata halal Danau Toba cukup menjadi perhatian masyarakat di Parapat, khususnya penduduk asli. Hal ini dimaklumi karena ada pemahaman yang berbeda tentang konsep Wisata Halal yang diwacanakan.

Tapi harus diakui, para pelancong muslim memang mengalami kesulitan terkait dengan kepastian atau bahkan ketersediaan makanan halal dan tempat ibadah. Karena penduduk muslim yang ada di sana tidak semuanya beraktivitas menyediakan apa yang dibutuhkan bagi pelancong muslim. 

Tinggalkan Balasan