Satu hal yang mungkin akan kita setujui bersama bahwa Sukarno (Presiden pertama RI) memang mempunyai magnet besar bagi bangsa Indonesia. Pidato-pidatonya begitu familiar dan populer karena menggelegar serta menggelorakan semangat nasionalisme. Bagi sebagian pengagumnya, Sukarno adalah sosok yang karismatik yang berjasa untuk kemerdekaan yang diperoleh oleh bangsa ini.

Di Timur Tengah Sukarno dikenal dan diakui sebagai seorang pemimpin muslim. Sayangnya di negeri ini, Sukarno lebih sering dipandang atau lebih sering dikelompokkan sebagai seorang pemimpin nasionalis ketimbang sebagai seorang pemimpin muslim.Padahal dari penelusuran pustaka yang bisa kita lakukan, Sukarno juga tidak kalah banyak menulis dan berpidato tentang Islam, prinsip-prinsip keberislaman, dan pendidikan Islam yang maju dan progresif.

Dengan demikian, dari perspektif historis, menjadi penting diskusi yang mempertimbangkan kembali kedudukan Sukarno sebagai paling tidak, seorang pemikir muslim yang turut menyumbang gagasan tentang diskursus keislaman dan pendidikan Islam. Kita sadari bersama bahwa segala macam usaha untuk mengenang dan mempelajari kembali ajaran dan semangat Sukarno mempunyai arti yang penting sekali bagi bangsa kita dewasa ini. Tentu saja upaya-upaya untuk mengenang dan mempelajari kembali ajaran dan semangat Sukarno bukan dalam pengertian “membentur-benturkan” ajaran dan semangatnya dengan ajaran Islam dan semangat pembawa ajarannya yaitu Nabi Muhammad Saw sebagai sosok teladan yang amat dikaguminya.

Bagi Sukarno, Nabi Muhammad Saw merupakan teladan yang berhasil membawa bangsanya saat itu dari masa jahiliyah ke masa pembaharuan. Karena itu, Sukarno amat meyakini pentingnya umat Islam mencicipi apa yang disebut dengan pembaharuan tersebut. Tetapi ia menyadari dalam mencapai apa yang disebut dengan pembaharuan itu tentu bukanlah perkara yang mudah.

Kegelisahan Sukarno tentang perkara ini sangat mudah dipahami dalam konteks historis. Sebagaimana dituliskan dalam buku-buku sejarah, bahwa pada masa penjajahan Belanda upaya-upaya kolonial untuk melemahkan kekuatan umat Islam tidak pernah surut. Namun semakin banyak upaya deislamisasi yang dilakukan Belanda, menurut Sukarno justru akan semakin kuat motivasi umat Islam Indonesia mengusir penjajah Belanda dari Tanah Air. Mulailah Belanda mengubah stratak (strategi dan taktik)-nya dengan memperhalus deislamisasi. Deislamisasi bisa kita mengerti sebagai upaya untuk menjauhkan ajaran Islam dari pemeluk-pemeluknya.

Salah satunya adalah yang dicetuskan oleh Mr. Conrad Th. Van Deventer dengan politik etisnya. Politik etis yang digagas oleh Mr. Conrad Th. Van Deventer dimuat dalam majalah De Gids, 1899, dengan judul De Eereschuld-A Debt of Honor (Hutang Kehormatan). Akan tetapi politik etis ini senyatanya hanyalah upaya Belanda untuk memperpanjang keberadaannya di Indonesia untuk menjajah. Politik etis menjadi awal di mana peran ulama dan santri yang “anti Belanda” ingin dilumpuhkan.

Baca Juga:  NU dan Upaya Diseminasi Islam Nusantara (2)

Pertama, pendidikan. Pendidikan yang dilaksanakan dalam politik etis hanya diperuntukkan bagi kaum bangsawan. Hal ini dimaksudkan agar para keturunan raja tidak dididik oleh para ulama yang anti penjajah. Selain itu pembukaan sekolah ini bukanlah untuk mencerdaskan bangsa Indonesia, melainkan untuk menciptakan tenaga kerja yang terdidik, yang nantinya bisa diajak bekerja sama dengan Belanda. Maka tidak heran jika kebutuhan akan tenaga kerja telah tercukupi, sekolah-sekolah tersebut ditutup karena sudah tidak diperlukan lagi. Masalah pendidikan sangat penting untuk diawasi, karena hanya dari pendidikanlah semangat nasionalisme sangat efektif untuk disampaikan. Maka dari itu diterbitkanlah peraturan yang dikenal sebagai ”Ordonansi Guru” (Ordonansi 1905 dan 1925) dan Wilde Schoolen Ordonantie (Ordonansi sekolah liar) pada tahun 1933 yang mengawasi dan membatasi ruang gerak pendidikan Islam.

Kedua tentang Emigrasi. Tujuan sebenarnya dari emigrasi adalah untuk memindahkan ulama-ulama di Jawa, agar mereka tidak terus-menerus memprovokasi rakyat untuk melawan Belanda. Perlawanan terhadap penjajah hanya dilakukan oleh para ulama dan masyarakat muslim, karena Islam adalah agama kebebasan yang anti penjajahan. Dalam sejarah tidak pernah ada, kecuali sejarah yang dibelokkan, pemeluk agama selain Islam yang berani melawan penjajahan.

Terakhir adalah irigasi. Realisasi irigasi yaitu dengan membangun bendungan dan waduk di sekitar kawasan pertanian. Hal ini sebenarnya adalah untuk mempermudah pengawasan terhadap para petani, yang mayoritas muslim. Masalah irigasi diperhatikan karena pertanian adalah sumber ekonomi utama dalam usaha para petani muslim dalam melawan penjajah.

Politik Belanda mengadu domba umat Islam, terutama para ulama. Devide et impera yang dilakukan Belanda menjadi sebab perpecahan umat Islam. Mereka (umat Islam) jadi lupa dengan musuh bersama mereka saat itu. Kekuatan Islam perlahan mulai berkurang. Dalam keadaan itulah Sukarno muncul menawarkan gagasan-gagasannya untuk memajukan Islam, yang menurutnya perlu dimulai dari pembaruan pemikiran dan pendidikan Islam.

Sebab mundurnya umat Islam

Sukarno memandang umat Islam pada masanya cenderung kolot dan anti modernitas karena dijajah. Karena itu pula menurut Sukarno, Pendidikan Islam yang dikembangkan kala itu menutup serapat-rapatnya terhadap modernitas, oleh sebab umat Islam mencurigai modernitas sebagai satu paket dengan penjajahan.

Faktor lain yang juga tidak kalah menentukan nasib umat Islam kala itu adalah adanya diskriminasi dari pemerintah penjajah kepada pendidikan Islam. Sebagaimana telah diuraikan diterbitkanlah peraturan yang dikenal sebagai ”Ordonansi Guru” (Ordonansi 1905 dan 1925) dan Wilde Schoolen Ordonantie (Ordonansi sekolah liar) pada tahun 1933 yang mengawasi dan membatasi ruang gerak pendidikan Islam. Hal ini bisa dimaklumi mengingat penjajah Belanda memang anti Islam, karena Islam adalah agama yang anti penjajahan.

Baca Juga:  Cebong vs Kampret: Jahiliyah kontemporer

Namun Sukarno mengasumsikan bahwa hakikatnya umat Islam tidak pantas mengalami kemunduran, mengingat masa lalu Islam yang begitu gilang-gemilang karena berkembang di atas prinsip-prinsip pembaharuan yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. Kecuali karena faktor penjajahan, secara terpisah Sukarno juga menyebutkan beberapa faktor lain, seperti: pertama, berubahnya demokrasi menjadi menjadi aristokrasi dan republik menjadi dinasti; kedua, taklid yang mematikan kehidupan berpikir dalam Islam; ketiga, banyak berpedoman kepada hadist-hadist dhaif (lemah); keempat, kurangnya kesadaran sejarah. Sebab itu, dalam banyak pidato dan tulisan-tulisannya, terdapat gagasan-gagasan Sukarno pembaharuan pemikiran dan pendidikan Islam seperti ajakannya untuk terus maju mengikuti zaman, karena Islam baginya adalah agama yang selalu cocok untuk setiap zaman.

Sukarno juga percaya bahwa untuk itu umat Islam tidak boleh terus terpaku terhadap kejayaan Islam pada masa kekhalifahan. Tata cara bernegara pada saat itu sudah tidak cocok untuk diterapkan di zaman modern ini. Sukarno beralasan bahwa umat Islam harusnya tidak melihat kejayaan Islam masa lalu hanya dari “abu dan apinya” saja, tidak dari proses dan semangat dalam menyalakannya. Karena itu menurutnya karakter umat Islam harus diperkuat, yang dalam bahasa Sukarno disebut sebagai “mental investment”.

Untuk mencapai pembaharuan yang signifikan baik dalam pemikiran maupun pendidikan Islam, menurut Sukarno pendidikan Islam tidak boleh alergi terhadap demokratisasi pendidikan. Karena itu dalam beberapa tulisannya, demokratisasi pendidikan menjadi perhatian Sukarno dalam rangka pembaharuan pendidikan Islam. Dia berpendapat bahwa tidak selayaknya seorang guru terus-menerus mendoktrin muridnya dengan satu aliran tertentu yang dianggap sebagai satu-satunya kebenaran. Hal inilah yang akan menjadikan umat Islam nantinya berpikiran sempit dalam beragama, sementara Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw adalah agama yang universal, sesuai dengan situasi dan kondisi di segala zaman.

Dibalik kegelisahan Sukarno

Pemikiran Sukarno tentang masa depan bangsa Indonesia secara umum, serta Islam secara khusus, tidak bisa dipisahkan dari peranan H.O.S. Tjokroaminoto yang merupakan guru sekaligus mertua dari Sukarno. Seperti ditulis dalam buku ini, banyak sekali pengaruh yang didapatkan Sukarno dari mertuanya, mulai pemikiran, cara berpidatonya, cara berpolitik, dan lain sebagainya. Tidaklah mengherankan jika Sukarno begitu semangat dalam membela Islam, meskipun ibunya beragama Hindu, karena H.O.S. Tjokroaminoto adalah seorang ulama sekaligus pimpinan Syarikat Islam, organisasi terbesar dan paling ditakuti pemerintah kolonial Belanda ketika itu.

Sukarno, terlepas dari segala kontroversi yang melekat padanya, kita menyetujui bahwa ia adalah seorang pemimpin bangsa yang bisa diterima di semua kalangan. Sukarno jelas tidak kalah sosialis dibanding Mao, tetapi dia juga tidak kalah revolusioner ke-Islamannya dengan pemimpin-pemimpin muslim di Timur Tengah sebagaimana Jamaluddin al-Afghani, Syaikh Muhammad Abduh atau Muhammad Rasyid Ridha; setidaknya dari sudut progresifitas pemikirannya. Keputusan Sukarno untuk menjadi sosialis, sekali lagi, juga tidak lepas dari pengaruh H.O.S. Tjokroaminoto. H.O.S. Tjokroaminoto pernah mengungkapkan bahwa jika agama Islam jauh lebih lengkap dan indah dari ajaran sosialis. Beliau menambahkan, bahwa seorang muslim sejati, dengan sendirinya dia akan menjadi seorang sosialis yang baik.

Baca Juga:  Kita Memang Harus Toleran, Tapi...

Pendidikan Islam yang menjadi salah satu perhatian Sukarno, karena menurutnya dapat digunakan sebagai sarana transformasi umat Islam Indonesia. Sebab itulah, Sukarno sering melontarkan kritik terhadap umat Islam yang masih berpegang teguh pada sikap hidup kuno dan anti perubahan. Menurut Sukarno, umat Islam memang berpegang pada ajaran Al Qur‘an dan Hadits. Tapi bukan nyalanya, bukan apinya, debunya, asbesnya. Abunya yang berupa celak mata dan sorban, tetapi bukan apinya, yang menyala-nyala dari ujung zaman yang satu ke ujung zaman yang lain.

Pendek kata, pendidikan Islam yang dipadu dengan pendidikan ilmu pengetahuan umum, itulah yang dikehendaki Sukarno sebagai kata kunci memajukan umat Islam. Sukarno menolak adanya dikotomi dalam pendidikan Islam. Baginya, sesuatu yang bersifat duniawi dapat digunakan sebagai jembatan untuk mencapai cita-cita ukhrawi. Bagi Sukarno, Islam tidak bertentangan dengan sains. Sukarno sendiri dengan tegas mengatakan bahwa tidak ada agama yang lebih rasional dan mudah daripada agama Islam. Jelas pandangannya ini, melampaui zamannya. Belakangan kita mengenal cendekiawan-cendekiawan muslim di Indonesia, seperti Kuntowijoyo, M. Amin Abdullah, Azyumardi Azra, Imam Suprayogo dan lain-lain yang berpandangan serupa.

Pandangan Sukarno tentang Islam ini menunjukkan bahwa ia amat mendukung paham rasional yang menurutnya juga dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. Hal ini pada gilirannya membawa beliau bergabung dengan Muhammadiyah, sebuah organisasi sosial keagamaan berhaluan Islam modernis yang kala itu lebih dikenal dekat dengan pola pemikiran yang rasional. Sukarno berharap bahwa di Muhammadiyah ia dapat menemukan kawan-kawan yang sehaluan dengan pemikiran-pemikiran keIslamannya yang progresif. Berbagai pengalaman Sukarno tentang Islam dan sekaligus pengalamannya dalam oganisasi Muhammadiyah, juga makin mempertajam daya kepekaan Sukarno terhadap masalah pendidikan: khususnya dalam hal ini pendidikan Islam.

Dari uraian di atas, apa yang menjadi pemikiran Sukarno tentang Islam dan pendidikan, masih relevan dengan isu dan tuntutan pembaruan pendidikan Islam yang berkembang dewasa ini. Karena yang amat diperlukan oleh umat Islam adalah keberanian mengembangkan pendidikan Islam yang mampu menelaah kembali ajaran-ajaran Islam yang mapan (sebagai hasil interaksi sosial dalam sejarah) dan mengukurnya kembali dengan sumber pokok ajaran Islam itu sendiri, yaitu Al Qur‘an dan Hadits. Hal itu juga berarti tuntutan untuk melakukan ijtihad, dengan memikirkan kembali makna Islam, umat, syariat dan sebagainya sejalan dengan kebutuhan zaman. Pertanyaan mendasar yang harus dijawab oleh umat Islam saat ini yaitu bagaimana pendidikan Islam dapat berbicara dan bertindak tentang berbagai persoalan hari ini dan menjadi solusi atas persoalan-persoalan tersebut, bukan mencetak pribadi-pribadi yang “bar-bar” dan mencurigai zaman serta kemajuannya.***

Tinggalkan Balasan