Ibadah dalam pengertian yang sederhana adalah sebuah formulasi vertikal atas dasar perintah dari Allah Swt untuk hamba-Nya, substansinya agar dari praktik ritual ibadah yang mencerminkan bentuk ketaan atas perintah-Nya juga memuat substansi untuk diinternalisasikan dalam laku hidup sehari-hari. Ibadah yang dilakukan secara vertikal (antara manusia dengan Tuhan) memiliki implikasi dengan laku horizontal (antar sesama makhluk hidup) yaitu, berdampak pada hubungan dengan manusia, lingkungan dan makhluk hidup lainnya.

Konsekwensi dari dilaksanakan ibadah tentu akan membawa pada tanggung jawab terhadap implementasi nilai yang terkandung didalamnya. Sebut saya misalnya puasa, pada prinsipnya seruan ibadah puasa merupakan perintah wajib bagi umat Islam yang beriman. Rutinitas tahunan dari datangnya bulan Ramadan bagi umat Islam sudah seharusnya membawa indikator perubahan dari bentuk kesalehan vertikal dan individual menuju pada kesalehan horizontal dan sosial.

Masuknya 1 syawal sebagai tanda berakhirnya pelaksanaan ibadah puasa yang kemudian dikenal dengan perayaan hari raya idul fitri, yaitu hari di mana umat Islam yang telah melaksanakan ibadah puasa selama satu bulan penuh mendapatkan ‘bonus’ hari kemenangan, yaitu hari di mana orang-orang ‘terpilih’ kembali fitri, suci seperti bayi yang baru lahir setelah selama satu bulan malakukan ritual ibadah puasa.

Lantas setelah puasa, lalu apa? Setelah puasa usai, Idul Fitri dinikmati dengan penuh kemeriahan dan kebahagian, ditambah lagi tradisi halal-bihalal, saling maaf-maafan satu dengan yang lain, begitu ‘gemerlap’ syawal selesai, adakah puasa membawa implikasi psikologis dan sosiologis bagi umat Islam setelah itu? Adakah jejak-jejak laku religiusitas selama puasa masih membekas dalam laku lampah keseharian umat Islam? Pertanyaan ini bisa diajukan tidak hanya untuk ibadah puasa semata, bisa shalat, haji dan ibadah lainnya. Sekarang mari kita bersama-sama melakukan identifikasi, ‘setelah puasa lalu apa?’

Baca Juga:  Toleransi, Pesantren dan Islam Rahmatan Lil’âlamîn

Konsistensi Menjaga Kemenangan

Ibadah puasa dapat diibaratkan dengan masuknya umat Islam dalam ‘kawah candradimuka’, tempat di mana proses penggemblengan melalui serangkaian ibadah yang menyertainya. Nilai bulan Ramadan yang special menjadikan umat Islam yang sampai pada garis finish diakhir Ramadan akan mendapatkan kemenangan. Selama sebulan secara kontinuitas berbagai bentuk ibadah dilaksanakan, frekuensi berbagai ibadah seperti salat, zikir, baca alqur’an, infaq dan sedekah meningkat.

Masjid dan mushola penuh dengan berbagai ragam aktivitas ibadah, tentu dengan hal demikian bonus kemenangan akan di raih bagi mereka yang bersungguh-sungguh melaksanakan ibadah puasa. Lantas, begitu puasa selesai, apakah frekuensi ibadah kita akan tetap sama, atau bahkan akan meningkat dan atau jangan-jangan frekuensinya menurun kemudian secara perlahan hilang tak berbekas?

Jargon ‘meraih kemenangan lebih mudah daripada menjaga kemenangan’ akan diuji setelah kemenangan itu diraih, setelah puasa selesai. menjaga konsistensi untuk tetap bertahan, sebagai bentuk bukti nyata bahwa puasa itu memiliki bekas, bahwa puasa itu menjaga hubungan vertikal antara hamba dengan Tuhan yang selama Ramadan sudah dibangun adalah bentuk nyata bahwa proses penggemblengan di kawah candradimuka ada hasilnya.

Konsistensi menjaga frekuensi hubungan vertikal dalam bentuk ibadah pascaramadan diharapkan tidak hanya dalam bentuk kuantitas semata, melainkan juga dalam hal kualitas. Pada tahap ini ketika kuantitas dan kualitas tetap terjaga maka pada tahap selanjutnya proses internalisasi dari hubungan vertikal membawa implikasi pada proses horizontal, dalam bahasa yang lain, kesalehan individual membawa dampak pada bentuk kesalehan sosial.

Aktualisasi Nilai Puasa

Kesalehan sosial tidak hanya berhenti pada bentuk-bentuk praktik amaliyah, seperti sedekah, infaq, saling tolong-menolong, toleransi dan nilai-nilai religiusitas yang sifatnya bentuk kesalehan individu dalam bidang sosial. Tapi, lebih jauh dari itu yaitu munculnya etika publik dalam bentuk kesadaran kolektif tentang masalah-masalah publik yang membutuhkan kerjasama.

Baca Juga:  Corpus Coranicum: Majlis Pengkajian Alquran di Berlin

Kesadaran ini sangat penting guna menjaga dan merawat ruang-ruang publik yang sehat dan edukatif. Contoh paling sederhana yaitu ketaatan terhadap aturan lalu lintas, tidak membuang sampah sembarangan. Dua hal tersebut memang sangat sederhana, tapi membawa dampak psikologis dan sosiologis yang serius bagi masyarakat. Pada tahap inilah, nilai-nilai spiritualitas yang dibangun melalui ibadah vertikal dan horizontal terimplementasi kedalam laku hidup yang berbeda. 

Aktulisasi nilai puasa pada tahapan selanjutnya adalah bagaimana nilai tersebut membawa dampak perubahan dalam struktur relasi sosial disekelilingnya. Masyarakat kelas bawah misalnya, adalah kelompok yang kerap termarjinalkan dalam proses pendistribusian keadilan yang dilakukan pemerintah, kelas menengah dan pemilik modal swasta. Fakta bahwa angka kemiskinan yang tidak mengecil adalah jawaban dari proses itu. Dalam Islam mereka dikenal dengan kelompok mustadha’afin, yaitu kelompok masyarakat yang tidak memiliki sumberdaya untuk mengkakses pendidikan, tidak mampu survival di tengah geliat kehidupan yang terus bergerak kearah modernisasi, kelompok masyarakat yang tidak bisa mengakses lapangan kerja yang menuntut skill dan pengetahuan yang tinggi.

Puasa adalah salah satu metode untuk memahami pesan ilahiah, bahwa tugas agama tidak semata-mata fokus pada pemenuhan kebutuhan akan keimanan, ketauhiddan dan pemahaman yang mendalam tentang hal-hal yang bersifat eskatologis atau ukhrawi, melainkan tugas agama melalui ibadah puasa adalah untuk menjawab masalah masyarakat kelas bawah. Mereka tidak bisa bergerak dan bangkit dengan sendirinya, mereka membutuhkan pemerintah yang bekerjasama dengan kelas menengah yang mapan secara ekonomi dan pemilik modal swasta untuk menterjemahkan pemerataan kesejahteraan dan mengaktualisasikan tugas sebagai khalifah.

Puasa hendaknya menjadi energi untuk membangkitkan kesadaran atas berbagai masalah di atas, kemudian bersama-sama merumuskan tahapan-tahapan jalan keluar yang berkesinambungan. Umat Islam memiliki modal sosial yang besar untuk menggerakkan perlawanan terhadap ketidakadilan, melalui pesan-pesan Ramadan yang disiarkan diberbagai mimbar keagamaan.       

Baca Juga:  Santri, Anak Siak, atau Pakiah di Minangkabau?

Tinggalkan Balasan