Puasa masyarakat urban, sebagaimana diperlihatkan oleh Muslim kelas menengah, merupakan perjumpaan antara hasrat pemenuhan spiritualitas dan materialitas.

Ritualisme puasa adalah ibadah tahunan yang dilaksanakan oleh Muslim di seluruh dunia tanpa terkecuali. Rutinitas tahunan ini melahirkan beragam tradisi bagaimana puasa itu dijalani, lalu kemudian menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Muslim. 

Perbedaan itu menyangkut konstruksi makna puasa yang bersentuhan dengan corak kebudayaan masyarakat. Tradisi puasa di Timur Tengah, misalnya, akan berbeda dengan tradisi puasa di Indonesia. Indonesia pun memiliki variasi tradisi yang berbeda pula di setiap wilayahnya. 

Bagaimana keragaman itu bisa terjadi? Secara sederhana, warna dan bentuk-bentuk tradisi yang mengikuti puasa itu ditentukan oleh segmen kelas masyarakat mana yang melakukannya.

Tradisi yang mengakar dan kemudian membudaya dalam perspektif teori habitusBourdieu (Ritzer: 2003) dapat dijelaskan secara sederhana sebagai proses struktur kebudayaan yang terbangun dari kebiasaan yang lumrah, biasa dan dilakukan dengan sadar. Tradisi tersebut muncul dari mentalitas dan kognitif individu yang melakukan serangkaian strategi dan menciptakan ruang dan jalan bagi kelanggengan kebiasaan, lalu pada akhirnya menjadi laten,mentradisi dan membudaya.

Kebiasaan individu atau kolektif melakukan satu aktivitas akan menjadi pengalaman hidup, lalu kemudian menjadi tradisi yang menyejarah. Bourdieu berpandangan bahwa kebiasaan individu tertentu diperoleh melalui pengalaman hidupnya dan mempunyai fungsi tertentu dalam sejarah dunia sosial dimana kebiasaan itu terjadi. 

Pengalaman hidup individu yang didapat dari hasil sejarah tersebut, kemudian terinternalisasi dalam dirinya, untuk kemudian mereka gunakan untuk merasakan, memahami, menyadari dan menilai dunia sosial. Melalui pola-pola itulah individu memproduksi tindakan mereka dan juga menilainya (habitusmengendalikan pikiran dan pilihan tindakan individu).

Tipologi Kelas Menengah Muslim

Segmen masyarakat pedesaan dan perkotaan akan memiliki kebiasaan serta corak yang berbeda, menyesuaikan dengan prilaku kehidupan sehari-hari. Puasa mereka, dengan demikian, juga berbeda. Puasa masyarakat pedesaan akan lebih bernuansa kultural, sementara masyarakat kota akan lebih mengikuti pola konstruksi masyarakat modern yang membentuk gaya hidup tersendiri. Hal ini sebagaimana bisa kita lihat melalui kelas menengah Muslim—sebagai representasi masyarakat Islam kota—yang memiliki prilaku dan tradisi yang berbeda. 

Munculnya kelas menengah muslim adalah konsekuensi dari laju modernisasi dan globalisasi yang terus beradaptasi dengan prilaku keagamaan. Kedua isu besar tersebut pada gilirannya akan berpengaruh terhadap konstruksi keagamaan kelas menengah Muslim, sebagaimana dapat dilihat dari gaya hidup (life style) mereka. 

Baca Juga:  Selamat Hari Raya Idulfitri

Gambaran paling sederhana, identifikasi kelas menengah Muslim dapat di lihat dari perspektif ekonomi, yaitu mereka yang tingkat pendidikannya minimal strata satu (S1). Kelompok ini biasanya lebih banyak di dominasi oleh mereka yang berlatar belakang pendidikan non keagamaan dan bekerja di tempat-tempat yang berpenghasilan lumayan seperti dokter, pengacara, pegawai eksekutif baik negeri maupun swasta dan lain-lain. 

Fase selanjutnya adalah persentuhan gaya hidup dengan semangat kapitalisme yang jeli melihat peluang pasar. Tanpa disadari, sering terjadi ‘perselingkuhan’ antara agama dengan kapitalisme dalam bentuk-bentuk ‘produk premium’ yang diperuntukkan bagi kelas menengah Muslim. Jumlah penduduk muslim indonesia yang mencapi 83%, tentu menjadi penanda bahwa kelas menengah muslim memiliki angka yang cukup besar. Begitu juga sebaliknya, kaum kelas bawah (miskin) juga besar. 

Hal yang paling menonjol dari kelas menengah muslim adalah sikap narsistik dan hedonis. Kategori ini dapat dilihat dari kebiasaan mereka memilih tempat nongkrong, cara mereka mengisi hari liburan dan pilihan pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari yang di beli di pusat perbelanjaan modern. 

Kecenderungan di atas memunculkan tradisi yang kemudian disebut urban Sufism (lihat Martin and Julia Day Howell: Sufism and The Modern in Islam, 2007). Urban Sufism adalah proses pemenuhan kebutuhan spiritualitas yang tidak dapat dilepaskan dari hal-hal yang sifatnya material. 

Munculnya kelompok hijabers misalnya, menjadi tipe tersendiri dari karakteristik keagamaan kelas menengah muslim perkotaan. Kelompok ini memiliki kecenderungan yang tidak terlalu mempersoalkan masalah khilafiyah dalam bidang fiqh, bahkan topik perdebatan mengenainya pun sering dihindari. Bagi mereka proses ritualisasi keagamaan yang dapat memberikan nilai ketenangan, ketentraman dan kebahagian harus dimunculkan ke publik. 

Narsisme keagamaan bagi kalangan kelas menengah Muslim adalah sebuah kebutuhan tentang pentingnya eksistensi diri ditengah pergaulan dan kehidupan sehari-hari. Selain fenomena hijabers, zakat dan sedekah menjadi model paling terlihat sisi narsistiknya, yaitu dengan cara mengundang anak-anak yatim-piatu, kalangan dhuafa datang kerumahnya untuk mendapatkan zakat. Aktivitas keagamaan yang di unggah ke media sosial merupakan bentuk pencarian eksistensi religiusitas yang paling banyak muncul seiring menjamurnya pengguna sosial media dengan segala bentuk jenisnya.

Baca Juga:  Ramadan dalam Literasi Digital

Pilihan pendidikan bagi anak-anak khususnya pada level pendidikan dasar sampai pada pendidikan menengah atas dapat mengidentifikasi kemana arah kelas menengah Muslim menjatuhkan pilihannya. Biasanya sekolah yang yang di pilih adalah sekolah Islam modern, atau sekolah umum tapi bercirikan Islami yang memiliki fasilitas lengkap dengan biaya pendidikan yang tinggi. Dari pilihan-pilihan semua aktivitas tersebut terbentuk komunitas-komuntas elit yang berisi kelas menengah muslim.

Puasa Kelas Menengah Muslim  

Apa yang menarik dari kelas menengah muslim dan kaitannya dengan puasa? Pertanyaan ini diajukan untuk memetakan kefokusan bagaimana mereka menjalani dan mengkonstruksikan kehidupan sehari-hari selama bulan puasa. Ruang-ruang publik (public space)di kota-kota provinsi di Indonesia menurut Gerry Van Klinken (2015), misalnya, memperlihatkan peran kelas menengah kota menentukan corak bagaimana laju sosial-politik dan ekonomi berjalan.

Gerak kelas menengah inilah yang memiliki posisi tawar bagi bentuk kapitalisme yang berjalan, karena karakteristik kelas menengah seperti konsumsi dan gaya hidup ikut menentukan bentuk ruang publik itu sendiri. 

Kris Moerwanto (2011) menilai bahwa kebangkitan kelas menengah secara tidak langsung berbanding lurus dengan peningkatan permintaan produk, yaitu gaya hidup (life style), produk kecantikan, kesehatan dan juga sektor wisata dan transportasi. 

Hal-hal demikian akan berdampak pada jenis produk kelas premium, termasuk properti kelas atas. Hiburan layar kaca (talk show)sebagai bagian refleksi dari gaya hidup kelas menengah juga mengkondisikan bentuk-bentuk acara yang religius-kapitalis selama bulan puasa. Iklan di berbagai media massa tidak mau ketinggalan turut serta menyesuaikan diri untuk menyentuh segmen kelas menengah muslim. 

Tema-tema berbaju religius menjelma seperti jamur di berbagai ruang-ruang publik, mulai dari kuliner sampai fashion.Acara pengajian-pengajian sampai paket umroh ramadhan yang diperuntukan bagi kalangan kelas menengah muslim. Semua dikemas agar berkesan islami. 

Bentuk paling dominan bagi kelas menengah Muslim kota selama menjalani hari-hari di bulan puasa setidaknya dapat di lihat dari bentuk paling konkrit, yaitu konsumsi. Prilaku konsumsi ini dicirikan oleh banyak munculnya paket-paket kuliner sebagai menu berbuka puasa di pusat-pusat perbelanjaan dan pusat kuliner di berbagai sudut kota. 

Baca Juga:  NU dan Upaya Diseminasi Islam Nusantara (1)

Hal ini karena bentuk tradisi buka puasa dikalangan kelas menengah muslim, karena pada umumnya mereka selenggarakan dengan cara buka puasa bersama. Salah satu ciri masyarakat kelas menengah ditandai dengan lahirnya organisasi, komunitas-komunitas sebagai bentuk relasi baru ikatan sosial masyarakat kota. 

Seiring dengan hal itu, tradisi buka puasa dengan berbagai jenis komunitas yang ada ikut serta menyemarakkan buka puasa bersama. Seperti, buka puasa bersama teman kerja, alumni sekolah, keluarga besar, teman-teman yang tergabung dalam komunitas-komunitas hobi dan lain sebagainya. 

Selain konsumsi jenis kuliner yang menjamur, konsumsi jenis fashionturut serta menyemarakkan hasrat kalangan kelas menengah. Berbagai jenis model baju muslim yang menjadi trend setiap tahun selalu berganti. Di pusat-pusat perbelanjaan modern menawarkan harga diskon ‘gila-gilaan’ sebagai pemanis untuk menarik salah satu hobi kelas menangah, yaitu shoping. 

Alhasil, selain kesibukan mengatur jadwal dan menentukan pilihan akan berbuka puasa dimana dan dengan siapa, kelas menengah ini juga disibukkan dengan huntingharga diskon fashion,mall-mall penuh sesak, biasanya separuh perjalanan menjelang akhir puasa.

Bahkan mereka rela mengantri berjam-jam hanya untuk menyelesaikan proses pembayaran karena antrian yang membludak. Diluar itu semua, ada satu hal lagi yang ternyata menggiurkan bagi mereka, yaitu tawaran diskon kendaraan seperti mobil dan motor sebagai kendaraan untuk menikmati lebaran di kampung halaman. 

Penutup

Puasa sejatinya tidak berkaitan sama sekali dengan pemenuhan kebutuhan material, melainkan pemenuhan kebutuhan spiritual. Jika ditelisik makna terdalam dari puasa adalah adanya proses pemaknaan bahwa rasa haus dan lapar yang dirasakan selama menjalankan laku puasa adalah bentuk keprihatinan hidup agar terjalin rasa saling memahami nilai-nilai kemanusiaan, jauh dari kesan kemewahan. 

Bergesernya makna puasa tidak dapat dilepaskan dari bagaimana nilai puasa itu dikonstruksi dari kehidupan sehari-hari. Puasa menjadi ajang kesempatan untuk kepentingan pribadi melalui berbagai bentuk pemenuhan kebutuhan yang sifatnya individualistik dan matrealistik. Tugas para dai dan tokoh agama harus memberikan makna baru dalam pendekatan pemahaman yang lebih membumi agar matrealisme puasa tidak menjadi tradisi yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Tinggalkan Balasan