Mayoritas masyarakat hari ini masih beranggapan bahwa isu-isu seputar gender sudah final. Antara laki-laki dan perempuan memiliki tugas dan fungsi tersendiri dan juga memiliki proporsionalitas yang berbeda. Memaksakan tugas dan fungsi antara laki-laki dan perempuan agar bisa sama dan setara merupakan hal yang rancu.

Laki-laki dengan ke-maskulinitasnya diibaratkan memiliki kekuatan ‘lebih’ bila dibandingkan dengan perempuan. Apalagi bila seorang laki-laki—terutama yang sudah berumah tangga—maka  kekuatan ‘lebih’ tersebut akan menampakkan wujud. Berupa implementasi pertanggungjawabannya sebagai suami yang akan berjuang dan bekerja keras banting tulang menafkahi si istri. Konsekuensinya, dalam keluarga, seorang suami adalah pemimpin lahir dan batin yang wajib diturut-patuhi keputusannya oleh bawahan (istri).

Sebaliknya, perempuan dengan kodrat ke-feminiman, tak jarang pula harus mengalami semacam anomali. Di satu sisi dia harus tunduk kepada suami karena memang hukum normatif agama yang dilahirkan oleh para penafsir klasik menempatkan mereka sebagai istri dan ibu bagi anak-anaknya. Di sisi lain, dia justru sedang bertahan setengah mati menahan serangan kuat dari naluri kemanusiaanannya yang belum tersalurkan. Seperti naluri untuk bersekolah, kuliah, bekerja, berkarir, mendapatkan pergaulan sosial yang luas, dan lain sebagainya, sebagaimana laki-laki sudah menikmati naluri itu.

Namun, karena tidak memiliki pegangan epistemologi yang kuat, naluri kemanusiaan itu terbiar berlarut-larut hingga mereka (perempuan) tidak memiliki kepercayaan diri. Bias dari itu semua adalah mereka dipaksa untuk ‘ikhlas’ menerima takdir sebagai objek yang hanya berfungsi untuk melahirkan dan mengurus wilayah dapur, sumur, dan kasur. Tak jarang pula harus ‘makan hati’ karena acap kali mengalami KDRT bahkan terserang depresi akibat cinta berbagi (poligami).

Buku ‘Feminisme Muslim di Indonesia’ ini hadir untuk menjawab kegalauan itu semua dan menggugat kembali ke-finalan isu-isu seputar gender yang selama ini dianggap sudah selesai. Sekaligus buku ini adalah sebagai karya akademik yang sangat fenomenal di saat belum begitu banyak ilmuan-ilmuan Indonesia yang membicarakan isu kesetaraan gender secara komprehensif. Dalam buku ini, penulis yang merupakan salah seorang aktivis feminisme Islam Indonesia berupaya merekonstruksi ulang pemikiran-pemikiran yang terkesan merugikan salah satu pihak dalam kodratnya sebagai khalifatullah (wakil Tuhan di Bumi).

Baca Juga:  Resensi Buku: Jejak Jejak Arkeologi Islam di Lombok

Dengan menggunakan pendekatan metodologi sameness-difference, yang dicetuskan oleh Carol L Bacchi, dan diperkuat oleh teori maximisers-minimisers, penulis dengan berani menjelaskan ternyata terdapat dua arus utama dalam menafsirkan dan memahami ayat-ayat gender yang tertulis dalam Kitab Suci, yaitu arus tekstual dan kontekstual yang pada gilirannya melahirkan ragam pemikiran yang kemudian dikelompokkan menjadi kelompok literalis, moderat, dan progresif.

Tiga kelompok ini, literalis-moderat-progresif, saling ber-adu pandang dan argumen terhadap sembilan isu gender kontemporer dalam Islam yang sudah dibidik oleh penulis, diantaranya; soal pembagian peran dalam rumah tangga, hak-hak dalam kaitannya dengan seksualitas, pembuatan keputuasan dalam rumah tangga, soal waris, posisi perempuan sebagai saksi, tentang penciptaan perempuan, masalah poligami, status perempuan, dan soal perdebatan perempuan sebagai imam shalat berjamaah bagi laki-laki (halaman 120).

Seperti yang dipahami, kelompok literalis adalah kelompok yang menerima apa adanya kabar yang tersurat dalam Kitab Suci maupun Hadis Nabi tanpa mempertanyakan lebih jauh sebab, tujuan, dan kegunaan pesan-pesan sakral itu. Sementara kelompok moderat sekalipun masih sejalan dengan kelompok literal, tetapi dalam menetapkan ketetapan hukum yang diambil dari Kitab Suci cenderung fleksibel. Dalam arti ketika menetapkan sebuah hukum dan aturan lebih melihat situasi dan kondisi.

Selanjutnya untuk kelompok progresif, justru lebih cenderung mencari titik temu dari konteks pesan-pesan Tuhan tersebut dengan cara menggali ulang metode-metode tafsir, mulai dari masa klasik hingga modern dengan memakai kaidah hermeneutik dan kaidah win-win solution. Untuk kasus di Indonesia, kelompok literalis masih mendominasi mindset masyarakat bila dibandingkan dengan moderat dan progresif. Akan tetapi, dengan lahirnya buku ini, tidak menutup kemungkinan dominasi tersebut bisa berpindah. Dengan catatan dalam mempelajari buku ini tetap mendahulukan hati yang jernih dan jujur dengan niat untuk mendapatkan ilmu.

Baca Juga:  Islam Nusantara (di) Minangkabau

Dalam penulisan, semula buku ini adalah Disertasi Doktoral penulis di Western Sydney University Australia. Setelah mengalami perbaikan dan tambahan di sana-sini akhirnya menjadi sebuah karya yang menarik dan bisa didapatkan oleh siapa saja yang menginginkannya. Perlu dicatat bahwa, salah satu bab dalam buku ini tentang reaksi penulis yang diberi judul “Titik Temu Agama dan Feminisme”. Bab ini sangat menarik bahkan bisa dikatakan bab ini merupakan temuan penulis dalam penelitian yang memakan waktu yang tidak sebentar. Dengan mengutip Amin Abdullah, bab tersebut mengantarkan kita pada position taking keduanya yang seharusnya tidak lagi show of power, tetapi mencari titik temu negosiasi. Titik-titik pertemuan tersebut bisa melahirkan kemungkinan merekonstruksi makna-makna yang telah mapan dimulai dalam institusi keluarga.

Lebih lanjut, buku ‘Feminisme Muslim di Indonesia” ini patut dibaca oleh para akademisi, ustadz, da’i, penggiat literasi, penggiat HAM, organisasi-organisasi perempuan dan gender, dan masyarakat secara umum. Dari buku ini kita bisa belajar banyak dan memperkaya pengetahuan. Dan tak ketinggalan, buku ini membawa pesan bahwa kualitas pendidikan secara global semakin merata dan membaik (the rise of education).

Semoga Bermanfaat.

Riwayat Buku

Judul               : Feminisme Muslim di Indonesia

Penulis             : Alimatul Qibtiyah                                                

Penerbit           : Suara Muhammadiyah

Telp                 : (0274) 4284110

Cetakan I        : Maret 2019

Halaman          : 270 hlm

Ukuran            : 15,5 x 23,5 cm

ISBN               : 978-602-6268-64-8

Tinggalkan Balasan