Sebelum memulai diskusi tentang ritual “Basapa” dan segala dinamika yang mengiringinya, saya ingin terlebih dahulu mendudukkan dua istilah yang saya negasikan dalam sub judul di atas. Perlu ditegaskan bahwa saya tidak meletakkannya dalam sudut pandang makna asal, namun lebih kepada pemakaiannya sebagai simbol. Pada dasarnya, kedua istilah tersebut adalah jargon turunan dari dua arus besar role model keberagamaan di Indonesia. Yang pertama merupakan jargon andalannya kaum modernis-revivalis, seperti Salafi-Wahabi, HTI, Muhammadiyah, dll., sedangkan yang kedua merupakan jargon andalannya kaum tradisionalis-nasionalis yang dipelopori oleh NU. Di balik perbedaan itu, untuk konteks Minangkabau, keduanya memiliki satu titik temu; sama-sama “pendatang”.

Sebagai sesama pendatang, tentu keduanya diusung oleh penggeraknya masing-masing dengan membawa semangat yang melatarbelakangi ketika membaca ritual Basapa. Dalam bahasa hermeneutika Hans Georg Gadamer disebut dengan Historically Effected Consciousness, situasi tertentu yang bisa mempengaruhi pemahaman seseorang dalam membaca sesuatu. Jika diaplikasikan ke Basapa, melihat nama Basapa tidak ditemui dalam teks Alquran dan Sunnah, kaum modernis-revivalis akan langsung mencapnya sebagai suatu perkara Bid’ah dan Syirik tanpa mempelajari lebih dahulu ada apa di Basapa. Begitu juga dengan kaum tradisionalis-nasionalis, melihat Basapa merupakan sebuah ritual keagamaan yang sarat nilai-nilai budaya lokal, tentu mereka juga akan meletakkannya dalam diskursus Islam Nusantara, tanpa menelisik lebih jauh apakah Basapa benar-benar representasi Islam Nusantara di Minangkabau atau tidak.

Basapa secara bahasa adalah kata adaptasi dari Ber-Safar (nama bulan hijriyah kedua). Penggunaaan imbuhan “ber” menandakan bahwa Basapa adalah sebuah kegiatan di bulan Safar. Sedangkan secara istilah (sederhana), Basapa adalah serangkaian ritual kegamaan (baca: Ibadah) yang dilakukan jamaah Syattariyah se-Sumatera di bulan Safar di komplek makam Syekh Burhanuddin Ulakan (1646-1692 M), dalam perbedaan pendapat sejarawan, pendapat terkuat mengatakan bahwa beliau adalah penyebar Islam pertama di daerah Minangkabau. Sebagai pelopor Islam di Minang, maka Basapa adalah “sunnah”nya beliau yang diyakini masyarakat hingga hari ini sebagai bentuk pengabdian dan kesetiaan pada guru. Dikarenakan pola penerimaan ajaran oleh masing-masing muridnya berbeda, menyebabkan Basapa juga dilakukan pada waktu yang berbeda-beda juga. Tapi harus tetap dalam bulan Safar tiap tahunnya. Perbedaan ini juga menyebabkan embel-embel tambahan penyebutan Basapa itu juga berbeda, seperti; Basapa Gadang, Basapa Ketek, Basapa Buya Nku Saliah, dll. Namun, substansi dan ritual-ritual yang dilakukan tetap sama. Meski ada sedikit kreasi sana-sini di masing-masingnya.

Baca Juga:  Islam Lombok dan Bom Waktu Modernitas

Secara umum, agenda yang dilakukan dalam ritual Basapa adalah pembacaan surah Yasin, tahlil, salawat, pengajian dari ulama, dan doa bersama. Sejak selesainya pembangunan Masjid Agung Syekh Burhanudin di komplek makam, pelaksanaannya lebih sering di dalam Masjid. Jadi, sama sekali tidak ada unsur Bid’ah-Syirik dalam prosesi Basapa. Semuanya dilakukan dalam suasana penuh khusyuk beribadah kepada Allah.

Terkait pemakaian nama “Basapa” dalam penyebutan rangkaian ritual ini, adalah (di antaranya) sebagai pengingat bahwa setiap bulan Safar, jamaah Syattariyah harus bersiap untuk melakukan ibadah-ibadah yang disebutkan di atas. Sebuah nama yang dilekatkan masyarakat kepada serangkaian ibadah tentu tidak termasuk dalam perkara Bid’ah-Syirik. Hal ini sama dengan penyebutan “Kajian Rutin”, “Tabligh Akbar”, dan lain-lain. Alquran dan Sunnah pun tidak pernah menyebutkan nama-nama itu sebagai ibadah. Tapi rangkaian kegiatan yang ada di dalamnya-lah yang disebut ibadah. Persis sama dengan Basapa. Singkatnya, menyebut Basapa sebagai Bid’ah-Syirik karena ritual atau namanya, adalah bentuk ketidakpahaman—untuk tidak menyebut kebodohan—atas suatu perkara.

Meletakkan Basapa dalam diskursus Islam Nusantara juga bukan hal yang tepat. Karena adanya “pemaksaan” dalam hal ini. Masyarakat Ulakan sebagai tuan rumah masih enggan untuk mengatakan demikian. Beberapa waktu lalu, seorang teman aktivis NU di Minangkabau berceletuk di kolom status media sosial, ia mengatakan bahwa Basapa adalah representasi Islam Nusantara di Minang. Sontak, pernyataan itu menuai konflik yang cukup serius di Ulakan. Masyarakat resisten dan bahkan berkeinginan untuk melakukan aksi penghakiman komunal kepada teman ini. Mengingat salah satu kaidah fiqh yang kurang lebih berbunyi “menghilangkan kemudharatan itu lebih didahulukan dari membuat kemaslahatan”, terlepas dari problem epistemologi apa yang menyebabkan resistensi dan reaksi tersebut, maka saya berkesimpulan bahwa tidak tepat menyebut Basapa sebagai representasi Islam Nusantara, karena dengan begitu ada kemudharatan besar yang muncul mengiringinya.

Baca Juga:  Re-Branding Islam Indonesia: Menyoal Islam Kepulauan

Selain itu, juga harus diakui bahwa diskursus Islam Nusantara masih belum final. Generalisasi dengan membawa nama Nusantara yang di dalamnya mencakup seluruh wilayah Indonesia dan beberapa negara tetangga masih perlu dichallenge lagi. Karena, asal-usulnya (di) Jawa, diskursus Islam Nusantara masih cenderung mengedepankan aspek-aspek ke-Jawa-an (“Java Islam”).

Ringkasnya, Basapa adalah ibadah masyarakat Syattariyah se-Sumatera yang di dalamnya tidak ada unsur Bid’ah-Syirik seperti yang dilabeli kaum modernis-revivalis, bukan juga Islam Nusantara karena masih ada problem-problem particular yang harus diselesaikan dalam diskursus Islam Nusantara itu sendiri. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan