Pada dasarnya esensi dari tiga terma ini sama, yaitu orang-orang yang belajar agama kepada guru/ulama, di lembaga keagamaan baik formal atau nonformal, dan menggunakan kitab-kitab turats (klasik). Namun, harus diakui juga bahwa masing-masing dari ketiganya itu merupakan produk budaya daerah asalnya masing-masing, meminjam bahasanya Nasr Hamid Abu Zayd; Muntaj tsaqafi. (Abu Zayd kok dikutip? Tidak di sini kita diskusikan, Gais..).

“Santri” adalah istilah turunan untuk pelajar di Lembaga Pendidikan keagamaan yang disebut Pesantren, sedangkan pesantren itu sendiri sangat kental dengan nuansa Jawanya. Sedangkan “Anak Siak”, secara historis adalah sebutan untuk orang-orang dari daerah Siak (Sekarang Kabupaten Siak, Provinsi Riau) yang belajar agama di surau-surau di Minangkabau dan sekitarnya. Seiring berjalannya waktu, orang-orang menggunakan terma itu untuk setiap pelajar yang belajar agama di surau-surau/Lembaga Pendidikan keagamaan. Lain lagi dengan “Pakiah”, istilah ini secara bahasa merupakan sebuah adaptasi komunal masyarakat Minangkabau yang berasal dari bahasa Arab; “Faaqih” (orang yang paham agama). Bagi masyarakat Minang masa lampau, setiap pelajar agama di surau-surau digeneralisir sebagai orang yang paham agama, sehingga disebutlah mereka sebagai Pakiah.

Eksesifnya, pada kelompok-kelompok masyarakat Minang tertentu, tiga terma itu hampir tak digunakan sama sekali. Saya masih mendapatkan orang-orang yang menyebut pelajar agama di lembaga keagamaan itu dengan sebutan “Anak Buah”. Contoh: ketika ada yang ingin menanyakan “Si Anu itu gurunya siapa/belajar di mana?”, mereka menggunakan bahasa ”Anak buah sia nyo tu?” (Anak Buah siapa itu?), maka, kalau saya belajar kepada Ungku Meran (Syekh H. Ali Imran Hasan), orang yang ditanya akan menjawab “Itu Anak buah Ungku Meran”. Dalam hal ini tidak disebutkan nama lemabaga pendidikannya, tapi si pelajar tersebut dinisbatkan kepada gurunya. secara tidak langsung ini juga merupakan sebuah personifikasi kepada sang guru. Jika di daerah lain bentuk hormat ta’zhim kepada guru dilakukan dengan menunduk-nunduk, berjalan mundur karena takut membelakangi sang guru, dsb., maka di Minang hal tersebut dilakukan dengan pengakuan bahwa si pelajar hanyalah anak buah sang guru. Betapa pun hebatnya si pelajar, setinggi apapun kasta sosialnya, ia tetaplah harus mengaku bahwa ia hanya anak buah.

Pada satu sisi, seiring ternasionalisasikannya istilah Pesantren, terma-terma selain “Santri” jadi semakin terkubur. Para Anak Siak atau Pakiah di Minang sudah tak pede lagi menyebutkan identitasnya sebagai Anak Siak atau Pakiah. Namun di sisi lain, hal tersebut juga dikarenakan problem-problem ontologis-linguistis yang tidak jelas dari awal. Pakiah misalnya, terma ini hanya digunakan untuk menyebut para pelajar laki-laki, sedangkan untuk pelajar perempuan tidak ada sebutan. Jika dikembalikan ke bahasa asalnya, bentuk feminin (muannas) dari Faaqih adalah Faaqihah. Tapi orang Minang tak biasa dengan sebutan Pakiahah. Maka wajar saja ketika terma Pakiah harus rela dikubur Santri yang berpasangan dengan “Santriwati”. Begitu juga dengan Anak Siak, meskipun lebih umum dan tanpa jenis kelamin, orang tetap tak biasa menggunakannya untuk menyebut para pelajar perempuan. “Diskriminasi” terma ini juga tak lepas dari problem historis masyarakat Minang yang awalnya memang tidak mewadahi kaum perempuan untuk belajar agama secara intensif di surau-surau sebagaimana yang dilakukan kaum laki-laki. Singkatnya, dua terma produk Minang ini memang tidak disediakan untuk perempuan.

Selain itu, pemakaian istilah Pakiah juga disebabkan stigma buruk yang ditempelkan masyarakat modern Minang kepada para Pakiah tersebut. Hal ini dikarenakan kebiasaan mereka yang—biasanya—setiap hari Kamis atau Jumat pergi ke daerah-daerah ramai penduduk untuk minta sumbangan barang seribu, dua ribu, sedikit beras, dll., tentunya ini mereka lakukan untuk modal survive (bertahan) karena mayoritasnya berasal dari keluarga yang kurang mampu. Ritual para Pakiah ini di Minang disebut dengan “Mamakiah” (bentuk kata kerja dari Pakiah). Tapi bagi masyarakat modern Minangkabau hal ini dianggap suatu hal yang nyaris “memalukan”. Sehingga Pakiah-pakiah itu merasa tidak pede lagi menyebut dirinya sebagai Pakiah yang diniscayakan akan melakukan Mamakiah. Sedangkan Santri? Dalam perjalanannya semakin eksis dengan bantuan-bantuan proyek nasionalisasi, jawanisasi, dan pesantrenisasi. Wallahu a’lam.

Baca Juga:  Islam Lombok dan Bom Waktu Modernitas

1 KOMENTAR

  1. […] Semakin ter-marjinalkannya terma “anak siak” tidak terlepas dari pandangan umum masyarakat Minang yang mengkonotasi-negatifkan terhadap “anak siak” (dan pakiah). Karena kebiasaan mereka yang—biasanya mamakiah—setiap hari Kamis atau Jumat pergi ke daerah-daerah ramai penduduk untuk minta sumbangan (mamakiah) barang seribu, dua ribu, sedikit beras, dll., tentunya ini mereka lakukan untuk modal survive (bertahan) karena manyoritasnya berasal dari keluarga yang kurang mampu. (Syafwatul Bary, Okt, 2019) […]

Tinggalkan Balasan