Seni (tari, music, nyanyian, dan puisi) dalam diskursus sufisme sedari awal kemunculannya sudah menuai polemik yang cukup pelik. Tak sedikit praktisi sufi yang bersilang pendapat tentang keabsahan dan kebolehan penggunaannya.  Sebagian dari mereka ada yang mengatakannya sebagai alat al-malahi (alat yang melalaikan dari Tuhan), sebagian lagi ada yang membutuhkannya sebagai media suluk mencapai cinta ilahi. Maulana Jalaluddin Rumi misalnya, dengan tarekat Maulawiyahnya, ia menjadikan tarian berputar yang diiringi musik-musik sebagai media ekstase. Tarekat Rumi ini cukup diganderungi di banyak wilayah dunia sampai hari ini.

Selain Maulawiyah dengan tari sufinya, banyak lagi tarekat yang menjadikan seni sebagai media berekspresi kesufian. Amir Khusro Dehelvi—seorang pencinta tasawuf asal India-Pakistan—pada abad ke-13 menjadikan music, tari, dan nyanyian sebagai media sufisme yang dinamainya dengan Qawali (Regula Qureshi, 1986:25).

Untuk konteks Indonesia, adalah tarekat Syattariyah di Minangkabau (Provinsi Sumatera Barat) yang juga mempunyai ekspresi sufisme melalui seni yang tak kalah menarik dari aliran-aliran sufisme lainnya. yaitu Salawat Dulang (atau juga disebut Salawat Talam). Bedanya dari yang lain, Salawat Dulang bukanlah sebagai media berekstase mendapatkan cinta ilahi sebagaimana aliran-aliran tasawuf lainnya. Namun, Salawat Dulang adalah media transmisi ajaran-ajaran tarekat Syattariyah untuk masyarakat Minangkabau.

Secara harfiah, Salawat Dulang adalah salawat-salawat yang disampaikan menggunakan media dulang/talam (benda semacam nampan yang terbuat dari kuningan yang biasa digunakan untuk menghidangkan makanan). Jika ditelisik secara genealogis, Salawat Dulang merupakan kreasi Syekh Burhanudin Ulakan (1646-1692 M) ketika awal mula mendakwahkan Islam, khususnya ajaran tarekat Syattariyah di daerah Minangkabau. Konon, Syekh Burhanuddin sendiri terinspirasi dari orang-orang Aceh yang dilihatnya ketika belajar Islam di sana mendendangkan ajaran Islam dengan rebana. (Lihat, Oman Fathurrahman, 2008:133). Kreasi Syekh Burhanuddin ini diresepsi masyarakat dengan baik, dan mampu eksis hingga hari ini. Banyak masyarakat yang mengganderunginya sebagai media belajar dan mengajarkan tarekat.

Baca Juga:  Yang Tersisa Dari Ramadhan: Media dan Budaya Populer Muslim Kepulauan

Adapun pelaksanaannya adalah dengan tampilnya satu grup beranggotakan dua orang yang disebut urang pandai  dengan cara duduk bersila, dan masing-masingnya memegang dulang yang ditegakkan pas di hadapan badannya untuk bisa dimainkan sebagaimana memainkan alat music seperti rebana atau gendang. Mereka menabuh dulangnya sembari menggeleng-gelengkan kepala dan menggoyangkan badan ke kanan-kiri laksana orang yang sedang tahlilan, dan melantunkan konten-kontennya dengan rima dan irama khas Minangkabau. Biasanya, dalam satu kali pelaksanaan, Salawat Dulang  dilakukan oleh dua grup—atau lebih– secara bergantian.

Meski namanya Salawat, konten yang dibawakan dalam Salawat Dulang tidak didominasi Salawat kepada Nabi Muhammad Saw. Jika diklasifikasikan, dalam satu kali penampilan Salawat Dulang, memuat tiga konten pokok; katubah (pembukaan), batang (isi pokok), dan panutuik (penutup). Yang pertama memuat salam, puji-pujian kepada Allah Swt., Salawat kepada Nabi Muhammad Saw., dan sekedar basa-basi pengenalan nama dan asal grupnya. Sedangkan yang kedua memuat ajaran-ajaran tarekat Syattariyah yang disampaikan dengan rima dan irama khas Minang, bahkan, ayat Alquran dan Hadis pun juga disampaikan sesuai rima dan irama tersebut. Menurut Fathurrahman, syair-syair yang disampaikan melalui media Salawat Dulang ini adalah ajaran tarekat Syattariyah tingkat tinggi yang sangat filosofis dan sarat makna tasawufnya. (Oman Fathurrahman, 2008;135). Sebagai contoh, lihat potongan bait syair Salawat Dulang berikut ini:

“Ado sabuah hadis kudus… iyo nan mangato,

Man ‘arafa dengan la de nafsahu, faqad ‘arafa, dengan rabbahu nyo

Siapo mangana akan dirinyo, seolah mangana akan tuhannyo

Kalau lah tantu kito jo diri, tantu lah tantu jo tuhan kito

Karano itu janganlah lupo, tuntuik kaji diri nak nyo nyato

Laa ilaha illallah kalau dibaco, kulimahnyo ampek jangan lah lupo

Kulimah “La” kalau dibaco, A’yan kharajiah lah singajonyo

Tubuah nan kasa kulik dagiangnyo, baurek batulang bahati balimpo

Diresek taraso, dipandang barupo, pado hakikatnyo mait samato

Kulimah “Ilaha” jangan lah lengah, yaitu tubuah A’yan Tsabitah

Rohani di nyawa nan jilah, tidak bakulik badagiang badarah”

(Sumber: Channel Youtube Sinar Barapi Official)

Baca Juga:  NU dan Upaya Diseminasi Islam Nusantara (1)

[ada sebuah hadis kudsi yang mengata,

Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu

Siapa yang mengenal akan dirinya, seolah mengenal akan tuhannya

Kalau kita sudah tahu dengan diri, tentu juga akan tahu dengan tuhan

Karena itu, janganlah lupa, tuntutlah kaji diri (kaji tubuh) supaya nyata

Laa ilaha Illallah kalau dibaca, kalimatnya empat jangan sampai lupa

Kalimat “La” kalau dibaca, A’yan Kharijiyah sengajanya

Tubuh yang kasar, kulit dagingnya, berurat, bertulang, berhati, dan berlimpa

Dipegang terasa, dipandang berupa, yang pada hakikatnya mayyit semata

Kalimat “Ilaaha” jangan lah lengah, yaitu tubuh A’yan Tsabitah

Rohani bagi nyawa yang cerah, tidak berkulit, berdaging, dan berdarah]

Dalam potongan bait Syair Salawat Dulang di atas, tampak bahwa bagian pokok konten yang dibawakan adalah ajaran tarekat yang sarat nuansa tasawuf dan pengajian batin lainnya.

Yang juga tak kalah menarik dari Salawat Dulang sebagai sarana transmisi ajaran tarekat adalah sisipan konten-konten hiburan pada bagian penutup. Sebelum menutup dan mengakhiri Salawat Dulangnya, urang pandai membawakan lagu-lagu kekinian bergenre pop, dangdut, dan lain-lain ala generasi milenial. Terkadang, liriknya pun diubah-ubah selucu mungkin agar mengundang gelak tawa pendengar. Hal ini merupakan sebuah wujud kontekstualisasi seni tradisional yang jika dibiarkan tidak berkontekstual, akan lapuk ditelan zaman. Apalagi mengingat arus modernisasi yang kian menggerus ekspresi-ekspresi keagamaan tradisional.

Maka, dengan semangat sufinisasi generasi milenial yang menggema di mana-mana hari ini, sudah sepatutnya Salawat Dulang juga dijadikan ajang kontestasi. Terkhusus generasi milenial Minangkabau yang dinobatkan sebagai ahli warisnya.

Tinggalkan Balasan