Sebelum masuk ke poin-poin resensi buku, saya tertarik mengutip ungkapan Muhidin M.Dahlan, seorang aktivis buku di Yogya, dan pengarsip ‘sejarah pergerakan’  yang tekun. Ia mengatakan; “jika cincin menjadi pengikat hubungan, bunga mawar sebagai penanda ikatan asmara, resensi bisa menjadi proklamasi dari sebuah pertemanan”.

Muhidin memberi contoh  tentang Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir. Pada 1932, Sjahrir menulis buku tipis  Pergerakan Sekerdja dengan tebal hanya 36 halaman.  Buku ini mengulas soal:  “kapital, boeroeh, dan oepah”; “Pergerakan oepah dalam masjarakat kapitalistis”; “Pergerakan boeroeh”; “Kapital, boeroeh, dan oepah di Indonesia”; “Pergerakan boeroeh di Indonesia”; “Boeroeh kereta api di Indonesia”; dan “Pokok-pokok fikiran jang dikemoekakan (dalam 13 fasal)”.

Buku Sjahrir ini tergolong buku indie: diterbitkan sendiri, diiklankan di media sendiri, dan didistribusikan oleh usaha sendiri. Bahkan diresensi oleh sahabatnya sendiri yakni Mohammad Hatta, teman seperjuangan Sjahrir di jalan pergerakan PNI (Pendidikan Nasional Indonesia) dan orgaan Daulat Ra’jat.

Mari kita simak  paragraf pertama resensi Hatta:

“Kitab ketjil jang dikarang oleh saudara Sjahrir tentang “Pergerakan Sekerdja adalah soeatoe matjam kitab jang soedah lama ditoenggoe-toenggoe di Indonesia. Betoel soedah banjak kita dapat membatja karangan-karangan dan pemandangan-pemandangan tentang so’al Sarekat Sekerdja, tetapi baroe kitab inilah jang memberi analyse (koepasan) jang sekedar tjukoep tentang penghidoepan boeroeh dan dasar-dasar perdjoangannja. Disini tidak terdapat satoe oeraian agitatoris oentoek membangkitkan semangat, tetapi satoe koepasan jang tenang tentang garis-garis pergerakan boeroeh. Inilah jang meninggikan harga kitab ini; boleh dipakai sebagai pemimpin pengetahoean dan studie-materiaal”.

Paragraf di atas memberikan pelajaran berharga bagi kita, bagaimana cara Hatta mengapresiasi karya sahabatnya, bahwa buku tipis 36 halaman ini disebutnya sebagai: “pemimpin pengetahoean dan studie-materiaal”.  Dalam kaitan itu, di tengah suasana bulan Ramadhan, di mana satu peristiwa besar terjadi di dalamnya, yakni Nuzulul Qur’an yang mengandung anjuran dan spirit literasi (iqra’), saya hendak mentadarusi (meresensi) karya guru saya Dr Jamaluddin, MA, yakni “Jejak Jejak Arkeologi Islam di Lombok”.Tentu saja kapasitas saya bukan teman, seperti halnya Sjahrir dan Hatta, namun resensi ini saya tulis untuk mengikat hubungan antara murid dan guru.  

DR. Jamaluudin MA, alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bidang Sejarah. Ia memfokuskan kajiannya pada isu-isu sejarah Islam Lokal di Lombok. Semasa merampungkan disertasinya, ia dimentori oleh Prof.Dr Azyumardi Azra. Disertasinya itu kemudian diterbitkan dengan judul: Sejarah Sosial Islam di Lombok tahun 1740-1935 (Studi Kasus Terhadap Tuan Guru) diterbitkan oleh Puslitbang Lektur Kementerian Keagamaan tahun 2011.   

Buku Jejak Jejak Arkeologi Islam di Lombok mengulas dua situs utama jejak arkelogis Islam di Lombok, yakni pertama, situs Rembitan di Lombok Tengah bagian selatan. Kedua, situs Kerajaan Islam Selaparang di Lombok Timur. Dua situs ini diulas dengan menggunakan pendekatan arkeologis. Lebih jauh, kajian ini tidak hanya berhenti pada level analisis arkeologis, tetapi dilengkapi dengan analisis sejarah dari sumber-sumber lain yang bisa menopang rekonstruksi sejarah keislaman di Lombok.

Baca Juga:  Bolehkah Nikah Beda Agama?: Mengurai Argumen dan Meneroka Hal-Hal di Baliknya

Sebagai kajian arkelologi Islam lokal, buku ini setidaknya memberi kontribusi terhadap perkembangan kajian sejarah dan peradaban Islam lokal di Lombok. Kajian semacam ini bisa dikatakan masih sangat jarang untuk konteks Lombok. Sebab tidak banyak sarjana yang  telaten dan tekun memfokuskan dirinya untuk mengurai khazanah kesejarahan Islam Lokal di Lombok. Oleh karenanya, buku ini, menurut saya, sangat penting dibaca untuk memperkaya wawasan tentang potret masa lalu dan jati diri keislaman orang-orang Sasak.

Situs Rambitan: Mengurai Jejak Islam di Lombok Tengah bagian selatan

Adalah Rambitan sebuah desa yang berkecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, menyimpan dua  tinggalan arkelogis, yakni Masjid Kuno Rambitan dan Makam  Nyato’. Menurut penulis buku ini, dua situs itu menjadi bagian penting dalam upaya menelusuri masa lampau perkembangan Islam di  Lombok Tengah bagian selatan. Artinya, Rambitan di masa lalu adalah salah satu lokus penting dalam  perkembangan dan penyebaran  Islam bagi orang-orang Sasak.   

Masjid Rembitan adalah salah satu Masjid Kuno  di Lombok seperti Masjid Beleq di Bayan, Lombok Utara, dan Masjid Kuno desa Pujut, Lombok Tengah. Menurut Jamaluddin, setidaknya kekunoan masjid ini bisa dilihat dari beberap ciri arsitekturnya. Misalnya, mihrab Masjid ini dibangun menjorok ke luar tidak persis menujukkan arah kiblat, melainkan serong tujuh derajat ke arah Barat Daya, atapnya tumpang dua tingkat mengunakan alang-alang dan ijuk, bangunannya hanya terdiri dari bangunan inti saja tanpa serambi, dan fondasinya terbuat dari tanah.

Berdasarkan informasi lisan masyarakat desa Rambitan, Masjid ini dibangun sekitar abad ke-16. Masjid ini tentu saja dilengkapi dengan bedug, kolam, tikar tradisional, dan tempat lampu non-listrik dan minyak gas, disebut dile jarak (Bahasa sasak). Meskipun tergolong kuno, Masjid ini masih digunakan sebagai tempat ibadah sehari-hari oleh masyarakat sekitar.

Sedangkan makam Nyato’ terletak di puncak salah satu bukit desa Rembitan. Di komplek makam Nyato ini terdapat makam salah seorang ulama’ yang diyakini sebagai wali, yakni populer disebut wali nyato’.  Siapa gerangan sesungguhnya persona wali nyato’ ini? mengutip pendapat Lalu Jelenga, Jamaluddin menjelaskan bahwa nama asli wali nyato’ adalah Deneq Mas Putra Pengendeng Segara Katon Rambitan. Jamaluddin menambahkan, Wali Nyato pernah bermukim di wilayah Lombok Timur, memerintah di Kayangan (kota bandar/pelabuhan), lalu kemudian ia hijrah ke Rambitan, Lombok Tengah. Selain itu, Jamaluudin juga menyuguhkan spekulasi bahwa kemungkinan Wali Nyato’ adalah murid dari Sunan Prapen (Jamaluddin 2019: 85).

Selain makam dan Masjid, terdapat bagunan kuno lainnya di Rambitan, yakni gedeng (Sasak), yakni semacam surau atau langgar tempat belajar ilmu-ilmu agama dan merayakan ritual-ritual keagamaan. Gedeng ini ada dua bangunan berbentuk persegi panjang: gedeng daye (bagunan utara) untuk jema’ah laki laki dan gedeng lauk (bangunan selatan) untuk jema’ah perempuan. Masing-masing gedeng ini memiliki 10 tiang, sehingga jumlah total tiang dari kedua gedeng tersebut adalah 20. Menurut Jamaludin, pemaknaan simbolis terhadap jumlah tiang itu terkait dengan ajaran tasawuf yang diajarkan wali Nyato’ yakni tentang sifat 20 (Jamaluddin 2019: 86)

Baca Juga:  Islam (di) Salatiga: Manajemen Ruang dan Perkembangan Kota

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa corak keislaman masyarakat Rambitan, Lombok Tengah bagian selatan dan sekitarnya adalah tasawuf tarekat. Hal ini diperkuat misalnya oleh pendapat H.A.R Gibb bahwa secara umum proses Islamisasi pada Abad 16-17 didominasi oleh ajaran tasawuf-tarekat. Sebab corak keagamaan tasawuf-tarekat cenderung lentur dan mampu menyerap praktik tradisional dan kebudayaan lokal yang sudah mengakar di tengah-tengah masyarakat. (Gibb 1945: 25). Sementara itu, Azyumardi Azra berpendapat bahwa pendulum Islam tidak pernah berhenti bergerak di antara kecenderungan sufisme dan keta’atan formil syari’ah  (Azra, 2000:36).

Situs  Selaparang: Mengurai jejak Kerajaan Islam di Lombok Timur

Kini Selaparang adalah nama sebuah Desa kecil di kecamatan Suwela, Lombok Timur. Sementara dalam riwayantya, tempoe deloe  Selaparang diyakini sebagai kerajaan Islam terbesar yang pernah ada di Lombok sekitar abad 16 M, dan berkuasa dalam rentang dua setengah abad. Selain Selaparang, terdapat pula kerajaan-kerajaan kecil lainnya seperti Pejangik, Langko, Bayan, Sokong, Suradadi, dan Parwa.  

Namun demikian, kebesaran nama kerajaan Selaparang tidak diperkuat oleh bukti fisik berupa sisa-sisa bagunan kerajaan layaknya di Jawa. Oleh karenanya, sebagian orang berpendapat bahwa kerajaan Selaparang Islam hanya sekadar usturah (mitologi) yang dimapankan melalui cerita-cerita rakyat. Di tengah keraguan itu, Jamaluddin dengan cerdik mengambil celah lain, yakni dengan menelusuri jejak bagunan kuno berupa makam, yang dipercayai oleh orang-orang Sasak sebagai makam para Raja dan tokoh-tokoh agama kerajaan Selaparang Islam. Menurut Jamaluddin, setidaknya ada empat titik makam kuno di wilayah desa Selaparang: Makam Selaparang, Makam Tanjung, Makam Pesabu’an dan makam Pekosong.

Jamaluddin mengakui bahwa upaya pencarian kepastian sejak kapan kerajaan Islam Selaparang ini berdiri masih belum tuntas. Sebab belum ditemukan sumber data yang lengkap mengenai hal itu. Namun demikian, setidaknya ada dua pendapat yang bisa dijadikan ‘acuan awal’ untuk melacak eksistensi kerajaan Selaparang Islam; Pertama, Niuwenhuizen berpendapat bahwa Selaparang telah ada sejak tahun 1543 M. Dugaan ini berangkat dari informasi yang ditemukan di dalam lembar-lembar lontara yang menyebutkan wilayah wilayah kekuasaan di Lombok, salah satunya adalah Selaparang.

Sementara W.F Stutterheim, menetapkan bahwa kerajaan Selaparang telah berdiri sejak tahun 1729 M. Argumen W.F Stutterheim dibangun berdasarkan inskripsi yang ditemukan di salah satu batu nisan yang bertuliskan aksara Arab di komplek makam Selaparang.             

Penting diketahui bahwa sebelum berdirinya Kerajaan Islam Selaparang pada abad ke-16, konon dua abad sebelumnya yakni pada abad ke-14, Selaparang merupakan kerajaan Hindu yang dikenal dengan nama kerajaan Watu Parang. Kerajaan Watu Parang Hindu ini didirikan oleh Raden Mas pahit, salah satu pangeran dari keraton Majapahit yang eksodus ke Lombok. Sebetulnya ada satu tragedi yaang membuat Raden Mas Pahit menetap di Lombok, yakni prenikahannya dengan puteri raja Lombok. Padahal, puteri tersebut telah dijadikan calon Permaisuri oleh raja Majapahit kala itu.

Baca Juga:  Membincang Zakat

Menurut saya, dari kronik riwayat hubungan Majapahit dan kerajaan Lombok inilah kemudian yang mempopulerkan narasi tentang Gajah Mada di Lombok.  Dalam babad Negarakertagama, misalnya, Selaparang disebut dengan nama “selapawis”. Bahkan  di komplek makam Selaparang diyakini ada makam Gaja Mada.  Makam di sini bukan dalam pengertian kuburan, tetapi semacam napak tilas Gaja Mada, bahwa ia pernah sampai dan menginjakkan kakinya di gumi Selaparang. Bahkan, narasi tentang Gajah Mada dipopulerkan oleh figur ulama’ lokal, seperti misalnya Maulana Syaikh Tuan Guru Zainuddin Abdul Madjid menyebut di wasiat renungan masa tentang sosok Gajah Mada.        

Sebagian figur figur Tuan Guru di Lombok kerap menahbiskan dirinya sebagai orang yang memiliki sanad genetik dari Kerajaan Selaparang Islam. Terlepas dari apakah upaya itu semacam ‘projecting back’, namun yang pasti, posisi Selaparang Islam menjadi penting di dalam rangka mempankan otoritas figur-figur lokal. Pada titik itu, saya teringat pada sebuah ungkapan: ” di mana ada local wisdom, di situ ada local kingdom”.

Adapun lebih detail soal kerajaan Islam Selaparang dan penjelasan soal makam-makam kuno yang diyakini sebagai makam raja raja dan tokoh agama Kerajaan Selaparang Islam, maka buku yang ditulis Dr. Jamaluddin, MA, ini sangat penting untuk dibaca.  

Catatan Penutup

Seiring dengan tumbunya  kesadaran lokalitas, kajian -kajian Islam lokal mulai mendapat tempat dan bertumbuh cepat. Tentu saja kajian Dr. Jamaluudin, MA, ini salah satunya. Hemat saya,  kesadaran menulis kembali lokalitas tidak bisa dilepaskan dari pengaruh literatur Orientalisme-nya Edward Said. Dari teks-teks Said-lah, orang-orang Timur mulai sadar untuk membincang kembali dan mendefinisikan dirinya sendiri, setelah sekian lama ditulis oleh agensi-agensi antropolog Barat bersamaan dengan proyek kolonialisme.

Proyek kolonialisme yang panjang tentu saja menciptakan lapisan-lapisan pengetahuan yang cukup tebal. Tidak mudah kemudian mengurai lapisan-lapisan itu di dalam upaya memilah mana yang faktual dan mana yang sengaja diselewengkan. Pada titik ini, kita memerlukan kecakapan dan ketajaman untuk menerangkan  interkoneksi dari fragmen data yang ditemukan.

Sungguh pun demikian, kita tak perlu menjadi penganut teori post-kolonialisme garis keras yang kekanak-kanakan, yang menolak dan menghujat sepenuhnya catatan-catatan Barat tentang Timur. Sebab, setidaknya, Barat telah berjasa ‘mengarsipkan’ masa lalu kita, meskipun betapa banyak distorsi yang telah dilakukan.  Tugas kita adalah menekuni catatan-catatan mereka, lalu memilah-milahnya  dalam rangka menyusun ulang sejarah dan kedirian kita.

Kita juga patut berterima kasih kepada banyak pemikir yang dari mereka kita belajar membaca kembali diri kita, utamanya di negara-negara pasca kolonial. Sebut saja nama-nama seperti Hassan Hanafi, Gayatri Spivak, Franz Fanon, Hamid Dabbashi, dan lain-lain.

Sumber bacaan

-Jamaluddin, Jejak Jejak Arkelogi Islam di Lombok

Jamaluddin, Sejara Sosial Islam di Lombok (studi kasus terhadap TuanGuru)

-Babad Lombok

-Babad Selaparang

-https://muhidindahlan.radiobuku.com/

Tinggalkan Balasan