Seperti galibnya, sampul (cover) merupakan bagian penting dari sebuah buku. Sebab, sampul adalah “wajah” buku yang memberi impresi awal bagi calon pembacanya. Oleh karenanya banyak penulis rela membayar desainer cover buku demi sebuah kualitas tampilan luar dari karyanya itu.

Tak terkecuali Michael Laffan, entah bagaimana prosesnya ia mendesain sampul bukunya, sehingga tampak elegan, simple, antik sekaligus unik. Sketsa figur di sampul buku ini adalah wujud persona wali-wali tradisional (darwis sufi); agen penyebar Islam ke Nusantara. Sosok berjenggot dalam sketsa itu adalah “haji baok” (Bahasa sasak); artinya pak haji yang berjenggot.

Sketsa itu, konon, ditemukan di Kelayu Lombok Timur, milik Kamil Yasin. Yasin-lah kemudian yang mengirimkan sketsa ini ke Snouck Hurgronje di Makkah. Ketika Snouck saat itu sedang menjalankan tugasnya sebagai stafsus kolonial dalam upaya memantau Haji, serta kehidupan para ulama’ dan mukimin Nusantara di Makkah. Menurut Snouck, potret “haji baok” ini mengambarkan ciri fisik para sufi darwis yang masih bisa disaksikan di Makkah abad 19. Catatan-catatan dan dokumen Snouck selama di Makkah kelak diterbitkan dalam “Mekka in the latter part of the 19th Century (Edisi Brill, 2006).

Sketsa “Haji baok” sebagai wujud persona imaginer “wali” itu, entah kebetulan atau sekadar “cocoklogi”, menjelma lebih populis menjadi “amaq baok” dalam masyarakat Sasak. Ungkapan “amak baok” sangat popular dalam keseharian masyarakat sasak. Persona “amaq baok” bahkan menjadi nama salah satu punakawan dalam kisah pewayangan Sasak modern.

Adalah Lalu Nasib, dalang yang mempopulerkan “Amak baok” menjadi nyaris “mirip” Semar dalam kisah pewayangan Jawa, yakni Sosok yang “Badranaya”: memiliki karakter bijak bestari sebagai penuntun-pengasuh, penunjuk baik dan buruk.

Sebagai catatan, bahwa tradisi wayang di Lombok tidak terlalu popular, bahkan hanya segelintir orang yang melestarikannya. Barangkali karena wayang memang tak memiliki akar-kultural kuat dalam masyarakat Sasak. Eksistensi wayang di Lombok hanya merupakan pengaruh kebudayaan Jawa dalam proses Islamisasi Lombok oleh Sunan Prapen.

Kenapa orang Kelayu, Kamil Yasin itu, bisa berkorespondensi dengan Snouck Hurgronje? Boleh jadi karena secara geografis Kelayu dekat dengan Labuhan Haji: sebuah dermaga tua di Lombok Timur yang menjadi pintu gerbang menuju Mekkah di masa lampau. Kemungkinan melalui medium orang-orang Sasak yang berhaji, Snouck menjalin komunikasi dengan Kamil Yasin. Hal ini memperlihatkan betapa gigihnya Snouck mengumpulkan data-data; ia menyajikan sebuah kerja orientalisme yang serius—bukan kaleng-kaleng–di bawah bimbingan Nöldeke. Snouck sesungguhyna memiliki koleksi dokumen foto-foto haji Nusantara yang cukup lengkap, kecuali potert haji dari Lombok. Padahal foto haji dari pulau sebelah, Sumbawa, ada dalam koleksi Snouck.

Kenapa demikian? Karena foto-foto haji Nusantara dipotret Snouck di Konsulat Hindia Belanda di Jeddah, tempat para haji Nusantara melaporkan diri. Sedangkan Lombok saat itu memiliki konsulat sendiri di bawah Kerajaan Karangasem Lombok. Dengan kata lain, Bali-Lombok masih berdaulat saat itu, bukan di bawah kuasa kolonial Hindia Belanda.

Baca Juga:  Catatan Dua Abad Dimulainya Penjajahan Belanda di Minangkabau (Mei 1819-Mei 2019): Dari Literatur Ke Memori Kolektif

Meskipun demikian, bukan berarti Snouck tidak berinteraksi dengan jamaah haji asal Lombok. Konon, Hurgronje berkawan karib dengan salah seorang pemuka haji asal Lombok yang terus berlanjut hingga ketika Snouck ditugaskan kembali di Hindia Belanda. Kelak sahabat Snouck itu menjadi orang yang berpengaruh di lingkungan Raja, di Puri Cakranegara. Apakah sosok yang dimaksud adalah Sayyid Abdullah atau Tuan Guru Abdul Gaffur penujak yang dalam beberapa versi disebut pernah diangkat sebagai penasehat Raja? Wallahu a’lam.

Di Jeddah, Snouck berkenalan dengan Raden Abu Bakar Jayadiningrat dan Haji Hasan Musthafa. Dari keduanya ia belajar bahasa Melayu dan mulai bergaul dengan para jemaah haji Nusantara. Sementara di Mekah selama enam bulan, Snouck tinggal berdekatan dengan ‘rumah singgah’ jamaah haji Lombok, yang dibangun Raja Lombok tahun 1874 (lihat Henri Chambert-Loir: Naik Haji Masa Silam 1420-1890 ).

Dari desa Kelayu itu pula pernah muncul figur ulama’ besar Lombok, yakni Tuan Guru Umar Kelayu: “the godfather-nya” para tuan guru di Lombok. Konon, ia Semasa dengan Syaikh Kholil Bangkalan di Makkah. Kelak keturunan dan murid-muridnya banyak menjadi Tuan guru di Lombok. Baik sekarang yang menjadi tuan guru di Nahdlatul Wathan Connection maupun di Nahdlatul Ulama’ Connection.

Kita tak tahu persis, sejak kapan istilah tuan guru ini popular dan hegemonik di tengah masyarakat Lombok. Sebab di masa-masa sebelumnya, misalnya fase pendudukan Bali di Lombok, orang Sasak menggunakan beragam istilah untuk menyebut tokoh agama seperti: Qadhi, Kiyai, guru, dan “dea guru”. Istilah terakhir tentu saja pengaruh dari Sumbawa. Karena “dea” itu bahasa Sumbawa.

Penggunaan “dea guru” ini misalnya dapat dilihat dalam kisah Dende Aminah kalijaga (Lombok Timur) yang memiliki kaka sebagai penghulu di Selaparang disebut “dea guru” (Baca: Anak Agung Ketut Agung, “Kupu-kupu Kuning ang terbang di Selat Lombok”: 1992).

Di Sumbawa kita kenal figur besar Imam Ismail Dea Malela (1728-1786), diaspora Sulawesi yang menetap di Sumbawa. Nama “Dea Malela” sekarang diabadikan menjadi nama pondok Modern yang didirikan Din Syamsuddin (selaku keturuan ke-7 Dea Malela) di Sumbawa. Konon Dea Malela pernah mengalami pembuangan oleh Kolonial hingga ke Afrika Selatan, sama seperti Syaikh Yussuf Makassari.

Selama masa pembuangan, Dea Malela terus melanjutkan dakwah dan perjuangannya di Afrika selatan, banyak golongan budak dari Cape Town datang ke Antonie’s Gat untuk mencari perlindungan sekaligus belajar Islam kepadanya. Sejak itu, Ia menjadi salah seorang Imam Pertama di Afrika Selatan. Kini Makamnya menjadi salah satu yang dikeramatkan oleh komunitas Islam di sana. Bahkan Nelson Mandela pernah mengunjungi Makam Dea Malela. Mandela berkata: “Perjuangan kita menegakkan keadilan dan melawan kelaliman, belum seberapa jika dibandingkan dengan perjuangan tokoh yang bersemayam di dalam makam ini.” (cek Yayasan Pendidikan dan kebudayaan Dea Malela).

Baca Juga:  Mengenal Literatur Qur'an Generasi Awal di Indonesia

Di Lombok, tradisi ke-Tuan-guru-an kini semakin mapan, dan menjadi satu-satunya panggilan tertinggi bagi tokoh agama. Semua yang pernah mencicipi belajar Islam ke Timur Tengah kelak ketika pulang akan mendapat sematan gelar tuan guru. Gelar tuan guru juga mengalami metamorfose. Ketika tuan guru semakin sepuh dan pengaruhnya sudah semakin meluas, ia akan lebih etis dipanggil “dato’”. Misalnya Dato’ Lopan, Dato’ Umar, Dato Pancor (Tuan Guru Zainuddin), Dato’ Saleh Hambali (Bengkel), sekarang Dato’ Bagu (Tuan Guru Turmudzi Syuriah PWNU NTB).

Saya tak mengerti kemunculan istilah dato’ ini, namun yang jelas, secara bahasa, istilah ini erat dengan tradisi Minangkabau, dari asal kata “datuk”. Dalam konteks ini, ingatan saya merujuk ke Datuk Maringgih (di film Siti Nurbaya) dan Datuk Ibrahim Sutan Malaka, founding father of Indonesia yang tersisihkan itu. Dengan agak spekluatif, terma dato’ ini boleh jadi warisan tradisi Minang di Lombok, karena dalam sejarah Islamisai Nusa Tanggara Barat, Datuk Ribandang asal Minang dianggap punya peran dakwah yang cukup signifikan di kawasan ini (Lihat Jamaluddin, Sejarah Islam Lombok, 2018).

Kita tak banyak tahu soal hubungan Lombok (Nusa Tenggara Barat) dengan Minang di masa lalu. Tentu saja karena keterbatasan dokumen sejarah. Namun pada fase agak belakangan, kita bisa menyaksikan dokumen tentang hubungan Lombok-Minang di Indonesia Modern. Misalnya perkawanan karib Maulana Syaikh Zainuddin Abdul Madjid dengan Syaikh Yassin al-Fadani (di internet banyak sekali foto bersama dua ulama yang berkarib ini).

Contoh lainnya adalah persahabatan Tuan Guru Abdul Hafidz Sulayman (Kediri) dengan HAMKA. Persahabatan mereka terjalin ketika sama-sama berkiprah di Masyumi di masa Orde Lama. Mereka kerap surat-menyurat dan saling berkirim hadiah. Dalam salah satu suratnya, Hamka mengatakan Lombok sebagai “pulau Islam,” masyarakatnya sangat peduli agama; berbeda dengan Jakarta yang sudah mulai ke-Barat-baratan (Baca Patompo Adnan, Biografi TGH Abdul Hafidz Sulaiman).

Kembali ke buku The Making Of Indonesian Islam: Orientalism and the Narration of Sufi Past; Karya ini merupakan salah satu rujukan terbaik untuk membaca sejarah, peta keislaman dan jaringan ulama di Nusantara (Asia Tenggara). Buku ini mengajak kita menyelami kembali kiprah para ulama Nusantara abad 18-19 dengan cukup detail dan ekstensif.

Baca Juga:  Bung Karno, Api Islam dan Problem Khilafah

Laffan menjelaskan kiprah ulama-ulama tanah Jawa, Minang, Aceh, Banjar dan lain-lain secara gambling dalam buku ini. Ulasannya sangat luas, meliputi proses pencarian pengetahuan di Makkah, Karya-karya para ulama, kontestasi dan polemik antar ulama; pengaruh mistikus-mistikus tarekat di Nusantara, hubungan penguasa (sultan-sultan di Nusnatara) dengan para ulama Nusantara di Makkah, dan bagaimana kontrol kolonial terhadap para haji, ulama’ dan ummat Islam di Nusantara.

Dari keluasan tema-tema itu, saya hendak fokus pada pasase-pasase krusial tentang kiprah ulama-ulama asal Nusa Tanggara Barat dalam simpul jaringan ulama Nusantara. Laffan dalam buku ini sepertinya memberi tempat istimewa kepada tokoh-tokoh terkemuka asal Nusa Tenggara Barat semisal Abdul Ghani Bima, as-Sumbawi, Yusuf Al-Ghani as-Sumbawi, dan Zainuddin Sumbawi. Tokoh-tokoh ini memiliki kiprah cukup vital dalam penguatan simpul jaringan ulama Nusantara.

Menurut catatan Snouck yang dikutip Laffan, Abdul Ghani merupakan pakar fiqh yang sangat disegani dan dikenang dengan penuh cinta pada tahun 1880-an oleh nyaris sebagian besar generasi ulama jawi (Snouck Hurgronje, Brill 2006). Sedangkan Yusuf Al-Gani as-Sumbawai adalah penyusun ulang (editor) kitab Bidayat al-Mubtadi fi Fadl Allah al-Muhdi (Karya Abdul Samad Al-Falimbani?) dalam terbitan Istanbul.

Sementara itu Zainuddin Sumbawi tercatat sebagai satu-satunya ulama Nusantara yang masih boleh mengajar di Masjidil haram kala Makkah dikuasai family Ibnu Sa’ud yang berduet dengan idelog-nya Abdul Wahhab. Ulama-ulama dari Tanah Sumbawa ini merupakn figur-figur yang kokoh mempertahankan antotasi-anotasi kitab dengan bahasa Jawi (Arab Melayu) di tengah kecenderungan sebagian Ulama Nusantara yang mulai menulis dengan bahasa Arab saat itu.

Dalam wilayah tarekat, bertumbuhnya percetakan dan kitab-kitab Melayu senada dengan semakin menguatnya ortodoksi moralitas publik Ghazalian, sementara karya-karya para Sufi spekulatif semakin tersisih ke ruang-ruang perpustakaan pribadi. Namun belakangan, ketika semakin menguatnya arus “reformisme Islam” maka muncul kritik-kritik pedas terhadap praktik-praktik tarekat.

Sosok polemikus semacam Sayyid Utsman, misalnya, adalah kritikus paling gigih atas budaya-budaya dan karya Melayu serta tarekat yang diangggap banyak mengandung bid’ah dan bercampur dengan praktik pra-Islam. Suara lantang lainnya muncul dari Ahmad Khatib Minangkabawi.

Namun, Khatib agak berbeda, ia tak sepenuhnya anti tarekat. Ia hanya mengkritik praktik-praktik tarekat yang dianggap menyimpang dari sumber awal (ulama-ulama sufi rujukan ). Khatib tetap mengakui dan menghormati kaum sufi dan orde-orde tarekat yang selaras dengan syari’ah. Dengan demikian, Kritik Khatib adalah kritik yang berbobot dan berkelas secara intelektual.

Akhirnya, bagaimanpun juga, tarekat tetaplah penting dalam sejarah perlawanan terhadap kolonial, ada dua perlawanan penting yang dicatat Van Bruinessen, yakni permberontakan Banten dan Perlawanan atau perang Praya Lombok Tengah.[]

Tinggalkan Balasan