Bulan Ramadhan yang tiba bersamaan dengan perintah berpuasa, bagi kaum Muslim Indonesia, bukan sekadar perkara religi semata. Ia juga sebagai peristiwa kebudayaan. Misalnya, kita menyaksikan puspa ragam tradisi yang diekspresikan untuk menyambut, dan mengisi bulan Ramadhan. Masing-masing wilayah kepulauan Indonesia memiliki tradisi khas untuk merayakan dan mengisi Ramadhan.

Hal-hal semacam itulah yang menumbuhkan rasa rindu para perantau untuk segera pulang ke Kampung halaman. Ingin segera berkumpul dengan keluarga, lalu merayakan ramadhan besama dengan gembira.

Tradisi Muslim Indonesia mengenal budaya “mudik”.  Secara etimlogi, mudik dari asal kata ‘udik’, bemakna ‘kampung’, ‘udik’ atawa ‘pelosok’. Dengan demikian, mudik  dapat dimaknai sebagai peristiwa budaya, yakni kembali me-ngampung;  pulang  ke tanah di mana tangis pertama pernah pecah, cinta pertama bertunas, dan gairah masa muda terlepas.

Refleksi Kultural 

Sebagian besar orang-orang  yang tinggal di kota-kota besar sebetulnya  adalah orang-orang kampung yang merantau. Mereka merantau untuk berjuang mengadu nasib demi memperbaiki kehidupan dan mencapai kesuksesan. Dengan segala getir, mereka mempertaruhkan  hidup agar menjadi lebih layak.

Sebagian mereka menempuh jalur pendidikan, politik, bisnis, buruh, niaga, dan berbagai jenis profesi lainnya. Mereka menyimpan harapan yang sama, yakni  mendambakan kesuksesan dan kesejahteraan. 

Saat ramadahan tiba, tentu saja mereka mengalami gelayut psikologis yang menderu. Kerinduan mulai membuncah pada suasana puasa dan lebaran di kampung halaman bersama keluarga. Sebab menikmati Ramadhan di kampung merupakan momen paling puitik untuk mengenang dan merayakan kenangan masa kecil: suara mercon, tabuhan bedug, suara tadarus via pengeras suara masjid dan banyak lagi hal-hal lainnya.

Momen-momen itulah yang menumbuhkan imajinasi kita tentang desa dan masa kecil. Mudik menjadi seperti laku penziarahan kembali identitas kultural dan genealogis. Oleh sebab itu, setiap orang pasti merindukan mudik; untuk merayakan  pulang kepada kedirian dan keaslian.  

Maka tak heran, dalam tradisi Ramadhan di Indonesia, aktifitas mudik menjadi peristiwa kebudayaan yang kolosal saban tahun. Mudik bukan hanya sekadar kepulangan jasadiah. Melainkan, ia juga tentang membawa pulang kabar bahagia dan kesuksesan, atau bisa jadi juga sebaliknya.

Baca Juga:  Fakhitah binti Abi Thalib: Cinta Pertama Nabi, Tapi Tak Berjodoh

Kepulangan demi kepulangan saban tahun ketika mudik, tak selalu sama. Kita menyaksikan derap arus perubahan sosial di kampung halaman yang kian cepat. Misalnya, tanah lapang yang dulu tempat kita bermain dengan kawan sepermainan, kini telah berubah menjadi kawasan padat permukiman.

Gedung sekolah/madrasah tempat kita belajar waktu kecil yang masih sederhana, kini telah semakin megah. Gadis desa yang dulu adalah cinta pertama, kini telah berkeluarga.  Bahkan, mudik kali ini mungkin saja kita menjumpai orangtua kita yang telah semakin menua, dan mulai sakit-sakitan,  atau barangkali salah satu di antara mereka tak lagi ada bersama kita, mungkin juga kedua-duanya.   

Dalam kaitan itu, benar apa yang dikatakan guru kehidupan Pak Fahrudin Faiz (dosen filsafat UIN Yogakarta) dalam salah satu ceramahnya, bahwa orangtua, terutama ibu, cintanya tak bersyarat untuk anaknya. Bahkan, kata beliau, cinta ibu terhadap anaknya adalah cinta yang sakit.

Dalam arti kata; orang takut perpisahan, orang takut kesepian, tapi ibu harus rela berpisah dengan anaknya, lalu mengalami kesepian demi kesepian. Ia melepas anaknya demi kemandirian buah hatinya itu di masa depan.  

Sementara itu, di usia kita yang semakin dewasa, kita semakin sibuk dengan karir kita, bisnis kita, dan rutinitas-rutinitas kita yang lain. Kita hanya sempat membersamai orangtua kita sekali setahun saat momen mudik.

Sungguh suatu realitas yang berkebalikan, di waktu kita kecil, perhatian orangtua seakan tak pernah luput mengawasi tiap detil pertumbuhan kita. Susah senang, pahit manis dilewati dalam proses merawat kita di masa-masa pertumbuhan.     

Lalu apa hikmah yang bisa dipetik dari momen kultural itu? Jawabnya: hidup memang hanya sirkulasi; dimulai dari satu titik kemudian berproses dan kembali ke titik yang semula. Dari kampung menuju kota, lalu kembali lagi ke kampung untuk bernostalgia.

Baca Juga:  Lilik

Dari bangun tidur, kemudian beraktifitas, kembali pulang, kemudian tidur lagi. Ibarat orang berhaji, hidup ini tak ubahnya thawwaf, sebuah perjalalan melingkar menuju dan kembali ke titik pertama. 

Jadi,  hidup hanya-lah sebuah perjalanan untuk kembali. Hanya sebuah “jeda” sebelum  ‘pulang’, kembali  ke rumah seraya menyemai keriungan dan  kerahiman bersama keluarga. 

Refleksi Spiritual    

Orang-orang yang mudik sesungguhnya sedang menjalani teologi “ilaihi  roji’un”. Setiap orang pada saatnya pasti mudik ke kampung halaman abadi; yakni  mudik spritual,  kembali ke hadapan Allah sang maha pemilik segalanya. Perjalanan pulang itu tentunya penuh liku, menempuh jarak yang cukup panjang dan melelahkan. Stasiun pertama adalah kematian, saat malaikat maut menjemput. Kemudian menuju alam akhirat yang kekal abadi.    

Menurut riwayat, Rasulullah senang sekali membaca surat al-A’la dan al-Ghasiyah ketika melaksnakan  sholat Idul fitri. Dari dua surat itu kita bisa menemukan dua kata kunci: Pertama, Qad aflaha man tazakka wa zakara isma rabbihi fashalla. Dan kedua,  Inna ilayna iyyabahum, tsumma inna alayna hisabahum.

Ayat tersebut  bicara tentang pentingnya mensucikan jiwa, berzikir kepada Allah dan menunaikan sholat. Tiga entitas ini adalah semacam trilogi yang mesti ditempuh dalam proses perjalanan manusia sebelum mudik menuju Tuhannya. Sebagai perantau di dunia,  manusia memiliki kewajiban untuk menyiapkan bekalnya sebelum ‘mudik’ ke kampung halaman abadi, dan kelak ia akan mempertanggungjawabkan segalanya di sisi Tuhannya.

Kata kunci kedua: Inna ilayna iyyabahum, trsumma inna ‘alaina hisabahum. Ayat ini menegaskan bahwa manusia pasti kembali; mudik hakiki ke kampung halaman abadi. Lalu  Tuhan-lah yang akan menghisab segala jejak-lakunya.

Dengan demikian, sudahkah kita menyiapkan bekalbekal terbaik untuk sebuah mudik yang hakiki? Pertanyaan tersebut tentunya sangat menyentak dada dan mengiris kedalaman hati. Karena selama ini, dalam keseharin kita, kita memiliki begitu banyak alfa. 

Baca Juga:  Chairil Anwar

Maka tak ada yang lain, bekal terbaik untuk mudik hakiki adalahtaqwa. Yakni sebagaimana tujuan berpuasa adalah:  la’alakum tattaqun. Definisi taqwa dalam al-Qur’an sangat komperehensif.

Dalam surat Ali Imran ayat 133-135, misalnya, taqwadimaknai sebagi sikap “rela menginfakkan harta dalam kedaan susah dan senang, mengendalikan amarah, memaafkan orang lain, sering berbuat baik, cepat meminta maaf bila berbuat salah dan tidak mengulanginya lagi”.

Definisi taqwa dalam surat ini tentu menggambarkan bahwa taqwaerat kaitannya dengan relasi-sosial, etika, dan integritas. Taqwa tidak semata-mata melangit, namun taqwa mestinya sebenarnya membumi, berdimensi hablun mina an-nas.Berbuat baik kepada sesama. 

Sedangkan dalam surat Al-Dzariyat 16-29, taqwa dimaknai sebagai “mengisi sebagian besar malam untuk bemunajat kepada Tuhan, memohon ampunan pada waktu sahur, memberikan harta pada orang-orang miskin dan yang berkekurangan”. Dalam surat ini, taqwa adalah sebentuk sinergisitas antara intimasi transedental dengan Tuhan dan keberpihakan  kepada orang-orang yang terpinggirkan, lemah dan papa.

Maka dari itu, dalam proses menuju kemenangan personal di hari fitri, ritual intimasi transendental kepada Tuhan tidak akan lengka,  tanpa kepedulian dan pembelaan kita terhadap saudara-saudara kita yang mengalami kekalahan secara struktural. Yakni orang-orang tergilas oleh sistem, orang-orang yang tergusur akibat kekejaman pemimpin. Orang-orang yang terusir, dirampas tanahnya  oleh kehadiran industri kapitalistik. Itulah hakikatnya taqwa.

Akhirnya, semoga kita bisa memaksimalkan momentum ramadhan ini. Menikmati  kebahagiaan agung bulannya, menikmati magfirahNya, dan mendapatkan rahmtNya. Semoga ramadhan tahun ini mampu mengantar kita kepada kemenangan di hari idul fitri. 

Tinggalkan Balasan