Hannah Arendt (1906-1975) adalah seorang filsuf perempuan, penulis kaliber Jerman dan  teoritikus filsafat politik. Diantara deretan karyanya yang ngetop  adalah  The Origins of Totalitarianism (1951),  The Human Condition (1958),  Between Past and Future (1961), On Revolution (1963), Eichmann in Jerusalem: A Report on the Banality of Evil (1963),  Men in Dark Times (1968), Life of the Mind (1978) dan masih banyak lagi esai-esainya yang lain.

Namun kali ini, kita tidak hendak membincang karya dan pemikiran-pemikirannya yang rumit dan berat-berat itu. Melainkan mencoba meneropong sisi lain dari hidupnya, yakni soal kisah kehidupan asmaranya.

Berawal ketika ia menjadi mahasiswi dalam usia 19 tahun, Arendt jatuh cinta pada seorang  lelaki dewasa berusia 36 tahun, yakni professor Martin Heidegger (1889-1976).  Bagi para penikmat filsafat, sudah barang tentu mengenal nama yang satu ini. Sebab Heidegger punya pengaruh besar, sekaligus kontroversial. Sumbangsihnya tak perlu diragukan dalam bidang filsafat, khususnya di cabang fenomenology dan eksistensialisme.

Heidegger menjadi sosok kontroversial  karena ia sempat bergabung dengan Nazi. Meskipun belakangan, dia memutuskan berhenti dari Nazi. Lalu  ia menceritakan kepada murid-muridnya bahwa bergabung dengan Nazi adalah salah satu ‘kedunguan akbar’ dalam lembar episode hidupnya.      

Filsuf juga manusia, seperti halnya Heidegger dan Arendt.  Oleh karenanya, mereka tak melulu berfikir sepanjang hayat. Melainkan mereka juga punya sisi hidup yang, selama ini jarang tersorot, yakni soal lika-liku kisah cinta mereka.  

Tepat pada Februari 1925,  Heidegger menulis surat pertamanya kepada Arendt. Mungkin dalam bayangan kita, filsuf sebagai sosok yang gemar memikirkan hal-hal berat,  tak tergolong  tipikal cowok romantis. Tapi ternyata tak seperti yang kita bayangkan. Heidegger adalah filsuf yang amat romantis. Misalnya dalam surat pertamanya kepada Arendt,  ia mengucapkan:   

Arendt Sayang!

Malam ini aku harus menemuimu dan hendak berbicara pada hatimu.

Semuanya mesti kita sederhanakan, dan  memperjelas di antara kita. Hanya dengan begitu,  kita akan layak diizinkan bertemu. Kamu adalah mahasiswiku dan aku adalah dosenmu, tetapi semua ini adalah ‘kesempatan’ yang terjadi di antara kita.

Aku  tidak akan pernah bisa menyebutmu sebagai milikku, tetapi mulai sekarang, kamu akan menjadi bagian dari hidupku, dan hal itu akan terus bertumbuh seiring kebersamaan kita. Tentu Kita tidak akan pernah tahu, bagaimana orang lain memandang hubungan kita ini

Membaca muqaddimah surat itu, tentu saja kita bisa merasakan betapa romantis dan flamboyannya seorang Heidegger.  Ia terlihat  berusaha mendamaikan intensitas gelombang perasaannya, sembari menempatkan Arendt sebagai lawan bicara yang amat intim. Kita bisa membayangkan, betapa tidak mudahnya hubungan mereka, yakni hubungan asmara antara dosen dengan mahasiswi, sebuah hubungan  yang penuh resiko. Selain itu, Heidegger  juga telah menyandang status sebagai suami orang.  Sungguh ini adalah relasi asmara yang rumit dan pelik.

Baca Juga:  RAMADHAN DI PULAU TERLUAR INDONESIA: TRADISI MASYARAKAT SIMEULUE MELAKSANAKAN IBADAH PUASA BULAN SUCI RAMADHAN

Pada kalimat selanjutnya, Heidegger berucap dalam suratnya: 

Jalan hidup mudamu akan menjadi rahasia. Dan kita harus berdamai dengan hal itu.  Kesetiaanku padamu hanya akan membantumu untuk  tetap jujur pada dirimu sendiri. Bahagialah, sebab itulah saat ini satu-satunya yang kuharapkan padamu. 

Sebab hanya ketika kau bahagia, maka kau akan menjadi seorang wanita yang bisa memberikan kebahagiaan. Dengan begitu, kau akan menabur bahagia pada sekeliling, memberi rasa aman, menghaturkan penghormatan, dan menderma rasa syukur pada  hidup. Hanya dengan cara itulah, kau akan dipersiapkan untuk hal-hal baik selama kau menjadi mahasiswi di Universitas.

Pada  bagian ini, tergambar jelas betapa Heidegger memahami Arendt yang masih gadis belia. Ia  memberi nasehat yang sungguh elegan agar Arendt tumbuh menjadi sosok yang baik, bahagia, dan mempersiapkan studinya secara maksimal. Heidegger tampil sebagai sosok yang sangat dewasa dan bijaksana.  Ia memposisikan dirinya sebagai kekasih sekaligus mentor bagi Arendt.  

Menyadari kisah cinta yang dilakoninya amat rumit dan tidak mudah,  Heidegger seperti sangat mensyukuri hubungannya dengan Arendt meski dalam segala keterbatasan. Hal ini terlihat pada bagian suratnya yang lain, berikut ini:

Kita telah diizinkan untuk bertemu. Kita harus menganggap ini sebagai hadiah dalam diri kita yang terdalam, dan menghindari penipuan diri tentang kemurnian hidup. Kita tidak boleh menganggap diri kita sebagai belahan jiwa, sesuatu yang tak seorang pun pernah mengalami … tetapi karunia persahabatan kita ini adalah komitmen yang harus kita tumbuhkan bersama … sekali saja, aku ingin  mengucapkan terima kasih dan, dengan ciuman  yang murni pada bagian kening, hormatilah  statusmu sebagai mahasiswi, dan aku sebagai dosen.

Heidegger menganggap hubungannya dengan Arendt sebagai hadiah yang spesial, dan mesti dijalankan dengan komiten, meskipun ia sadar bahwa hubungan itu dibatasi kode etik yang ketat antara ia sebagai dosen dan Arend sebagai mahasiswi. Sebuah hubungan yang wajar dalam perspektif manusiawi, tetapi menjadi agak riskan dalam relasi sosial dosen dan mahasiswi.  

Hari demi hari, kegilaan Heidegger semakin membuncah. Tak tertahankan. Lalu ia meledak menjadi sangat filosofis. Dia kembali menulis surat:

Hannah sayang!

Mengapa cinta yang kaya ini melebihi semua pengalaman manusia, terasa ada beban tetapi ia begitu  manis. Kita menjadi apa yang kita cintai, tetapi tetap menjadi diri sendiri. Lalu kita mesti  mengucapkan terima kasih kepada yang terkasih, meski belum menemukan apa pun yang cukup.

Kita hanya bisa berterima kasih pada diri kita sendiri. Cinta telah mengubah rasa syukur menjadi kesetiaan, dan keyakinan tanpa syarat terhadap orang lain. Begitulah cara cinta semakin menyingkap rahasia terdalamnya.

Menjadi dekat adalah perkara berada pada jarak terjauh dari yang lain. Tetapi sebaliknya menempatkan “engkau” ke hadirat belaka, transparan tapi tidak dapat dipahami. Kehadiran orang lain tiba-tiba masuk ke dalam kehidupan kita.  Tidak ada jiwa yang bisa menerima kenyataan itu. Nasib manusia memberi dampak  pada nasib manusia lain, dan tugas cinta murni adalah menjaga pemberian ini tetap hidup seperti pada hari pertama ia mulai tumbuh.

Sungguh dalam penggalan surat di atas, Heidegger terlihat meluap-luap. Antara cintanya pada Arendt yang menggejolak, dan di sisi lain ia memahami statusnya sebagai suami orang lain. Namun ia tak kuasa menolak perasaannya. Dengan segala resiko, ia membiarkan perasaannya mengalir kepada Arendt. 

Baca Juga:  Fakhitah binti Abi Thalib: Cinta Pertama Nabi, Tapi Tak Berjodoh

Namun  sungguh na’as, belum genap satu tahun kisah romansa mereka, Arendt mengakhiri segalanya secara tiba-tiba. Alasan utamanya  adalah karena dia ingin fokus pada urusan  akademiknya. Heidegger tentu sangat terpukul atas keputusan Arendt. Sehingga  pada Januari 1926, Heidegger kembali menulis surat:

Hannah sayang!

… Saya mengerti atas keputusanmu, tapi menangung semua ini tak akan mudah bagiku. Cintaku padamu, melebihi rasa cinta yang kusadari”

“Pengunduran dirimu”  dan memutuskan semua hubungan ini demi  kreatifitasmu, adalah hal yang luar biasa. Namun, sebagai pengalaman  konkret, ini adalah hal yang paling menjijikkan. Hati seseorang tercabik dari tubuh seseorang.

Dan hal yang paling sulit adalah mengalami situasi ‘asing satu sama lain’.  Beban isolasi ini adalah bagaimana berusaha kuat untuk menjaga jarak yang terakhir dan konstan. Karena hanya dengan demikian semua pengorbanan dapat dihindarkan, bersama dengan penolakan-penolakan yang diperlukan.

Tetapi hasrat yang tersiksa ini bukan saja tidak dapat dicapai, bahkan dilupakan  sedemikian rupa.  Sehingga hubungan  yang paling vital ini mendorong kita dalam  keterasingan sekali lagi…. Kehidupan semacam itu tidak memiliki pembenaran. Mengakui dan menerima hal ini dengan cara yang positif, bukan  sebagai semacam pelarian– adalah apa artinya menjadi seorang filsuf.

Namun betapapun tragisnya pengorbanan menjadi seorang filsuf, Heidegger mendorong Arendt muda untuk tetap melakukannya, belajar yang tekun di bidang filsafat. Bahkan ketika Heidegger membiarkan Arendt untuk pergi dengan caranya sendiri, dia mengutarakan kerinduannya pada wanita itu dan harapannya untuk bertahan:

Sungguh jelas,  bahwa di masa mudamu dan tahap pembelajaran reseptif, kau tak boleh berkomitmen sedini mungkin. Selalu buruk bagi orang muda jika tidak melaju mengembangkan diri.  Sebab itu tanda bahwa kebebasan naluri telah mati…

Dan mungkin keputusanmu akan menjadi contoh,  Jika itu memiliki efek yang baik, itu semata-mata terjadi  karena  pengorbanan dari kita berdua.

Malam itu dan surat-suratmu  telah memperbarui kepastianku bahwa segala sesuatu tetap dekat dengan apa yang baik, dan menjadi baik … kamu, bahkan dalam situasimu, harus bahagia karena hanya mereka yang berjiwa muda dan penuh harapan serta keyakinan yang kuat yang bisa menuju masa depan gemilang…

Hidupku akan terus berlanjut, dengan segala prestasi yang kuraih. Meskipun tak bisa dipungkiri bahwa aku akan mengalami kehampaan demi kehampaan. Tetapi kehampaan semacam itu barangkali diperlukan untuk meraih banyak pencapaian.

Namun terlepas dari kepergian Arendt, intensitas emosional antara keduanya membuat mereka terus korespondensi dan sesekali mereka masih sempat bertemu. Heidegger kembali menulis surat:

Baca Juga:  Falsafah Angka dan Titimangsa Kehidupan Manusia

My dear Hannah!

Meskipun kamu tetap hadir seperti di hari pertama, suratmu membuatmu menjadi sangat dekat.  Aku memegang tanganmu dengan penuh kasih dan berdoa untuk kebahagiaanmu.

Anakku sayang (baca:panggilan untuk mahasiswi), apakah kamu hanya “berharap” aku percaya padamu? Tanyalah bagian hatimu yang terdalam, yang begitu sering menyinari diriku dari matamu yang sangat dalam.

Suratmu telah mengguncangku seperti sejak pertama kali kita berkomunikasi. Hari-hari itu seperti kembali lagi dengan getaran-getaran yang sama seperti dahulu. Sungguh cinta yang dahsyat.

Pada bulan April 1928, Arendt menggemakan pernyataan terkenal Freud bahwa cinta dan pekerjaan adalah dua pilar semangat manusia, dan akhirnya dia memilih karya filsafat daripada asmara dengan Heidegger. Arendt menulis kepada Heidegger, untuk memintanya  memahami pilihannya:

Aku mencintaimu seperti yang kulakukan pada hari pertama – kau tahu itu, dan aku selalu tahu itu, bahkan sebelum pertemuan terakhir ini. Jalan yang kau tunjukkan kepadaku  lebih panjang dan lebih sulit daripada yang kukira. Ini membutuhkan umur panjang secara keseluruhan.  Jalan kesendirian ini dipilih dan  satu-satunya cara hidup mendidikku. ..

hanya kau  yang memiliki hak untuk mengetahui hal ini, karena kau selalu mengetahuinya. Aku berpikir bahwa bahkan ketika aku akhirnya diam, aku tidak akan pernah tidak jujur. Aku selalu memberikan sebanyak  yang kau inginkan dariku, dan itu tidak lain adalah komitmen cinta  yang membuat aku bertanggung jawab . Aku akan kehilangan hak untuk hidup, jika aku kehilangan cintaku padamu, tapi aku juga akan kehilangan cinta dan realitasnya jika aku lalai melaksanakan  tanggung jawabku.

Setahun kemudian, Arendt bertemu dengan seorang jurnalis dan filsuf muda Jerman di seminarnya  Heidegger. Pada musim gugur , Arendt  memutuskan menikah dengan lelaki baru itu. Di hari pernikahannya Arendt menulis surat kepada Heidegger sebagai satu gema romantis terakhir, sekaligus sedih dan bangga:

Jangan lupakan aku, dan jangan lupakan betapa dan seberapa dalam aku tahu bahwa cinta kita telah menjadi berkah dalam hidupku. Pengetahuan ini tidak dapat diguncang, bahkan hari ini, ketika, sebagai jalan keluar dari kegelisahanku, aku telah menemukan sebuah rumah dan perasaan memiliki pada lelaki yang kau tak  mengenalnya lebih jauh…

Aku mencium alis dan matamu,

Hannahmu

Demikianlah sejarah bekerja, Arendt dan Heidegger akhirya menikmati kehidupan masing-masing.  Mereka masing-masing hidup bersama dengan orang lain. Menjalani sisa sisa hidup mereka yang semakin menua. Jasad mereka terpisah, tetapi ingatan- ingatan mereka barangkali kerap kali bertemu  di alam kenangan.  Begitulah senjakala hidup mereka berjalan. Sampai pada suatu ketika Arendt meninggal dunia. Lalu enam bulan kemudian Heidegger pun menyusul Hannah Arendt.

Wahai para pembaca yang budiman, kita sudahi saja dongeng ini ya. Demikianlah perjalanan kisah cinta anak manusia. Tentu masih banyak kisah cinta yang lain. Yang tak kalah getir, tragis dan romantisnya.

Mohon maaf jika ada penggalan kisah yang mirip-mirip. Jika ada kemiripan karakter dan kisah, maka itu hanya kebetulan saja. Jangan gara-gara ada kemiripan kisah, pembaca seolah-olah merasa pantas  menjadi filsuf seperti  Heidegger.

Sekian….!!  

*diolah dan modifikasi dari https://www.brainpickings.org/2016/04/25/hannah-arendt-martin-heidegger-love-letters/

Tinggalkan Balasan