Setelah izin pendakian Gunung Rinjani mulai dibuka kembali. Beberapa hari ini saya membaca beragam kontroversi. Pertanyaannya, kenapa kontroversi itu muncul? Kita segera akan menemukan jawaban, bahwa salah satu alasan paling dekat adalah: traumatik masyarakat atas rangkaian gempa yang memporak-porandakan Lombok sepanjang tahun 2018 lalu. 

Lalu apa hubungan pendaki dengan gempa? Kok Jaka sembung bawa golok sih logikanya? Tentu secara saintifik tak ada kaitannya sama sekali. Pendaki bukanlah penyebab gempa terjadi.  Sama sekali tak masuk akal. Apalagi kalau pakai ‘akal sehat’ om Rocky Gerung sang pendaki kata-kata, sekaligus gunung itu. Dalam soal daki-mendaki gunung, om Rocky dan Jokowi sepertinya akur, sama-sama hobi. Meskipun dalam politik om Rocky tak pernah berhenti komat-kamit mengkritik Jokowi.

Kembali ke soal Rinjani dan gempa. Alasan yang paling absah dan logis dalam kacamata sains penyebab gempa adalah: karena Indonesia (termasuk Lombok di dalamnya) berada di jalur yang dikelilingi cincin api Pasifik dan berada di atas tiga tumbukan lempeng benua, yakni Indo-Australia, Eurasia dan Pasifik. Oke sampai di sini, saya sepakat soal itu. Kita mesti menghargai analisis-analisis berbasis ilmu pengetahuan ilmiah.

Salah satu koran Nasional berbahasa Inggris The Jakarta Post memuat laporan soal rencana penertiban akitvitas pendakian Gunung Rinjani, yakni dengan menetapkan regulasi pemisahan tenda antara laki-laki dan perempuan, kecuali bagi pendaki yang merupakan pasangan sah. Regulasi ini katanya, untuk mendukung program wisata halal, begitu Jakarta Post mengutip Sudiyono (Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani/BTNGR).  

Sudah pasti banyak yang mengkritik regulasi ini dengan tuduhan kampungan, norak, dan receh. Sebab ini sebetulnya hanya perkara  bisnis dan politik pariwisata halal. Namun demikian, saya tak punya kapasitas bicara soal pariwisata halal, karena bukan bidang saya. Oleh karenanya, Saya lewatkan saja hal-ihwal ini. Saya awam sekali soal perkara ini.

Jelas saja pranala berita The Jakarta Post itu mendapat reaksi keras dari beberapa pembaca. Saya mengamati kolom komentar pada pranala berita tersebut sarat dengan reaksi berupa makian. Ada yang bilang: kampungan, cara pandang Indonistan, halal madness, otak sampah, dan beraneka jenis risak-rundung lainnya.

Baca Juga:  Bahasa Minang Kini

Kemudian laman berita Detik travel dot com juga memuat berita serupa dengan judul ‘Pendaki Pria dan Wanita Dipisah, Rinjani Jadi Gunung Syari’ah? Pranala berita ini tentu saja mengundang banyak emot ketawa dari warganet yang maha mulia, mungkin terbersit di hati mereka, betapa ‘gobloknya’ orang Lombok dalam meregulasi persoalan wisata.

Apa pasal? Sebab frase  “Rinjani Syari’ah” yang merupakan framing media itu, belakangan ini telah mengalami banyak peyorasi, karena berjubelnya komersialisasi berbau syari’ah seperti: kulkas syar’i, jilbab syar’i, bahkan konon ada sempak syar’i. Dahsyatullah, Indonesia memang luar biasa kreatifnya.

Promo produk-produk syari’ah itu tentu saja memengaruhi mentalitas dan pemahaman kita soal segala sesuatu yang kemudian diberi label “syari’ah”.  Terlebih ketika berita detik travel memuat judul semacam itu. Sontak saja warganet merasa lucu sekaligus aneh. Tetapi perlu dicatat ya, orang Lombok tidak pernah mengatakan “Gunung Rinjani Syari’ah”  itu hanya framing  media saja. Orang Sasak-Lombok hanya menggunakan frase “awik-awik” untuk mengatur regulasi bagi para pendaki.     

Baiklah, begini. Saya tidak hendak membantah alasan-alasan sains soal teori terjadinya gempa. Tidak pula tertarik membela wisata halal dengan regulasi yang dipandang ‘konyol’ oleh sementara orang itu. Tetapi, melampaui alasan-alasan itu, alangkah baiknya kita menggunakan perspektif antroplogi untuk meneropong fenomena ini. Para pewisata, khususnya orang-orang luar, mungkin perlu memahami kearifan dan kosmologi lokal orang-orang Sasak-Lombok tentang Rinjani. Bagi mereka, Rinjani itu suatu lokus yang “disucikan” (pakai tanda petik biar kagak dituduh syirik karena mensucikan gunung, gaes).

Dalam historiografi Lombok, desa desa di lingkaran lereng Rinjani tergolong desa desa kuno yang memiliki kearifan tua. Konon, di wilayah-wilayah ini pula berkembangnya ajaran-ajaran tarekat-tasawuf. Seluruh wilayah di sekitar lereng Rinjani dulunya disebut “ Wilayah Bayan”. Namun sekarang dalam pengertian definitif-administratif, desa Bayan hanya dikenal yang ada di Lombok Utara.

Baca Juga:  Kacang Tojin : The Dark Forgotten Trail

“Bayan” secara etimologis bisa dimakanai ‘timbul’, boleh jadi karena wilayah ini merupakan wilayah daratan paling tinggi dibanding wilayah-wilayah lainnya di pulau Lombok. “Bayan” juga bisa dimaknai ‘terang’, barangkali karena di titik wilayah inilah terang ajaran Islam (model tarekat-tasawuf) pernah berkembang dalam waktu yang cukup lama.

Dalam konteks itulah, Rinjani menjadi tempat pertapaan (uzlah, tahannuts) orang-orang suci di zaman dahulu. Bagi sebagian lain, digunakan sebagai tempat mengolah dan menempa kekuatan supranaturalnya.  Bahkan sampai detik ini, kalau anda tanya orangtua-orangtua di Lombok, mereka akan bercerita bagaimana mereka dahulu mendaki Rinjani dengan misi misi ‘religius’ semacam itu, dan tentu saja menetapkan regulasi diri yang ketat selama proses pendakian. Tidak sedikit pula para Tuan Guru tua yang memiliki kosmologi serupa tentang Rinjani. Mereka selalu punya narasi soal ‘kekeramatan’ gunung Rinjani. Untuk menyebut salah satu saja, misalnya, Maulana Syaikh TGH Zainuddin Abdul Madjid banyak berbicara soal ini.  Anda boleh saja cek di wasiat renungan masa, dan ceramah-ceramahnya.

Lalu masalahnya apa? Masalahnya adalah: hasrat hedonisme pewisata kerap mengabaikan kearifan dan kosmologi lokal objek wisata. Hanya karena mereka mampu membeli kesenangannnya lewat aktivitas wisata, mereka merasa berhak ‘mengangkangi’ carapandang orang lokal, yang oleh salah seorang kawan saya disebut “mito-ekologi”. Bayangkan, para pendaki itu, membawa berkardus-kardus mie instan dan  berkardus-kardus  air mineral kemasan, lalu meninggalkan sampah plastiknya. Badingkan dengan orang-orang dulu, mereka tidak bawa mie instan dan air kemasan, mereka hanya bawa beras, lalu memanfaatkan dedaunan jadi alas ketika makan, bukan kertas nasi seperti para pendaki modern.

Orang-orangtua itu, tidak paham apa itu ekologi yang sering kita cuapkan berbusa-busa.  Namun kesadaran ekologis mereka tumbuh secara alamiah. Mereka tak ‘menggerayangi’ sembarang tempat di Rinjani, demi menjaga keseimbangan lingkungan. Mereka percaya ada tempat-tempat tertentu yang harus dijaga ‘kesuciannya’.  Entah karena alasan-alasan yang dianggap takhayyul dan mitos oleh manusia modern, tapi setidaknya dengan cara itu mereka (orangtua-orangtua dulu) telah menjaga lingkungan. Sekarang bagaimana? Semua tempat di Rinjani digerayangi demi kepentingan ‘industri selfi’ dan basi basi macam ini: “dapat salam dari Rinjani, kamu kapan ke sini?”.        

Baca Juga:  Ketika Filsuf Jatuh Cinta

Jadi, saya memperhatikan bahwa respon keras terhadap rencana regulasi pendakian gunung Rinjani dipengaruhi oleh mentalitas kita yang sedang terkepung oleh agenda-agenda syari’atisasi dan dinamika politik identitas belakangan ini. Lima tahun belakangan ini kita memang ‘teler’ oleh isu-isu agama, kenyang dengan khutbah-khutbah keras, muak dengan aksi aksi vandalisme yang mengutuk segala sesuatu yang dipandang tidak ‘Islami’ versi mereka sendiri.  Oleh karenanya, kita  terbelah sejadi-jadinya. Maka tidak heran kemunculan frase “Gunung Rinjani Syari’ah” membuat banyak orang phobia. Padahal, cara pandang masyarakat Sasak soal Rinjani telah tumbuh sejak lama, jauh sebelum munculnya komersialisasi merek merek syari’ah.  Sebelum Jokowi versus Prabowo, juga sebelum Anies Baswedan versus Ahok.

Jadi begini saja deh, untuk menghindari alergi kita soal yang “disyari’ah-syari’ahkan’, mari kita pahami perkara ini secara sekuler saja, yakni dengan menggunakan sudut pandang antroplogi, bahwa regulasi (bahasa Sasak: awik-awik)  pendakian Rinjani mesti ditempatkan sebagai kearifan dan kosmologi lokal masyarakat Sasak. Oleh karenanya harus dihargai. Bukankah selama ini kita getol ingin kembali ke isu-isu kearifan lokal? Kenapa cara pandang masyarakat Lombok yang bertumbuh beratus-ratus tahun lalu ini enggan dimaklumi sebagai bagian dari kearifan lokal? Atau apakah karena merasa telah menjadi manusia modern Anda merasa rendah diri jika mempercayai apa yang anda anggap ‘mitologi’? oke, boleh bolah saja. Itu hak Anda. 

Meminjam kata Gus Dur, “salahkah jika dipribumisasikan?” apakah dalam aspek wisata Rinjani ini kita tak mau menghargai kearifan dan kosmologi masyarakat setempat? Jika tidak mau, maka nalar pribumisasi Anda belum diinstal dengan baik (haha). Katanya menghargai keragaman?  Kenapa sulit menerima keragaman budaya dan cara pandang? Seperti halnya main ke Borobudur misalnya,  Anda harus pakai sarung yang diikat ke pinggang sebelum naik ke badan bagunan Candi. Juga banyak regulasi wisata di tempat tempat lainnya.

Maaf ya teman-temanku para pendaki gunung, jangan tersinggung. Ini sekadar percelotehan sia-sia belaka yang menyampahi lini masa Anda.  Saya tidak berharap Anda ‘hijrah’ setelah membaca tulisan ini. Tapi minimal Anda berfikir untuk menyelamatkan lingkungan. Jangan hanya gagah-gagahan dan keren-kerenan naik gunung agar seperti Gie, tapi warisilah idealismenya juga. Itu saja. Sekian.  

Tinggalkan Balasan