Bukti arkeologis yang paling awal dari bentuk penulisan dan penghitungan adalah ‘tanda goresan’ pada tulang sekitar 150.000 tahun yang lalu. Tetapi bukti kuat soal penghitungan pertama, dalam bentuk ‘nomor satu’ ditemukan dua puluh ribu tahun yang lalu. Di Kongo, ditemukan ‘tulang ishango’ dengan dua tanda identik, masing-masing terdiri dari enam puluh goresan dan kelompok-kelompok yang diberi nomor sama. Tanda-tanda ini diyakini oleh para arkeolog sebagai indikasi penghitungan tertentu dan menandai momen yang menentukan dalam sejarah peradaban Barat.

Menurut para Ahli zoologi,  bahwa mamalia selain manusia hanya mampu menghitung hingga tiga atau empat, sementara nenek moyang awal manusia (Sapiens) dapat menghitung lebih banyak lagi. Sapiens mulai merasa butuh terhadap sistem penghitungan jumlah ketika memasuki fase hidup menetap dan mulai membangun rumah sendiri, yakni pasca fase tinggal di gua-gua dan tempat-tempat alamiah lainnya.

Para antropolog menjelaskan bahwa di Suma, sekitar 4.000 SM, bangsa Sumeria menggunakan token untuk merepresentasikan angka, suatu tahap lanjut dalam sistem penghitungan  dari taktik pada batang  dan atau tulang. Sistem token Sumeria ini memungkinkan aritmatika  untuk menilai jumlah kekayaan, menghitung laba, rugi dan bahkan yang lebih penting, untuk mengumpulkan pajak.  Keyakinan umum bahwa  dengan metode token ini angka menjadi tulisan pertama di dunia dan dengan demikian akuntansi lahir.

Bersaman dengan pertumbuhan peradaban-perdaban besar, angka terus mengalami perkembangan dan semakin mapan. Melalui peradaban India, Mesir, Yunani,  Arab, dan peradaban modern, angka semakin menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia. Angka menjadi kebutuhan yang nyaris terlibat dalam setiap lini kehidupan ummat manusia. Pembaca tentu dengan mudah bisa mengakses sejarah lahir dan perkembangan angka, tersedia sumber-sumber yang melimpah untuk mengetahui perkara tersebut. Tetapi lebih dari sekadar sejarah, pertanyaan filosofisnya adalah: bagaimana kita mendefinisikan dan memahami angka? 

Adalah Plato, filsuf yang sangat masyhur itu, berpendapat bahwa angka (numeral) sebetulnya eksis di dalam alam pikiran manusia. Sifatnya abstrak, tidak bisa dilihat, didengar, dan disentuh, singkatnya  angka itu adalah mahluk non-fisikal.

Baca Juga:  Peraturan Menulis Zaman Ini (Editorial Majalah Guru Edisi Januari 1931)

Namun jika kita kukuh memahami “angka” dalam sudut pandang platonis semacam itu, maka angka-angka itu terlampau abstrak, independen, tak terkoneksi dengan apapun, dan akhirnya  tak pernah menjadi ‘sebab aktif’.  Jika demikian, bagaimana kita memahami angka? Apakah ia hanya sebatas utak-atik  untuk keperluan mengerjakan soal-soal matematik semata? 

Saya lebih setuju dengan pendapat lain, yakni yang  mengatakan bahwa angka itu adalah abstraksi dari dunia material-fisikal. Misalnya, angka 10 akan bermakna jika kita mengaitkannya dengan jumlah fisikal 10 buah  mobil, atau 10 orang teman, dan begitu seterusnya. Dengan cara itu, angka benar-benar menjadi bagian dari kenyataan. Jadi, kuantitas yang direpresentasi angka ‘meng-ada’ dalam dunia nyata, dunia sehari-hari kita. Sebab  jika 10 hanya difahami sebagai jumlah dari 5+5=10 maka ia hanya akan berhenti  sebatas menjadi teorema dalam ilmu matematik.  Tak memberi makna lebih, tak mengikat jejak ingatan tentang sebuah peristiwa.

Contoh lain yang amat dekat dengan kehidupan kita, angka 2 misalnya. Angka 2 ini bisa bermakna macam-macam tergantung interkoneksinya dengan hal ihwal dan peristiwa. Contoh, angka 2 itu akan sangat bermakna spesial bagi sahabat saya Surya Adi Syahputra, sebab dia memiliki dua buah hati yang lahir bersamaan dari rahim istrinya yang disebut ‘si kembar’. Angka 2 juga bisa bermakna menyakitkan, bagi emak-emak yang tak rela dimadu- dua oleh suaminya. Sementara itu, pada kasus yang lain, angka 1 bisa bermakna spesial bagi orang-orang  yang melewati pencapaian-pencapain terbaik sebagai peringkat ke-1, misalnya Liverpool yang berhasil merengkuh urutan wahid dalam gelaran UCL 2019.  Tetapi juga sebaliknya, angka 1 bisa menjadi penanda kegetiran bagi orang-orang yang masih hidup dalam angka 1 alias menjomblo sementara Ramdahan tahun ini bergegas pergi.  Demikianlah angka dimaknai dalam segala segi kehidupan manusia.     

Dalam kaitan itu, sekali lagi, maka sebetulnya angka itu akan bermakna karena ia memiliki interkoneksi dengan segala peristiwa yang dialami anak manusia. Misalnya kelahiran dan kematian dimulai oleh angka (tanggal lahir) dan angka (tanggal kematian), kemenangan dan kekalahan politik juga ditentukan oleh angka 55.50 : 44.50 persen seperti hasil Pilpres Indonesia  2019, bahkan kejayaan dan keruntuhan sebuah peradaban diukur oleh durasi angka tertentu misalnya mulai dari tahun sekian berakhir pada tahun sekian.

Baca Juga:  Gunung Rinjani "Syari’ah"

Sebagai manusia modern, yang lahir di zaman angka telah mapan, ketika kita lahir ke muka bumi ini, kita lansung disemat dengan angka: apakah sebagai anak pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Segera setelah itu, kita disemat pada angka  kelahiran, dan  angka bobot tubuh. Lalu angka-angka itu didokumentasikan pada selembar kertas, yang kita sebut: akte kelahiran.

Pada tahap lanjut, angka usia menjadi pra-syarat untuk masuk dunia sekolahan. Kemudian  keberhasilan dan capaian di dunia sekolahan pun diikur dengan angka-angka yang tertulis di dalam raport. Pun demikian pada jenjang-jenjang selanjutnya: S1, S2, dan S3, capaian manusia diukur dengan angka IPK-nya. Pada sendi kehidupan yang lain, yakni di masa-masa pubertas,  angka yang paling penting bagi remaja adalah ‘angka jadian’. Sementara angka yang paling ‘terkutuk’ adalah angka ketika ‘putus cinta’, lalu mengalami patah hati akut dan berlarut-larut. Bagi orang dewasa, tentu saja angka (tanggal) pernikahan adalah angka spesial, angka tersebut akan senantiasa diingat, dan lalu dirayakan sebagai momentum anniversary.

Dalam konteks yang lebih spesifik, apa yang kita fahami dari angka 212? bagi orang nun jauh di sana yang tak mengikuti perkembangan politik Indonesia pasca reformasi, terutama tiga tahun terkahir ini, bagi mereka angka tersebut hanyalah ‘kuantitas’ dalam ilmu mate-matik. Tapi bagi masyarakat Indonesia, tentu memiliki pemahaman yang berbeda, boleh jadi ada dua pemaknaan, sebab  ada dua pre-text besar dalam kebudayaan kita yakni: pertama, 212 itu membawa imaginasi orang-orang kepada Wiro Sableng dengan Kapak maut  Naga Geni 212-nya, dan 212 sebagai gerakan bela Islam yang melahirkan aksi berjilid-jilid dalam kontur politik Indonesia yang dimulai sejak Pilkada DKI Jakarta.

Dalam lini hidup yang lain, angka (tanggal) kelahiran dan kematian orang-orang besar yang dianggap memiliki sumbangan pada perdaban akan selalu dikenang dan diperingati. Itulah kenapa ada tradisi Maulid Nabi dalam Islam yang selalu diperingati oleh sebagian besar ummat Islam. Ada juga acara-acara haul memperingati kematian orang-orang suci dan para ulama’. Sementara di dalam tradisi Eropa, angka kematian para pemikir/ilmuan juga dirayakan, misalnya dengan penulisan buku tentang tokoh, seminar, dan mengkaji legasi-legasi pemikirannya. Dengan demikian, kita hidup dalam angka-angka, dan merayakannya sebagai peristiwa.

Baca Juga:  Chairil Anwar

Baru saja, kita sebagai bangsa Indonesia memperingati angka 1 juni. 1 juni kita rayakan dengan semarak sebab kita telah menyepakati momen tersebut sebagai hari lahirnya Pancasila. Apa artinya 1 Juni tanpa kelahiran pancasila? tentu tak akan bermakna apa-apa selain hanya menjadi penanda permulaan bulan ke-5 dalam penanggalan Masehi. 

Pada selaksa cerita yang lain,  angka 1 Juni (2019) menjadi angka yang paling menggetirkan bagi Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudoyono, sebab pada angka itu SBY tentu saja sudah terbiasa merayakan hari lahir Pancasila saban tahun ketika ia menjabat Presiden RI dua periode. Namun kali ini, SBY mendapati makna baru tentang 1 Juni, yakni momen di mana  ia harus rela kehilangan, dan  melepas kekasih hatinya Ani Yudoyono untuk selama-lamanya. Dapat dibabayangkan betapa perpisahan ini bagi SBY akan menjadi pintu gerbang untuk merayakan segala kenang. Selama 43 tahun SBY melewati banyak peristiwa dengan istrinya itu. Kini hari-hari kedepan, segala liku-liku kebersamaan akan terus menyeruak dan lalu lalag dalam lintasan pikiran pak SBY.

Bagi SBY, hal ini bukan perkara mudah, dan memang sungguh sulit. Namun ia harus rela. Mengikhlaskan angka 1 Juni sebagai peristiwa besar yang paling menyedihkan dalam sejarah hidupnya. Setelah ini, SBY pasti akan terus berselancar meneroka masa lalunya, mengenang segala yang pernah dilewati bersama istri tercinta.

Dengan demikian, angka hadir sebagai momentum, sekaligus sebagai pengikat jejak ingatan atas puspa ragam peristiwa yang dialami anak manusia. Oleh karenanya, hidup manusia, selain eksis di dalam bahasa, ruang dan waktu,  juga di dalam deret angka-angka. Angka punya makna yang nominal, tapi yang lebih penting adalah maknanya yang instrinsik. Dalam pengertian, angka itu akan menjadi istimewa dan dikenang tergantung peristiwa dan momentum yang mengiringnya.

Akhirnya, angka tanpa peristiwa tak memberi arti apa-apa, sebab peristiwa-lah yang memberi makna pada angka. Sebaliknya, peristiwa tanpa angka akan lenyap, gampang dilupakan,  dan tak akan dikenang.

Selamat menjelang angka 1, yakni 1 Syawal 1440 H, selamat meriung besama keluarga dalam kerahiman, selamat Idul Fitri.

Tinggalkan Balasan