Chairil Anwar, penyair kelahiran Medan (1922) berdarah Minangkabau. Ia merantau ke Batavia. Ia adalah penyintas kehidupan di jalan lain, yakni jalan sunyi para penyair. Demi prinsip hidupnya dia menanggalkan segala kemewahan sebagai anak pejabat. 
Namanya dirayakan pada setiap acara-acara sastra di Jawa, bagaimana ia dirayakan di rumah asalnya?

Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros
Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka

Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka

Chairil Anwar

#Kebudayaan

Baca Juga:  Mudik

Tinggalkan Balasan