Bangsa India, terutama etnis Tamil datang ke Sumatera Utara pada akhir abad ke-19 semasa penjajahan Belanda, setidaknya menurut beberapa pakar sejarawan. Pendapat lain ada yang mengatakan bahwa Menurut Luckman Sinar (2008) kedatangan awal India muslim ke wilayah sumatera berasal dari wilayah Malabar yang bermazhab Syafi’i sekitar tahun 717 Masehi. Tidak jelas sumber yang dipakai untuk menguatkan argumentasi itu. Menurut analisis A. Mani (1993) setidaknya terdapat 100 orang muslim Tamil pada awal-awal kedatangan di Sumatera yang bekerja diperkebunan Deli Kelompok ini berasal dari India Selatan bersuku Tamil. Mani mengatakan bahwa komunitas Muslim Tamil bekerja tidak hanya disektor perekebunan, melainkan juga menjadi pedagang, ada yang berdagang kain, dan menjadi pejahit baju. Tempat tinggal mereka awalnya tersebar di beberapa titik,setelah perkebunan deli berakhir dengan ditandainya Indonesia merdeka, banyak orang Tamil, termasuk juga kelompok muslim Tamil memilih menentap di Medan, dan ada juga yang kembali ke daerah asal. 

Menurut catatan lain, mereka mengadu nasib dengan menjadi kuli perkebunan. Dalam catatan Badan Warisan Sumatera (BWS), rombongan pertama orang Tamil yang datang ke Medan sebanyak 25 pada tahun 1873. Mereka dipekerjakan oleh Nienhuys, seorang Belanda pengusaha perkebunan tembakau, yang nantinya dikenal sebagai tembakau Deli. Tembakau yang membuat tanah Deli menjadi termasyur di dunia internasional. Hingga pada akhirnya dikenal sebagai “Tanah Sejuta Dollar” Setelah itu, semakin banyak saja para buruh dan tenaga-tenaga kerja yang didatangkan dari India untuk bekerja di Tanah Deli entah sebagai buruh perkebunan, supir, penjaga malam, dan membangun jalan serta waduk. Tidak hanya penganut Sihk dan Hindu, ada juga orang India yang beragama Islam. Bukti nyata adalah peninggalan sejarah yang di bangunyaitu Masjid Gaudiyahdan Masjid Jamik. 

Kehadiran etnis India tidak bisa dinafikan sudah turut membangun Kota Medan yang multikultural. Eksistensi etnis India di Tanah Deli dibuktikan dengan peninggalan sejumlah tempat bersejarah di Provinsi Sumatera Utara (Sumut).Tetapi, selama ini etnis India Kota Medan kerap diindentikan dengan penganut Hindu. Namun ternyata, komunitas India Muslim di Kota Medan sudah ada sejak puluhan tahun silam. Jejak India Muslim di Kota Medan sudah ada jauh sebelum Indonesia merdeka. Mereka umumnya datang dari India bagian Selatan.Kehadiran komunitas India Muslim di Kota Medan dibuktikan dengan adanya dua masjid yang cukup tua di bawah kepengurusan Yayasan India Muslim Selatan atau Yayasan The South Indian Moslem Mosque dan Walfare Committee. Kedua masjid tersebut yakni Masjid Ghaudiyah dan Masjid Jamik  berada di Kelurahan Petisah Tengah, Kecamatan Medan Petisah.Kedua masjid itu tepat berada di satu garis lurus yang membelah Kampung Madras atau tepatnya berdekatan dengan Kampung Kubur. Salah satu pengurus Yayasan India Muslim Selatan, Muhammad Hanifdewan pengurus masjid, kedua masjid tersebut dibangun dalam waktu yang berdekatan. Masjid Jamik berdiri tahun 1887 dan Masjid Ghaudiyah pada 1918.

Baca Juga:  Gunung Rinjani "Syari’ah"

Masjid Ghaudiyah

Masjid Ghaudiyah terletak dijalan KH. Zainul Arifin, Petisah Tengah, Medan Petisah, Kota Medan. Pembangunan masjid ini dilakukan oleh MuslimIndia Selatan yang datang ke Kota Medan mendapatkan persetujuan atau wakaf dari Sultan Makmun Al Rasyid. Muslim India Selatan  mulai datang ke Kota Medan untuk berdagang pada tahun 1880 an.

Sebagian lainnya ada juga yang bekerja dengan Sultan Deli. Karena itu, etnis India terdahulu meminta tanah sebagai tempat tinggal. Sultan kemudian memberikan wilayah ini (Jalan Zainul Arifin sekarang) sebagai wilayah yang berdekatan dengan warga asal India lainnya, Selaku masyarakat yang beragama Islam, para India bagian Selatan tersebut sepakat untuk bersama-sama membangun dua masjid dengan tempat yang berdekatan.

Masjid Ghaudiyah terletak dijalan KH. Zainul Arifin, Petisah Tengah, Medan Petisah, Kota Medan. Pembangunan masjid ini dilakukan secara swadaya dan bantuan dari para saudagar India muslim yang ada di kota Medan dan mendapatkan persetujuan atau wakaf dari Sultan Makmun Al Rasyid. Kebanyakan dari mereka berdagang.Sebagian lainnya ada juga yang bekerja dengan Sultan Deli. 

Kedua masjid tersebut sekarang di bawah tanggung jawab satu yayasan, yakni Yayasan India Muslim Selatan. Keberadaan Masjid Ghaudiyah terletak di Jalan Zainul Arifin posisinya sedikit sulit ditemukan jika tidak diperhatikan dengan seksama, lokasi gang menuju masjid terhimpit oleh bangunan ruko dan bangunan masjid berada di balik gedung pertokoan. Hanya ada plang berukuran satu setengah kali satu meter yang berdiri sebelum Jembatan Kebajikan yang menandakan keberadaannya.Selain itu, jalan masuk hanya ada lorong dengan ukuran plank tersebut sekaligus sebagai tempat parkir kendaraan. Ketika masuk ke dalam masjid, pada bagian dinding sebelah kanan masjid pengunjung dapat melihat daftar silsilah para nabi yang dimulai dari manusia pertama, yakni Nabi Adam AS. Di sebelahnya juga terpampang pengumuman dan agenda kegiatan, serta kata-kata mutiara Islam yang menyejukkan hati.

Baca Juga:  Selamat Idul Fitri Kepada "Orang Puasa Dahulu" dan "Orang Puasa Kemudian"

Ketika sudah berada dalam masjid kondisinya cukup nyaman dan tentu saja isi masjid tidak jauh berbeda dengan masjid pada umumnya. Hanya saja masjid yang berlantai 2 itu memiliki jendela yang cukup panjang layaknya bangunan zaman dahulu kala.  Sebelah kanan masjid yang berbentuk segi panjang itu terdapat tempat pemakaman. Salah satunya adalah makam Hadji Abdul Djalel yang merupakan guru atau imam pertama di masjid tersebut.

Menurut penuturan  Muhammad Hannif Masjid Ghaudiyah ini sudah tua, ada kuburan imam pertama di sini yang berdasarkan catatan ada pada tahun 1918. Sementara masjid yang lebih tua, Masjid Jamik, hanya berjarak tempuh sekitar 5 menit dari Masjid Ghaudiyah dengan berjalan kaki. Jika di Masjid Ghaudiyah agak sulit terlihat, Masjid Jamik letaknya sangat strategis karena berada di simpang Jalan Taruma dan Jalan Kejaksaan.

Bangunan masjid ini masih sangat sederhana, tak jauh berbeda saat pertama kali dibangun. Masjid yang berdiri sejak 1918ini berdiri di atas tanah seluas kurang lebih 5.407 meter persegi yang diwakafkan Sultan Makmun Al Rasyid. Sekarang yang menguasai tanah ini adalah generasi ketiga atau keempat.Masjid ini mengalami dua kali perubahan yakni, pada tahun 1970, awalnya masjid ini lebih besar dari pada keadaan yang saat ini. sebenarnya masjid ini bentuknya agak miring, lalu pada saat pelebaran jalan K.H Zainul Arifin masjid ini mengalami perubahan pada sisi bentuk sehingga bangunan masjid ini menjadi lebih kecil dan berbentuk lurus. Hingga untuk masuk kedalam masjid ini harus melewati lorong yang kecil.

 Kedua, masjid ini  mulai mengalami perubahan yang cukup besar yakni dilakukan renovasi dan pembongkaran masjid pada tahun 2014, yang mengakibatkan masjid ini tidak lagi seperti bentuk awalnya. Tetapi masih mempertahankan ciri khas dari masjid ini, yakni jendela yang besar, hanya saja bahan dan material bangunan nya diubah dari berbahan kayu menjadi kaca yang lebih modern. Tulisan pada gapura didepanya pun sudah diganti dari tulisan “The South Indian Moslem Mousque”menjadi masjid  Ghaudiyah.

Baca Juga:  Fakhitah binti Abi Thalib: Cinta Pertama Nabi, Tapi Tak Berjodoh

Terdapat juga area pemakaman dihalaman belakang masjid. Makam ini pun telah mengalami perubahan. Menurut penuturan Muhammad Hanif, makam ini sudah ditimpa sebanyak lima  kali. Makam ini dikhususkan untuk orang-orang India dan sanak kerabat. Menariknya, ada salah satu makam orang keturunan Arab, yang sudah menjadi kerabat karena kedekatanya dengan komunitas india pada saat itu, sehingga ia di berikan  tempat khusus dimakam tersebut, dia adalah Syeikh Abdul Maulana. 

Satu hal yang tetap bertahan di masjid ini adalah tradisi makan besar yang diadakan setiap hari minggu pada bulan Ramadhan. Komunitas masjid ini menyediakan makan khas India seperti bubur, kari, teh dan lain-lain yang diberikan kepada orang yang berpuasa. Sampai saat ini, komunitas masjid ini masih melakukan kegiatan tersebut dan tidak hanya komunitas muslim India di kota Medan saja, bahkan orang yang ada diseluruh kota Medan pun boleh ikut meramaikanya. 

Masjid Jamik 

Terletak di jalan Taruma, Petisah Tengah, Medan Petisah, Kota Medan. Sebuah Majsid sederhana berdiri. Masjid ini berdiri tahun 1887. Berbeda dengan Masjid Ghaudiyah, Masjid ini berukuran lebih besar sehingga keberadaan masjid ini lebih dikenal masyarakat dari pada masjid Ghaudiyah. Masjid ini dibangun dengan sederhana, bangunannya yang petak serta atapnya yang meniru Masjid Demak yang ada di Jawa yaitu atap yang bertingkat. Masjid ini dibangun diatas tanah waqaf dari Sultan Makmun Al-Rasyid.

Sama halnya dengan masjid Ghaudiyah, masjid ini juga di kelola oleh komunitas “South Indian Moslem Mosque” biasanya, komunitas muslim india di Medan menjalankan Tradisi yakni perayaan satu Muharram dengan cara makan bersama dan mengundagng anak yatim. Hal ini dilakukan untuk mempertahankan keberadaan masjid Jamik sebagai salah satu jejak muslim india di kota Medan. Kehadiran masjid Ghaudiyah dan masjid Jamik merupakan salah satu bukti dai keberadaan etnis muslim India di kota Medan. Meskipun etnis Tamil merupakan minoritas di kawasan kota Medan, namun bukti dan peninggalan mereka masih tetap ada sampai sekarang. 

1 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan