Seperti tahun-tahun sebelumnya, Ramadhan tahun ini menggiring wajah riang penduduk Indonesia. Gegap gempita Ramadhan terasa di ruang publik dengan tampilan berbagai macam keshalehan umat. Bentuk-bentuk keshalehan ini bisa kita temukan di pelbagai media elektronik sebagai wahana informasi di era digital.

Sebagai contoh pembuka, cobalah menelisik ke beberapa stasiun TV arus utama seperti; SCTV, RCTI, Trans 7, Trans TV, ANTV, MNC TV, TV one, Metro tv, Kompas TV, dan NET TV. Demi menyambut Ramadhan, beberapa stasiun TV tersebut berbenah dan tancap gas “berhijrah”. Kekuatan tim kreatif dikerahkan untuk Menyesuaikan program dan konten agar tampak lebih Islami.

Beberapa program ramadhan pada stasiun tv itu ada yg hanya mengulang kesuksesan di Ramadhan tahun sebelumnya. Taruhlah seperti program sinetron religi ‘Para Pencari Tuhan’ yang pada tahun 2019 ini sudah mencapai jilid yang ke 12. Artinya, sudah 12 tahun sinetron yang digaungkan oleh aktor kawakan cum politikus; Dedy Mizwar ini menemani para penonton budiman di sela sela waktu beribadah Ramadhan. Lainnya, program-program talkshow religi, lawakan religi, traveler Islami, jalan-jalan syar’i, kartun islami, iklan komersil islami dan perlombaan religi tidak dapat ketinggalan kita nikmati di bulan yang penuh berkah ini. Program terakhir yang disebutkan cukup menarik. Beberapa tahun terakhir, lomba-lomba bernuansa islami selalu sukses menghadirkan daya tarik di bulan Ramadhan.

Dulu, mungkin hanya ada perlombaan bagaimana cara ‘nyeramahi’ orang dengan baik dan persuasif. Saat ini kompetisi mulai merambah ke musik islami dan hafalan Kitab Suci. Ajang pencarian bakat ceramah, menyanyi syar’i dan menghafal kitab suci ini semakin menarik dengan didukung oleh sponsor produk komersial dan menghadirkan drama-drama menyentuh hati. Saya terenyuh ketika melihat adegan orang dewasa mencium kaki seorang anak, ta’zhiman untuk anak tersebut yang dianggap luar biasa. Saya pun takjub terhadap promosi obat kesehatan pencernaan yang ditawarkan bagi para hafiz yang dilanda sembelit. Sungguh produk mulia. Terbayang juga oleh saya, mungkinkah suatu saat akan ada iklan rokok yang mempromosikan produk demi membantu meningkatkan konsentrasi para hafiz dalam menghafal atau penceramah dalam mempersiapkan materi?

Baca Juga:  Ramadan dalam Literasi Digital

Beberapa konten Ramadhan dianggap cukup baru seperti dakwah based on experience ala artis hijrah, dan ustadz populer di media sosial. Kali ini, Net TV banyak dicibir beberapa pihak karena memberikan panggung kepada ustadz Felix Siauw. Kenapa? Karena sang Ustadz disinyalir merupakan pendukung organisasi Islamis yang sudah bubar. Lebih tepatnya dibubarkan pemerintah.

Di lain sisi, lihatlah media internet. Para seleb-net tak ingin kalah menyemarakkan Ramadhan dengan membuat konten-konten religi di Instagram maupun Youtube. Tengoklah Atta Halilintar, yang membuat playlist khusus Ramadhan di channel youtubenya. Belum lagi kalau kita ngintip sedikit kreatifitas para emak-emak yang membuat channel youtube dengan nama D’ Kolonial; emak-emak komplek bergaya trendy yang membawakan lagu-lagu parody bernuansa religi. Bahkan beberapa stasiun TV mainstream tertarik mengundang grup D’ Kolonial ini untuk mengisi salah satu program Ramadhan.

Lalu, apa artinya semua sajian Ramadhan di media itu? Bisakah dimaknai sebagai peningkatan keshalehan publik?? Mungkin iya, tidak salah juga. Namun, dalam pengamatan pendek saya, sajian media tersebut menegaskan bahwa Islam layak menjadi komoditas dalam pasar budaya populer di Indonesia. Lihat saja pola program tv yang tidak jauh dari karakter budaya pop: fandom, komersial dan popularitas.

Mungkin, inilah konsekuensi masyarakat Muslim di kepulauan. Letak geografis yang terlalu luas, sehingga mengaburkan referensi kultural dari masyarakat di berbagai daerah di kepulauan Indonesia.

Ya, Ramadhan selalu menyisakan selaksa peristiwa rohani, sekaligus meninggalkan jejak produsen budaya populer yang menghegemoni lewat berbagai media. Pasca Ramadhan, terkadang kita lebih tau mana artis yg telah hijrah, mana ustadz populer, dan mana program religi terfavorit, ketimbang mengetahui tradisi lokal menyambut ramadhan di berbagai daerah di kepulauan Indonesia.

Baca Juga:  Setelah Puasa, Lalu Apa?

Kita lebih kepo tentang siapa pemenang lomba religi, kenapa artis berhijab dan bagaimana akhir dari sinetron-sinetron ramadhan. Ke-kepo-an kita tentang hal-hal populer itu tampaknya akan melenyapkan pengetahuan tentang tradisi lokal, misalnya tradisi menunggu lailatul qadar yang disebut ‘maleman’ oleh masyarakat Lombok. Di Banjar kalimantan selatan ada tradisi ‘badadamaran’, tradisi menyalakan obor sebagai bentuk menyemarakkan Ramadhan. Balimau di padang, yang secara simbolis adalah tradisi pembersihan diri dengan menggunakan Limau/jeruk nipis. ‘Mabacca’ dan ‘malekkor’ di polewali mandar Sulawesi. Mallekkor adalah tradisi membakar tempurung kelapa yang disusun tinggi ke atas, dilakukan dalam rangka menyambut malam lailatul qadar.

Saya yakin, masih ada ratusan lagi tradisi Ramadhan di kepulauan Indonesia. Memang, tampaknya sudah tidak terlalu relevan dengan perkembangan zaman. Tetapi, apa salahnya mengingat nilai-nilai filosofis di balik tradisi tersebut. Jangan sekali-kali melupakan sejarah, bukan begitu?

Bagaimanapun juga, Ramadhan dalam beberapa jam akan berlalu. Selamat berlebaran.

Tinggalkan Balasan