Prolog

Topik pembahasan tentang “budaya” merupakan hal yang terbilang licin. Diksi “licin” di sini adalah nomenklatur dinamika interpretasi manusia atas budaya baik budayanya sendiri maupun budaya asing. Berbicara tentang interpretasi budaya terdapat aspek substansial yang terpilah dari ranah interpretasi. Keterpilahan ini merupakan siasat metodis penulis sehingga dapat memudahkan di dalam mendekonstruksi bangunan suatu budaya. Apapun yang berkembang di dalam rahim budaya adalah hal yang inheren di dalam cara manusia berada di dunianya. Manusia memproduksi budaya tidak lain merupakan modus eksistensial pemahaman atas ke-diri-an, eksistensi yang lain (the others) dan sejarah. Lebih radikal lagi, hidup manusia tidak lain merupakan kegiatan “memahami”. Proses “memahami” dalam serangkaian kehidupan manusia adalah sebuah lingkaran hermeneutis yang bersifat open ended yaitu tidak ada akhirnya. Ibarat anak anjing yang berusaha mengejar ekornya, manusia seakan-akan berambisi untuk sampai pada pemahaman akhir dalam hidupnya, namun tak akan pernah sampai. Namun, hal itu akan melulu nonsense dikarenakan secara substansial sejarah selalu bergerak maju dan mengendapkan momen-momennya dalam semesta pemahaman manusia. Dengan begitu, hanya pemahaman manusia lah yang dapat melacak keseluruhan tubuh sejarah, yakni dengan memproyeksikan dirinya pada setiap babak sejarah.

Manusia Makhluk Hermeneutis

Entah pada umur berapa manusia pertama kali dapat menafsirkan dunia. Telah terjadi perdebatan sengit di kalangan psikolog maupun neurosaintis tentang perkembangan kesadaran manusia dalam fase pertumbuhan. Hanya saja, penulis tidak akan mengarah pada perdebatan sains melainkan lebih tendensius ke arah diskursus filsafati khususnya antropologi metafisik atau dalam dunia akademis filsafat disebut filsafat manusia. Terdapat ragam penyebutan dari kalangan filsuf tentang state of nature manusia. Mulai dari yang mengasumsikan manusia sebagai entitas jahat seperti yang tertuang dalam teori kontrak sosial Thomas Hobbes. Ia menyebut manusia sebagai homo momini lupus yakni serigala bagi manusia lainnya. Selain itu, teori kontrak sosial lainnya datang dari Jean Jacques Rousseau yang menitikberatkan pada kondisi alamiah manusia yang baik. Berbeda dengan Hobbes, Rousseau percaya bahwa manusia yang dibekali hak-hak lahiriah maupun batiniah dapat membedakan mana tindakan yang dapat memantik harmoni dan mana tindakan yang dapat memicu situasi menjadi kacau balau.

Sebagai respon atas kedua teori besar di atas, ke-banal-an manusia memang tidak dimungkiri benar adanya. Bentang sejarah peradaban manusia bagaikan dua sisi yang tidak dapat dipisahkan yakni antara sejarah kelam dan emas. Penulis tidak menafikan prinsip determinisme alam fisikal terhadap keberlangsungan hidup manusia. Namun, tentu prinsip terebut tidak dapat diterima secara naif, melainkan antara alam fisikal dan manusia terjadi hubungan yang bersifat dialektis. Artinya, perjumpaan manusia dengan alam fisikal dijempatani oleh aktivitas “memahami”. Aktivitas memahami bagaimanapun bentuknya, akan selalu mengarah pada suatu ketercapaian pengetahuan. Sejak awal sejarah filsafat klasik di Yunani, termasuk awal mula pembicaraan filsafat secara sistematis—filsafat sistematis terdiri dari ontologi/metafisika, epistemologi, dan aksiologi—perdebatan tentang sumber dan keabsahan pengetahuan mulai matang pada era Aristoteles. Secara garis besar, perdebatan seputar pengetahuan adalah tentang sejauh mana pengetahuan yang valid itu dapat diperoleh dan bagaimana cara menguji validitasnya. Terlepas dari pedebatan epistemologis yang lumayan tidak ramah di telinga orang awam, penulis meringkasnya ke dalam pernyataan berikut ini:

Baca Juga:  Refeleksi 107 Tahun Muhammadiyah: Mendidik Masyarakat Miskin Urban di Indonesia (Bagian 1)

“Pengetahuan, betapapun sering diperdebatkan secara filosofis tetap tidak bisa menihilkan peran serta manusia sebagai subjek yang berpikir, subjek yang sadar, dan subjek yang menyejarah. Hal ini karena pengetahuan yang diupayakan manusia tidak lain didapat dari proses menafsirkan realitas dan mengukuhkan bahwa manusia adalah makhluk yang tidak pernah selesai dengan dirinya sendiri. Di sepanjang sejarah hidupnya ia akan selalu basah kuyup dengan “pemahaman”.

Tesis penguat pernyataan penulis di atas dapat kita ambil dari seorang filsuf sekaligus matematikawan asal Inggris Alfred North Whitehead, melalui filsafat prosesnya mengatakan bahwa manusia selalu hidup dalam proses yang tiada akhir. Hal ini berkesesuaian dengan sub judul yang sekaligus menjadi salah satu tesis penting dalam tulisan ini, bahwa manusia adalah makhluk hermeneutis yang di dalam sepanjang hidupnya selalu berkutat dengan penafsiran atas realitas. Jika selama ini kita terbiasa dengan postulat bahwa realitas itu hanya sebatas yang dapat dicerap oleh indera dan materiil saja, dalam diskursus kefilsafatan, realitas itu terbentang dari horizon “yang ada” sampai “yang mungkin ada”. Lalu bagaimana dengan pembicaraan kita terkait budaya? Sungguh terlalu picik jika narasi besar budaya digiring ke dalam bangunan episteme yang diasumsikan sudah fixed. Jika memang budaya diasumsikan sudah fixed, rigid, dan statis, lalu apa bedanya manusia dengan mesin produksi masal? Menjustifikasi budaya sebagai entitas yang sudah final dan fixed mengakibatkan fanatisme yang berlebihan dan berdampak pula pada keterbungkaman nalar kritis manusia. Fanatisme budaya pun kemudian akan melahirkan ego sektoral yang juga gagap di dalam menghadapi dinamika perkembangan zaman berikut pluralitas yang menyertainya.

Ontologi Budaya

Masuk ke dalam pembahasan mengenai basis ontologi budaya, maka manusia adalah basis ontologisnya. Manusia sebagai subjek yang berpikir dan sadar, juga sebagai entitas yang tidak fixed mengimplikasikan keterpilahan realitas budaya menjadi dua yakni realitas potensial dan realitas konkret. Di tengah-tengahnya manusia berperan sebagai aktus yang mengaktualkan kualitas pada realitas potensial menjadi realitas konkret. Namun, perlu digaris bawahi bahwa proses lahirnya suatu budaya tidak serta-merta mendemarkasi tiap realitas secara ketat, melainkan terjadi hubungan dialektis antar kedua realitas tersebut. Hubungan yang bersifat dialektis inilah yang menjadikan budaya ada yang berwujud dan ada yang tidak (tangible dan intangible). Manusia sebagai basis ontologis menegaskan bahwa budaya itu diawali dengan hal yang bersifat abstrak dan bahkan universal. Contoh saja, ide tentang kemanusiaan. Dari satu ide universal ini bisa melahirkan beragam interpretasi yang termanifestasikan ke dalam budaya sebagai realitas konkret.

Baca Juga:  Menalar Ulang Adat Basandi Syara', Syara' Basandi K[h]itabullah

Dikaitkan dengan pembahasan tentang budaya, budaya itu sendiri tidak bisa dipahami melulu dengan pendekatan yang serba oposisi biner. Budaya tidak hanya sebatas norma-norma kaku yang seolah mendeterminasi gerak sejarah. Setuju atau tidak, penulis berupaya untuk menggiring atensi pembaca bahwa budaya kongruen dengan aktivitas hermeneutis atau “memahami”. Artinya, budaya merupakan cerminan eksistensi manusia; budaya merupakan manifestasi eksistensial manusia, di mana manusia dapat menemukan dirinya dalam budaya di mana ia hidup. Konsekuensinya, stagnasi budaya menjadi hal yang akan melulu dipersoalkan dan pada akhirnya terbantahkan.

Dalam rangka untuk dapat melihat budaya secara utuh, penulis hendak melakukan pemilahan ontologis. Artinya, budaya sebagai narasi besar pada sub judul ini akan terlebih dahulu dilacak pijakan ontologisnya yakni asumsi mendasar tentang realitas. Secara garis besar terdapat dua pijakan ontologis yang menjadi dasar perdebatan seputar kepemilikan budaya yaitu ontologi pluralistik dan monistik. Namun sebelumnya perlu dibedakan antara ontologi pluralistik dan pluralisme sebagai sikap normatif atas realitas plural.  Bagi yang berhaluan pluralistik, mereka memahami budaya sebagai suatu hal yang unik, di mana keunikan itu akan dijaga otentisitasnya dari keunikan entitas budaya yang lain. Jadi, mereka mengasumsikan adanya inti budaya yang harus dijaga dan mesti steril dari campur tangan subjektivitas manusia. Pijakan ontologi pluralistik ini juga mengasumsikan bahwa realitas itu plural dan berdiri sendiri-sendiri. Dalam konteks Indonesia, sering dijumpai terdapat ranah yang sakral dalam bangunan budaya, kemudian diikuti oleh ranah profan, sehingga inti budaya yang bersifat sakral akan selalu dijaga dengan dorongan kultivasi yang cenderung resisten terhadap re-interpretasi dan dialog dengan entitas budaya yang lain. Sedangkan yang berhaluan monistik mampu menerima keunikan-keunikan setiap budaya dan cenderung terbuka terhadap eksistensi budaya yang lain. Berbeda dengan ontologi pluralistik, ontologi monistik mengasumsikan realitas itu tunggal dan segala sesuatu yang berupa turunan dari realitas tunggal merupakan suatu keterkaitan hierarkis yang tidak bisa terlepas dari realitas ultim. Pandangan semacam ini yang berkembang di dalam tradisi perenialisme. Ontologi monistik inilah yang semestinya ada dan berkembang di Indonesia. Kosmologi asli orang Indonesia tidak jauh-jauh dari asumsi ontologis monistik. Kita bisa mengambil contoh dari tanah jawa yakni dengan konsep Suwung atau kekosongan yang menjadi puncak kebatinan Jawa. Segala sesuatunya dikembalikan pada pijakan ontologis monistik yang dituangkan dalam prinsip manunggaling kawula Gusti. Selain itu masih banyak lagi kemiripan kosmologis dalam budaya-budaya Indonesia yang kental dengan ontologi monistik. Dengan demikian, dialog antar budaya, seperti budaya sasak dengan udaya Jawa maupun Sunda sudah semestinya terjadi. Duduk bersama dan menggenealogikan budaya yang kita miliki adalah suatu bentuk keinsyafan atas fanatisme budaya yang sebetulnya kontraproduktif dengan narasi besar harmonisasi hidup.

Baca Juga:  Salawat Dulang: Seni Sufi Milenial Minangkabau

Kesimpulan

Jika judul tulisan ini mempertanyakan kemungkinan re-interpretasi budaya, maka pada bagian kesimpulan ini penulis akan meng-iya-kan bahwa budaya itu dapat direinterpretasikan atau ditafsir ulang. Perlu diingat kembali bahwa konteks itu akan selalu mendahului teks. Prinsip inilah yang banyak dipegang oleh para pegiat hermeneutika yang meliputi objek kajian agama, budaya, sosial, dan seni. Penegasan soal re-interpretasi ini sekaligus menjawab persoalan statisisme dan dinamisme budaya. Adapun uraian penjelasnya sebagai berikut.

Keterpengaruhan Sejarah

Manusia sebagai basis ontologis budaya atau sebagai entitas yang menjadi salah satu kausa penting yang menghadirkan budaya ke muka bumi, adalah makhluk yang menyejarah. Sebagaimana ungkapan Heidegger, bahwa manusia terlempar ke dunia dan basah kuyup dengan kesejarahannya. Konsekuensinya, manusia tidak dapat menolak arus sejarah dan sekaligus merupakan bagian dari mata rantai sejarah yang tak pernah ada ujungnya. Apa yang ia temukan saat ia mulai beranjak dewasa, dengan kesadaran yang dimilikinya, adalah suatu hal yang terhubung dengan sejarah sebelumnya. Sehingga, untuk memahami konteks “saat ini” manusia perlu berdialog dengan masa lalu. Dialog itu bukan sebatas dialog kering melainkan sebuah proses dialektis yang dapat menerobos setiap selubung ideologis yang menjadikan budaya seolah statis dan melempem.

Fusi Horizon

Manusia di dalam serangkaian proses hidupnya, termasuk proses berkebudayaan akan senantiasa berjumpa dengan horizon manusia yang lain, horizon masa lampau, dan horizon masa depan yang belum terjadi. Perjumpaan dengan yang lain (the others) menuntut manusia untuk menafsirkan ulang hidupnya, menafsirkan kepingan-kepingan realitas yang ada di hadapannya dan di dalam kesadarannya. Apa yang sudah terlanjut dilegitimasi sebagai logika kolektif, memori kolektif, dan commonsense akan turun takhta dari menara gading menuju perhelatan dialog kesadaran. Maksudnya, bahwa fanatisme budaya akan tunduk pada dialektika horizon-horizon yang memungkinkan adanya pengkajian ulang atas suatu “budaya”. Dengan demikian selubung ideologis yang menjadi bahan bakar fanatisme budaya akan dengan sendirinya mereda.

1 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan