Ada satu poin penting yang ditulis oleh guru saya TGH. Patompo Adnan, Lc., MH. dalam bukunya:  Ilmu Bening Sebening Hati Sang Guru: Sebuah Biografi Syaikh TGH. Abdul Hafidz Sulaiman, yakni tentang  hubungan persahabatan Tuan Guru Hafidz dengan HAMKA. Siapa yang tak kenal HAMKA? yang memiliki Nama lengkap Profesor Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah itu. Ia seorang ulama terkenal dari tanah Minang,  telah dinobatkan sebagai  pahlawan nasional, penulis produktif; di bidang sastra, kolom kajian agama di Panji Masyarakat,  dan  penulis tafsir al-Azhar. Karyanya yang fenomenal di bidang sasatra adalah “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” dan “Di Bawah Lindungan Ka’bah”.

Belakangan saya tahu, bahwa ternyata, tokoh sekaliber Hamka ini memiliki jalinan persahabatan yang erat dengan  TGH. Abdul Hafidz Sulaiman, Kediri Lombok Barat. Kisah persahabatan mereka tidak hanya riwayat dari mulut ke mulut, tetapi memiliki bukti dokumen yang otentik.  Berikut saya sertakan sebuah surat dari HAMKA ang dikirim ke Tuan Guru Abdul Hafidz sekitar tahun 1972.  Surat ini saya kutip secara utuh gaya bahasa dan sistematika penulisannya:

Kebayoran-Baru, 5 Sya’ban 1392/14 September 1972.

Kepada Yth. Al-Fadhil Al-Ustadz Kiyahi H. Abdulhafidz Kediri, Lombok Barat

Wa ‘alaikumus Salam wr. wbr.

Alhamdulillah, seminggu yang telah lalu menantu kita telah datang ke rumah saya menyampaikan surat Al-Ustadz dan kiriman sehelai serban bercorak hitam putih, yang sangat saya senangi. Karena dengan tidak disadari, dengan bertambahnya umur (64 th. Syamsiyah, 66 hijriyah) diri saya rasanya lebih suka memakai serban. Ke mesjid setiap hari Juma’at saya sudah lebih suka berserban dan kadang2 dengan memakai jubah juga. Dan apabila menghadiri pertemuan2 resmi, saya sudah lebih suka memakai serban dan bersarung. Oleh sebab itu maka kiriman Al-Ustadz tepat benar mengenai hati saya. Dengan ini sudah dua saya menerima hadiah serban dari Ustadz; Pertama ketika saya berziarah ke-Lombok beberapa tahun yang lalu, dan yang kedua sekarang ini.

Baca Juga:  Ulama Desa Alwashliyah: Keteladanan dan Kebersahajaan

Sayapun bersyukur pula karena Ustadz rupanya selalu membaca tulisan2 saya dalam Panji Masyarakat. Memang disitulah saya selalu menumpahkan perasaan hati, terutama dalam rubrik “Dari hati ke-hati” – Terutama di zaman sekarang ini, percobaan kepada nilai-nilai akhlaq agama kita sudah sangat terancam. Beruntunglah Al-Ustadz tinggal di “Pulau Islam” ini, yang rasa agama masih terhunjam dalam di hati penduduknya, dan mereka masih berqiblat ke-Mekkah, belum berqiblat ke-London atau ke New York, sebagai terdapat di kota-kota besar sekarang ini.

Moga-moga kita semua diberi kekuatan oleh Tuhan, menjadi penjaga dan pengawal dari agamanya, menerima warisan daripada nabi-nabi; al-amtsal fal amtsal, menyerukan dan meneriakkan kebenaran ditengah-tengah ombak dan gelombang kebathilan. Namun satu kali kita menempuh jalan ini, menjadi khadam agama, pengikut setia Muhammad s.a.w., tidaklah kita boleh berhenti sampai nyawa cerai dengan badan.

Meskipun payah kita akan berjumpa muka, karena terikat oleh kewajiban masing-masing, namun apa yang telah kita perjoangkan bersama-sama di Bandung dari tahun 1956 tetaplah ada dalam hati kita masing-masing; Wallahu khairusy -syahidin.

Wassalam;

Akhukumul haqir

Hamka

Dari surat itu, kita bisa meneladani hal-hal penting yang terkandung di dalamnya, antara lain: bahwa persahabatan mestinya dijalin karena Allah. Di dalam dakwah, hedaknya  menyertakan  adab. Berdakwah atau menasihati dengan cara atau perbuatan, akan lebih berkesan  dibanding sekedar ucapan atau kata-kata. Selain itu, kedua ulama tersebut mencerminkan sosok panutan yang saling menghargai karya dan pemberian sahabatnya. Hamka lebih intens mengenakan serban, sementara Syaikh TGH. Abdul Hafidz Sulaiman menjadi pembaca aktif karya-karya Hamka dalam majalah “Panji Masyarakat”.

Sungguh sikap saling menghargai dari jalinan persahabatan dua ulama besar ini, telah mengajarkan kita cara saling mensupport dalam dakwah Islam. Saling menghargai kontribusi rekan sesama ulama. Sebuah keadaban publik yang amat mahal  harganya, dan sulit kita temukan  hari-hari ini.

Baca Juga:  Perbedaan Generasi: Antara Pengamatan dan Penghayatan (Review Esai Muhammad Natsir, di Majalah Prisma, 1976)

Saya awalnya menulis kisah jalinan persahabatan Tuan Guru Abdul Hafidz dengan HAMKA di facebook. Tulisan ini ternyata mendapat banyak respon di facebook dan di WA-WA grup. Salah satu respon yang amat berharga dating dari saudara  Prosmala Hadi saputra, seorang  mahasiswa Doktor di Univ. of Malaya, Malaysia. Prosmala member komentar terhadap surat tersebut, antara lain seperti ini:

Surat tersebut sangat berkesan. Setidaknya saya  melihat pribadi Al-Fadhil Al-Ustadh Kiyai Haji Abdul Hafizh sebagai sosok pengamal tradisi salafusshalih. Yakni saling memberi hadiah di kalangan para ulama terdahulu adalah termasuk “sunnatan hasanatan” (tradisi yang baik). Lebih dari itu,  yang paling berkesan bahwa di balik kesederhanaannya, ternyata Tuan Guru Abdul Hafidz  adalah ulama yang Up to date. Beliau tidak sekadar membaca kitab “turats” (kitab kuning) semata, namun juga mengupgrade wawasan kekinian, yakni dengan membaca majalah Panji Masyarakat. Tidak dapat dimungkiri bahwa para pembaca Majalah Panji Masyarakat adalah kaum intelek Muhammadiyyah, atau katakan saja secara umum kaum modernis. Para intelektual Muhammadiyah menuangkan gagasan-gagasan cemerlang mereka di majalah tersebut.

Dari sini, lanjut Prosmala,  dapat dilihat bagaimana jiwa terbuka dan moderat seoang Datuk Hafidz, Allahu Yarham. Perbedaan pendapat, pandangan, organisasi dan perguruan tidak menjadi penghalang solidaritas dan ukhuwwah Islamiyah dan Wathaniyyah yang dilakukan dalam kiprah dakwah dan karir politiknya. Yang paling pamugkas, Datuk Hafizh memperlihatkan sebagian dari keistimewaannya, yaitu pandai mera’i. Datuk Hafizh sangat memahami apa yang menjadi kesenangan sahabatnya, yaitu surban. Tidak banyak ulama yang pandai mera’i, karena sikap tersebut hanya dimiliki oleh orang yang ‘arif dan bukan sekadar ‘alim.

Dengan tambahan komentar dari Prosmala itu, saya semakin terkenang pada  sosok al-Magfurulah Tuan Guru Abdul Hafidz Sulaiman sebagai seorang ulama moderat yang ideal. Moderasi pemikiran dan aktivismenya adalah teladan melampaui sekat-sekat idelogi dan ormas. Menurut kabar yang saya dengar, Tuan Guru  Abdul Hafidz memajang  foto Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari di kamarnya, meskipun sebagaimana kita maklum, bahwa Tuan Guru Abdul Hafidz adalah salah satu Tokoh Nahdlatul Wathan yang setia mendampingi perjuangan Tuan Guru Zainuddin di masa-masa awal pengembangan NW di pulau Lombok.  

Tinggalkan Balasan