Malam Senin, 28 Maret 1898 M./15 Dzulqaidah 1316 H., TGH. Abdul Hafidz lahir di Pedaleman Desa Kediri Lombok Barat sebagai anak pertama dari pasangan H. Lalu Sulaiman dengan Nurimah. Tahun 1911, saat TGH. Abdul Hafidz berumur 13 tahun, ia mengaji Al-Qur’an pada pamannya, yaitu TGH. Ahmad Hasyim Asy’ary dan TGH. Usman.

Tahun 1912, TGH. Abdul Hafidz berhasil mengkhatamkan Al-Qur’an pada pamannya yang bernama lebe atau TGH. Hasyim Asy’ari.1913, TGH. Abdul Hafidz masuk sekolah umum di sekolah Gouvernement Kelas Doea Dinegeri Praja (Onderddeeling Middew Lombok) saat berusia 15 tahun.

TGH. Abdul Hafidz menamatkan sekolah SD dalam waktu 30 bulan kurang 10 hari, atau 25 bulan 20 hari. Selama di Praya, TGH. Abdul Hafidz berkhidmah pada TGH. Najamuddin Prapen sekaligus menjadi guru muda tempat mengaji al-Qur’an. Tahun 1915, TGH. Abdul Hafidz menyelesaikan pendidikan dasarnya ketika berumur 17 tahun. Bertepatan dengan 14 Ramadhan 1333 H. 1915, atau tepatnya 1 Syawal 1334 H. setelah pulang dari Praya, TGH. Abdul Hafidz bekerja jadi penulis atau tenaga administrasi di gudang tembakau dekat Jembatan Datar milik Belanda selama lima bulan.

Tahun 1916, TGH. Abdul Hafidz belajar kitab kuning dan mendalaminya selama 4 tahun kepada TGH. Abdul Hamid sang kakaknya sendiri. 1919, bertepatan dengan 6 Syawal 1336 H., pada usia 23 tahun, TGH. Abdul Hafidz memutuskan untuk rihlah ilmiah menuju pusat ilmu, yakni di Makkah al-Mukarramah. Pada 8 Dzulqa’dah 1336 H., TGH. Abdul Hafidz berangkat menuju Makkah setelah singgah di Singapura selama dua puluh hari. 10 Dzulhijjah 1336 H., TGH. Abdul Hafidz tiba di Jeddah setelah melewati Kolombo dan Qamran. 13 Dzulhijjah 1336 H., TGH. Abdul Hafidz berangkat menuju Makkah setelah menginap tiga hari di Jeddah. 15 Dzulhijjah 1336 H., sampailah TGH. Abdul Hafidz di Makkah al-Mukarramah.

11 Muharram 1337 H., TGH. Abdul Hafidz mulai mengaji kepada TGH. Mukhtar Kediri, TGH. Muhammad Arsyad Sumbawa, TGH. Umar Sumbawa, Syaikh Muhammad Zainuddin Serawak, dan lainnya. Pada 3 Juli 1924 M., bertepatan dengan 1 Dzulhijjah 1342 H. TGH. Abdul Hafidz memperoleh ijazah pertama yang bertulis tangan dari seorang ulama kharismatik bernama Syaikh Muhammad Zainuddin Serawak putra Syaikh Utsman Serawak, dengan pengakuan dan panggilan dari gurunya sebagai “Syaikh”.

Tahun 1925, TGH. Abdul Hafidz pulang dari Makkah al-Mukarramah dan langsung meneruskan majlis taklim kakandanya, TGH. Abdul Hamid. 1925-1933, TGH. Abdul Hafidz konsen mendidik murid hingga menjadi ulama seperti, TGH. Umar Kapek, TGH. Ibrahim Kediri, TGH. Musthofa Rumak, TGH. Abdul Muhith Kediri, TGH. Ibrahim Lomban, TGH. Ketut Hasyim Pegayaman, dan TGH. M. Dahlan Pegayaman.

Tahun 1926, TGH. Abdul Hafidz menikah dengan seorang gadis jelita bernama Rifaah, putri Abdurrahman Karang Bata Cakranegara. Darinya beliau dikaruniai putra/I yang shaleh dan shalehah. TGH. Abdul Hafidz memiliki anak 9 orang, yaitu: Hj. Bq. Hafsah, Hj. Bq. Rahmah, L. Mahfudz, TGH. sL. Mahsun, BA., Drs. L. Muchsin, Bq. Hadiah, Bq. Asiah, L. Hasan, H. L. Husain.

Tahun 1933, TGH. Abdul Hafidz memutuskan untuk kembali berangkat ke Makkah al-Mukarramah untuk menambah ilmu. Dengan rela meninggalkan istri dan dua anaknya yang masih belia. 15 Syawal 1354 H. TGH. Abdul Hafidz menerima ijazah dari Syaikh Umar bin Husain Addaghastany dengan panggilan gurunya sebagai “Al-Fadhil”. 25 Dzulqa’dah 1354 H. TGH. Abdul Hafidz menerima ijazah dari Syaikh Amin Al-Kutbi dengan stempel dan doa gurunya sebagai al-Alim, al-Fadhil, al-Mutahalli bi Asyraf al-Fadhaail shahib as-Sifah al-Hasanah wa al-Kamaalat al-Mustahsinah, al-Akh Fillah, al-Muhib dan Asy-Syaikh.

2 Dzulhijjah 1354 H. TGH. Abdul Hafidz memperoleh ijazah dari Syaikh Sayyid Alawy bin Sayyid Abbas al-Maliki al-Hasany, dengan sebutan al-Fadhil, al-Adib. 2 Dzulhijjah 1354 H. TGH. Abdul Hafidz juga memperoleh ijazah dari Syaikh Muhammad Ahyad. 1936, TGH. Abdul Hafidz kembali dari tanah suci dalam pengembaraannya menuntut ilmu. Selama 3 tahun kepergiannya kali ini, beliau memperoleh lima ijazah bertulis tangan.

Tahun 1946, TGH. Abdul Hafidz menghadiri undangan konferensi Negara Indonesia Timur (NIT) di Malino, Sulawesi Selatan, untuk mencari tahu apakah NIT layak di dukung atau tidak. 1 Agustus 1955, TGH. Abdul Hafidz resmi diangkat menjadi penghulu atau P3NTR (Nikah, Talak, dan Rujuk) oleh H. Mustafa Bakri Kepala Kantor Urusan Agama Daerah Lombok (J.s.d) dengan nomor surat 174/B/1/55.

Tahun 1955, TGH. Abdul Hafidz resmi terpilih sebagai anggota Konstituante melalui pemilihan umum. 1955, sebelum pemilu TGH. Abdul Hafidz diangkat menjadi pengurus Majlis Syuro (majelis fatwa) kepengurusan Masyumi Lombok Barat bersama TGH. Ibrahim dan TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid, dan TGH. Muhammad Najamuddin.

5 November 1956, TGH. Abdul Hafidz resmi dilantik sebagai anggota Konstituante bersama sahabat karaibnya TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid Pancor. 10 November 1956, TGH. Abdul Hafidz Sulaiman mengikuti pembukaan siding Konstituante di Gedung Merdeka, Jalan Asia Afrika No. 67 Bandung, Jawa Barat, pada hari Sabtu, pukul 09.00. 1956-1959, TGH. Abdul Hafidz aktif menjadi anggota Partai Islam Masyumi.

Tahun 1956-1960, masa aktif TGH. Abdul Hafidz bergelut di Partai Masyumi yang ditandai dengan kepergiannya yang intens ke Jakarta. 1957, TGH. Abdul Hafidz secara resmi dengan nomor anggota 450, untuk menghadiri rapat Konstituante di Bandung. Pada 17 Desember 1958, Lombok dan Sumbawa ditetapkan menjadi Daerah Tingkat I Provinsi Nusa Tenggara Barat, adalah buah argumentasi kukuh TGH. Abdul Hafidz dan TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid pada persidangan.

6 Mei 1959, TGH. Abdul Hafidz bersedia mentahqiq/mentashih terjemahan kitab ushul Fiqh karya sahabatnya H. Muhammad Baisuni seorang Ketua Mahkamah Agama Sambas Kelantan Barat sekaligus sahabat sesama anggota Konstituante RI di Bandung. Pada 12 Mei 1959, TGH. Abdul Hafidz menulis dengan mesin ketik, sebuah surat kritikan yang berjudul “Risalah Bandung”. Isinya, ia tidak menerima perlakuan tidak adil/tidak aman terhadap anggota Masyumi yang kebanyakan bermazhab Syafii.

19 Nopember 1959, TGH. Abdul Hafidz memberikan sumbangan pemberdayaan organisasi P.G.A.A dan pembuatan gedung madrasah di tengah ibukota Mataram Provinsi Nusa Tenggara Barat. 1 Feberuari 1960, TGH. Abdul Hafidz resmi menjadi Pengurus Besar Nahdlatul Wathan Pantjor dengan surat keputusan nomor: 4/.sec./S.P/6 yang ditanda tangani TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid sebagai ketua dan Abdul Qadir Ma’arif sebagai sekretaris umum

22 Mei 1960, TGH. Abdul Hafidz menyuarakan kebenaran kepada Bupati Lombok Barat, yang saat itu ingin menukar tanah wakaf di Gomong yang diwakafkan oleh Haji Bukri khusus untuk madrasah dan P.G.A.A/NW. 5 Februari 1971, TGH. Abdul Hafidz membuka pendidikan formal tingkat Tsanawiyah. Tahun 1971, TGH. Abdul Hafidz menerima Keputusan Bupati Kepala Daerah Kabupaten Lombok Barat Nomor: Ag.12/5/13 oleh Bupati Drs. Said, tentang pengangkatan sebagai Personalia Majlis Fatwa Ulama Sidang Djum’at Kabupaten Lombok Barat.

23 September 1972, TGH. Abdul Hafidz menerima surat dari Buya HAMKA terkait ucapan terima kasih telah dihadiahkan surban, dan sekaligus ungkapan cinta persahabatan dalam dakwah karena Allah. Pada 4 Juni 1975, TGH. Abdul Hafidz menerima keputusan dari Bupati Kepala Daerah Tingkat II Lombok Barat Lalu Rachman nomor: Kep. 166/Kra.II/1/441, tentang penyelesaian Masalah Masjid Jami’ Baiturrahman Kediri.

23 Juli 1975, TGH. Abdul Hafidz ditetapkan sebagai Imam tetap Masjid Jami Baiturrahman Kediri melalui Surat Keputusan nomor: mjk/sima/004/1975. Tahun 1975-1980, TGH. Abdul Hafidz menjabat sebagai Ketua Dewan Mustasyar Nahdlatul Wathan dengan surat keputusan nomor: 27/org/PB/1975 yang ditandatangani oleh H. M. Djalaluddin, SH sebagai ketua umum dan H. M. Yusuf sebagai sekretaris. Jabatan yang sama juga pada tahun 1977-1982.

7 Mei 1976, TGH. Abdul Hafidz pernah menjadi Dewan Pembina Daerah GUPPI (Gabungan Usaha Perbaikan Pendidikan Islam) Tingkat I Nusa Tenggara Barat. 1977, TGH. Abdul Hafidz menerima Surat Keputusan nomor: Kep.246/KRA.II/221 sebagai Panitia Penyelenggara MTQ Tingkat II Kabupaten Lombok Barat dari Bupati Lalu Ratmaji. Pada 1977, TGH. Abdul Hafidz membuka sekolah formal Menengah Umum Tingkat Atas (SMU-NW).

17 Mei 1978, TGH. Abdul Hafidz memperoleh Surat Keputusan Kepala Kecamatan Kediri nomor: 825/1/kesra/1978, sebagai Pembina Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an tingkat Kecamatan Kediri. Pada tahun 1978, TGH. Abdul Hafidz menerima surat dari Gubernur NTB Bapak Wasita Kusumah. Surat yang sekaligus sebagai ucapan terima kasihnya atas bantuan dan kebaikan Sang Tuan Guru. Tahun 1979, TGH. Abdul Hafidz pernah menjadi dewan penasihat Majlis Dakwah Islamiyah Keluarga Besar Golongan Karya Daerah Tingkat II Lombok Barat.

6 Desember 1983, pukul 14.30 tibalah ujung episode kehidupan Sang Ulama Pelita Lombok, di Rumah Sakit Siti Hajar Mataram. Kemudian 7 Desember 1983, arus lalu lintas Kediri lumpuh total. Suasana berkabung dalam hening. Semua menangis mengiringi kepergian ulama pemilik biografi, “Ilmu Bening Sebening Hati Sang Guru”.

Akhirnya, di antara pelajaran penting yang bisa dipetik dari sirah ulama yang kealimananya diakui Maulana Syaikh ini, kita bisa belajar menjadi santri yang penuh khidmat kepada guru, semangat menuntut ilmu yang tinggi, berprestasi dalam study. Setelah mengabdi, ternyata selain mengamalkan ilmu agama, juga penting berjuang membangun negera dan bangsa secara konstitusional. Jiwa aktivis yang berkecimpung dalam organisasi, juga bisa menjadi teladan kami. Pergaulan Tuan Guru juga luas, dengan semua elemen masyarakat, sebuah pergaulan yang tak tersekat organisasi dan suku, sebuah warisan dan teladan berharga untuk kami tiru. Demikian saduran Biografi Singkat TGH. Abdul Hafidz Sulaiman dari buku “Ilmu Bening Sebening Hati Sang Guru”, karya TGH. Patompo Adnan, M.H.

Tinggalkan Balasan