Ada beberapa alasan kenapa banyak orang tua ingin menyekolahkan dan berharap anaknya melanjutkan pendidikan ke lembaga islam tertua di Indonesia, yaitu Pesantren. Beberapa alasan selain berharap anaknya menjadi anak yang pintar, orang tua berharap agar anak memiliki akhlak yang bagus karena yakin bahwa pesantren adalah lembaga islam yang mengajarkan ajaran agama, terlebih lagi metode 3A (asuh, asah, dan asah) yang melekat di dunia kepesantrenan. Itulah keutamaan pesantren dari lembaga yang lain dalam dunia pendidikan.

Akan tetapi belajar di pesantren tidaklah mudah. Laksana perjuangan dan beratnya mencari mutiara dalam samudra dan emas di dalam tanah, maka roda pendidikan seorang santri pun bisa kita analogikan seperti itu. Penuh perjuangan dan ujian yang berat. Bagaimana tidak? dalam pendidikan pesantren santri terikat dengan banyak peraturan. Jauh dari kebebasan seperti anak sekolah umum lainya. Disaat teman-teman sekolah umum bebas memegang gatget dan mudah berselancar di dunia maya. Santri malah sebaliknya, dilarang bahkan haram bagi santri membawa gatget.

Dikala teman-teman sekolah luar dengan bebas bisa bersantai ria merokok, kaum santri sebaliknya. Di beberapa pesantren mereka dilarang untuk merokok, bahkan jika ketahuan oleh pengurus pesantren, tak segan mereka akan diberi hukuman oleh pengurus pesantren. Belum lagi pelajaran yang berat nan banyak yang harus mereka lahap, dan hafalkan. Masih banyak lagi peraturan-peraturan yang lainya. 

Ujian santri lainya datang ketika sang santri melanggar peraturan. Mau tidak mau, suka atau tidak suka maka ia harus menanggung konsokwensinya, yaitu dihukum. Hukuman bagi yang melanggar pun bermacam-macam, mulai dari yang paling rendah seperti disuruh menghafal matan Mahfudzat (kata mutiara) dalam bahasa arab, atau lari di lapangan, atau membersihkan kamar mandi. Lalu katagori menengah seperti dibotak dan dijemur di kawasan santriwati, sampai hukuman yang berat, seperti meminta tanda tangan Pa Kyai atas kesalahan yang dilakukan atau bahkan di keluarkan dari pesantren.

Baca Juga:  Menguji Kasih Sayang Ibu Ala Abu Nawas

Belum lagi saat penyakit datang menguji. Baik sakit zahir maupun batin. Sakit zahirnya seperti sakit gatal-gatal yang biasa disebut santri dengan sakit jarban yang artinya “cobaan”, lalu pusing, makan tiap hari pake SATE (Sayur Tahu dan Tempe) saja, dll. Kalau sakit bathin sepertirasa rindu dan kangen orang tua dan rumah. Meminjam istilah dilan yang melarang rindu karena rindu itu berat. Maka rindu mana lagi yang lebih berat dari kerinduan anak pada pelukan ayah dan ibunya? Rindu ke Milea mah lewat.

Itulah ujian-ujian dalam kehidupan santri dan masih banyak lagi. Maka tak salah jika banyak santri yang menjuluki pesantren sebagai penjara suci mereka, tempat mereka digembleng dalam menuntut ilmu. Demi keberhasilan belajar, pesantren pun tak menuntut banyak dari sang santri melainkan  taat, sungguh-sungguh, ikhlas, dan sabar dalam menjalankan aktifitas menuntut ilmu di pesantren.

Ujian yang didatangkan Allah adalah untuk mengangkat derajat manusia. Mengujinya untuk melihat sejauh mana kemampuan hambanya. Ujian nyatri pun sama seperti itu. Datang untuk mengangkat derajat santri, akan tetapi yang jarang kita sadari ternyata ujian nyantri itu bukan hanya datang ke santri tapi  juga datang ke walisantri, yaitu orang tua santri dan keluarganya.

Jauh dan meninggalkan anak bukan lah hal yang mudah. Orang tua mana yang rela jauh dari anaknya, lebih-lebih jika anaknya anak tunggal. Orang tua pun diuji kesabaranya dan keikhlasan nya melepas anak dalam menuntut ilmu.

Keikhlasan dan kesabaran itu tidaklah mudah, harus dilatih. Awal jauh dari anak memanglah berat akan tetapi lambat laun pasti bisa. Kesuksesan anak pun ditentukan oleh orang tua. Jika orang tua ingin anaknya bermental kuat, orang tuanya harus lebih kuat.

Baca Juga:  Kacang Tojin : The Dark Forgotten Trail

KH. Hasan Abdullah Sahal pimpinan PM. Daarussalam Gontor pernah berkata: “lebih baik kamu menangis karena berpisah dengan anak mu sementara karena menuntut ilmu agama daripada kamu nanti yen wes tuwo nangis karena anak mu lalai dari urusan akhirat”.

Biasanya ketakutan orang tua (terutama bagi orang tua yang anaknya sendiri ingin dipesantrenkan)  datang karena takut anaknya kelaparan di pesantren, tak mempunyai kemampuan seperti anak-anak luar yang bisa les ini, itu,  dan sebagainya.  Padahal tidak. Tidak sama sekali. Mengenai hal ini, KH. Hasan Abdullah Sahal Pun menasehatkan dengan lantangnya: “Anak-anak mu di pondok pesantren tidak akan mati kelaparan. Tidak akan bodoh karena tidak ikut les ini dan itu, tidak akan tertinggal zaman karean tidak pegang gatget. Insya Allah anak mu akan dijaga langsung oleh Allah, karena sebagaimana janji Allah… yakin.. yakin… harus yakin!”.

Menutup tulisan ini, penulis ingin menutupnya dengan sebuah cerita.

Di suatu sore, seorang anak datang mengeluh kepada ayahnya yg sedang baca koran “Oh Ayah, ayah” kata sang anak. “Ada apa?” tanya sang ayah.

“aku capek, sangat capek. aku capek karena aku belajar mati matian untuk mendapat nilai bagus sedang temanku bisa dapat nilai bagus dengan menyontek. aku mau menyontek saja! aku capek. sangat capek…

aku cape karena aku harus menabung, sedang temanku bisa terus jajan tanpa harus menabung…aku ingin jajan terus!

aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga lisanku untuk tidak menyakiti, sedang temanku enak saja berbicara sampai aku sakit hati…

aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga sikapku untuk menghormati teman teman ku, sedang teman temanku seenaknya saja bersikap kepada ku…

Baca Juga:  Ketika Filsuf Jatuh Cinta

aku capek ayah, aku capek menahan diri…aku ingin seperti mereka…mereka terlihat senang, aku ingin bersikap seperti mereka ayah!”. Sang anak mulai menangis.

Kemudian sang ayah hanya tersenyum dan mengelus kepala anaknya sambil berkata ”anakku ayo ikut ayah, ayah akan menunjukkan sesuatu kepadamu”, lalu sang ayah menarik tangan sang anak kemudian mereka menyusuri sebuah jalan yang sangat jelek, banyak duri, serangga, lumpur, dan ilalang. Lalu sang anak pun mulai mengeluh ” ayah mau kemana kita?? aku tidak suka jalan ini, lihat sepatuku jadi kotor, kakiku luka karena tertusuk duri. badanku dikelilingi oleh serangga, berjalanpun susah karena ada banyak ilalang… aku benci jalan ini ayah” sang ayah hanya diam, walaupun sebenaranya ia pun merasakan kotor, luka, dan juga sukarnya melewati jalan tersebut.

Sampai akhirnya mereka sampai pada sebuah telaga yang sangat indah, airnya sangat segar, ada banyak kupu-kupu, bunga-bunga yang cantik, dan pepohonan yang rindang.

“Wwaaaah… tempat apa ini ayah? aku suka! aku suka tempat ini!” sang ayah hanya diam dan kemudian duduk di bawah pohon yang rindang beralaskan rerumputan hijau.

“Kemarilah anakku, ayo duduk di samping ayah” ujar sang ayah, lalu sang anak pun ikut duduk di samping ayahnya. ”Anakku, tahukah kau mengapa di sini begitu sepi? padahal tempat ini begitu indah…?”

”Tidak tahu ayah, memangnya kenapa?”

”Itu karena orang orang tidak mau menyusuri jalan yang jelek tadi, padahal mereka tau ada telaga di sini, tetapi mereka tidak bisa bersabar dalam menyusuri jalan itu”

Apa yang bisa kita ambil dari cerita diatas? Ujian menuntut ilmu bukan akan hanya datang kepada anak, tapi juga kepada orang tua. Segala aspek masalah baik moral ataupun material itu akan datang menghujam dari segala penjuru. Ujian dan tantangan akan datang lebih besar lagi sesuai tingkat derajat dan kemampuan masing-masing, tapi itu semua demi mencapai telaga kebahagiaan. Seperti sang ayah dan anak  lakukan dalam cerita tersebut. Petuah bijak pernah berkata “kesabaran adalah kunci kesuksesan”.  Maka orang tua dan santri harus tahan banting dengan penuh kesabaran dan keihklasan dalam menuntut ilmu di jalan Allah.

Tinggalkan Balasan