Kisah percintaan memang akan selalu meninggalkan bekas yang mendalam bagi setiap pelaku cinta. Cinta akan menyesakan setiap nafas, menggentarkan setiap jiwa, sampai bahkan menghilangkan akal sehat yang waras. Ingat kisah Qais yang hampir buta dan dianggap gila karena seringnya menangis dan memikirkan kekasih yang sangat dicintainya yaitu Layla? Qais Majnun yang bernama asli Qais Mulawih adalah satu dari jutaan manusia yang gila karena cinta.

Aku laki-laki. Pantang bagi ku menangis jika hanya sebab perasaan. Tapi jika cinta kita tak diterima oleh orang yang sudah kita taruh hati, perasaan, dan harapan kepada orang yang kita cintai? Itu hanya sebuah keniscayaan.

Kekecewaan pasti akan datang melanda. Dada akan sesak bahkan lebih sesak dari waktu itu, ketika aku penuh optimis, cinta dan bangga mendukung FC Barcelona di Leg kedua semi final liga Champions, aku yakin tim kesayangan ku akan menang melawan Liverpool, karena FC Barcelona sudah mengantongi selisih tiga gol di leg pertama. Kecil kemungkinan bagi ku Liverpool bisa mengejar ketertinggalan, tapi akhirnya Barcelona kena comeback yang tak disangka, Liverpool menang dengan skor 4-0. Cita-cita membawa si kuping lebar ke Camp Nou kandas begitu saja. Jujur aku tak bisa tidur malam itu.

Wanita yang ku cintai, dia adalah wanita sholehah, pintar, kalem, baik, dan cantik. Sudah sepantasanya aku jatuh dan terpuruk kehilangan dirinya setelah satu tahun menjalani  hubungan ta’arruf. Tapi catatan sejarah kembali mengingatkan ku bahwa kegagalan mendapatkan orang yang dicintai adalah pertanda bahwa Allah sedang mempersiapkan kejutan yang sangat indah dikemudian hari.

Tahukah kamu dengan Fakhitah binti Abi Thalib? Cinta pertama Rasulullah SAW. Bukannya Khadijah? Bukan. Dalam kitab Thabaqat karangan Ibn Saad di sebutkan beberapa tahun sebelum Rasul menikah dengan Khadijah yang menjadi istri pertama Rasul. Rasul pernah melamar seorang gadis. Ia anak paman baginda Rasul. Namanya Fakhitah binti Abi Thalib, ialah cinta pertama Rasul. Wanita yang lebih dikenal dalam kitab tarikh dan hadist dengan sebutan Ummu Haniy ini adalah kakak dari sayidina Ali.

Baca Juga:  Falsafah Angka dan Titimangsa Kehidupan Manusia

Ada dua riwayat yang mengisahkan tentang lamaran Rasul ke Ummi Haniy. Pertama waktu masih muda dan kedua ketika Ummu Hanniy sudah beranak 4 dan ditinggal oleh suaminya. Dan dari dua lamaran itu Rasul ditolaknya.

Ketika lamaran pertama Rasulullah tidak diterima, karena ayah Fakhita yang menolak Rasul dan lebih memilih Hubairah bin Abi Wahhab untuk menikahkan anaknya. Rasul pun ketika itu sempat bertanya dengan sedikit mengandung protes ke pamanya: ”Wahai paman! Kau menikahkan anak mu dengan Hubairah dan kenapa kau menolak ku?.” Ternyata paman nabi lebih memilih Hubairah karena demi membalas jasa keluarga Hubairah.

Rupa-rupanya ada Suprise yang sedang Allah siapkan. Allah telah menyiapkan untuk Rasulullah seorang wanita yang lebih baik dari Fakhita. Seorang wanita tangguh, saudagar kaya, dan pelipur lara Rasul. Ya, Sayyidah Khadijah. Wanita terbaik yang pernah ada di dunia ini. Cinta abadi sang baginda Rasul. Pelipur lara, penghibur jiwa, dan penyebar bahagia yang selalu dikenang baginda Rasul sepanjang hayatnya.

Merasakan perjalanan cinta adalah bagian indah dari sebuah kehidupan manusia. Tapi bagaimana rasanya tertolak oleh orang yang kita amini dan impikan berjodoh dengannya? Kisah Fakhita ini menjawab pertanyaan ini.

Untuk diriku, dan kalian yang merasakan jatuh dan “belum berjodoh” pada sebuah cinta, janganlah pernah kalian merasa memiliki keputusan dan pilihan yang lebih baik, bijak, dan indah dari ketetapan-Nya. Allah punya pilihan dan ketetapan yang lebih indah dan terbaik untuk diri kita. Lepaskan dan relakan ia karena Allah, maka Allah akan mengirimkan mu pemberian yang lebih indah dari apa yang pernah kau bayangkan. Biarkan waktu yang menjawab.

Khoirul Ibad, dalam dekapan selimut cinta.

Baca Juga:  Puasanya Orang-orang Urban

Tinggalkan Balasan