Bila dibatja dan diperhatikan dan chabar-chabar jang datang dari Eropah, maka ta’dapat tiada kita perempoean-perempoean Hindia akan berkata dalam hati: “Alangkah herannja kemadjoean orang-orang di Eropah begitu djoega akan perempoean; karena kemadjoean perempoean disana boekanja soedah pandai djadi goeroe sekolah, djadi djoeroetoelis, djadi dokter, djadi pemboeat obat [apotheekeres] sadja, akan tetapi bila memperhatikan kemadjoean orang peremepoean dinegeri Inggeris jang memintak pada pemerintahnja soepaja ia dibawa (bermoefakat) memperboeat barang sesoeatoe pekerdjaan jang hendak dilakoekan dalam negeri, misalnja djadi lid gemeenteraad, lid tweede kamer [parlement]. Oleh karena permintaan perempoean-perempoean itoe tidak diperlakoekan oleh laki-laki, maka terdjadilah hoeroe hara dinegeri itoe hingga menjebabkan berpoeloeh, ja beratoes agaknja jang ditompangkan dalam pendjara; dan ada poela jang mati ditembak oleh pegawai negeri. ja seramlah boeloe roma kita bila memperhatikan kedjadian dalam negeri itoe. Banjak orang tanja bertanja apakah sebabnja orang laki-laki dinegeri beloem memperloekan?

Sampai disini hamba menoelis teringatlah oleh hamba bagaimana oentoeng nasibnja kita perempoean-perempoean Hindia. Kalau mengingat akan hal jang terseboet, adalah hal itoe menjedihkan hati memikirkan akan kemalangan oentoeng nasib kita, karena kita perempoean-perempoean Hindia amatlah djaoeh berbeda dari sepatoetnja; berbeda kata hamba itoe ja’ni berbeda sifatnjam berbeda roepanja, pandaknja semoeanja djaoeh berbeda dengan laki-laki Hindia ini jang mana perbedaan antara perempoean dengan laki-laki Eropah itoe, adalah seakan-akan siang dengan malam roepanja, karena perbedaan hak laki-laki dengan perempoean di Eropah itoe, jalah perbedaan tentang perkara hak dan kekoeasaan sadja; tetapi perbedaan perempoean dengan laki-laki di Hindia boekanlah jang ham maksoed perbedaan tentangan perkara negeri, hanjalah dari hal ehwal tentang hak peladjaran; pembatja S.H (Ed. Saudara Hindia) boleh perhatikan betapa dan bagaiamana hak anak perempoean dan anak laki laki-laki diperbedakan oleh laki-laki j’ni si Ajah (si Bapa), karena orang laki-laki di Hindia jang mempoenjai anak, tidaklah ia menjamakan haknja jang laki-laki dengan jang perempoean, tidaklah ia menjerahkan anaknja perempoean kesekolah sebagai ia menjerahkan anaknja jang laki-laki, soepaja anaknja jang perampoean itoe boleh poela sama-sama menontoet peladjaran jang mendjadikan anak perempoean itoe boleh poela sama-sama menoentoet peladjaran jang mendjadikan anak perempoean itoe diseboet orang ontwikkeld (berkembang) dan beschaafd (beradab); hanjalah anaknja jang perempoean itu dibiarkannja seada adanja sadja; benar dan djoega diantara perempoean itoe jang pandai atas adat sopan dan memegang roemah tangga, tetapi mahal didapat soekar ditjari sebab ketiadaan beladjar boekan? dalam seriboe mahal seorang. Bila didapat perempoean jang mengerti dan pandai akan beberapa hal keperloean perempoean jang terseboet, bolehlah hal itoe dikatakan sesoenggoehnja karena ditakdirkan Toehan. Djadi kalau sekiranja kedapatan beberapa perempoean-perempoean Hindia jang ta’pandai memegang roemah tangga, dan beradat kasar atau boeroek djanganlah lantas berpikir dalam hati dan mengatakan: “Perempoean itoe bodoh, perempoean itoe tak beradat, perempoean itoe begini, perempoean itu begitoe, perempoean ……. dan lain-lain nistaan.

Baca Juga:  Mengenal Literatur Qur'an Generasi Awal di Indonesia

Pembatja S.H. jang terhormat, baik laki-laki baik perempoean!

Pikiran hamba ta’ patoet nistaan itoe didjoedjoengkan pada seseorang anak perempoean atau anak laki-laki bila ia beloem pernah menempoeh peladjaran, laksana seboetir intan pastilah ta’kan bertjahaja bila intan itoe tidak digosok dan diasah lebih dahoeloe; sebagai intan itoe sedemkianlah halnja dengan manoesia.

Bagi kami perempoean-perempoean Hindia tidaklah ada ingatab jang berkehendak soepaja perempoean Hindia disamakan mempeladjari pekerdjaan negeri seperti djadi Djoeroetoelis, Djaksa, Dokter, Inginiur, lebih-lebih minta disamakan hak dan kekoeasaan perkara negeri seperti dinegeri Inggeris itoe, hanjalah akdar soepaja perempoean Hindia diperbaiki nasibnja mendjalankan pekerdjaan jang soedah biasa dipikoelkan oleh orang laki-laki Hindia djoea, ja’ni memegang roemah tangga adat sopan santun sebagai adat orang sopan perempoean orang Hindia djoea, dan lain-lain; pendaknya perempoean-perempoean Hindia patoet diberi pengadjaran sebagai hak dan kekoeasaan perempoean Hindia poela; siapakah jang berhati iba bila melihatkan akan hal nasib perempoean itoe.

Oleh karena orang Hindia ta; atjoeh itoe terpaksalah beberapa orang Belanda janga da di Hindia ini jang hiba melihatkan permepoean-perempoean orang Hindia hidoep dengan ta’ berpepeladjaran seraja menoendjoekkan pertolongan itoe patoetlah kita orang Hindia menoeliskan dengan toelisan air emas pada seboeah kitab jang akan djadi peringatan pada anak tjoetjoe pada kemudian hari kelak sebab pertolongan jang dilimpahkan boekanlah pertolongan oeang sadja, malah pertolongan akal boedi dan djerih pajahlah jang lebih oetama, ja’ni pertolongan jang mengadjar tentang berbagabagai matjam pengadjaran memegang roemah tangga, seperti masak memasak, djahir-mendjahit dan lain-lain peladjaran.

Sepandjang pengetahoean hamba, adapoen orang-orang Belanda jang moela-moela mengembangkan pertolongan pada perempoean orang Hindia, jalah toean Inspecteur C. den Hamer, J.C.J van Bemmel dengan sekoetoenja, akrena beliaulah jang memboeka roemah sekolah oentoek perempoean di Bandoeng jang bernama “Keoetamaan Isteri” dana dalah sekolah itoe boleh dimasoeki oleh segala perempoean artinja pedoeka itoe melimpahkan pertolongaanja, boekanlah pada anak isteri orang Hindia jang berpangkat sadja, melainkan segala orang boleh diterima mendjadi moerid.

Baca Juga:  Sejarah Pinggiran: Datu Sumangerukka Perintis Lembaga Pendidikan Islam di Desa Rompegading

Djadi njata sekarang bahwa orang Eropa djoea jang harus dipoedji, karena ialah jang soeka beroesaha memadjoekan perempoean-perempoean Hindia, dan banjak lagi pertolongan toean dan njonja-njonja orang Belanda jang ta’ dapat hamba toeliskan di halaman S.H ini, jang mana semoeanja itoe berlakoe pada pendoedoek poelau Djawa sadja, dan tidak lah hamba dengar jang terdjadi dipoelau Soematra, lebih-lebih di Soematra Barat.

Oleh karena itoe berbangkitlah kami perempoean Hindia meoesahakan sendiri hendak menoentoet apa jang berguna dan wadjib bahi kami perempoean, sebagai mendjaga roemah tangga dan lain-lain ichtiar oentoek pentjari djalan penghidoepan seperti pada sebelah desa ketjil jang ta’ berapa djaoehnja dari Fort de Kock (Kota Gedang) adalah kami mengadakan perkoempoelan perempoean-perempeoan sadja, ja’ni oentoek mempeladjari kepandaian tangan, memegang roemah tangga, dan beladjar mermatjam-matjam kepandaian jang mana perkoempoelan itoe kami namai ” keradjinan Amai Setia” (K.A.S = Kas) ertinja peti tempat simpanan oeang: karena kalau leden dari perkoempoelan itoe soedah pandai bekerdja sebagai jang dimaksoed itoe, nistjajalah perkoempoelan itoe mengeloearkan oeang jang banjak ja’ni hasil pendjoelan kepandaian tangan jang hendak dipeladjari itoe boekan? Djadi pada perkoempoelan itoe boekanlah pada mempeladjari kepandaian ini itoe sadja, akan tetapi adalah poela diadjarkan pelbagai kepandaian jang boleh memberi penghidoepan bagi ledennja poela; jadi sambil berdendang bidoek hilir. Oleh karena perkoempoelan itu bermaksoed demikian, maka datanglah pertolongan dari segenap pehak jang mana pertolongan itoe boekan sedikit, malah sampai +- 200 roepiah banjaknja jaa’ni pemberian dari anak negeri laki-laki dan perempoean diantaranja ada djoea dari toean-toean bangsa Belanda laki-laki perempoean seperti pedoeka toean Doctor G.H. Hazen jang berpangkat Adviser voor inl zake, jang sekarang mendjadi Directeur Onderwijs en Eeredienst dan toean Doctor Ph. S. van Ronkel jang berpangkat Goeroe Besar disekolah Controleur di Betawi, jang sekarang mendjadi Ambtenaar voor de beoefening der Indiesche Talen d Fort de Kock dan pedoeka Njonja L.C. Westenenk.

Baca Juga:  Narasi Lain Lombok-Islam: Pandangan H. Lalu Anggawa Nuraksi

Tetapi sajang segala daja oepaja jang dimaksoed oleh perkoempoelan keradjinan Amai Setia itoe beloemlah dapat dilakoekan semoeanja, disebabkan ketiadaan roemah sekolah, djadi sekarang boeat sementara sekalian Leden dari vereeniging itoe hanjalah masing-masing bekerdja diroemah tangganja sendiri; teroetama jang diamdjoekan sekarang ialah dari hal renda Pelembang, jang mana dengan pendjoelan renda Pelembang itoe, soedahlah moelai memetik boeahnja serba sedikit.

*Tulisan ini merupakan tulisan Rohana Kudus (yang telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Pada 6 November 2019) di majalah SAUDARA HINDIA, No 6 Tahun 1 (1913). Disalin dari akun Facebook Khairul Ashdiq.

Tinggalkan Balasan