Saya memang tak mudik karena lahir, dibesarkan dan semua keluarga ada di Medan. Tapi mudik ini bukan tradisi Islam, juga tidak ada dalam sejarah Islam di Indonesia sebelumnya. Dulu para perantau di Medan yang luar biasa banyaknya, pun tidak merasa perlu mudik saat Idul Fitri. Jadi mudik itu sebenarnyakah hanya fenomena baru, kegelisahan manusia moderen karena kota tidak membuat dirinya home dan merasa perlu lari ke kampung menyelamatkan diri yang sepi di kota? Atau kompensasi keterputusan kota dan kampung di luar Idul Fitri yang tidak pernah dikunjungi si malin kundang perantau ini? Lalu semua ditumpuk dan ditebus dikunjungi saat idulfitri?

Kegiatan mudik selalu menjadi topik utama pada 1 minggu sebelum dan sesudah Idul Fitri. Sehingga kedua kegiatan yang diangap identik dengan Idul Fitri itu merupakan tradisi perayaan Hari Raya di Indonesia, sebab di negara lain seperti Timur Tengah, kegiatan seperti itu tidak ditemukan. Lalu yang menjadi pertanyaan sejak kapankah mudik menjadi tradisi masyarakat Indonesia dalam merayakan Idul Fitri?

Museum Sejarah Pers Medan memiliki beberapa arsip surat kabar lama yang bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri seperti surat kabar Pewarta Deli Juli 1917 dan surat kabar Soeara Atjeh Maret 1930. Pada surat kabar Pewarta Deli edisi Juli 1917, berita dan tulisan yang mengisi satu minggu sebelum dan sesudah lebaran adalah berupa berita tentang kondisi daerah (seperti Tapanoeli, Medan, Tebing Tinggi, Labuhan Bilik, Bindjai), berita kriminal (seperti pencurian), berita ekonomi di Sumatera Timur, berita internasional (seperti Jepang, Eropa, Belanda, Cina), berbagai iklan produk, cerpen, serta beberapa ucapan dan Puisi Hari Raya. Setidaknya dari analisis surat kabar Pewarta Deli tahun 1917 itu, suasana Hari Raya di media massa hanya diisi dengan ucapan sederhana selamat Hari Raya, puisi Hari Raya oleh redaksi, dan beberapa iklan produk yang berkaitan dengan Hari raya. Surat kabar Pewarta Deli yang dicetak di Deli ini sama sekali tidak ada memuat berita dan tulisan mengenai mudik meskipun Deli pada masa itu merupakan kota yang banyak dihuni oleh migran dan perantauan.

Baca Juga:  Kacang Tojin : The Dark Forgotten Trail

Pada surat kabar Soeara Atjeh edisi Maret 1930 adapun berita dan tulisan yang mengisi pada suasana menjelang dan sesudah Idul Fitri adalah bebrapa tulisan bernuansa Islam seperti kelompok “Intelectueel Islam Haroes Insjaf”, tulisan “Pers Kolonial Dan Journalistennja”, tulisan “Oemat Islam Moesti Sedar!”, tulisan “Agama Islam Dalam Pimpinan Allah”, profil beberapa tokoh (seperti M. Ghandi dari India, Coolidge dan Hoover dari Amerika, Ibn Saoed dari Arab), berita tentang Ormas Islam (seperti Muhammadiah), berita pendidikan, iklan seputaran puasa dan Hari Raya, serta ucapan dan puisi Hari Raya oleh redaksi surat kabar. Dari surat kabar Soeara Atjeh ini juga tidak ditemukan satu pun berita berkaitan dengan mudik, meskipun surat kabar ini sangat kental dengan nuansa Islam.

Dari analisis kedua surat kabar itu jelas tampak bahwa tidak ada satupun berita atau tulisan yang mengabarkan tentang kondisi mudik setidaknya untuk wilayah Aceh dan Sumatera Timur. Dengan demikian konsep mudik tidak ada kaitannya dengan Idul Fitri. Mudik juga belum tentu berkaitan dengan banyaknya kaum migran atau perantau. Deli dan Sumatera Timur merupakan tempat bersesak kaum migran (dari Jawa) dan perantau (dari Minang dan Mandailing) sejak akhir abad 19. Tapi tidak ada kegelisahan “mudik”, “pulang kampung”, atau semacamnya yang ahistoris. Mudik merupakan fenomena sosial modern yang mungkin berkaitan dengan ketidak nyaman dunia rantau, kota, atau industrilisasi yang membuat hampa hidup manusia modern, sehingga merasa perlu “pulang”. Momen yang pas adalah “lebaran” itu, jadi jangan-jangan substansinya bukan untuk merayakan Idul Fitri tetapi tempat “pulang”nya sosok yang kesepian dan gelisah di perantauan. Dulu (tahun 1917 dan 1930) banyak kaum migran muslim di Deli, tapi tak ditemukan para pemudik yang gelisah untuk “pulang” itu.

Baca Juga:  Bahasa Minang Kini

Anda mudik? Kenapa? Ada dua kemungkinan, anda sepi dan gelisah di rantau atau anda rindu, terhutang jarang mengunjungi kampung. Atau keduanya. Atau ada sebab lain? Yang jelas bukan karena idulfitri , tradisi itu tidak ditemukan dalam arsip sejarah panjang Islam. Tidak ada mudik dalam sejarah Islam di Sumatera Timur dan Aceh

*Tulisan ini dalam versi yang lain pernah dimuat pada Harian Waspada kolom Sudut Tempo Doeloe edisi 25 Juli 2015.

Top of Form

Bottom of Form

Tinggalkan Balasan