Bicara Tuhan, tak lepas dari yang disebut keyakinan. Secara garis besar, keyakinan bisa juga disebut pegang hidup yang juga dilabeli agama. Fungsi agama sendiri adalah pedoman yang menjadi penunjuk arah -berikut ajarannya- untuk menuju Tuhan yang diyakininya.

Ketika membaca sejarah agama-agama, kita sering dipertemukan dengan warna realitasnya yang paradoksal. Jelas sudah bahwa pada satu sisi, agama mengisyaratkan kedamaian. Namun di sisi yang lain, memberikan -seakan-akan- penganutnya harus melakukan kekerasan bahkan perang. Di satu sisi , agama memberikan kejelasan tentang betapa pentingnya nilai-nilai kemanusiaan. Di sisi lain nilai-nilai kemanusiaan itu diabaikan melalui perhelatan perang dan kekerasan itu sendiri.

Coba kita menoleh ke belakang di mana agama justru terlibat atau dilibatkan dalam rentetan panjang sejarah peradaban manusia. Amsal, pada peristiwa Perang Salib, yang tercatat sebagai perang agama pada abad ke 16 dan 17 silam. Di mana peristiwa itu terjadi diketahui melibatkan dua agama berbeda.

Mari coba renungkan pertanyaan ini. Kenapa dalam sejarah agama-agama di situ penuh dengan kekerasan? Itu satu. Sedang pertanyaan kedua adalah, kenapa kepenganutan agama-agama justru menimbulkan korban jiwa tersebab firqoh pemahaman?

Rupanya J.Harold Ellens (2007) menelurkan pemikirannya yang bisa kita jadikan sebuah refleksi. Ia mengatakan bahwa: kekerasan yang berbackground agama bisa dilacak pada unsur destruktif yang ada pada agama itu sendiri.

Melihat kondisi umat Islam -khusunya dari sisi pemikirannya-, terdapat kelompok garis keras acapkali menepuk dada merasa dirinya paling suci dan paling tepat berpikir sekaligus menjalankan roda agamanya. Mirisnya, mereka malah seakan -bahkan- memaksakan kelompok lain mengikutinya.

Dari situlah tak heran jika bermuara pada kecenderungan terjadinya pembelahan pemahaman yang berwarna. Akhirnya, di kalangan mereka sendiri terkotak-kotak.

Baca Juga:  Membincang Zakat

Terlepas dari itu, ada buku menarik untuk diketahui pembaca atau calon pembacanya. Buku itu berjudul ‘Dari Membela Tuhan Ke Membela Manusia: Kritis Atas Nalar Agamaisasi Kekerasan’

Karya Dr.Aksin Wijaya ini memberikan deskripsi dengan jelas betapa Agama yang dibawa Nabi Muhammad yakni Islam bukanlah monolitik semata. Terdapat Sikut-menyikut bahu saudaranya sendiri disebabkan memiliki tafsir yang tidak sama dan saling menganggap benar masing-masing.

Dalam buku itu, pria kelahiran Madura itu menyinggung kita dalam menghadapi dunia digital. Di mana kita saat ini hampir setiap hari

Disuguhi berita yang beragam. Mulai dari politik, agama, ekonomi, moral, budaya, sampai pada berita nuansa kekerasan. Diakui atau tidak, hari ini kita sudah sering membaca, mendengar bahkan melihat di berbagai media terkait kelompok kafir -mengkafirkan, sesat-menyesatkan, bid’ah-membid’ahkan, penistaan agama. Tidak berhenti di situ. Berita pembakaran tempat ibadah hingga kekerasan fisik yang mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan juga tersaji. (hlm:1).

Namun dalam garis besarnya, Direktur Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo ini menyajikan tiga sub. Pertama adalah membongkar nalar keislaman tokoh gerakan Islam yang menampilkan kekakuan, intoleran, keras. Ironisnya, mereka melakukannya dengan membawa nama Tuhan atau mengatasnamakan Tuhan berikut agama. Kata Aksin, dua kelompok yang menempati rumah gerakan pertama ini; kelompok Islam Khawariji-Wahabi dan Islamisme. Pada sub kedua, dibongkarlah nalar keislaman tokoh gerakan yang berwajah plural, toleran, damai. Singkatnya, kelompok yang kedua ini adalah Islam Pluralis. Ketiga, memberikan analisis secara kritis pada status nilai nalar keislaman tokoh yang berwajah kaku atau pada kelompok pertama tadi. Sudah jelas bahwa mereka melakukan gerakan dengan atas nama Tuhan dan agama. Jadi pada sub ketiga ini membedah dengan pertanyaan apakah mereka benar-benar representasi agama dan Tuhan dalam gerakan-gerakan yang dilakukan. Atau justru memakai otoritas agama dan Tuhan untuk menepuk dadanya dengan bangga dalam ideologi kekerasannya?

Baca Juga:  Teologi Masyarakat Sasak (Lombok)

Namun dalam Bab-bab yang tersusun rapi dapat digambarkan isi buku ini. Genealogi Gerakan Islam Kontemporer terdapat terletak pada bab satu. Isinya tiga hal; pertama, Islamisasi peradaban; terhapusnya fanatisme suku. Kedua, sukuisasi islam ; kembalinya fanatisme suku, dan yang ketiga, cermin -retak gerakan Islam klasik.(hlm: 11-21)

Pada bab tiga, dikupas Islam khawariji-wahhabi : rinciannya terdapat lima pembahasan  ; Islam khawariji-salafi. Islam khawariji-wahhabi. Nalar Islam Abdul Wahhab. Al-Hakimiyah Al-ilahiyah Al-su’udiyah. Jihad fisabilillah.(halm:23-42)

Islam Islamisme terkupas pada bab empat. Di dalamnya dibahas Islamisme Al-maududi, nalar Islam Al-maududi, dari al-Hakimiyah al-basyariyah ke Al-Hakimiyah Al-ilahiyah, dari jihad politik ke jihad fi sabilillah, Islamisme sayyid qutb, nalar islam sayyid qutb, dari al-Hakimiyah al-basyariyah ke Al-Hakimiyah Al-ilahiyah, dari jihad politik ke fisabilillah. (Hlm : 45-72).

Pada bab lima pembaca akan berjumpa pembahasan Islam pluralis. Di dalamnya dibahas Islam substantif Sa’id Al-asymawi. Nalar  Islam Al-asymawi. Al-Hakimiyah Al-ilahiyah ke al-Hakimiyah al-basyariyah. Dari jihad fi sabilillah ke Ar-Rahman Al-ilahiyah. Islam universal Muhammad abu al-Qasim haj Hammad. Nalar Islam haj hammad. Dari Al-Hakimiyah Al-ilahiyah ke al-Hakimiyah al-basyariyah. Dari jihad fi sabilillah ke Rahman ilahiyah. Islam imani Muhammad syahrur. Nalar Islam syahrur, dari Al-Hakimiyah Al-ilahiyah ke al-Hakimiyah al-basyariyah. Dari jihad fi sabilillah ke Rahman ilahiyah.(hlm: 77-133)

Tidak berhenti di situ, ketika sampai di bab enam, pembaca dipertemukan dengan pembahasan kritik dekonstruktif atas nalar islam khawariji-wahhabi dan Islamisme. Muatannya berupa kritik nalar islam khawariji-wahhabi dan Islamisme. Dekonstruktif nalar islam. Pembaca juga disuguhkan dengan pemikiran Aksin pada bahasan tersebut. Dari nalar Islam teosentris ke islam atroposentris. Dari al-hakimiyah ke umat beriman. Dari jihad fi sabilillah ke jihad wathaniyah.(hlm: 139-161)

Baca Juga:  Bolehkah Nikah Beda Agama?: Mengurai Argumen dan Meneroka Hal-Hal di Baliknya

Pada bab tujuhnya, akan dibawa pada pembahasan kritik atas nalar Agamaisasi kekerasan. Dua bahasan lebar pada bab ini. Pertama, nalar agamaisasi kekerasan dan nalar Agamaisasi kedamaian.(165-171)

Visi kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara di Indonesia adalah paripurna bahasan dalam buku berwarna cokelat kombinasi garis dan tulisan silver ini. Pada bab akhir atau delapan ini dibahas visi kalimatun sawa’ dalam kehidupan beragama. Visi etis-humanis dalam kehidupan bernegara. Visi Islam Pribumi dalam kehidupan bernegara. Perjalanan eksistensi konsep bernegara dalam peradaban Islam. Menguji argumentasi konsep berkhilafah islamiyah serta menyelamatkan Indonesia dari ideologi eksklusif. (Hlm: 179-211)

Secara umum, buku terbitan mizan ini adalah alarm bagi kita akan keharusan memandang manusia sebagai mahluk yang bermartabat kemuliaan. Tidak hanya itu. Membaca cermat buku ini memberikan kita pemahaman bahwa agamaisasi kekerasan tidak boleh biarkan terjadi. Pasalnya, hal itu menabrak tembok prinsip agama Islam yang sudah jelas sbegaii agama damai (salam) bahkan Rahmat untuk alam semesta sebagai mana kita kenal dengan rahmatan lil al-lamin.

Tentu tidak sekadar membacanya tuntas begitu saja. Saran saya, baca buku sembari merenung sebagii sebuah refleksi bagi kita yang -jangan-jangan- kita disinggung oleh isi buku ini.  Selebihnya, wallahua’lam.

Judul Buku: Dari Membela Tuhan ke Membela Manusia: kritik atas nalar Agamaiasasi kekerasan.

Penulis: Aksin Wijaya.

Penerbit:  Mizan

Tahun terbit: 2018

ISBN: 978-602-441-067-4

Peresensi: Gafur Abdullah*

Tinggalkan Balasan