Kemerdekaan beragama saat ini seakan menjadi barang yang mahal di Indonesia. Pasalnya, ekspresi keberagamaan suatu agama masih saja dipersoalkan di ruang publik kita. Teranyar, pada sabtu malam tangga l8 Agustus 2020, kekerasan atas nama agama kembali terjadi di Solo. Sekitar 200 orang yang mengatasnamakan “Laskar” menyerang acara Midoderani yang tengah berlangsung di rumah almarhum Segaf Al-Jufri di Jln. Cempaka No.81 Kp. Mertodranan Rt.1/1 Kel/Kec. Pasar Kliwon Kota Surakarta.

Midoderani sendiri merupakan tradisi yang masih dilestarikan oleh masyarakat Jawa sebagai tradisi untuk mempersiapkan hari pernikahan (pra-nikah). Kelompok Laskar ini melakukan tindakan represif terhadap komunitas Syi’ah yang menyelenggarakan acara tersebut. Kebetulan kediaman Almarhum ini merupakan salah satu dari anggota komunitas Syi’ah yang ada di Solo. Sambil meneriakkan Takbir, mereka melakukan kekerasan dan mengatakan bahwa Syi’ah itu bukan Islam dan halal darahnya.

Melihat peristiwa ini, sebenarnya secara  tidak langsung telah mencederai toleransi beragama yang sudah diupayakan oleh masyarakat Indonesia. Kemerdekaan beragama di ruang publik telah tereduksi, padahal komunitas Syi’ah sendiri merupakan salah satu madzhab teologi (Firqah) dalam Islam yang sudah ada di Indonesia sejak ratusa ntahun yang lalu. Syi’ah termasuk komunitas agama minoritas di Indonesia, yang dalam perjalanannya seringkali mengalami diskriminasi.

Berdasarkan laporan dari Wahid Foundation (2020) pada periode pertama pemerintahan Jokowi dari tahun 2014-2018, sepanjang 50 bulan terdapat 577 kasus pelanggaran yang dilakukan aktor non-Negara. Sedangkan yang dilakukan oleh actor Negara sebanyak 524 tindakan. Hal ini bisa dilihat bahwa ternyata poteni kekerasan terhadap ekspresi keberagamaan masyarakat sangat marak terjadi, salah satunya kepada minoritas agama.

Menilik hal ini, kita perlu memotret peristiwa intoleransi keberagamaan tersebut dalam kacamata Nurcholish Madjid atau yang akrab dipanggil CakNur. Ia seorang tokoh pembaharu pemikiran Islam di Indonesia, yang telah banyak menelurkan produksi pengetahuan agama dalam bingkai kemanusiaan.

Salah satu pandangan Cak Nur yang ada kaitannya Dengan Kemerdekaan Beragama adalah Sekularisasi. Dalam ha lini melalui  Sekularisasi Cak Nur berupaya menduniawikan sesuatu yang sejatinya duniawi. Ekspresi keberagamaan merupakan perihal duniawi, dan itu harus diletakkan dalam kerangka kemanusiaan, bukan keukhrowian. Inilah yang ingin diupayakan dalam sekularisasi ala Cak Nur, baginya kekerasan berjubah agama, Dengan alasan apapun tidak dapat dibenarkan. 

Selain itu, Sekularisasi ala Cak Nu rmerupakan langkah konkrit untuk mendorong agar Negara bisa bersikap netral terhadap seluruh warganegaranya. Negara memiliki peran untuk tidak diskriminatif dalam mengatur masyarakat, dan tidak berpihak kepada suatugolongan tertentu.

Pemerintah dalam hal ini Negara, saat ini tengah menghadapi tantangan dalam menghadapi gempuran konflik sektarian. Negara memiliki peran sentral untuk mengatur dan system Negara tidak boleh mendzholimi kebebasan warga Negara Indonesia. Peraturan daerah (Perda) Syari’ah yang pernah mencuat pada  tahun 2017 merupakan Perda yang diskriminatif. Perda syariah yang mengatur seorang PNS untuk sholat tepat waktu secara eksplisit melanggar kebebasan beragama yang universal, ha lini merupakan sedikit bentuk dari kelalaian. 

Kebebasan beragama harus digalakkan keruang publik, Negara dan masyarakat tidak boleh mengintervensinya. Negara boleh membatasi dalam berekspresi suatu agama, jika itu mengancam keamanan masyarakat. Karena pembatasan yang bisa dibatasi oleh Negara dalam kerangka menjaga keselamatan untuk melindungi publik. Sekularisasi mendorong nilai agama yang universal itu bisa membumi dalam konteks kemanusiaan yang universal. Peran Negara dan masyarakat sangat dibutuhkan untuk melindungi kemerdekaan beragama, karena dengan kemerdekaan tersebut masyarakat bisa hidup damai dengan anggota masyarakat yang lain.   

Dalam momentum hari kemerdekaan di bulanAgustus tahun ini, marilah kita sebagai warga Negara berupaya menciptakan dan merayakan kemerdekaan beragama. Karena sejatinya nilai kemanusiaan melampaui agama itu sendiri. Memang tidak mudah dalam membumikan sekularisasi Cak Nur dalam realitas  sosial, tetapi Cak Nur setidaknya sudah membangun fondasi keberagaman yang universal bagi umat Islam Indonesia.    

Tinggalkan Balasan