Ini adalah tentang kacang tanah, tumbuhan dikotil yang digoreng, dicampur bawang, seledri, dan garam. Ini adalah tentang makanan ringan, penganan, biasa ada di warung, di rumah-rumah kalau Lebaran atau Natal, kadang ada di hotel mewah.

Orang-orang di sesak Jakarta (seperti saya) menamainya dengan sebutan yang terburu-buru: kacang bawang. Wajar, nama itu muncul dari masyarakat yang 112% urban yang bisanya hanya makan dan susah membedakan mana yang sampah dan mana yang layak dimakan, apalagi bicara filosofi makanan. Di masyarakat kota-kota berantakan di negara terbelakang, jangankan memberi nama makanan, untuk apa makanan hadir di atas meja aja mereka kerap tidak memikirkannya.

Lagi pula, buat apa? Jam kerja adalah rutinitas yang selalu memburu hingga manusia susah membedakan kesedihan dan kebahagiaan, cinta dan kedengkian, jangan dipaksakan lah bicara filosofi makanan. Akan gak nyambung nantinya. Jangan berbincang tentang lautan dan ombak pada monyet, dan tidak beradab pula bicara tinggi pohon dan cara melompat pada tenggiri.

Orang-orang di kota besar, sebagian mereka hanya tahu bagaimana cara mengusir lapar, sebagian mereka  bicara tentang kerusakan moral, mobilisasi massa, revolusi dengan perut kenyang. Bagaimana menambal perut lapar, mereka tentu tahu. Enak? Mungkin. Terpikirkah bagi orang-orang urban yangg sekali setahun mudik ke kampung halaman (sambil petantang petenteng) itu tentang kenapa makanan hadir di meja makan?

Baik, kembali ke topik.

Di Sumatera bagian tengah, makanan dari kacang tanah tersebut dinamai dari kealpaan sejarah: Kacang Tojin.

Apa itu tojin? Datuk-datuk, penghulu, pemegang tampuk adat, akan mengingat lagi Tambo (kitab adat yang suci), sejarawan, arkeolog pun dibuat bingung: dari mana kacang tojin ini berasal, kenapa tiba-tiba ia hadir begitu saja di hari-hari suci penuh kemenangan?

Baca Juga:  Selamat Idul Fitri Kepada "Orang Puasa Dahulu" dan "Orang Puasa Kemudian"

Yesus dari Nazareth yang datang ke Jarussalem dengan kasih, ia datang tidak menggunakan kuda putih kemenangan, melainkan keledai pinjaman. Muhammad dari gurun kering membawa ajaran cinta kasih yang lembut (walau banyak orang juga menafsirkannya dengan cara yang lain). Siapa sangka umatnya akan kerap bersiteru setelah dua lelaki suci itu mangkat berabad-abad silam?

Ini melantur. Ini bukan tentang agama-agama samawi, yang tak satu pun membahas tentang nama sebuah penganan dari kacang.

Tojin, kata itu sangat asing bagi penutur Melayu. Bila dipisah, to (dalam bahasa Toraja berarti ‘manusia’), sedangkan jhin dari bahasa mandarin berarti emas. Namun, merunut sejarah tojin dari akar kata, sama dengan mengurai benang yg telah kusut sejak dari kumparan.

Bila ditilik dari akar kata “kacang”, otak saya yang hanya sanggup menghapal rangkaian paralel pada listrik statis, akan dibikin mumet. Jangankan saya, intelektual-intelektual terpandang yang dicetak oleh kampus megah di negara bekas jajahan di Sumatra van Weskust saja, kerap kebingungan dan ujung-ujungnya memakai logika cocokologi, asal cocok, dicocok-cocokkan.

Tapi, setidaknya, kacang melahirkan metafora yang banyak: lupa kacang dengan kulitnya, cokacangdiabuikciek (lagakmu seperti sebiji kacang  yang direbus dalam kancah yang besar, melonjak ke sana, lonjak sini, perilaku khas mahasiwi-mahasiswi kece di kampu-kampus negara jajahan).

Baik, kita kembali ke kata tojin. Intel MOSSAD bertopeng peneliti yg hidup di negeri melayu yang layu, kelabakan mencari kode-kode rahasia di balik kata “tojin” yang sebetulnya tidak ada sangkut pautnya dg bahasa Minangkabau dan Arab.

Kata “tojin”, pernah diucapkan seorang ahli kitab di suatu traktat perdamain kuno yang tak tercatat, kira-kira 14 abad sebelum masyarakat di aliran Nil mengenal cara bercocok tanam, dan 159 abad setelah itu, sebuah masyarakat semi permanen di tengah pulau Sumatera lahir dari rahim seorang perempuan suci–masyarakat yang pada awal abad ke-21 dijangkiti wabah menular bernama Megalomania-Narcistic-Disorder! (Bayolonamoeyeh)

Baca Juga:  Lilik

“Tojin”, tentu tidak ada sangkut pautnya dengan “sekolahberuk” yang membuat anak-anak negeri terjajah bisa datang dan dididik di negeri penjajah hanya dengan mengatakan: beruk di kampungku lebih dulu terdidik dari manusia yang mengendalikannya!

Baiklah, inlander-inlander budiman yang sedang berpuasa. Catatan ini terlalu jauh melenceng, jauh dari pokok pikiran utama. Tak jelas ujung pangkalnya. Kau kira berapa uang negara dihabiskan hanya untuk sidang istbat yang mengumumkan kapan hari raya dilaksanakan? Hendak merayakan apa, inlander-inlander yang beriman? Merayakan kalau sebulan berpuasa (padahal berbuka kayak kesetanan makannya), terus menjadi takwa, dapat Lailatul Qadr, dan putih bersih seperti bayi yang baru lahir? Mestinya, kita kembali ke “tojin”, daripada kasak kusuk membahas hal aneh-anak, akan menyinggung hati orang-orang beriman, bertakwa (orang bertakwa kok mudah tersinggung ya, kok suka mengingatkan orang lain dengan penuh paksaan, ya, mengaku pengikut Muhammad lagi tu)

Baiklah orang-orang yang berpuasa dan kurang kerjaan dan mudah tersinggung (nanti akan ada yang bilang: puasa jangan jadikan bahan lelucon! Lelucon itu bukan kue mangkuk yang perlu bahan, keleus). Dan, research saya ini (research ya. Bukan penelitian!), bukan tentang lelucon. Ini tentang jejak peradaban dalam sebuah penganan Kacang Tojin.

1 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan