Tablawi Arib Rahimahullah merupakan seorang ulama desa yang cukup disegani. Beliau memang bukan tokoh terkenal yang sering tampak di media, atau tokoh yang pendapatnya sering diminta dalam acara-acara Nasional. Tablawi Arib hanyalah ulama desa yang tinggal di Desa Sukajadi Kec. Perbaungan Kab. Serdang Bedagai, sebuah desa di pinggiran Sumatera Utara. Meski demikian, dari sosok-sosok seperti beliau ini lah pemahaman keagamaan bisa dimengerti dan sampai ke telinga umat. Suasana kehidupan beragama di desa-desa yang jauh dari pusat ibu kota ini juga bergantung pada sosok-sosok yang hidupnya dihabiskan untuk menjadi penerang di setiap desa di sekitarnya. Tokoh-tokoh di atas sana boleh jadi tak tahu bagaimana kondisi masyarakat di lapisan bawah, menjaga aqidahnya dan memberi pemahaman yang benar dalam mengamalkan ajaran agama.

Sosok yang ramah dan susah marah ini lahir di Desa Bandar Klippa, Kec. Tembung Kab. Deli Serdang  pada tanggal 27 Juli 1958, sebagai anak ke tiga dari sepuluh bersaudara dari pasangan Ahmad Ridwan Ibrahim dan Zainab. Ia menikah dengan Nuraini pada tahun 1983, dikaruniai dua anak dan dua cucu.

Perjalanan menempuh pendidikan yang berat karena persoalan perekonomian orang tua memaksanya memacu semangat yang tinggi dan menempanya untuk menjadi sosok yang tak cepat menyerah dan putus asa. Sejak menduduki bangku Sekolah Dasar, beliau sudah terbiasa bekerja untuk meringankan beban orang tua. Keinginan yang tinggi untuk bisa terus bersekolah membuatnya tak mengenal kata lelah. Beliau tercatat sebagai siswa SMP Negeri Tembung dan mempelajari ilmu agama pada siang hari di Madrasah Tsanawiyah Al Washliyah Ismailiyah Medan.

Selepas dari sana, kecenderungan ingin mempelajari agama yang lebih dalam, beliau melanjutkan sekolah di Madrasah Al Qismul Aly Al Washliyah Ismailiyah Medan. Kemudian, melanjutkan pendidikan di Universitas Al Washliyah Medan dan meraih Sarjana Muda (BA) pada jurusan Syari’ah. Secara pribadi, beliau belajar kepada kakeknya Tuan Guru Usman yang belajar langsung kepada Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi.

Baca Juga:  Tan Malaka dan Madilog

Selama perjalanan menempuh gelar sarjana muda, beliau juga menghabiskan waktu dengan mengajar di Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Muallimin Al Washliyah Medan. Setelah menamatkan pendidikan di perguruan tinggi, kemudian menikah. Beliau pindah dan menghabiskan hidupnya di Perbaungan yang merupakan tempat tinggal istri. Dari sana lah beliau mulai mengajar di Madrasah Tsanawiyah dan Al Qismul Aly Al Washliyah Perbaungan. Dalam pengabdiannya, beliau sempat menjadi Kepala Madrasah Tsanawiyah Al Washliyah Perbaungan pada tahun 2000-an. Beliau aktif di Majelis Ulama Indonesia Kab. Serdang Bedagai, Pengurus KBIH al-Mabrur Kec. Perbaungan, dan beliau tercatat sebagai Anggota Dewan Fatwa Al Washliyah.

Selama mengajar di Madrasah, beliau termasuk guru yang  mengampu mata pelajaran yang memerlukan pemahaman yang mendalam dan mesti disampaikan dengan kehati-hatian seperti kajian kitab al-Syarqawi ‘ala al-Hudhudy yang menjadi kitab pegangan untuk mata pelajaran Tauhid. Selain itu, pelajaran lain yang mengundang keruwetan seperti  kitab Ilmu Mantiq karangan Muhammad Nur al-Ibrahimy. Beliau akan memberikan penjelasan secara runtut dan berusaha membuat pelajaran itu menjadi mudah dipahami.

Beliau pernah bilang dalam sebuah pertemuan yang disaksikan ratusan muridnya dan beberapa di antaranya datang bertamu ke madrasah sepulang menempuh pendidikan Strata I dan Strata II di Timur Tengah  : “Guru yang berhasil adalah guru yang membuat muridnya bisa mengkoreksi bacaan gurunya. Hari ini saya berhasil, karena, mereka sudah bisa mengkoreksi bacaan saya.”

Keluasan hati dan ungkapan-ungkapan yang selalu menenangkan hati ini-lah mungkin yang membuatnya memiliki kedekatan emosional dengan murid-muridnya. Di antara kebiasaannya yang lain, dan ini beberapa kali penulis alami. Waktu ajaran baru dimulai, kebanyakan murid belum punya kitab. Beliau menalangi pembelian kitab untuk para murid tersebut, untuk kemudian mereka cicil. Padahal, harga kitab waktu itu Cuma tiga belas ribu rupiah.

Baca Juga:  Dea Guru: Syaikh Zainuddin As-Sumbawi

Beliau amanakah penulis untuk menampung pembayaran dari kawan-kawan. Saat semua sudah lunas terbayar. Beliau bilang “Besok kita khatam Qur’an, uang kitabnya belikan nasi bungkus untuk satu kelas. Kita hadiahkan untuk ayah saya”. Mungkin, adik-adik kelas yang lain memiliki pengalaman yang serupa. Jadi, beliau ini paling senang makan bersama. Katanya, nasi yang sudah didoakan itu rasanya beda.

Kisah orang hebat pada umumnya memang demikian: tentang kehidupan yang getir dan pencapaian yang didulang dengan air keringat dan air mata. Begitupun, kisah para ulama yang hidupnya dihabsikan untuk belajar dan mengajar, menjadi lentera atas kegelapan ummat.

Tapi, ada satu hal yang membuat hal ini menjadi berbeda dan sulit untuk ditemukan penggantinya. Di tengah kesibukan-nya mengajar di Madrasah dan mengisi pengajian di beberapa desa, mesjid dan musholla sampai malam, sebelum beristirahat beliau masih sempatkan waktunya untuk didatangi murid-murid yang sangat ingin dapat membaca kitab-kitab turats. Dengan penuh kesabaran, membimbing anak-anak dimulai dengan membaca kitab Qawa’idun Nahwi yang berbahasa Arab Melayu karangan Haji Muhammad Husain Abdul Karim, kitab ini biasa dipakai untuk siswa Ibtidaiyah di lingkungan Madrasah Al Washliyah. Kemudian, setelah tamat membaca kitab paling dasar itu, baru dilanjutkan dengan membaca kitab Matan al-Jurumiyah. Beberapa pendekatan beliau lakukan sebagai upaya mempermudah murid-muridnya mengerti dan paham.

Sosok guru semua kalangan, tak peduli tua atau muda. Semua duduk berguru padanya. Tapi, tidak ada yang abadi di dunia ini. Lentera itu padam tanpa ada isyarat dan tanda-tanda. Benar-lah sabda Nabi Muhammad Saw :

عن عبد الله بن عمرو بن العاص, قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول : “ان الله يقبض العلم انزاعا ينتزعه من العباد, و لكن يقبض العلم العلماء, حتى اذا لم يبق عالما اتخذ الناس رؤسا جهالا, فسئلوا فافتوا بغير علم, فضلوا و اضلوا.”

Baca Juga:  “Tan, Baik-baik Sajakah Kau di Sana?”

Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash berkata : Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda : “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dari hamba-Nya, tetapi, mencabut ilmu dengan mencabut para ulama. Sehingga ketika (Allah) tidak menyisakan satu ulama, maka, manusia mengangkat pemimpin-pemimpin bodoh, mereka ditanya kemudian memberi fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari).

Dengan kembalinya ulama satu-persatu, sama hal-nya dengan mencabut ilmu itu sendiri. Hadits ini menunjukkan betapa carut-marutnya ummat tanpa bimbingan para Ulama. Namun demikian, tidak satu-pun dari manusia yang bisa menolak ketetapan Allah Swt.

Satu Syawal 1438 H, hari itu masih disambut dengan suka cita. Tidak ada dugaan atau sangkaan. Pagi itu almaghfur lah masih berdiri di depan mimbar menyampaikan khutbah ‘Idul Fitri. Usai khutbah dibacakan, beliau hanya merasa tidak enak badan, dadanya tiba-tiba sesak, tapi, keadaannya tidak mengkhawatirkan, semua masih bisa dilalui dengan normal. Malam menjelang, tiba-tiba dadanya kembali sesak. Pihak keluarga buru-buru membawanya ke Rumah Sakit. Belum sampai ke Rumah Sakit, sesak di dada semakin menjadi, kalimat “Laa Ilaha Illallah” menggema dari bibirnya hingga tak sadarkan diri. Pihak keluarga tetap meneruskan perjalanan ke Rumah Sakit.

Dini hari, 2 Syawal 1438 H, beliau menyelesaikan janjinya dengan Rabb-nya. Kepergian ini menyesakkan dada siapa saja yang mengenalnya. Mengingat, selama Ramadan beliau masih aktif mengisi pengajian, ikut serta dalam acara safari Ramadan, dan berpindah-pindah mesjid untuk i’tikaf pada malam Ramadan. Saat ini, jasadnya memang sudah pergi dan tak membersamai lagi. Tapi, segala ilmu dan nasihatnya akan selalu hidup menerangi siapa saja yang mengingat dan menyebarkannya. Satu pesan yang sering beliau ungkapkan dalam setiap pertemuan, “Kalaulah Bumi ini hanya sebesar kelereng di tengah jagat raya yang luas. Jadi, kalau Bumi yang sebesar ini nampak kecil, bagaimana lagi dengan kita? Kenapa kita masih sombong?”

2 KOMENTAR

  1. Alhamdulilah. … Syukurlah fatimah membuat tulisan tentang ustad Tablawi. Ibu mulai tugas di Aw saat dia menjadi kepala MTS. Dia benar2 teladan,..jika kita pilih keteladannya setidaknya masing2 murid satu sifat saja isya Allah berkah.

Tinggalkan Balasan