Di luar kerudung, selendang, jilbab, dan hijab, perempuan pelajar madrasah di Minangkabau semenjak penghujung perempat pertama abad 20 mengenal istilah lilik/mudawarah

Terdapat sejumlah istilah yang populer digunakan oleh masyarakat Indonesia untuk menunjuk kepada pakaian penutup kepala bagi perempuan Muslimah; kerudung, selendang, jilbab, dan hijab.

Apakah yang disebut dengan jilbab? Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebut jilbab adalah kerudung yang dipakai wanita untuk menutupi kepala, sebagian muka, dan dada. Jika ditanya kepada masyarakat umum, jawaban mereka tidak akan berbeda; jilbab adalah seperti yang terlihat dikenakan perempuan Muslim saat ini. Terlihat, bahwa kerudung disinonimkan dengan jilbab.

Jika pertanyaannya dilanjutkan, mengapa mereka menggunakan jilbab, maka jawabannya adalah karena jilbab adalah ajaran Islam mengenai etika berpakaian bagi perempuan. Jawaban ini problematis, sebenarnya. Karena, jilbab dalam bahasa Alquran bukanlah pakaian penutup kepala, sebagian muka, dan dada, melainkan pakaian secara utuh yang menutup seluruh tubuh kecuali telapak tangan dan muka.

Sementara itu, pakaian yang menutup kepala hingga dada dalam bahasa Alquran disebut khimar. Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan, sejak kapankah orang Indonesia memaknai jilbab sebagaimana yang mereka pahami sekarang?

Istilah jilbab pada dasarnya tidak populer di Indonesia hingga zaman Orde Baru. Penggulingan Shah Reza Pahlevi oleh Ayatullah Khomeini salah satunya menggunakan simbol jilbab. Ketika itu di Indonesia pemerintahan Orde Baru sedang dalam masa antagonistik terhadap gerakan-gerakan beragama.

Menurut Hamka, jemaah haji Indonesia mulai menggunakan jilbab ketika mereka pulang dari tanah Haram. Pada beberapa kesempatan, jilbab mulai digunakan sebagai simbol protes terhadap pemerintahan Orde Baru. Puncaknya, pada tahun 1982, pemerintah secara resmi melarang penggunakan jilbab bagi para pelajar di sekolah.

Baca Juga:  Kartini dan Kepeloporan Penerjemahan Qur'an

Jikalau istilah jilbab sudah populer sebelum itu, Buya Hamka dan Mahmud Yunus tentu akan menggunakannya dalam menerjemahkan kata khimar pada Q.S. al-Nur: 31 dalam karya tafsir mereka masing-masing. Faktanya, Mahmud Yunus justru menerjemahkannya kudung sementara Hamka menggunakan kata selendang.

Rahmah El Yunusiah

Barangkali kita cukup akrab dengan foto-foto masa silam yang merekam bentuk selendang yang digunakan oleh istri para Kyai. Secara visual, memang berbeda dengan jilbab yang populer dikenal di masyarakat paling tidak hingga tahun 2000an.

Di tahun 2000an, istilah jilbab mengalami pergeseran makna. Unsur positif dari kata ini menyusut, mengiringi pertemuan kapitalisme fashion dengan jilbab. Sebagian komunitas Muslim memperkenalkan bentuk pakaian mereka yang dianggap lebih ‘selamat’ menggunakan istilah hijab, atau hijab syar`i.

Dengan demikian, keragaman kosa kata di atas menggambarkan satu segmen dalam sejarah Islam di Indonesia. Akan tetapi, di Minangkabau sebenarnya dikenal istilah lainnya yang khas.

Di luar selendang, jilbab, dan hijab, komunitas masyarakat madrasah di Sumatera Barat memiliki istilah tersendiri untuk pakaian penutup kepala muslimah. Ia disebut lilik jika mengacu kepada bahasa lokal, atau mudawarah dalam bentuak apropriasi bahasa Arab.

Sejarah mengenai pakaian di Minangkabau memang cenderung terpinggirkan. A.A. Navis menjelaskan bahwa pakaian laki-laki di Minangkabau cenderung dinamis sementara pakaian perempuan statis. Hal ini sepertinya sebagai dampak dari pola matrilineal Minangkabau yang cenderung menempatkan perempuan di ranah domestik sementara laki-laki di ranah publik.

Sebagai akibatnya, laki-laki lebih berkembang dalam banyak hal, termasuk mengenai pakaian. Pada awal abad ke-20 hingga akhir Perang Dunia Kedua, para ulama Minangkabau mengenakan pakaian yang beragam. Ulama dalam negeri mengenakan sarung dan peci, ulama keluaran Makkah menggunakan jubah dan sorban, sementara ulama yang belajar di Mesir menggunakan celana, jas, dasi, serta kopiah. Murid Madrasah juga demikian, laki-laki menggunakan sarung dan kopiah.

Baca Juga:  Ujian Nyantri Itu Juga Datang Untuk Wali Santri

Pada perguruan tinggi, laki-laki meninggalkan sarung dan menggunakan pentalon (celana panjang). Pada sisi lain, orang yang berpendidikan Barat memilih bergaya Eropa. Paska kemerdekaan, pakaian kembali berubah. Mereka mulai menggunakan pakaian nasional, yaitu jas, dasi, dan kopiah hitam.

Bagaimana dengan pakaian perempuan? Keterbatasan aktifitas publik perempuan Minangkabau tempo dulu menjadikan modelnya cenderung statis. Satu-satunya jalan untuk mengidentifikasi bentuk pakaian perempuan Minangkabau tempo dulu adalah dengan melihat pakaian adat Minangbakau yang masih bertahan saat ini.

Akan tetapi, reformasi pendidikan Islam di Minangkabau mencatat model baru dalam pakaian perempuan. Jika di Yogyakarta K.H. Ahmad Dahlan berperan dengan menyarankan perempuan-perempuan untuk juga melilitkan selendang mereka ke kepala (terlihat umpamanya dari foto istri beliau), di Minangkabau peran tersebut harus dilihat dari figur Rahmah Yunusiah dan Rasuna Said.

Keduanya merupakan tokoh perempuan yang terlibat aktif dalam reformasi pendidikan Islam Sumatera Barat. Jika dilihat foto-foto kedua tokoh ini, terlihat mereka menggunakan baju kurang dan lilik. Baju Kuruang adalah baju khas Minangkabau yang longgar. Penggambaran bentuk baju ini bisa dilihat dari lirik lagu daerah Minangkabau yang berjudul sama, Baju Kuruang. 

Sementara lilik adalah pakaian penutup kepala bagi perempuan yang terlibat di Madrasah pada masa reformasi pendidikan Islam. Ia berbeda dengan jilbab yang populer di masyarakat. Dari segi ukuran, jilbab memiliki panjang dan lebar kira-kira 60×60 cm, sementara lilik lebih lebar dengan ukuran 150×60 cm. Cara menggunakan juga berbeda, lilik cenderung lebih rumit daripada jilbab. Model lilik ini masih bertahan hingga saat ini di sejumlah Madrasah yang muncul pada masa reformasi pendidikan Islam semenjak awal abad XX.

Lilik inilah yang menjadi pakaian identitas penutup kepala bagi pelajar madrasah di Minangkabau. Melalui pengaruh semua sekolah yang menyatu di bawah payung Sumatera Thawalib, pakaian ini menjadi populer di Sumatera Barat. Sebuah literatur menyebutkan bahwa dalam rentang 1920-1928 telah menyebar seribuan lulusan Sumatera Thawalib di seluruh penjuru Sumatera Barat.

Tinggalkan Balasan