Studi sejarah tafsir di Indonesia sedang berada di momen yang menggembirakan. Masa-masa rintisan oleh A.H. Johns, Peter. G. Riddell, Howard Federspiel, Martin van Bruinessen, Abu Bakar Aceh, Mahmud Yunus, dan Nasruddin Baidan telah disambut oleh geliat baru yang bergairah. Saat ini, semakin banyak muncul figur-figur yang secara khusus membaktikan aktivitas intelektualnya kepada studi sejarah tafsir Indonesia; nama yang paling mentereng saat ini sepertinya Ervan Nurtawab, Jajang A. Rohmana, dan Islah Gusmian—tentu tanpa mengabaikan penulis-penulis lainnya.

Warisan Islam Nusantara: Tafsir Al-Qur’an Carakan dan Narasi Reformisme adalah salah satu kontribusi terbaru dalam bidang ini. Buku ini ditulis oleh Siti Mariatul Kiptiyah, alumnus Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Jurusan Interdisciplinary Islamic Studies, konsentrasi Hermeneutika Al-Qur’an. Buku ini berawal dari tesis penulis yang kemudian mendapatkan penghargaan Nusantara Academic Award (NAA) 2019 yang diselenggarakan oleh Nusantara Institute. Dalam pengantarnya, Sumanto Al Qurtuby, direktur Nusantara Institute, menulis bahwa NAA diadakan sebagai pendorong peneliti-peneliti junior untuk melakukan penelitian serius atas khazanah luhur warisan para leluhur bangsa. Setelah melewati seleksi yang ketat, tesis Siti Mariatul Kiptiyah ini diputuskan untuk mendapatkan penghargaan, dan kemudian diterbitkan oleh eLSA Press pada Maret 2020.

Buku ini mendiskusikan dua karya tafsir yang ditulis oleh figur Muhammadiyah. Meskipun nama jelas dari penulis-penulisnya tidak ditemukan, tetapi ia diterbitkan oleh penerbit yang berafiliasi kepada organisasi modernis ini. Di bagian sampul buku ini juga ada stempel lambang Muhammadiyah. Kedua karya itu adalah Qur’an Jawen (QJ) dan Tafsir Qur’an Jawen Pandam lan Pandoming Dumadi (TQJ). QJ adalah terjemahan Al-Qur’an berbahasa Jawa yang ditulis oleh tim ulama Muhammadiyah cabang Taman Pustaka Surakarta. Sementara itu, TQJ adalah tafsir Qur’an berbahasa Jawa yang diterbitkan oleh penerbit A.B. Siti Syamsiyah, anggota Muhammadiyah Surakarta.

Dengan ketebalan 216 halaman, buku ini dibagi kepada 5 bab di luar pendahuluan. Bagian pendahuluan merinci rancangan penelitian yang dilakukan selama masa penulisan buku ini. Bab Pertama dimulai dengan sejarah penulisan tafsir Al-Qur’an berbahasa Carakan, sebelum masuk lebih spesifik ke aktifitas penafsiran Muhammadiyah dan deskripsi mendetail dua karya tafsir yang dikaji yang merupakan isi dari bab kedua. Analisis lebih mendalam penulis hadirkan di bab ketiga dan keempat. Di kedua bab ini, penulis mendiskusikan pendekatan, gagasan dasar tafsir Muhammadiyah, dan konsep-konsep kunci yang menjadi fitur utama dari kedua karya yang dikaji. Selanjutnya, penulis menutup dengan bab lima yang berisi kesimpulan.

Pertanyaan besar yang didiskusikan oleh Siti Mariatul Kiptiyah dalam buku ini adalah bagaimana nalar Muhammadiyah yang seringkali dijelaskan tidak dekat dengan budaya tergambar dalam karya tafsir Al-Qur’an yang ditulis dengan bahasa Jawa dan aksara Carakan. Persoalan tersebut dijawab dengan menggunakan dua piranti analisis yang ia adaptasi dari Asma Barlas, yaitu analisis historis dan hermeneutis. Dengan kedua metode ini, penulis menempatkan kedua karya tafsir di konteks historisnya untuk memahami bagaimana situasi kesejarahannya di masa produksinya dan mengungkap kesadaran hermeneutis penulis yang tergambar dari isi kedua karya.

Ada beberapa temuan penting dari studi ini. Temuan pertama berkaitan dengan relasi kuasa antara Muhammadiyah dan keraton, terungkap melalui kelahiran Muhammadiyah yang dekat dengan suasana keraton yang erat dengan budaya Jawa. Kedua, pemilihan bahasa Jawa aksara Carakan adalah wujud dari politik identitas Muhammadiyah di tengah politik bahasa kolonial Belanda yang mengakselerasi penggunaan aksara Latin. Ketiga, penulisan tafsir berbahasa Jawa beraksara Carakan merupakan cara dari figur Muhammadiyah untuk membangun otoritas mereka di tengah suasana polemik dengan ulama tradisional yang lebih banyak menulis pada disiplin lain, terutama fiqh, menggunakan bahasa Arab atau bahasa Jawa beraksara Pegon. Selanjutnya, baik QJ maupun TQJ sama-sama memuat ide-ide reformisme Muhammadiyah, yang ciri besarnya adalah purifikasi dan pembaharuan. Di atas semua itu, penulis menutup bukunya dengan sebuah formulasi argumen penjelas, bahwa “munculnya QJ dan TQJ merupakan sebuah bentuk upaya diskursif nalar reformis yang tidak melulu identik dengan modernisme Indonesia, melainkan lebih menunjukkan modernism lokal Jawa.”

Apa kekuatan buku ini? 

Pertama, mari kita bahas dari aspek luas: kontribusinya dalam perkembangan studi sejarah tafsir di Indonesia. Sejauh ini telah banyak muncul kajian-kajian spesifik dan sistematis atas suatu kitab tafsir tertentu sepanjang sejarah tafsir di Indonesia. Tafsir generasi awal, literatur yang ditulis di zaman Hamzah Fansuri dan ʿAbd al-Raʾūf Singkil, telah dikaji secara mendalam oleh Peter G. Riddell dan Salman Harun.  Studi atas Maraḥ Labīd telah cukup lama populer, dan perhatian terhadap Fayḍ al-Raḥmān sedang tumbuh. Selanjutnya, perhatian para sarjana lebih banyak menyoroti karya-karya yang muncul lebih belakangan, paling tidak semenjak Hasbi Ash Shiddieqy ke depan. Karya-karya seperti al-Ibrīz dan al-Iklīl sudah menjadi langganan kajian para sarjana, dan tentu saja sudah ada banyak sekali studi yang membahas tafsir A. Hassan, Mahmud Yunus, Hamka, dan Quraish Shihab. 

Artinya, kajian spesifik dan sistematis atas karya tafsir yang muncul di seperempat pertama abad ke-20 masih cukup sepi. Tentu, karya-karya yang ditulis di era ini telah sering disebut-sebut secara sepintas dalam setiap kajian yang menjelaskan sejarah perkembangan penulisan tafsir di Indonesia secara umum, namun untuk kajian yang secara spesifik mendiskusikan kitab tafsir tertentu secara mendalam, ide-ide yang dimuat, konteks sosial politik budaya di sekitar penulisannya, dan hal-hal lain yang relevan masih cukup langka. Perhatian para sarjana untuk masa ini lebih banyak kepada dinamika pemikiran, aktivisme, dan institusionalisasi Islam daripada produksi kitab tafsir secara spesifik.

Dalam konteks ini, buku Warisan Islam Nusantara ini mengisi sebuah celah penting ini. Tentu ada banyak karya tafsir lain di periode ini yang harus diteliti, dan dua karya yang dibahas dalam buku ini adalah di antaranya.

Selanjutnya, buku ini juga berkontribusi dalam memperkaya keragaman pendekatan yang digunakan ketika membincang sebuah kitab tafsir tertentu. Kedua tafsir tidak hanya dikaji sebagai sebuah karya yang menampilkan pemahaman penulisnya atas Al-Qur’an, tetapi juga menggaris bawahi bahwa karya ini ditulis dengan bahasa Jawa dan aksara Carakan. Persoalan bahasa memang menjadi hal krusial dalam diskursus Qur’an dan tafsir, baik secara teoretis dalam kodifikasi ʿUlūm al-Qurʾān, maupun secara historis dalam sejarah panjang penulisan tafsir. Untuk konteks Indonesia, keragaman bahasa dan aksara adalah salah satu ciri khas bangsa. Tidak mengherankan jika kemudian karya-karya keislaman di wilayah ini muncul dalam keragaman itu dengan segenap problematikanya. Maka, tidak bisa dipungkiri, buku ini berkontribusi nyata dalam menjelaskan secara apik bagaimana sebuah kitab tafsir berbahasa Jawa dan aksara Carakan muncul dalam sejarahnya dan hal-hal lain yang terkait dengannya. Lebih dari itu, bukan hanya menyoroti unsur-unsur khas yang melekat pada pemilihan aksara dan bahasa ini, penulis buku ini membincangnya dalam apa yang ia istilahkan sebagai reformisme Jawa/jawen.

Dari aspek sempit, buku ini berkontribusi dalam penjelasan detailnya terhadap kedua karya tafsir yang dikaji. Sebagaimana yang disebutkan di bagian pendahuluan, kajian mendalam atas kedua karya tafsir ini belum ada. Menjawab persoalan tersebut, penulis memperlihatkan kesungguhannya membaca dan mengkontekstualisasikan karya tersebut ke masa produksinya. Hal itu dibuktikan dengan sejumlah temuan-temuan menarik yang bisa kita dapatkan dalam halaman demi halaman di buku ini, seperti unsur kuasa, politik identitas, dan pergumulan otoritas di balik pemilihan aksara Carakan dan kontekstualisasi konsep-konsep kunci di pemikiran reformisme Muhammadiyah yang direkam oleh kedua karya ini di masanya.

Terlepas dari itu, buku ini juga memperlihatkan beberapa kekurangan yang cukup signifikan. Pertama, penulis tidak mendefinisikan konsep-konsep yang digunakan dalam menganalisis objek material secara layak, terutama konsep tradisionalisme dan reformisme Islam. Ada kesan kuat penulis menggunakan narasi populer-kontemporer terkait tradisionalisme-modernisme tanpa melakukan perenungan konseptual bagaimana keduanya bisa menjadi analytical term yang layak dalam studinya yang secara spesifik membincang sebuah periode yang terpisah jarak lebih kurang satu abad.

Hal ini kemudian menciptakan kebingungan di bagian isi buku yang merusak kualitas salah satu argumen besar yang disampaikan penulis. Di satu sisi, penulis menyebut bahwa penggunaan bahasa Jawa dan aksara Carakan memperlihatkan bahwa “Muhammadiyah sesungguhnya lebih ‘tradisional’ dibanding ulama tradisionalis dalam arti menjaga tradisi literasi Jawa” (hal. 102). Namun, di lain kesempatan, ia menulis “nalar Muhammadiyah awal dalam literatur tafsir Al-Quran Carakan QJ dan TQJ menunjukkan karakteristiknya sebagai kalangan reformis Jawen.” Di sini, tentu pembaca bertanya: jadi, menurut penulis, dengan QJ dan TQJ, apakah Muhammadiyah awal itu tradisionalis atau reformis? 

Permasalahan lainnya yang berakar dari tidak kokohnya konsep tradisionalisme dan modernisme yang digunakan penulis adalah adanya kesan ‘kaget’ penulis ketika menemukan bahwa ternyata rujukan-rujukan yang digunakan oleh QJ dan TQJ sama saja dengan rujukan-rujukan kitab tafsir pada umumnya. Karena memang, sebagai tradisi genealogis, kesalingterkaitan antara kitab tafsir belakangan dengan tafsir generasi awal melampaui sekat-sekat ideologi modernis-tradisionalis, terkecuali di kasus ekstrim seperti Shahrur atau The Reformist Qur’an Edip Yuksel dkk.

Secara tentatif saya membayangkan salah satu strategi yang mungkin bisa digunakan untuk mengurai masalah ini adalah dengan memisahkan tiga perspektif penting dalam penelitian terkait tradisionalisme dan modernisme buku ini sebelum kemudian membacanya secara holistik. Ketiga perspektif itu adalah tradisionalisme/modernisme dari sudut polemik keagamaan, aspek dalam dan produksi tafsir, dan elemen-elemen material yang memainkan peran kunci dalam perkembangan kedua ideologi. Perspektif pertama berkenaan dengan pertikaian antara kaum modernis dan tradisionalis di level wacana keagamaan (pro-kontra seputar taqlid, ijtihad, tasawuf, dan hal-hal terkait). Perspektif kedua berkaitan dengan paradigma, metode, serta hal-hal intrinsik dalam produksi tafsir seperti rujukan yang digunakan. Perspektif ketiga terkait instrumen-instrumen yang digunakan oleh kedua kecenderungan dalam gerakan mereka; meliputi manajemen organisasi, institusi pendidikan, dan tentu juga jenis bahasa dan aksara yang digunakan dalam kegiatan intelektual mereka. Dengan tiga perspektif ini, penulis mungkin bisa mengidentifikasi satu per satu dimana persinggungan dan perbedaan antara Islam tradisionalis dan modernis dan bagaimana posisi QJ dan TQJ dalam skema tersebut.

Kedua, ada anakronisme dalam argumen penulis ketika menjelaskan bahwa penggunaan aksara Carakan adalah wujud dari politik identitas Muhammadiyah dalam menghadapi pergeseran budaya literasi menuju aksara Latin yang diperkenalkan oleh pemerintah kolonial Belanda. Salah satu premis yang berulang kali disampaikan penulis untuk mendukung argumen ini adalah larangan pemerintah Jepang untuk menggunakan aksara Carakan. Problemnya adalah baik QJ dan TQJ diterbitkan di 1927 dan 1928, dan tentu saja pemilihan aksara Carakan di kedua karya tersebut tidak ada hubungannya sama sekali dengan politik bahasa kolonial Jepang yang baru dimulai tahun 1942. Kasus anakronisme lainnya adalah ketika penulis mengaitkan penafsiran TQJ yang menolak anggapan semua agama sama dengan diskursus pluralisme agama di Indonesia kontemporer.

Ketiga, di beberapa tempat penulis menyebut istilah reformisme jawen, salah satunya di kutipan dari pentup buku yang dihadirkan di atas. Dengan istilah ini, penulis hendak menggarisbawahi sebuah kecenderungan reformisme yang khas Jawa. Di setengah awal buku, ketika membincang aksara Carakan, kajian penulis cukup menarik. Tapi, ketika penulis beranjak dari persoalan ini dan mulai masuk ke polemik keagamaan dan unsur dalam dari QJ dan TQJ, terminologi yang penulis perkenalkan ini tidak lagi bunyi. Di sub-bab “Menafsirkan Qur’an dalam Konteks Reformis Jawen”, elaborasi penulis lebih normatif dan mirip dengan penjelasan-penjelasan kajian-kajian mengenai pemikiran reformis pada umumnya. Dengan kata lain, penjelasan penulis di bagian ini tidak memperlihatkan unsur Jawa dari reformisme; yang ada hanya reformisme saja, tanpa Jawa.

Keempat, buku ini membahas persinggungan antara penulisan karya keislaman yang menggunakan Jawa-Carakan dengan Jawa-Pegon. Namun demikian, tidak ada penjabaran berarti terkait persinggungannya dengan aksara Latin bahasa Melayu (yang semenjak Sumpah Pemuda kemudian menasionalisasi menjadi Bahasa Indonesia). Di sub-bab “Pengaruh Latinisasi,” perhatian penulis terpusat pada pergeseran Jawa-Carakan ke Jawa-Latin; hanya ada sepintas penjelasan tentang Balai Pustaka dan produksi karya berbahasa Indonesia-Latin. Ketika menginventarisir kitab-kitab tafsir Muhammadiyah, penulis menghadirkan beberapa judul tafsir yang ditulis berbahasa Indonesia tanpa ada analisis berarti. Dengan demikian, ada ruang yang seharusnya bisa dielaborasi secara serius di sisi ini, terutama sekali karena di masa yang beriringan dengan penulisan dan penerbitan kedua karya yang dikaji, aktor yang menulis dengan Melayu/Indonesia-Latin adalah para reformis. Jadi, pertanyaan seputar dimana titik temu dan titik pisah antara reformis yang menulis dengan Indonesia-Latin dengan reformis yang menulis dengan Jawa-Carakan semestinya menjadi bagian penting dalam kajian buku ini.Di atas semua itu, peran penting buku Warisan Islam Nusantara: Tafsir Al-Qur’an Carakan dan Narasi Reformisme tidak bisa disangkal. Siapapun yang membaca buku ini akan mendapatkan pengetahuan berharga mengenai salah satu segmen penting dalam sejarah produksi tafsir di Indonesia. Buku ini telah menambah kepustakaan penting dalam kesarjanaan kita, dan kita memerlukan lebih banyak karya seperti ini.

Tinggalkan Balasan