Ketiklah kata kunci ‘tafsir nusantara’ di mesin pencari google, kita akan menemukan banyak sekali entri, baik berupa tulisan di blog, buku, terutama sekali artikel jurnal, yang memperlihatkan bagaimana terminologi ini dipahami oleh jagat pemerhati khazanah penulisan tafsir di Nusantara, atau Indonesia dalam konteks yang sedikit lebih sempit. Bagaimanakah terminologi tersebut dipahami?

Ada banyak tulisan yang tidak memperlakukan terminologi tafsir nusantara sebagai sebuah istilah teknis yang memiliki kandungan makna yang perlu dijelaskan secara layak. Istilah ini dipergunakan sebagai judul populer untuk kajian terhadap karya tafsir siapapun yang ditulis oleh orang Indonesia. Sebuah studi tentang Maraḥ Labīd karya al-Nawāwī al-Bantani atau kajian kritis terhadap konsep munāsabah yang digunakan oleh Quraish Shihab dalam Al-Misbah, atau studi elementar tentang Al-Bayan Hasbi Ash-Shiddieqy,pada judulnya disematkan istilah tafsir nusantara. Satu hal lagi, juga muncul istilah yang sedikit menggelikan, tafsir ilmi nusantara.

Tentu saja kita juga akan menemukan kecenderungan generalisasi. Sebuah artikel mengenai Tarjumān al-Mustafīd oleh Abd al-Raʾūf al-Singkīlī menyebutnya seolah sebagai representasi dari karakteristik tafsir nusantara. Serupa dengan ini, karya tafsir yang kurang begitu populer, ‘Tafsir Pase’, dijelaskan sebagai paradigma penafsiran Al-Qur’an Nusantara. Kedua artikel ini bahkan tidak melakukan kontekstualisasi tentang kedua karya tafsir dalam sejarah penulisan tafsir di Indonesia secara memadai. Di samping itu, terlihat juga kecenderungan untuk menempelkan istilah ini untuk alasan marketing buku.

Di atas semua itu, ada kecenderungan untuk bersikap apriori terhadap istilah ini. Tafsir nusantara diterjemahkan sebagai karya-karya tafsir yang ditulis oleh ulama Nusantara, baik di tanah Nusantara sendiri, atau di luar Nusantara seperti di Mekkah, dan karya-karya tersebut memiliki keunikan yang membuatnya berbeda dari tafsir-tafsir yang ditulis dalam konteks historis, baik ruang maupun waktu, yang berbeda. Permasalahannya, sejauh mana karya-karya ini memiliki keunikan belum mendapatkan penjelasan dalam porsi yang cukup.

Baca Juga:  Mengenal Tafsir Lokal Bugis

Beberapa hal yang menjadi kegemaran para peneliti di kajian ini adalah konteks socio-politik di sekitar kemunculan tafsir. Di sini, berkembang kajian-kajian tentang historisitas kitab tafsir tertentu yang mendiskusikan ide-ide partikular yang dimunculkan oleh penafsir sebagai respon atas situasi yang berkembang di zamannya. Kegemaran selanjutnya adalah mengidentifikasi penggunaan aksara turunan Arab, pegon, dalam karya tafsir. Pertanyaannya, cukup kah hal tersebut diperkenalkan sebagai karakter yang berbeda yang ditunjukkan oleh tafsir Nusantara?

Di luar itu semua, tentu kita tidak bisa mengabaikan beberapa karya cukup teliti dengan istilah ini, seolah menyadari istilah ini belum memiki tunjukan yang jelas. Menghindari istilah tafsir nusantara, mereka menulis tafsir di nusantara. Tidak seperti tafsir nusantara, tafsir di nusantara menghindari ambiguitas dan mengurangi pretensi untuk membangung sebuah istilah teknis yang digunakan tanpa penjelasan.

Hingga titik ini, kita melihat bahwa di tengah penggunaan terminologi ini yang begitu luas, tidak banyak karya penelitian sejarah tafsir Indonesia menjelaskan apa itu tafsir Nusantara. Nusantara hanya diposisikan sebagai entitas geografis yang meliputi sebagian besar wilayah Asia Tenggara. Karena itu tulisan-tulisan yang di dalamnya disebutkan istilah tafsir Nusantara memaknainya sebagai kitab-kitab tafsir yang muncul dalam geografi ini, baik dalam makna aktor penafsir maupun konteks sosial kemunculan tafsir.

Hasilnya, dalam sejumlah tulisan, kita akan melihat penjelasan yang lebih kurang seperti ini: tafsir nusantara adalah karya-karya tafsir yang ditulis oleh ulama-ulama Nusantara, baik di tanah Nusantara maupun di Timur Tengah atau tanah Hijaz, berbahasa Arab maupun bahasa-bahasa yang dikenal di Nusantara yang memiliki ciri khas tersendiri yang membuatnya berbeda dari tafsir-tafsir lainnya.

Jika argumen kita berhenti di level particularitas produksi tafsir, maka istilah tafsir Indonesia, Nusantara, atau semacamnya masih bersifat superfisial. Dengan kata lain, istilah tersebut belum merujuk kepada fenomena yang sangat mengakar kuat dan solid dalam diskursus sejarah tafsir, sebagaimana mengakarnya kategorisasi tafsir masa formatif, klasik, dan modern. Apa yang harus kita lakukan untuk menjelaskan terminologi semacam tafsir Indonesia sebagai hal yang mengakar? Kita perlu mengelaborasi tafsir-tafsir di Indonesia sebagai ‘tradisi’, bukan sekedar sebagai sebuah karangan tafsir belaka.

Baca Juga:  Islam Madura dan Filosofi Bhâpa’-Bhâbhu’-Ghuru-Rato

Teori yang dipromosikan oleh Walid Saleh layak kita pertimbangkan. Sejarwahwan tafsir kawakan saat ini yang sekaligus merupakan editor Qur’anic series di Routledge publishing mendeskripsikan tafsir sebagai tradisi genealogis. Maksud dari istilah genealogis dalam hal ini merujuk kepada hubungan dialektis tertentu antara penafsir dengan penafsir-penafsir sebelumnya, dan tradisi tafsir secara keseluruhan.

Agaknya, Saleh terinsipirasi dari Talal Asad, yang menyebut bahwa Islam merupakan discursive tradition. Setiap kali penafsir menghadapi sebuah ayat, ia akan berhadapan dengan kumpulan kitab-kitab tafsir yang sedemikian banyak. Dengan demikian, para penafsir antar generasi kemudian dipadukan dengan prinsip-prinsip hermeneutis yang cenderung seragam. Terminologi Tafsir, dengan demikian, tidak merujuk kepada sebuah entitas kitab tafsir atau praktik penafsiran yang dilakukan oleh penafsir. Terminologi tafsir, lebih lanjut, merujuk kepada sebuah tradisi.

Bagaimana teori ini bisa menjawab kegelisahan kita?

Pertama sekali, terminologi seperti tafsir Indonesia, tafsir Nusantara, tafsir melayu, tafsir jawa, tafsir bugis, dan sebagainya secara implisit merujuk kepada makna tradisi. Istilah-istilah tersebut mengasumsikan ada kata tradisi yang ter-maḥzūf di depannya. Dengan demikian, ketika kita menyebut istilah ini, sebenarnya kita sedang mengasumsikan sebuah tradisi tertentu yang berkembang dalam karya-karya tafsir yang muncul di Nusantara atau wilayah-wilayah yang lebih sempit di kepualauan ini.

Dari sudut pandang ini, sebenarnya terminologi semacam tafsir Nusantara telah memiliki asumsi yang sama dengan yang dikemukakan oleh Walid Saleh. Di sini, kita melihat garis merah antara apa yang diasumsikan oleh Walid Saleh dangan apa yang kita inginkan dengan istilah-istilah tersebut.

Kedua, pendekatan synoptic atas tafsir menuntut kita untuk menempatkan sebuah karya tafsir yang kita bahas dalam keterhubungannya, paling tidak, dengan karya-karya tafsir yang ia rujuk dan karya-karya tafsir yang merujuknya. Hubungan dialektika ini lah yang membuat tafsir menjadi sebuah tradisi. Bukan hanya rujukan tekstual antar kitab tafsir, hubungan antar mufassir juga masuk pertimbangan; hubungan yang disatukan, umpamanya, oleh proses pendidikan lewat institusi-institusi pendidikan yang berkembang di Indonesia.

Baca Juga:  NU dan Upaya Diseminasi Islam Nusantara (1)

Dalam konteks ini, maka kita bisa bertanya: apakah karya-karya tafsir yang muncul di Indonesia sudah memunculkan pertautan dealektis yang bisa diidentifikasi sebagai tradisi yang berbeda dalam peta sejarah tafsir secara global?

Dalam bentuk yang lebih sederhana, kita harus mempertanyakan, seberapa kuatkah Tarjumān al-Mustafīd atau Maraḥ Labīd, umpamanya, mewarnai karya-karya tafsir Indonesia yang muncul setelahnya, baik dalam ranah prinsip-prinsip hermeneutis yang mereka gunakan maupun ide-ide produk penafsiran.

Apakah kedua kitab tersebut telah memperlihatkan pertalian yang konsisten dan solid dengan kitab-kitab tafsir setelahnya? Atau justru para penafsir Indonesia belakangan lebih suka merujuk kepada kitab-kitab yang lebih populer, yang biasa kita istilahkan sebagai mu’tamad, seperti Ibn Kathīr, al-Zamakhsyarī, al-Rāzī, al-Jalālayn, dan melompati Tarjumān al-Mustafīd dan Maraḥ Labīd?

Jika yang terjadi adalah kemungkinan kedua, maka kedua tafsir tersebut tidak berhasil membentuk tradisi tafsir tersendiri di Indonesia. Karena, jika argumen kita baru sampai di level partikularitas tafsir yang diproduksi oleh orang-orang Indonesia dengan konteks sosio-historis mereka masing-masing, maka semua itu hanya menjadikannya tafsir, tanpa perlu menambahkan atribusi Nusantara. Artinya, ‘nusantara’ dalam tafsir nusantara adalah kata yang tidak bermakna.

Dipresentasikan sebelumnya di Pekan Raya IAT 2019, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, pada 18 November 2019. Untuk versi yang lebih lengkap bisa dibaca di sini.

Tinggalkan Balasan