Meneliti struktur dasar semantika Al-Qur’an, Toshihiko Izutsu, sarjana Jepang, yang bukunya ternyata sudah dibaca intelektual Indonesia sejak tahun 70an, berargumen bahwa ‘kebodohan’ bukanlah gambaran yang pas terhadap ‘jahiliyyah’. Ketidakmampuan masyarakat Arab pra-Islam dalam baca tulis bukanlah yang membuat mereka jahiliyah. Begitu pula, sikap hidup yang akrab dengan perang, minuman keras, perzinahan, membunuh anak, dsb, tidak menjadikan masyarakat jahiliyah itu jahiliyah.

Yang membuat mereka jahiliyah adalah kondisi mental yang begitu mudah terprovokasi dan ketidakmampuan kontrol diri. Segala perilaku jahiliyah yang kemudian dicitrakan negatif dalam Islam berpangkal dari kondisi mental ini.Masyarakat Arab hidup bersuku-suku. Perang antar suku sering terjadi, bahkan karena perkara yang kecil sekalipun. Mengapa? Karena mereka mudah terprovokasi dan kekurangan daya kontrol diri.

Sebagian masyarakat telah jenuh dengan perang antar suku yang terus menerus. Ialah suku Aus dan Khazraj di Yatsrib. Mereka mengupayakan perjanjian damai, tetapi selalu saja ada hal-hal yang menyulut kembali permusuhan dan peperangan. Depresi itulah yang kemudian mereka adukan kepada Nabi Muhammad di Makkah.

Salah satu obat bagi kondisi mental masyarakat jahiliyah tersebut agaknya adalah puasa. Hal ini karena puasa adalah imsāk, yaitu menahan diri. Praktik puasa secara tegas menusuk karakter dasar mental jahiliyah.

Lima tahun terakhir, telah banyak masyarakat Indonesia yang kembali ‘menjahiliyah’. Dengan menjadi ‘cebong’ dan ‘kampret’, mereka mempertahankan ‘peperangan antar suku’. Tak jarang kita mendengar kejenuhan masyarakat dengan perseteruan awet ini. Kita dengar, “Selepas 17 April, tidak akan ada lagi keributan-keributan ini.”

Tapi, selalu saja ada momen-momen, baik kecil ataupun besar, yang kembali mengawetkan permusuhan itu. Yang paling baru, kita bisa liat dalam kasus ‘Kaesang yang tidak etis’ atau ‘Prabowo yang tidak elok’.

Baca Juga:  NU dan Diseminasi Islam Nusantara (3): Respon Terhadap Diskursus Islam Kepulauan

Cebong-kampret sudah seperti Aus dan Khazraj. Sayangnya, belum ada usaha sungguh-sungguh untuk imsāk, menahan diri. Para elit tidak mampu menahan diri untuk beradu retorika dan narasi polemik, masyarakat akar rumput tidak kuasa menahan diri untuk menyebar berita-berita hoax yang tidak terkonfirmasi.

Jika Aus dan Khazraj menjadi damai dengan diajarkannya manajemen kontrol diri dengan puasa, bagaimanakah wujud latihan kontrol diri yang tepat guna bagi cebong vs kampret, karena, puasa Ramadan terbukti tidak efektif?

1 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan