Tan Malaka sering digambarkan sebagai intelektual dan pejuang yang kesepian. Meski perannya cukup vital di awal-awal masa revolusi, namun namanya tak sepopuler figur figur lainnya, seperti Soekarno dan Hatta, misalnya. Ia juga disingkirkan dari kurikulum sejarah era Orde Baru. Oleh karenanya, ia kurang dikenal oleh generasi belakangan.

Suatu ketika, saya menerima sebuah pesan singkat  dari salah seorang peserta didik: “Tan Malaka itu siapa pak?” tanya yang bersangkutan. Saya jawab:  “Salah satu pejuang Republik, penulis buku dan seorang guru di sebuah perkebunan Teh di Deli, Sumatera utara”. Sekiranya anak itu membaca  karya Harry A. Poeze atau mengakses laman Wikipedia, pasti kaget dengan riwayat hidup Tan Malaka. Sebab Tan Malaka  pada tahun 1921 adalah pucuk pimpinan Partai Komunis Indonesia.

Dalam Jawapos edisi 17 Mei 2016, Zulfikar Kamarudin, keponakan Tan Malaka, memberikan kesaksian bahwa  pamannya itu hafal Alquran dan paham tafsirnya.  Kejeniusan Tan Malaka, membuat seluruh warga di kampungnya iuran agar ia bisa melanjutkan studinya ke Rijks Kweekschool di Haarlem, Belanda.

Zulfikar juga menceritakan bahwa pamannya pernah pidato di hadapan Stalin. Dengan lantang ia menyatakan bangsa Indonesia tak bisa dilepaskan dari Islam. Konon, mendengar isi orasi Tan Malaka,  Stalin memaksa agar Tan menyudahi pidatonya.  Namun pria kelahiran 2 Juni 1897 tersebut tak bergeming, dan terus melanjutkan orasinya.

Karya monumental Tan Malaka adalah Materialisme, Dialektika dan Logika ( Madilog). Buku setebal 500-an halaman ini bahasanya cukup rumit, dan tidak menggunakan catatan kaki. Buku Madilog ini merupakan refleksi atas nasib buruk bangsa Indonesia yang, oleh Tan Malaka,  dinilai tidak pernah keluar dari belenggu perbudakan. Sebelum diperbudak penjajah, bangsa ini diperbudak sistem feodal. Bagi Tan, feodalisme inilah yang menyebabkan orang takut dan malas berfikir, serta mudah menyerah.

Baca Juga:  Obituari Ulama Al-Wasliyah: Prof. Dr. Ramli Abdul Wahid, LC., M.A. (1954-2020)

Buku  ini ditulis oleh Tan Malaka dalam rentang waku selama delapan bulan. Buku ini pada era 1990-an cukup populer dikalangan aktivis pergerakan. Popularitasnya lebih kurang sama dengan buku karangan Pramoedya ananta Toer, Ivan Illich dan Paolo freire. (Lihat Majalah Tempo edisi 19-25 Mei 2008, hal 40).

Di dalam buku ini tergambar bahwa Tan Malaka adalah seorang yang menggeluti dunia filsafat secara serius. Ia menulis di dalam Madilog-nya: “Dalam mempelajari filsafat harus dipilah-pilah dahulu pikiran-pikiran para ahli filsafat, kalau tidak begitu bisa bingung. Contoh: antara Idealimes dan Materialisme.” (Madilog, 2014, hal 51).  Ungkapan tersebut tentu saja memberi pelajaran dasar bagi para pembelajar filsafat. Tan meletakkan prinsip utama bagi para peminat kajian filsafat. Lebih lanjut, Tan menjelaskan bahwa: “Pikiran (konsep/idea) lebih dulu ketimbang benda (materi), itulah idealis. Jika Sebaliknya Benda dulu, baru datanglah pikiran, itu Materialisme”.

Menurut Tan Malaka, kemajuan kehidupan manusia harus dilihat dari tiga tahap: tahap mistik, kemudian tahap  filsafat, dan tahap ilmu pengatahuan (Sains). Oleh karena itu,  menurut Tan Malaka, selama bangsa kita masih terkungkung “mistik” , maka tak mungkin menjadi bangsa yang merdeka dan maju.

Nyaris separuh hidup Tan Malaka dihabiskan  dalam memperjuangkan revolusi dan kemerdekaan Indonesia. Ia lebih banyak hidup dalam pengelanaanya, berpindah pindah, karena terus dikejar-kejar kolonial, maupun lawan politiknya sesama anak bangsa. Oleh karenanya,  ia tak punya banyak kesempatan untuk mengurus perkara asmaranya. Ia sempat jatuh cinta beberapa kali, namun ia tak pernah  mempersunting seorang perempuan untuk diperisitri. Sampai akhir hayatnya pun, ia  tak pernah berumah-tangga. Mantan Ketum Partai Murba, W. Suwart, dalam kata pengantarnya di buku Helen Jarvis, menyatakan: “Selama 28 tahun berjuang, hanya sekitar 2 tahun saja Tan Malaka punya kesempatan dan kemungkinan bergerak di tanah airnya sendiri”.

Baca Juga:  BIOGRAFI TGH. ABDUL HAFIDZ SULAIMAN LOMBOK

Pergolakan politik dalam negeri pasca kemerdekaan cukup kompleks. Tan Malaka pun masuk dalam pusaran arus gelombang politik itu. Perbedaan pendapat dan kepentingan antar tokoh-tokoh bangsa semakin memperumit situasi negeri. Kawan politik tiba-tiba bisa berubah menjadi lawan politik. Dalam kegentingan situasi itulah, pada bulan februari 1949 Tan Malaka ditangkap dan ditembak mati di sekitar Jawa Timur.  

Tahun 1963 ia diangkat menjadi pahlawan nasional oleh Bung Karno. Bagaimana pun juga, Soekarno tahu kapasitas Tan Malaka. Bahkan, konon, dalam sebuah diskusi tentang arah Republik Indonesia ke depan, Tan Malaka dengan lincah menjelaskan pikiran-pikirannya di hadapan Soekarno. Soekarno mengakui kecemerlangan pikiran Tan Malaka. Namun sungguh na’as, setelah rezim Orde lama tumbang, nama Tan Malaka sengaja dihilangkan dari sejarah.  Prof. Harry A. Poeze dalam bedah buku di Universitas brawijaya, Malang mengatakan:

 “Selama 30 tahun, namanya dicoret dalam buku Sejarah Nasional,  saat ini, di buku pelajaran sekolah sama sekali tidak disebut, ini tidak cocok dengan realitas sejarah. Tan Malaka punya peran penting waktu revolusi dan ini harus diakui,”.

Saah satu peran penting Tan Malaka adalah pada tahun 1924 ia menulis buku tentang  “Menuju Republik Indonesia” dalam bahasa Belanda. Dari Tan Malaka-lah gagasan tentang ”Republik Indonesia” pertama kali muncul. Sebab itulah, Tan kemudian hari disebut sebagai Bapak Republik Indonesia. Peneliti Tan Malaka, Harry Poeze, berkesimpulan, bahwa peran Tan Malaka dalam memperjuangkan Indoensia mungkin setara, bahkan lebih dari apa yang dilakukan oleh Che Guevara di Kuba dan Ho Chi Minh di Vietnam.

Sekian.

Tinggalkan Balasan