Surah Al-Fatihah “semakna” dengan Doa Bapa Kami. Secara mantab, bagi saya maksud dan tujuan ataupun niat dasar dari Surah Al-Fatihah dalam Islam ialah “sama” dengan Doa Bapa Kami dalam Alkitab Kristen.

Kajian ini bukan dalam rangka “mensekutukan” (dalam artian agama) kedua agama ini. Tapi, ini hendak memaknai keduanya secara esensial dari sisi kajian akademik. Keduanya adalah sama-sama Firman Allah dengan ditulis dalam tempat dan waktu atau penerima yang tidak bersamaan. Kedua bisa juga dimaknai sebagi teks proklamasi (dalam artian pernyataan iman dari satu komuniitas masyarakat beragama) untuk menyatakan akar-akar teologis untuk menyuarakan tauhiditas dari kedua agama ibrahimiah tersebut. Maaf, kajian ini hanya bagi orang yang “sinting” saja, yang waras dilarang baca. Serius.

Sebentar dulu. Saya hendak meluruskan dulu soal sinting di sini biar kita sama-sama paham, tak sepaham tak mengapa. Mengapa dilarang? Karena bagi orang yang waras hanya hal-hal yang masuk akal pribadinya saja yang diterima. Dengan itu, ia merasa telah memiliki kontrol pengetahuan dan kekuasaan atas kewarasan dan dirinya sendiri. Dengan kata lain (untuk menampar muka agar sadar saja sebenarnya) eksistensi dirinya hanyalah sebatas kontrol pengetahuan dan kekuasaan yang bisa dilakukan itu belaka, dan memang cuman sebatas jangkauan kontrolnya itu. Kasihan.

Sementara bagi (saya) yang sinting, pengetahuan dan kekuasaan tidak ada batasan dan sekat-sekatnya sehingga ketiadaan itu, orang yang kayak ini lebih banyak sadar atau mawas diri sehingga selalu merasa tidak berpengetahuan sama sekali. Kasihan juga sih. Ki.ki.. Sejatinya waras dan sinting itu hanyalah masalah disipilin diri yang terlalu berlebihan atau justru terlalu terbuka

Memang, kalau kita belum pernah “diajari oleh” Om Michel Foucault, maka wajar sajalah kamu waras terus. Selain hanya (atau perlu) baca Alkitab, Qur’an, maka bacalah Power/Knowledge: Selected Interviews and Other Writings, 1972-1977, New York: Pantheon Books, 1980; The History of Sexuality: An Introduction, New York: Vintage Books, 1990; Discipline and Punish: The Birth of the Prison, New York: Vintage Books, 1995 agar kita bisa memadukan antara Iman dan ilmu. Pada saat bersamaan, kita bisa memilah-milah iman dan ilmu dengan maksud menempatkan pada posisi masing-masing dengan tepat.

Sejatinya, bagi yang Kristen, hanya dengan membaca Kitab Amsal dalam Perjanjian Lama sudah cukup lumayan untuk mengerti pemaknaan waras dn sinting tersebut. Sayangnya, karena Firman Allah di dalam Amsal itu diyakini hanya Allah yang berujar lewat kitab suci maka dimensi akademis dari pemaknaan isinya seringkali tidak sampai. Ini lebih kasihan lagi.

Baca Juga:  Bolehkah Nikah Beda Agama?: Mengurai Argumen dan Meneroka Hal-Hal di Baliknya

Hufff… baiklah kita kembali ke jalan yang lurus lagi. Surah Al-Fatihah, secara umum sering juga dipahami dalam satu konsep yakni Basmalah. Demikian bunyinya.

Firman Allah dalam Surat Al-Fatihah.
Ayat 1: bismillāhir-raḥmānir-raḥīm
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

Ayat 2: al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn

Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.

Ayat 3: ar-raḥmānir-raḥīm
Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

Ayat 4: māliki yaumid-dīn
Pemilik hari pembalasan.

Ayat 5: iyyāka na’budu wa iyyāka nasta’īn
Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.

Ayat 6: ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm
Tunjukilah kami jalan yang lurus.

Ayat 7: ṣirāṭallażīna an’amta ‘alaihim gairil-magḍụbi ‘alaihim wa laḍ-ḍāllīn(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Isi dan tulisan Doa Bapa Kami dalam berapa bahasa.

Teks bahasa Latinnya adalah:
Pater noster, qui es in caelis:
sanctificetur Nomen Tuum;
adveniat Regnum Tuum;
fiat voluntas Tua,
sicut in caelo, et in terra.
Panem nostrum cotidianum da nobis hodie;
et dimitte nobis debita nostra,
sicut et nos dimittimus debitoribus nostris;
et ne nos inducas in tentationem;
sed libera nos a Malo.
Doksologi: quia tuum est regnum, et potestas (atau potentia), et gloria, in saecula (atau per omnia saecula atau in saecula saeculorum).

Teks Bahasa Yunani dalam Perjanjian Baru:
Pater hêmôn ho en toes ouranoes
hagiasthêtô to onoma sou;
elthetô hê basileia sou;
genêthêtô to thelêma sou,
hôs en ouranô, kae epi tês gês.
ton arton hêmôn ton epiousion dos hêmin sêmeron;
kae aphes hêmin ta opheilêmata hêmôn,
hôs kae hêmeis aphiemen toes opheiletaes hêmôn;
kae mê eisenenkês hêmas eis peirasmon,
alla rhysae hêmas apo tou ponerou.
hoti sou estin hê basileia kae hê dynamis
kae hê doxa eis tous aeônas. amên.

Teks Bahasa Indonesia:
Bapa kami yang di sorga,
Dikuduskanlah nama-Mu,
datanglah Kerajaan-Mu,
jadilah kehendak-Mu
di bumi seperti di sorga.
Berikanlah kami pada hari ini
makanan kami yang secukupnya
dan ampunilah kami akan kesalahan
kami, seperti kami juga mengampuni
orang yang bersalah kepada kami;
dan janganlah membawa kami ke
dalam pencobaan,
tetapi lepaskanlah kami daripada
yang jahat.

[Karena Engkaulah yang empunya
Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan
sampai selama-lamanya. Amin.]

Baca Juga:  Membincang Zakat

Bukan hanya perhatikan, tapi maknailah isi doa Bapa Kami. Itu bisa dimulai dari kata “janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami daripada yang jahat.” Maknai pula dengan ayat 6 dan 7 dari Surah Al-Fatihah, “Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”

Bukan hanya itu, lebih perhatikan sembari memaknai lagi isi doa Doa Bapa Kami. Itu juga bisa dimulai dari kata “Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga,Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya.” Padankanlah itu dengan ayat 1,2, 3, 4, 5 dari Surah Al-Fatihah “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Pemilik hari pembalasan, Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.”

Pemaknaan Lebih Luas Atas Surah Al-Fatihah dan Doa Bapa Kami.

Surah Al-Fatihah dalam bahasa Arab adalah الفاتحة dilafalkan al-fātiḥah. Ini adalah Firnan Allah dalam Al-Qur’an sebagai pembuka. Ia adalah Surah pertama dalam Al-Qur’an. Surah ini diturunkan di Mekah dan terdiri dari 7 ayat.

Surah ini disebut Al-Fatihah atau Fatihatul Kitab karena dengan Surah inilah dibuka dan dimulainya Al-Quran. Dinamakan Ummul Qur’an atau induk al-Quran, Ummul Kitab induk Al-Kitab karena dia merupakan induk dari semua isi Al-Quran. Dinamakan pula As Sab’ul matsaany atau tujuh yang berulang-ulang karena jumlah ayatnya yang tujuh dan dibaca berulang-ulang dalam shalat. Al-Fatihah merupakan Surah yang dipandang terpenting dalam shalat. Shalat dianggap tidak sah apabila pembacanya tidak membaca surah ini.

Beberapa mazhab dalam hukum Islam memiliki pandangan yang berbeda mengenai raka’at Basmalah dalam surat Al-Fatihah. Hal ini berkaitan pula dengan sah atau pun batalnya Shalat fardu jika keliru membaca Surah Al-Fatihah. Agar lebih mantab, bacalah Hamid Naseem Rafiabadi, World Religions and Islam: A Critical Study, Part 1, New Delhi: Sarup & Spons, 2003, 211-225; Reza Aslan, No god but God (Updated Edition): The Origins, Evolution, and Future of Islam, New York: Random House, Inc., 2005, 142-173.

Satu, mazhab Syafi’i berpendapat bahwa shalat tidak sah bila tidak membaca bismillah karena bismillah adalah kalimat suci yang diucapkan oleh Allah sendiri dalam Surah Al-Fatihah. Jika diintip secara general, maka tampaknya pandangan ini banyak dianut oleh Nahdlatul Ulama di Indonesia.

Baca Juga:  Kesetaraan Gender di Indonesia

Dua, mazhab Maliki berpendapat bahwa Basmalah tidak pernah diucapkan oleh Allah dalam Surat Al-Fatihah. Hal ini dianggap bersifat makruh atau maksudnya tidak berdosa tetapi juga tidak mendapatkan pahala. Pandangan ini banyak dianut oleh Imam Besar di masjid Nabawi yang ada di kota Madinah dan masjidil Haram yang ada di kota Mekkah.

Tiga, mazhab Hanafi menyetujui mazhab Maliki bahwa Basmalah tidak pernah diucapkan Allah dalam Surat Al-Fatihah, namun mereka mengambil posisi tengah dengan cara mengucapkan Bismillah secara pelan saja. Pandangan ini banyak dianut di India, Pakistan dan Asia Tengah.

Doa Bapa kami:
Doa Bapa Kami, sering pula dikenal dengan kedua kata Latin pertama sebagai Pater Noster. Sebentar, ketika membaca ini, jaga agar perhatian jangan terpecah dengan kata “bapa kami” dengan ajaran tiga Tuhan yang sering diviralkan oleh kaum tak bertanggung jawab dan tidak paham Kristen sama sekali untuk menghajar Kristen. Dalam bahasa Yunani yang dipakai untuk menulis Alkitab Perjanjian Baru pada umumnya, dikenal sebagai Πάτερ ἡμῶν, atau pun juga The Lord’s Prayer dalam bahasa Inggris.

Malah, secara reflektif, oleh Bapa gereja Katolik Roma, yakni Pope Francis, ini adalah satu doa yang diimani oleh umat beragama agar berusaha

membimbing orang yang beriman kepada Tuhan sambil mengeksplorasi pentingnya keadilan sosial, membantu orang lain dan pengampunan bagi siapapun dan dalam keadaan apapun. Baca, Pope Francis, Our Father: Reflections on the Lord’s Prayer, New York: Random House, Inc., 2018.

Ini adalah doa yang paling terkenal dalam agama Kristen. Dengan mendalami Perjanjian Baru, doa ini diajarkan secara langsung oleh mulut Yesus Kristus sendiri kepada murid-muridnya sebagai pedoman berdoa dalam satu khutbah di salah satu bukit di sana. Doa ini diambil dari apa yang tertulis dalam Injil Matius 6:9-13 dan Lukas 11:2-4. Jadi, ini adalah pengajaran Yesus sendiri yang muncul sebagai bagian dari hal-hal spektakuler dari Khotbah di Bukit.

Dalam tradisi menggereja di kelompok gereja-gereja Protestan, semua rangkaian liturgi dan isi ibadah gereja diyakini tidak akan sahih jika Doa Bapa Kami tidak diproklamasikan secara bersuara dan bersama oleh jemaat dan para pelayan Tuhan saat itu. Keyakinan itu persis seperti perasaan dari umat Muslim dalam Shalat. Nah, betul kata saya bukan?

Dan, oleh keterangan di atas kita bisa juga mengkaji kembali lebih luas terhadap apa yang dialamatkan bahwa Allah dalam Alkitab Kristen untuk menggantinya dengan YAHWEH. Karena Allah oleh mereka seperti kritik mereka atas penliterasian Alkitab adalah nama atau maksud yang awalnya ditujukan kepada sejumlah dewa tertentu dalam Islam atau masyarakat jahilliyah sebelumnya.

Saya hormat dengan mereka mengingat upaya kuat untuk mengenali kembali keasalian jati diri sebagai Kristen dan sebagai pengikut Allah yang benar. Sehingga, saya tidak berani mengingkari eksistensi umat Kristen yang ikut dalam “pengajaran di dalam pengajaran Kristen” itu. Tapi, lihatlah bahwa Allah dalam Islam itu adalah Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang serta Tuhan seluruh alam yang pantas dan tepat untuk menerima segala puja dan puji dari manusia ciptaanNya.

Tinggalkan Balasan