Apa hendak dikata, teks suci agama memang menarasikan poligami secara tegas dan bahkan menunjukkan contoh-contohnya dengan tegas pula. Nabi Abraham dalam Alkitab “punya apem berbulu milik wanitanya” lebih dari satu. Anaknya, yakni nabi Iskak juga tak cukup beristri satu. Turunan selanjutnya, nabi Yakub juga mengulangi untuk mengumpulkan apem-apem berbulu lebih dari satu di rumahnya persis seperti moyang sebelumnya. Nabi Daud juga punya itu lebih. Nabi Sulaiman justru punya kue itu seribuan totalnya.

Tak lain dari nabi sebelumnya, Nabi Muhammad SAW di daratan Arabia di masa jaya dakwahnya akan kemuliaan Islam dan hendak mempertontonkan cara berislam yang benar sedari awalnya juga mempraktekkan hidup berpoligami, namun penuh dengan sejumlah syarat dan ketentuan yang berlaku.

Apa hendak dikata, kitab suci tidak bisa satu-satunya untuk dirujuk atau dijadikan tameng tebal dan lebar dalam hal pernikahan. Itu karena sering kali narasi historis Firman Allah  dalam beberapa bagian justru tidak lagi bisa “klik” bahkan tampaknya sudah menjadi asing dengan realita saat ini.

Saya tunjukin satu contoh lagi untuk hal-hal yang asing tadi. Nabi Hosea, salah satu dari 12 nabi di zaman Ibrani pada masa masyarakat dalam Alkitab Kristen justru diperintahkan oleh Allah/Yahweh yang ia layani sendiri untuk menikahi seorang perempuan sundal, (perempuan yang pekerjaannya melacur maksudnya) di masa ia menjadi nabi di Isroil selama 60 tahun.

Hosea 1 berkata dalam ayat 1, firman TUHAN yang datang kepada Hosea bin Beeri pada zaman Uzia, Yotam, Ahas dan Hizkia, raja-raja Yehuda, dan pada zaman Yerobeam bin Yoas, raja Israel.

Ayat 2, ketika TUHAN mulai berbicara dengan perantaraan Hosea, berfirmanlah Ia kepada Hosea: “Pergilah, kawinilah seorang perempuan sundal dan peranakkanlah anak-anak sundal, karena negeri ini bersundal hebat dengan membelakangi TUHAN.

Ayat 3, maka pergilah ia dan mengawini Gomer binti Diblaim, lalu mengandunglah perempuan itu dan melahirkan baginya seorang anak laki-laki.

Uniknya lagi, kitab suci Talmud milik Yahudi seperti disitat oleh Smith dan Robinson mengklaim bahwa Hosea  adalah nabi terbesar di generasinya. Periode pelayanan Hosea adalah satu-satunya nabi Israel pada masanya yang meninggalkan nubuat tertulis. Baca William Robertson Smith, Henry Wheeler Robinson, “Hosea”  dalam Hugh Chisholm (ed.), Encyclopedia Britannica, Volume 13, Edisi ke-11, London, UK: Cambridge University Press, 1911, 784–786.

Sebentar, orang sekarang yang berpoligami getol menyuarakan poligami di masa hidupnya bukan untuk kepentingan diri sendiri. Tetapi, mereka sering kali datang dengan dalil, sengaja melakukannya sebagai bagian dari dakwah Islam karena memang dibolehkan dalam Islam, biarpun akan praktek poligami itu juga ditentang oleh sejumlah pihak, termasuk oleh kaum terpelajar yang juga merasa sebagai bagian dari dakwah Islam pula.

Huff… mengaji poligami adalah hal yang berat justru lebih berat dari melakukannya. Cuman, sebagai orang yang sudah menikah, saya berani katakan, mentuntaskan syahwat birahi beralatkan bagian-bagian genital sebagai satu ritus seksuil dalam rangka hubungan suami istri yang alamiah itu pasti asoi-geboi, apalagi “apemnya tadi” lebih banyak dari biasanya. Paling-paling, agar punya endurance yang lebih tahan lama dan mantab genjotannya, si buyung hanya lebih sering-sering saja minum jamu kuat. Soal ketidakberdayaan untuk memberi makan, dan jika tak lagi ada alasan, tinggal salahkan Pemerintah yang sedang berkuasa. Aih, mudah saja, bukan?

Baca Juga:  Bolehkah Nikah Beda Agama?: Mengurai Argumen dan Meneroka Hal-Hal di Baliknya

Poligami, apaan sih? Lalu, poligami ini pantesnya dingaji dari mana kalau begitu?

Saya hendak menegaskan dulu, mengaji poligami dari posisi wanita dari studi Islam, yakni wanita dalam Islam, hari ini sama halnya dengan membawa kembali kondisi dan kehidupan peradaban wanita Timur Tengah Arabia pada masa sejarah, padahal kita hidup hari ini. Sementara para pengkajinya justru (sadar atau tidak) datang dengan perspektif gender wanita Barat dan mengelaborasinya dengan wanita Islam dalam beberapa hal yang bersifat kompilatif pula.

Cara itu sebelumnya pernah tidak disadari oleh Leila Ahmed. Ia seorang tokoh wanita Islam yang masih sehat hingga saat ini secara lantang menantang untuk menyuarakan poligami atas dasar agama. Misalnya, itu diakuinya ketika menulis buku yang selalu dirujuk terkait dengan kajian ini yang kemudian ia kritisi sendiri.

Baca, Leila Ahmed, Women and Gender in Islam: Historical Roots of a Modern Debate, New Haven Connecticut: Yale University Press, 1992, 1-8. Sehingga, salah satu cara kunci dalam hal ngajian ini adalah hanya bisa dilakukan dengan mengunci batas kajian itu pada setting geografis, sejarah dan partikularitas masyarakat Islam yang ada sendiri semata-mata.

Baiklah, mari kita kaji poligami yang ada di masa silam itu dan hari ini secara perlahan dan cermat. Poligami atau ta’addud secara maknawi adalah realitas dari sistem perkawinan yang salah satu pihak memiliki atau mengawini beberapa lawan jenisnya dalam waktu yang bersamaan. Mereka terkadang hidup serumah dan bersamaan pula. Dalam mata antropolog sosial, poligami merupakan praktik pernikahan kepada lebih dari satu suami atau istri (sesuai dengan jenis kelamin pelaku yang bersangkutan).  Realitas poligami ini selalu dilawankan dengan praktik monogami yang mewajibkan hanya memiliki satu suami atau istri.

Secara kategoris, ada tiga bentuk poligami. 

Satu, poligini merupakan sistem perkawinan yang membolehkan seorang pria memiliki beberapa wanita sebagai istrinya dalam waktu yang bersamaan.

Dua, poliandri adalah sistem perkawinan yang membolehkan seorang wanita mempunyai suami lebih dari satu orang dalam waktu yang bersamaan.

Tiga, pernikahan kelompok yang dalam bahasa Inggris dibilang group marriage) yaitu kombinasi poligini dan poliandri.

Tidak boleh disangkal bahwa tiga kategori perkawinan itu ditemukan dalam sejarah peradaban manusia. Akan tetapi, tampaknya hanya poliginilah yang merupakan bentuk yang paling umum terjadi. Meskipun banyak rujukannya yang  dibolehkan dalam beberapa kebudayaan, poligami juga banyak ditentang oleh sebagian kalangan. Penentangan itu secara keras datang dari para kaum feminis atau pun yang memiliki alasan lain.

Umumnya, mereka  yang menolak ada dalam satu titik kumpul. Mereka menolak poligini karena mereka menganggap praksis ini barbarian dan tirani seksuil maskulinitas pada harkat dan martabat wanita. Bahkan ada pula Muslimah yang mendaraskan gerakan pro martabat Muslimah itu pada upaya Menggugat Tuhan Yang Maskulin, atau The Struggle of Muslim Women, tulisan Kaukab Shiddique,  terbitan Oregon: American Society for Education & Religion, 1986.

Baca Juga:  Titik Temu Do’a Islam dan Kristen: Al-Fatihah dan Do’a Bapak Kami

Secara biblis, ajaran Islam pada dasarnya menetapkan konsep monogami dalam prinsipnya ketika mengkodifikasi aturan pernikahan. Artinya, secara institusional, Islam adalah monogami. Tetapi, dalam praksisnya oleh keadaan saat itu, justru memperbolehkan seorang pria beristri lebih dari satu, atau poligini sebagai istilah yang lebih tepat. Ajaran agama itu memperbolehkan seorang pria beristri hingga empat orang istri, paling tidak. Baca lagi, Abu Ameenah Bilaal Philips, Jameelah Jones, Polygamy in Islam, Royadh: International Islamic Publishing House, 2005, 43-58.

Tetapi, sebagai agama, Islam tidak sembarangan dalam hal perbolehan poligami. Islam memasang syarat dan ketentuan yang wajib dilaksanakan oleh sang suami. Ia  sebagai Muslim harus dapat berbuat adil terhadap seluruh istrinya, setidaknya kesepakatan tertulisnya demikian, entahlah dalam praksisnya. Jadi,  jangan bilang sebagai agama,  Islam kalah terhadap poligami,  oknumnya yang membengkokkannya sesuai kebutuhannya.

Lihatlah, dalam Al-Qur’an di Surah An-nisa ayat 129 tegas menyurati sang suami: “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian”. Artinya, kan hukumnya sudah tegas, “sekali-kali tidak akan dapat.”

Itulah alasannya, bagi yang menolak poligami, ketika membaca Surah An-nisa ayat ke-129 itu, mengatakan bahwa seorang suami harus dapat berbuat adil terhadap seluruh istrinya. Lalu mengatakan bahwa kalau seorang suami tidak bisa berbuat adil kepada isteri-isterinya nanti, sebaiknya tidaklah boleh melakukan poligami. Dan, itulah pula alasannya, mereka yang melakukannya atau yang setuju terhadapnya selalu mengatakan niat dari awal akan dapat berlaku adil. Huff…

Secara konstitusi, Indonesia menganut monogami. Misalnya, prinsip satu isti dan satu suami itu tegas tersurat dalam UU No.1. Tahun 1974 tentang Perkawinan seperti di Pasal 3, “Seorang Pria hanya boleh mempunyai seorang istri, dan seorang wanita hanya boleh mempunyai seorang suami.” Meskipun UU itu dalam pelaksanaannya juga menjadi terbuka karena dalam Pasal 4 disuratkan juga alasan-alasan kebolehan, syarat dan proseduralnya.

Tetapi, apa hendak dikata, jika sudah menyangkut urusan kawin–mawin Indonesia adalah yang paling kondang. Soal membuat anak dan keturuan, Kita Indonesia juara lima di seluruh dunia. Ukurannya adalah negara ini memiliki urutan kelima dalam jumlah penduduk terbanyak seantero jagat raya.

Menilik “negara Islam” lain.

Poligami dalam Islam baik dalam hukum maupun praktiknya, diterapkan secara bervariasi di tiap-tiap negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Di Indonesia terdapat aturan yang memperketat aturan poligami untuk pegawai negeri.

Hanya saja, ternyata aturan administratif untuk memperpanjang lika-likunya kesulitan berpoligami itu persis seperti mengurus KTP, belum pada esensinya. Misalnya, permohonan harus rangkap delapan; Surat pengantar dari RT/ RW Kelurahan Pemohon; Fotocopi KTP Pemohon yang dileges dan diberi materi 6000; Fotocopi KTP Calon Istri yang dileges dan diberi materi 6000; Fotocopi Buku Nikah Pemohon yang dileges dan diberi materi 6000; Surat Keterangan Calon Istri harus ada dua. A. Janda Cerai: Akta Cerai dileges bermaterai 6000. Janda Mati: Akta kematian dileges bermeterai 6000/Surat Keterangan RT/RW Kelurahan; B. Perawan:  Surat Keterangan RT/RW Kelurahan; Surat Keterangan Pemohon diketahui Kelurahan; Surat Pernyataan Kesediaan Istri untuk dimadu bermeterai 6000;  Surat Pernyataan Kesediaan Calon Istri menjadi istri kedua bermeterai 6000;  Surat Pernyataan Berlaku Adil Pemohon bermeterai 6000;  Daftar harta gono-gini dengan istri pertama diketahui Kelurahan; dan Bea Panjar Perkara.

Baca Juga:  Nikah dan Hadis Nabi Yang Selalu Dipahami Salah

Dan, saya menduga, 12 aturan yang berliku bagi pelaku poligami itu lebih kuat pada pertimbangan APBN, artinya negara hanya memikirkan uangnya sendiri bukan soal keberpihakan kepada “nasib wanita Islam dan anak-anak mereka itu yang adalah anak bangsa sendiri. Dan, jika ternyata ada yang ketangkap melanggarnya, juga tidak banyak penegakan dan eksekusi hukumnya. Meskipun demikian, niat disengaja untuk melelahkan para pencari administrasi poligami itu tampak baik. Sehingga karena ada niat baik di sana, maka aturan itu tengah dipertimbangkan agar diberlakukan kepada umum.

Jika dilihat secara konstitusional, Tunisia menjadi negara Arab pertama yang secara resmi menghapuskan poligami tahun 1956, itu ketika pada tahun yang sama ia mendapatkan kemerdekaan resmi. Saat ini, Tunisia masih merupakan salah satu dari sedikit negara mayoritas Islam yang secara hukum telah melarang poligami. Turki, yang bukan negara Islam tetapi mayoritas Muslim, melarang praktik itu sejak 1926. Sementara wilayah Kurdistan di Irak melarang poligami sejak 2008.

Negara-negara itu melarangnya karena menyadari dengan benar ada persoalan sosial yang tengah dihadapi pasca revolusi kemerdekaan di negara masing-masing. Tunisia misalnya mengahadapi kesukaran besar di bidang ekonomi, bahkan sekedar untuk menyediakan rumah tinggal bagi pendududk pasca perang dengan Barat, Francis misalnya.

Oleh situasi terkini saat itu di sejumlah negara, maka Pemerintah setempat juga mengalami kesukaran-kesukaran besar dalam hal perencanaan hidup bagi warganya, termasuk soal urusan rumah tangga. Baca, Laâbidi Barhoumi, Social Housing Policy in Tunisia, 1956-1992, Vienna: United Nations Industrial Development Organization, 1993; Economic development in Tunisia: The Impact and Course of Government Planning, Santa Barbara, California: Praeger, 1967.

Sedangkan Turki juga saat itu sedang berada dalam masa-masa membangun kembali bangsanya yang masih terkait dengan perang dingin dengan Asia dan Eropa. Baca, Maurice F. Mercure, The Life and Times of a Cold War Serviceman: August 1928 – 30 November 1969, Canada: Trafford Publishing, 2012.

Setelah keterangan di atas, rupanya, bapa-bapa orang beriman dalam kitab yang adalah Firman Allah tidak bisa dirujuk untuk menghantam praktek berbini lebih dari satu. Karena dalam posisi sebagai tokoh kunci kaum beriman, justru mereka itulah yang melakukan poligami sedari awal di masyarakat kitab suci.

Lalu, kita-kita yang menolak praktik memiliki banyak wanita di rumah sebagai istri yang bisa ditiduri sesuai jadwal dan jam masing-masing itu justru masih akan menggunakan narasi agama pula untuk menolak mereka yang melakukan poligami saat ini? Masuk akal? Akal saya masih waras.

Lalu, di mana posisi saya sebagai pengkaji? Sejatinya,  jika kamu belum lupa apa yang tertulis sebelumnya, maka posisi saya amat jelas.

Selain sejumlah pertimbangan psikologis, ekonomis, teologis dan seterusnya yang pasti banyak dan mudah dibentuk sebagai dalilnya, Leila Ahmed tetap menjadi idola bagi saya. Lelia, masih “cukup pas” diketengahkan sebagai kacamata yang tidak kabur oleh syahwat pribadi untuk melihat fenomena ini. Itu khususnya ketika kita yang di Indonesia sedang “riuh” di tengah-tengah arus penetrasi dari ujaran dan ajakan sejumlah para ulama virtual. Ulama bergenre seleb itu lagi demen untuk memviralkan keluarga sediri dan orientasi berislamnya. Mereka justru tengah sangar-sangarnya memobilisasi seluruh jamah untuk mengikuti teladan berpoligami.

Thus, yang paling inti untuk dicamkan adalah para bapa kaum beriman, dan juga ulama harus dijunjung dan hormati hingga liang lahat, tapi mereka bukan satu-satunya yang mendikte bagaimana kita mengayuh rumah tangga sendiri secara teknis.

1 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan