Kembali saya akan mengaji, “Menikah Beda Agama”. Ingat lagi, ini satu hal yang paling sensitif dan yang memiliki resiko tinggi ketika membicarakan kawin antara manusia Indonesia (atau bahkan bangsa lainnya) yang jelas-jelas berbeda agama yakni antara Islam dan Kristen.

Di kajian 4 dan 5 saya sudah menjelaskan dua contoh wanita yang bukan Muslimah justru dinikahi secara sah oleh Nabi Muhammad SAW. Keduanya adalah Shafiyyah binti Huyaiy sang wanita Yahudi dan Maria Qibtiyya atau yang dikenal pula sebagai Maria perempuan Kristen Koptik Mesir. Di kajian 6 ini, untuk melengkapi, saya akan perlihatkan istri Nabi Muhammad SAW dari golongan Yahudi yakni Rayhana. Tapi, tentang wanita syantik ini akan saya terangkan pada bagian akhir supaya kalian membaca seluruhnya. Hei, biasakan membaca secara tuntas ya.

Masih ingat bukan, telah saya terangkan terlebih dahulu di Kajian Ramadhan 27 pada tanggal 4 Juni 2019 dan kajian 4 lalu seperti ini: “Apa hendak dikata, teks suci agama memang menarasikan poligami (baca: Mengaji Poligami) secara tegas dan bahkan menunjukkan contoh-contohnya dengan tegas pula. Apa hendak dikata, kitab suci tidak bisa satu-satunya untuk dirujuk atau dijadikan tameng tebal dan lebar dalam hal pernikahan. Itu karena sering kali narasi historis Firman Allah dalam beberapa bagian justru tidak lagi bisa “klik” bahkan tampaknya sudah menjadi asing dengan realita saat ini.”

Dan di kajian 5 juga saya katakan: “sesuatu yang amat sangat penting sekali, bahwa kitab suci dan sejarah agama justru tidak melarang penikahan beda agama.

Sebagai pendeta Kristen yang adalah juga Santri Kristen, agar tidak dituding miring sebelah, memang saya telah menjanjikan juga akan melihat terkait dengan kawin-mawin dari ajaran Yesus, Paulus, Alkitab dari sisi Kristen. Akan tetapi, setelah merenung siang dan malam (aihh…lebay), saya justru merasa harus mentuntaskan, dengan maksud mengklirkan, terlebih dahulu penjelasan tentang istri Nabi Muhammad SAW tersebut.

Kajian ini penting untuk dirampungkan agar pemahaman kita semakin berlipat-lipat kesahihannya, khususnya bagi kawan-kawan saya yang Kristen sehingga kita tidak asal “nyrocos,” kayak iler yang tak terkelola dengan mantab saat ngatuk dengan kepala mereng-mereng saat ibadah di gereja tepat saat pak vendetta khutbah monoton. Pemahaman kita tentang orang lain, yang sejujurnya kita lakukan itu dengan niat menjelaskan soal Islam baik, tapi justru jangan salah data. Ngak mau malu kan? Pasti dunk.

Istri Nabi Islam

Jika melihat Islam dari dalam, kita harus paham dan menghormati bahwa istri-istri Nabi Muhammad SAW adalah wanita yang menikah secara sah (dalam pengertian yang lebih tepat saat itu) dengan nabi terkahir bagi umat Islam tersebut.

Tapi, entah alasan apa yang lebih akurat, kecuali Islam aliran Syiah (yang lebih banyak ada di Iran dan Turki) tidak mengakui, orang-orang Islam Sunni (pada umumnya di lebih banyak di dunia ini, termasuk Indonesia) biasanya sering menggunakan istilah Ummahaatu’l-Mu’minin, atau Para Ibu bagi Kaum Beriman bagi Istri-istri Nabi Muhammad SAW tersebut. Atau, lebih kerennya mereka juga dinamai sebagai “Mothers of the Mukmin” atau juga sebagai “Mothers of Believers“. Penyematan itu tentu saja ada dalam alasan penghormatan. Bacalah, Shamim Aleem, 12 Mothers of Believers, Prophet Muhammad(s) and His Family, AuthorHouse, 2007, 85.

Bukan hanya itu, ternyata penamaan itu juga ada atau katakan saja berasal dari Al-Qur’an. Misalnya dalam Al-Qur’an Surah Surat Al-Ahzab Ayat 6: Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmim dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah).”

Lihatlah di sana tegas disuratkan “isteri-isterinya, maksugnya adalah para wanita yang dipersunting oleh nabi Muhammad SAW itu adalah ibu-ibu mereka, maksudnya orang-orang mukmin, yakni umat Islam sendiri. Jadi, kalau kawan-kawan yang Kristen masih percaya Alkitab sebagai Firman Allah bagimu, nah demikian pula Muslim percaya pada Al-Qur’an sebagai Firman Allah bagi mereka juga.

Menikah Bukan karena Terongnya udah Dipermak mak Erot.

Hus, jika ada rumor di antara ibu-ibu perumahan yang rambutnya dikepsel saban pagi itu sambil belanja sayur di kereta dorong itu, ataupun matamu sendiri melihat ada seseorang cowok yang menikah berkali-kali, sebetulnya itu urusan dia sih. Mereka menduga-duga si cowok nikah karena nafsu amat.

Dan, si cewek siap dinikahi karena males, kerja ingin seneng tinggal buka selangkangan sorong kiri dan kanan putar balik atas bawah, main kuda-kudaan atau main anjing-anjingan atau main kampfret-kampretan sambil teriak aih…auh….aeh…asemmm…asemmm… Lalu, ibu-ibu berdaster sambil memilih terong, timun, wortel yang bentuknya panjang-panjang itu datang pada kesimpulan: “ih nafsu bangat itu cowo ama cewek.”

Baca Juga:  Bolehkah Nikah Beda Agama?: Mengurai Argumen dan Meneroka Hal-Hal di Baliknya

Hus… jangan-jangan ibu-ibu itu sejatinya pada iri akan suaminya yang bisanya cuman sibuk mainin kerjaannya sendiri sampai lupa mainin istri sahnya, siapa tau? Hayo, coba teliti deh, sebar angket gitu. KI..ki.. tapi ini lain. Kita sedang mengkaji Nabi Islam di sini.

Catet bae-bae! Nabi Muhammad SAW menikah bukan karena sudah kelewat nafsong bingits.. Hus, bukan, bukan, bukan, sekali lagi bukan, TITIK.

Jangan salah. Nabi Muhammad SAW bertahan monogami selama 25 tahun ketika menikah dengan istri pertamanya yakni Khadija binti Khuwaylid, oh…co cwitt.

Barulah setelah kematian istri yang paling dikasihinya itu pada tahun 619 M, Nabi tersebut menikah dengan sejumlah wanita dari satu waktu ke waktu lain. Dan, catatannya kudu diperpanjang loh ya. Kebanyakan dari wanita Nabi tersebut adalah mereka yang telah menjadi janda oleh karena berbagai situasi dan kondisi saat itu.

Untuk itu, saya perlu terangkan lebih lanjut, apa alasan, kondisi, tujuan dan siginifikansi dari pernikahan dari Nabi Muhammad dengan sejumlah wanitanya saat itu?

Nikahnya Nabi karena Apa?

Pernikahan bukan karena sudah umur, bukan karena udah males ditanyai ama tetangga terosssss-menerosss lo. Alasannya sangat pribadi loh kan yang menjalani bukan orang lain. Ada hal-hal urgency dalam pernikahan nabi yang tidak bisa diputuskan dari persoalan budaya, agama, politik dan sejuta hal lain diseputarnya. Saya akan menampilkan di sini semampu saya.

Secara mendasar, Nabi Muhammad SAW pada akhirnya memutuskan untuk menikah lagi ada juga karena demi ikatan keluarga dan untuk menyediakan perlindungan bagi para wanitanya yakni setelah para teman-teman Nabi yang juga meninggalkan (mati) para istrinya akibat perang saat itu sehingga Muhammad SAW memperistri mereka.

Karena di masa itu, kata Randa Bassem Serhan dan Ayaan Hirsi Ali, keperawanan pada saat pernikahan ditekankan sebagai suatu kehormatan suku, maka dari sini bisa dimengerti bahwa bagi para janda dalam situasi perang mengalami kerentanan sosial untuk hidup sendiri. Maka, kita yang datang dalam pengertian situasi wanita saat itu, dinikahi seorang pria untuk dilindungi tanpa memperkarakan soal apakah vaginanya masih bersegel rapet atau atau sudah sobek berkali-kali adalah kehormatan bagi wanita.

Baca, Ayaan Hirsi Ali, The Caged Virgin: A Muslim Woman’s Cry for Reason, London: Free Press, 2004; Randa Bassem Serhan, “Virginity: Arab States,” dalam Suad Joseph, Afsāna Naǧmābādī (eds.), Encyclopedia of Women & Islamic Cultures: Family, Body, Sexuality and Health, Volume 3, Leiden and Boston: Brill, 2006, 457.

Iya, saya paham, kamu bisa berkelakar secara sengit, melindungi kan bukan lantas mengawini. Ini berat menjelaskannya bro, biar aku saja.

Jika kalian tanya, lalu nikahnya Nabi karena apa? Saya akan mulai dari mata kultur. Ingat terlebih dulu ya, kultur kita hari ini bukan kultur di masa Nabi. Sehingga, kita yang hidup hari ini sering kali mudah untuk menghakimi manusia di masa silam yang kita sendiri tak tahu seiris pun tentangnya.

Dalam budaya daratan Arabia di masa lampau, perkawinan dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan suku yang lebih besar maksudnya yang lebih dominan. Nah, ini menandaskan hak mengenai kawin-mawin itu masuk ke ranah budaya. Maksudnya budaya sangat amat dominan menjadi penentu hal-hal mengawini.

Dahulu, perkawinan ada dan menjadi ada karena didasarkan pada kebutuhan untuk membentuk aliansi dalam suku dan dengan suku-suku lain yang sering kali ditandai dengan sejumlah perjanjian damai. Ini bisa dilihat dari contoh berikut.

Nabi Muhammad SAW menikahi Maymuna agar damai.

Maymuna binti al-Harith dikawini oleh Nabi sebagai bagian dari perjanjian Hudaybiyah. Ketika Nabi mengunjungi Mekah setelah Islam hijrah dari sana sebelumnya ke Madinah, di Mekkah, Nabi melihat Maymuna binti al-Harith dan melamarnya untuk dinikahi. Pada saat, itu meski Mekkah sudah menerima Islam tetapi masih banyak juga musuh Islam di sana, khususnya dari suku Quraish.

Nabi Muhammad SAW menikahi Maymuna, saudara ipar Abbas, sekutu lama miliknya. Sehingga dengan menikahinya, Nabi juga menjalin hubungan kekerabatan dengan bani Makhzum, lawan sebelumnya. Karena orang Mekkah tidak mengizinkannya tinggal lebih lama, Nabi meninggalkan kota, membawa Maymuna bersamanya.

Nama aslinya adalah “Barra” tetapi ada yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW memanggilnya “Maymuna”, yang berarti diberkati. Itu karena pernikahannya dengannya juga menandai pertama kalinya dalam tujuh tahun ketika Nabi baru kemudian bisa memasuki kota kelahirannya, Mekkah. Baca dulu, Tariq Ramadan, In the Footsteps of the Prophet: Lessons from the Life of Muhammad, New York: Oxford University Press 2007, 168-170.

Sabar dulu, saya jelaskan apa itu perjanjian Hudaybiyyah. Ini adalah peristiwa yang terjadi selama era pembentukan Islam. Itu adalah perjanjian penting antara Muhammad SAW sebagai nabi Islam yang mewakili negara Madinah, dan suku-suku Mekkah pada bulan Maret 628. Perjanjian ini membantu untuk mengurangi ketegangan antara kedua kota Islam tersebut. Perjanjian itu mampu meredakan perang selama 10 tahun, dan mengizinkan pengikut Muhammad untuk kembali tahun berikutnya dalam perjalanan haji yang damai, yang kemudian dikenal sebagai Ziarah pertama kali.

Baca Juga:  Islam (di) Salatiga: Manajemen Ruang dan Perkembangan Kota

Perlu diingat, bahwa perjanjian Hudaybiyyah masih sangat penting dalam Islam. Setelah penandatanganan perjanjian, orang Quraish di Mekkah tidak lagi menganggap Muhammad sebagai pemberontak, TOP atau buron dari Mekkah. Mereka juga mengakui negara Islam di Madinah dengan menandatangani perjanjian. Perjanjian itu juga memungkinkan umat Islam yang masih di Mekkah untuk mempraktikkan Islam secara lebih terbuka dan berterima.

Lebih jauh lagi, oleh perjanjian itu, maka tidak ada lagi pergulatan terus-menerus antara kaum Muslim dan kaum Musyrikin. Dengan adanya perjanjian maka banyak orang-orang Mekkah melihat Islam dengan cara yang lebih baru sehingga menyebabkan semakin banyak orang menerima Islam. Selain itu, Perjanjian Hudaybiyyah membuka jalan bagi banyak suku lain untuk membuat perjanjian dengan umat Islam.

Perjanjian itu juga berfungsi sebagai contoh bahwa Islam tidak hanya disebarluaskan dengan pedang tajam dan pertumpahan darah para Syuhada, tetapi juga dengan memilih untuk membuat perjanjian. Baca, Karen Armstrong, Islam: A Short History, New York: Modern Library, 2002, 23; Karen Armstrong, Muhammad: A Prophet for Our Time, New York: HarperCollins, 2007, 175–181. Maka dengan memahami itu, Maymuna binti al-Harith dikawini oleh Nabi sebagai bagian dari perjanjian Hudaybiyah adalah salah strategi yang lebih banyak manfaat daripada mudharatnya.

Selain itu, saya akan tambahkan alasannya dari dimensi sosial politis. Ahli Islam dari lain menyatakan bahwa semua pernikahan Muhammad memiliki aspek politik untuk memperkuat hubungan persahabatan dan didasarkan pada kebiasaan Arab. Baca, William Montgomery Watt, Muhammad at Medina, London: Clarendon Press. 1956, 287.

Esposito menunjukkan bahwa beberapa pernikahan Muhammad ditujukan untuk menyediakan sumber pendapatan atau katakana sajalah sebagai mata pencaharian bagi para janda. Sehingga, bagi para janda untuk menikah kembali adalah sesuatu yang sulit dalam masyarakat yang terlalu menekankan pernikahan dalam keadaan “anunya” masih merah-merah mennjukkan tanda keperawan. John L. Esposito, Islam: The Straight Path, Oxford University Press, 1998, 16-18.

Namun memang, F. E. Peters mengatakan juga dari sisi lain bahwa adalah hal yang tampak rumit untuk membuat generalisasi tentang pernikahan Nabi Muhammad SAW karena tdak juga untuk mudah disangkal banyak dari perkawinan itu dalam ranah politis. Ada juga di antaranya karena benar-benar belas kasih yang tidak luput dari urusan hati. Bacalah, Francis Edward Peters, Islam: A Guide for Jews and Christians, New Jersey: Princeton University Press, 2003, 84.

Dari bacaan lain, misalnya William E. Phipps, Muhammad and Jesus: A Comparison of the Prophets and Their Teachings, London and New York: Continuum, 1999, 142, saya memperoleh hal lain. Nabi Muhammad SAW menikah untuk membantu para janda sahabatnya dalam hal menciptakan dan melestarikan pengikatan tali keluarga. Misalnya, Nabi menikahi putri-putri Abu Bakar Ash-Siddiq yang bernama Aisyah tepatnya sekitar bulan Syawwal tahun ke-10 kenabian. Dan, Nabi juga memperistri Hafshah binti Umar bin Khaththab, yangmana Umar adalah sahabat dekat nabi dari awal perjuangan Islam.

Selain itu, anak-anak perempuan dari Nabi Muhammad SAW sendiri juga diperistri oleh oleh para sahabatnya. Misalnya Zainab putri tertua dari Nabi anak perempuan yang dibawa dari perkawinannya dengan Khadija binti Khuwaylid itu menikah dengan Utsman bin Affan. Demikina pula, Ali Bin Abi Talib menikahi Fatimah Az Zahra adalah putri termuda (bungsu) Rasulullah. Fatimah adalah putri kandung, hasil perkawinan biologis antara Rasulullah Muhammad SAW dari istri pertamanya yakni Khadijah binti Khuwailid. Lihatlah bahwa lingkaran pernikahan saat itu adalah pertalian ikatan keluarga dengan keempat Khalifah pertama.

Pernikahan juga selain erat kaitannya kultur, penguatan tali silaturahmi juga terikat pula dengan persoalan sosial politis. Tentu saja, sebagai Nabi Islam, Muhammad SAW memutuskan untuk menikah lagi dengan maksud untuk menyebarkan pesan-pesan Allah dengan niat untuk menyatukan berbagai klan Arabia yang selalu bertikai. Tetapi tentu juga pernikahan berkali-kali juga memiliki efek sosial-politik yang luas.

Menikah lagi adalah suatu mekanisme untuk meningkatkan kredibilitas kepemimpinan satu tokoh panutan dan sumber legitimasi masyarakat luas untuk menyampaikan dakwah Islam berdasarkan contoh-contoh kehidupan keluarga pribadinya. Sehingga, jika Nabi hanya memiliki satu istri, maka itu akan menjadi tanggung jawab yang luar biasa dalam menyampaikan hal-hal ibadah pribadi dan kehidupan keluarga Muhammad SAW.

Orang-orang sekitarnya yang saat itu masih banyak memusuhi Nabi akan selalu mencoba mendiskreditkannya dengan niat-niat untuk menghancurkan kredibilitas kenabiannya dan praktik-praktik berislam saat itu. Namun, dengan memiliki banyak istri, ada lebih banyak halangan bagi musuh untuk mendiskreditkannya karena Nabi sukses menafkahi dan mengislamkan para wanita dan kerabat keluarga dekatnya. Karena itulah, pernikahannya selain akan memberi lebih banyak wanita kesempatan untuk belajar dan mengajarkan hal-hal dalam kehidupan pribadinya tetapi juga efek politis untuk membungkam mulut para haters Nabi Muhammad SAW.

Baca Juga:  Syathahāt Shūfiyyah; Ekspresi Ekstase Para Sufi

Saya mendaraskan keterangan di atas itu setelah membaca Gerhard Endress. Sesuai dengannya, masyarakat Islam yang sedang dibangun oleh Nabi semakin dikuatkan oleh sistem sosial dengan cara membangun sistem baru perkawinan, keluarga dan warisan. Sistem ini memperlakukan perempuan sebagai individu juga dan menjadi jaminan sosial untuknya serta untuk anak-anaknya bila dinikahi oleh tokoh, apalagi sang tokoh tak lagi mempersoalkan virginitasnya. Sehingga dengan ketentuan ini bahwa keluarga inti yang sejahtera dan adil bagi Islam dan masyarakat Islam dapat ditempatkan sebagai pijakan yang kuat. Baca, Gerhard Endress, Islam: An Introduction to Islam, New York City: Columbia University Press, 1988, p.31

Ada juga para sarjana modern yang mempercayai bahwa Muhammad menikahi Wanita yang bukan Islam sebagai bagian dari rekonsiliasi sosial politik. Misalnya rekonsiliasi itu terjadi dengan suku Yahudi dan ini sebagai isyarat adanya niat baik dari Nabi untuk mendamaikan sejumlah klan, agama dan suku yang terus-menerus saling membunuh. Sehingga pernikahan bersifat politis atau untuk memperkuat aliansi. Bacalagi, John L. Esposito, Islam: The Straight Path, 19-20, seperti telah ditampilkan sebelumnya.

Untuk mempertegas lagi tentang pernikahan sebagai mekanisme rekonsiliasi sosial politik, saya akan perlihatkan istri Nabi Muhammad SAW dari golongan Yahudi yakni Rayhana.

Rayhana binti Zayd adalah seorang wanita Yahudi dari suku bani Nadir, diperbudak bersama yang lain setelah kekalahan suku bani Qurayza. Wanita ini pun dihormati oleh umat Islam sebagai salah satu dari Ummahaatu’l-Mu’mineen, atau Para Ibu yang Beriman karena ia adalah salah satu di antara para istri Nabi Muhammad SAW.

Rayhana awalnya adalah anggota suku bani Nadir yang menikah dengan seorang pria dari bani Qurayza. Setelah bani Qurayza dikalahkan oleh pasukan Islam pada peristiwa penyerbuan terhadap bani Qurayza, Rayhana ialah salah seorang yang termasuk di antara mereka yang diperbudak akan tetapi pada beberapa waktu berselang Nabi Muhammad SAW melamarnya untuk dinikahi secara resmi.

Sebelumnya, sesuai dengan tradisi dan keadaan keluarganya, Rayhana menampilkan rasa jijik dan benci terhadap Islam karena ia berpegang teguh pada agama Yahudi. Namun, setelah beberapa waktu dia memutuskan untuk masuk Islam. Ibn Ishaq, The Life of Muhammad: A Translation of Ibn Ishaq’s Sirat Rasul Allah Translated by Alfred Guillaume, Oxford, UK: Oxford University Press, 1955, 466.

Seperti halnya tentang kesahihan status Maria al-Qibtiyya wanita Kristen Koptik Mesir yang menjadi istri Nabi Muhammad SAW, ada beberapa perdebatan mengenai apakah Rayhana juga resmi menjadi istri sah. Bahkan ada juga ilmuwan Islam lain pada abad ke 17 seperti Allama Shibli Numani yang menyatakan Nabi Muhammad SAW membebaskan Rayhana, dan dia kembali hidup dengan bangsanya sendiri. Baca, Allama Shibli Nomani, Sirat Un Nabi: The Life of the Prophet Volume II Translated by by Tayyib Bakhsh Budayuni, New Delhi, India: Adam Publishers, 2003, 125-126.

Sedangkan yang lain berpendapat bahwa pembebasan dan pernikahan Muhammad dengan sejumlah wanita yang bukan Islam sekalipun sebagian media politik untuk mengurangi tragedi dan sebagiannya untuk menjaga martabat mereka, dan membandingkan tindakan-tindakan ini dengan para penakluk sebelumnya yang menikahi anak perempuan dan istri para raja yang telah mereka kalahkan. Sedangkan pernikahan dengan wanita Yahudi dan Kristen dilihat dengan tujuan untuk mengakhiri permusuhan antara Yahudi, Kristen dan Islam. Barbara Freyer Stowasser, Women in the Qur’an, Traditions, and Interpretation, New York: Oxford University Press, 1994; Muhammad Husayn Haykal, The Life of Muhammad Translated by Ismail Raji al-Faruqi, Plainfield, Indiana: North American Trust Publications, 1976, 373.

Saya akan selesaikan kajian ini dengan mengetengahkan satu hal yang lebih menarik yang mungkin jarang kita mengerti. Terkait pernikahan Nabi Muhammad, ada hal lain yang justru menarik untuk dilihat dari mata tokoh wanita Islam.

Pernikahan Nabi Islam dengan banyak wanita Islam dan yang bukan Islam sekalipun juga harus bisa dilihat sebagai upaya nabi untuk memasukkan hak-hak individu sehingga semakin sentralnya posisi wanita dalam sistem sosial masyarakat Islam dan hubungan sosial lain termasuk spiritual, yang mana pada era sebelumnya perempuan hanya diperbudak dan dibutuhkan hanya dalam hubungan badan belaka. Baca, Amina Wadud, Qur’an and Woman: Rereading the Sacred Text from a Woman’s Perspective, New York: Oxford University Press, 1999, 1-14. (Kajian 6 Santri Kristen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2018).

Tinggalkan Balasan