Kata ini dalam bahasa Arab disebut عيد الفطر, dilafalkan ‘Īdul-fiṭr tapi ada juga yang menulis dengan kata Idul Fitri. Jangan lupa, ini adalah hari raya milik umat Islam tapi menjadi ber-lebaran yang dinikmati oleh hampir seluruh orang Indonesia, sedikitnya efek hari libur nasional ditandai dengan tradisi mudik.

Karena Idulfitri dilekati oleh unsur perayaan yang ditambahkan pula dengan budaya mudik, maka makna mudik atau distorsi makna idul fitri terjadi di era modernisme oleh kaum kontemporer. Itu hasil analisis sahabat saya, Muhammad Makro Maarif Sulaiman.

Kajian ini akan memperlihatkan distorsi itu khususnya dari sisi ekonomi-politik. Akan tetapi, saya tidak datang dalam rangka menunjukkan sisi kritik bersinggungan dengan pintu kajian pejorative terhadap kesalehan dan kesenangan Islam oleh Muslim kelas tengahan di Indonesia.

Kajian seperti itu, dalam batas kritik sosial akademik bisa saja. Tapi ada kalanya kajiannya hanya dilihat dalam kaca mata bentuk ekspresi budaya populer. Itu pernah ditunjukkan oleh Heryanto. Bacalah, Ariel Heryanto, “Upgraded Piety and Pleasure: The New Middle Class and Islam in Indonesia Popular Culture,” dalam Andrew N. Weintraub (ed.), Islam and Popular Culture in Indonesia and Malaysia, London and new York: Routledge, 2011, khususnya Bab 4.

Saya, kajian ini, muncul atas dasar kecintaan kepada Islam dan Indonesia, dalam upaya membalikkan distorsi kepada makna asaliah Idulfitri bagi kita semua.

 Idul Fitri.


Idulfitri “jatuh” pada tanggal 1 Syawal pada penanggalan Hijriyah setelah selesai menjalankan ibadah puasa Ramadan selama sebulan penuh tanpa cacat cela dan terputus-putus. Idealnya memang demikian adanya. Syawal adalah bulan ke-10 di tahun Hijriah yang memiliki 29 hari ataupun dalam penanggalan Jawa.

Karena penentuan 1 Syawal yang berdasarkan peredaran bulan tersebut, maka Idul Fitri atau Hari Raya pasca Puasa jatuh pada tanggal yang berbeda-beda setiap tahunnya apabila dilihat dari penanggalan Masehi. Tak jarang cara menentukan 1 Syawal juga terjadi perbedaan atau ada yang mengatakan bervariasi untuk mengindari ada kesan jelek dari perbedaan metode penentuan hari dalam Islam yang digunakan.

Dua cara yang biasa dipakai adalah Rukyatul Hilal dan Hisab. Yang terakhir adalah perhitungan secara matematis dan astronomis untuk menentukan posisi bulan dalam menentukan atau sebagai tanda awal dimulainya kalender Hijriyah.

Sementara itu Rukyat adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang tampak pertama kali setelah terjadinya ijtimak maksudnya konjungsi atau kesepakatan para “wong pintar Islam” berdasarkan pengetahuan Islam, bukan tahayul atau mistis.

Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang atau dengan alat bantu optik seperti teleskop. Rukyat dilakukan setelah matahari terbenam. Hilal hanya tampak setelah matahari terbenam yakni Maghrib karena intensitas cahaya hilal sangat redup dibanding dengan cahaya matahari, serta ukurannya sangat tipis. Apabila hilal terlihat, maka pada Maghrib setempat telah memasuki kalender baru Hijriyah. Apabila hilal tidak terlihat maka awal bulan ditetapkan mulai Maghrib hari berikutnya.

Sejatinya, akibat dari variasi cara yang tidak sama itu boleh saja ada karena corak Islam di Indonesia juga tidak sama. Namun, akibatnya sebagian umat Islam yang merayakannya pada pentanggalan Masehi yang berbeda pula. Efek perbedaan itu semestinya keniscayaan saja. Misalnya, kita akan menikmati semakin panjangnya hari libur. Meskipun olehnya kita jatuh pada tradisi baru ‘menghabiskan’ banyak hal-hal materil yang ada perhitungan untung rugi, baik itu diungkapkan atau pun disembunyikan dalam hati.

Soal yang terakhir, maksudnya sembunyi dalam hati, bangsa Indonesia adalah jagonya demi harmoni sosial, meskipun dampaknya kuat pada persoalan hati. Misalnya, yang belum nikah-padahal dianggap sudah “pantes” dalam segala hal- semakin panjanglah penderitaan bathinnya akibat pertanyaan yang bertubi dari segala arah melebihi jumlah mata angin, Silmi Sahabat Minang saya Silmi Novita Nurman yang ngaku dalam statusnya kemaren, sebagai contoh. Yang sabar ya, karena memang memilih pasangan yang “pantes” itu lebih dari sekedar memilih jeruk manis seperti biasa dilakoni mak-mak di pasar.

Sembunyi dalam hati itu belum lagi, para perantau yang tengah mudik ke kampung selalu otomais ditagih untuk membelanjai seluruh biaya, operasi dan akomodasi piknik, tanda kesuksesan di kota yang dibungkus dengan mantara ajaib: “mempererat silaturahmi.” Tak salah jika Nelly van Doorn-Harder menyebut ada tradisi baru dalam masyarakat Islam Asia, ketika ia menulis “Southeast Asian culture and Islam” dalam Richard C. Martin (ed.), Encyclopedia of Islam and the Muslim World: A-L, Volume 1, New York: Palgrave Macmillan, 2004, 649.

Baca Juga:  Santri, Anak Siak, atau Pakiah di Minangkabau?

Mengapa bisa jatuh?


Apakah kita lupa, Idulfitri sudah menjadi Hari Raya yang otomatis diterjemahkan oleh negara dan warganya sebagai hari libur nasional Indonesia yang dikait-kaitkan sendiri sebagai festival untuk merayakan akhir bulan puasa Ramadhan.

Masa liburan hari raya Idulfitri juga dikenal sebagai lebaran. Lebaran adalah serangkaian hari libur nasional yang memungkinkan kita sebagai orang Indonesia menghabiskan waktu bersama teman dan anggota keluarga yang lama jauh di hati meskipun sebenarnya adalah rumah, tetapi menjadi serasa jauh akibat dari besarnya tuntutan ekonomi setiap hari yang harus dikumpulkan. Padahal, itu sejatinya hasil kreasi sendiri yakni bagaimana kita bergaya dalam hidup.

Memang, sebelum masuk dan berfiesta pada musim liburan hari raya Idulfitri, kita orang Indonesia tampak sangat religius. Misalnya itu selain ditandai dengan pakaian putih bersis baik yang baru beli atau stok tahun lalu, itu juga ditandai dengan menghadiri Shalat ID, memberikan Zakat dengan senyum dan murah hati, meminta dan memberi pengampunan atau permaafan dari orang-orang yang telah bersalah. Semua itu menjadi dasar yang kokoh sebelum kita melakukan pesta bersama dalam perayaan musim liburan. Satu gaya hidup yang lebih kuat penekanannya daripada esensi makna dalam Idulfitri akibat waktu puasa telah paripurna.

Sehubungan dengan skala perayaan, hari raya Idulfitri mungkin menjadi hari libur umum Indonesia terbesar. Banyak, artinya tidak semua, orang Indonesia kaya maupun tidak akan melakukan perjalanan jauh ke kota asal untuk merayakannya bersama keluarga mereka bahkan ke kota dan tempat-tempat yang jauh sekalipun.

Kemacetan lalu lintas dan keterlambatan transportasi umum sering terjadi. Secara cepat dihitung, umumnya rutin terjadi lebih dari delapan juta orang meninggalkan Jakarta untuk kembali ke kota asal sebelum liburan. Uniknya lagi perayaan Idulfitri dilandasi oleh konstitusi negara yang mewajibkan karyawan menerima bonusan gaji, yakni THR tepat sebelum hari raya Idulfitri terjadi.

Negara menjadi terlibat dalam arus kapitalisme ini karena gaya beli masyarakat berubah. Dengan mendapatkan bonus gaji ini, negara terlihat peduli atas warganya. Lantas dengan kepedulian itu, warganya akan mampu membeli gaya barunya di hari raya Idulfitri. Pada pagi atau sore hari raya Idulfitri itu, Muslim Indonesia merayakan dengan pesta, entah sederhana seadanya ataupun skalanya besar dengan anggota keluarga masing-masing dalam berbagai kondisi.

Entah mengapa, dalam tradisi kita sebagai orang Indonesia, pesta ini terdiri dari berbagai hidangan yang tidak mungkin gratis dalam pembiayaannya, namun gratis saat disantap. Itu telah disiapkan dengan hati-hati disertai penuh iklas oleh anggota keluarga terkadang H2C, harap-harap cemas, karena anggota keluarga lain masih belum sampai di depan pintu, padahal sudah berjanji lewat WA akan mudik menemui simbok sebulan sebelumnya.

Memang, dengan keberpihakannya, negara hadir untuk memastikan bahwa setiap warga negara Indonesia (tapi tetap hanya mereka yang pekerja) dapat menikmati musim liburan. Jika ditilik ke Jakarta, warga negara Indonesia menikmati bonus pembayaran tidak kurang dari gaji satu bulan. Meskipun memang, nominal dari bonus gaji itu juga bervariasi di tiap kota dan wilayah.

Dalam keramean Idulfitri itu, khususnya tradisi mudik, tak hanya negara, sejumlah perusahaan termasuk partai politik dan politisinya otomatis berbuat baik. Hampir semuanya menunjukkan sifat kedermawanan dengan menyediakan angkutan lebaran dan seluruh retail yang menyertai. Kedermawanan itu tak jarang diikuti pesan dan barang sponsor yang wajib dikenakan sebagai atribut ataupun terpampang. Itulah sisi politisnya, saya tak akan menyebutnya politisasi, belum lagi aspek ekonominya.

Ekonomi Idulfitri


Hari raya Idulfitri biasanya merupakan stimulus ekonomi tahunan terbesar di berbagai negara Islam di dunia. Indonesia bukanlah pengecualian. Penjualan barang-barang meningkat tajam di berbagai area retail. Dan, pada musim Idulfitri tiba, orang-orang lebih suka untuk membeli berbagai hadiah, dekorasi, dan berbagai hal lain untuk kelengkapan dan kemantaban perayaan Idulfitri.

Jadi, masyarakat Indonesia ada industrialisasi dalam artian komersialisasi yang mengantungkan perolehan dan sirkulasi kapital pada penjualan di musim Idulfitri. Industri rumah tangga berbasis pasar tak mau ketinggalan dan kehilangan kapital. Ia muncul dengan komoditi tahunan, antara lain ketupat beserta seluruh ramuannya untuk dijadikan ‘Bumbu Pawon’ sebagai tambahan kenikmatan kuliner ramadhan.

Baca Juga:  Setelah Puasa, Lalu Apa?

Tapi, selain kegiatan ekonomi besar dan tradisional itu, hari Idulfitri di berbagai negara yang berpenduduk Islam juga menjadi hari paling sepi bagi pusat produksi bisnis. Hampir semua toko retail, institusi bisnis dan komersial tutup sejenak dan hampir semua industri berhenti beroperasi.

Di Indonesia, ekonomi Idulfitri itu juga dilegalkan oleh negara. Ada Peraturan Menteri Ketenagakerjaan RI Nomor 6 Tahun 2016 tentang THR-Tunjangan Hari Raya Keagamaan bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan Dalam Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 tentang itu. Buktinya ada penjelasan:

Satu, THR selanjutnya disebut THR Keagamaan adalah pendapatan non upah yang wajib dibayarkan oleh Pengusaha kepada Pekerja/Buruh atau keluarganya menjelang Hari Raya Keagamaan.

Dua, Hari Raya Keagamaan adalah Hari Raya Idul Fitri bagi Pekerja/Buruh yang beragama Islam, Hari Raya Natal bagi Pekerja/Buruh yang beragama Kristen Katholik dan Kristen Protestan, Hari Raya Nyepi bagi Pekerja/Buruh yang beragama Hindu, Hari Raya Waisak bagi Pekerja/Buruh yang beragama Budha, dan Hari Raya Imlek bagi Pekerja/Buruh yang beragama Konghucu. Artinya, selain agama besar itu tak dapat kucuran THR.

Tiga, pengusaha adalah orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang menjalankan suatu perusahaan milik sendiri; orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang secara berdiri sendiri menjalankan perusahaan bukan miliknya; orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang berada di Indonesia mewakili perusahaan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b yang berkedudukan di luar wilayah Indonesia.

Empat, Pekerja/Buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain.

Pasal 2 ayat 1, Pengusaha wajib memberikan THR Keagamaan kepada Pekerja/Buruh yang telah mempunyai masa kerja 1 (satu) bulan secara terus menerus atau lebih. Ayat 2, THR Keagamaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada Pekerja/Buruh yang mempunyai hubungan kerja dengan Pengusaha berdasarkan perjanjian kerja waktu tidak tertentu atau perjanjian kerja waktu tertentu.

Pasal 6, THR Keagamaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) diberikan dalam bentuk uang dengan ketentuan menggunakan mata uang rupiah Negara Republik Indonesia.

Selain THR, para orang tua biasanya memberikan ‘uang raya’ kepada anak-anak mereka. Selama perayaan, biasanya masyarakat utamanya Islam,tetapi di sebagian besar masyarakat Kristen di Jawa juga berkunjung ke rumah-rumah tetangga ataupun saudaranya untuk bersilaturahmi, yang dikenal dengan ‘halal bi-halal.’ Ini adalah ‘ibadah’ untuk memohon maaf dan keampunan kepada mereka. Dalam ‘ibadah’ itu, umumnya, beberapa pejabat negara juga mengadakan ‘open house’ bagi masyarakat yang ingin bersilaturahmi.

Dimana nilai Ibadah pada tradisi Idulfitri?
Pada tanggal 1 Syawal mulai berakhirnya puasa pada bulan Ramadan, kemudian merayakan Idulfitri. Tapi, di malam sebelum dan sesudah hari raya, umat Islam disunnahkan untuk mengumandangkan takbir.

Kalimat Takbir
Satu, Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar maksudnya Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Maknya Allah yang tauhid itu Maha Besar, Allah Maha Besar belum pernah ada dan tidak akan ada yang seperti Dia, meskipun sudah pernah ada dan akan tetap ada yang mengkau-ngaku demikian.

Dua, la ilaha illa Allah maksudnya Tidak ada Tuhan selain Allah. Maknanya, beserta seluruh keluarga dan suku kami, (ini mengingat dahulu masyarakat Arab tidak mengenal system individualistik tetapi berpiak-puak), bersaksi dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa raga sama seperti umat beriman lainnya tiada Tuhan selain Allah.

Tiga, Allahu akbar, Allahu akbar maksudnya Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Maknanya, ini pengulangan untuk pemantaban dari urutan satu sebelumnya.

Empat, wa li-illahi al-hamd maksudnya segala puji hanya bagi Allah. Maknanya, segala puji hanya bagi Allah dalam makna Saya atau kami sebagai Muslim telah sukses dan tuntas melaksanakan puasa dan akan menjadi fitrah. Saya memaknai bahwa takbir ini merupakan ungkapan dan janji kepada publik. Sehingga karena merupakan janji dan agar ada persaksian dari orang lain di sekitarnya maka perlu dikeraskan lewat pengeras suara.

Baca Juga:  Politik Orang Pinggiran (Resensi Buku Partai Islam No, Politik Islam Yes)

Dan pemakaian alat pengeras suara itu adalah tepat apalagi disertai dengan pawai yang terkelola dengan baik dan ramah lingkungan. Takbir keempat itu sama halnya dengan “semoga kita semua tergolong orang yang kembali ke fitrahnya sebagai Islam dan berhasil dalam latihan menahan diri dan akan menjaganya tetap demikian adanya seumur hidup kami”.

Artinya, saya hendak melihat takbir itu lebih dari mata Möller seorang antropolog dunia dari Swedia yang bekerjadi Department of History and Anthropology of Religions. Ia melihat fenomena itu sebagai jihad sukacita dalam Islam. Baca, André Möller, Ramadan in Java: The Joy and Jihad of Ritual Fasting, Sweden: Lund University, 2005, 194.

Dengan permaksudan lain, saya melihat semakin keras takbirnya, maka sejatinya semakin keras pula umat Islam untuk melaksanakan janjinya persis seperti teriakannya lewat toa Masjid yang diarak keliling itu. Itulah alasannya, kita kita yang bukan Islam sejatinya merasa senang saja bahwa ternyata di malam takbiran, sahabat kita sedang mengumandangkan janjinya untuk menjadi Islam atau orang Indonesia yang baik untuk semua orang, bukan cuman soal keliling takbiran ribut-ribut dalam pawai keliling kota atau desa belaka.

Do’a atau Ucapan Pada Idulfitri.
Di Indonesia sering mengucapkan Minal ‘Aidin wal-Faizin. Jadi, Minal ‘Aidin wal-Faizin adalah tradisi yang biasa diucapkan antara sesama Muslim Indonesia, meskipun tidak bisa dipungkiri hal yang sama bisa saja tersebar ke wilayah lain di negara lain dan ke agama lain.

Sebenarnya itu adalah tradisi masyarakat Asia Tenggara. Oleh sejumlah Ulama, sebut saja Qurais Shihab, ucapan yang sesungguhnya mengandung nilai doa dan ibadah itu tersebut ditidaklah berdasar dari ucapan atau hadits dari Nabi Muhammad. Perkataan ini mulanya berasal dari seorang penyair pada masa Al-Andalus, yang bernama Shafiyuddin Al-Huli, ketika dia membawakan syair yang konteksnya mengisahkan dendang wanita pada hari raya. Baca lagi, M. Quraish Shihab, Lentera Hati: Kisah dan Hikmah Kehidupan, Bandung; Mizan, 1999, 404-406.

Adapun ucapan yang disunnahkan pada Idulfitri adalah “Taqabbalallahu minna wa minkum” maksudnya, semoga Allah menerima amal kami dan kalian. Atau pun juga “Taqabbalallahu minna waminkum wa ahalahullahu ‘alaik” maksudnya semoga Allah menerima (amalan) dari kami dan darimu sekalian dan semoga Allah menyempurnakannya.

Shalat I’ed.
Awal pagi hari selalu dilaksanakan Shalat Idulfitri yang kita kenal dengan Shalat ID. Ini adalah Shalat sunnah untuk melaksanakan Shalat di tanah lapang atau bahkan jalan raya terutama di kota besar.

Sebelum Shalat dilakukan Imam Shalat pasti mengingatkan siapa yang belum membayar Zakat fitrah. Peringatan itu karena sebab kalau selesai Shalat ID baru melunasi pembayaran Zakatnya, maka hukumnya itu menjadi sedekah biasa bukan Zakat dalam artian Rukun ke-empat dari Iman Islam.

Perlu diingat, meskipun bernilai ibadah, hukum dari Shalat Idulfitri ini adalah sunnah mu’akkad. Salat sunnah atau Shalat Nawafil bentuk jamaknya adalah Nafilah adalah Shalat yang dianjurkan untuk dilaksanakan. Namun, itu tidak diwajibkan. Sehingga, Muslim yang oleh karena alasan yang sangat urgent maka tidak berdosa bila meninggalkannya. Tapi, saat bersamaan dalam pengertian lain, apabila dilakukan dengan baik dan benar serta penuh ke ikhlasan akan tampak hikmah dan rahmat dari Allah SWT.

Perlu dijabarkan, Shalat sunah menurut hukumnya terdiri atas dua hal. Satu, Shalat Muakad adalah salat sunah yang dianjurkan dengan penekanan yang kuat (hampir mendekati wajib), seperti Shalat dua hari raya, Shalat sunah witr dan Shalat sunah thawaf.

Dua, Ghairu Muakad adalah salat sunah yang dianjurkan tanpa penekanan yang kuat, seperti Shalat sunah Rawatib dan Shalat sunah yang bersifat insidental semata yang bisa bergantung kepada waktu dan keadaan, seperti Shalat kusuf/khusuf hanya dikerjakan ketika terjadi gerhana bulan atau matahari, misalnya.

Fitrah dan Zakat Fitrah.
Sebelumnya saya jelaskan, sebelum Shalat dilakukan Imam Shalat pasti mengingatkan siapa yang belum membayar Zakat fitrah. Zakat Fitrah ialah Zakat diri yang diwajibkan atas diri setiap individu Muslim baik itu lelaki dan perempuan yang telah mampu dengan syarat-syarat yang ditetapkan.

Bagi saya, Fitrah dan Zakat Fitrah ini lebih dari sekedar keadaan dan derma dalam konsep “Charity In Islam” seperti tulisan Senturk. Seperti kebanyakan yang dipahami oleh Muslim biasa, Ia mengatakan salah satu dari keadaan Muslim yang terkait dengan lima pilar iman penting dalam Islam. Itu terlihat dengan berzakat fitrah. Keadaan dan Zakat itu memang memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan ekonomi dan kedamaian sosial dalam masyarakat Muslim, sehingga dengannya mendorong individu untuk berbagi. Baca lagi, Omer Senturk, Charity In Islam, New Jersey: The Light Inc, 2007.

Kata, fitrah satu keadaan bagi Muslim sebagai insan yang beragama Islam dan memiliki Allah yang Tauhid merujuk pada keadaan manusia saat baru diciptakan. Sebagai satu keadaan, itu merupakan satu kemenangan baru setiap tahunnya bagi Muslim yang telah sukses dan tuntas dalam berpuasa dengan segala rintangannya.

Atas keadaanya yang telah fitrah kembali itu suci, dalam artian tak lagi berdosa atau berbuat dosa dalam artian idealnya, mendorong umat Islam secara ikhlas dan jujur untuk menzakati manusia di sekitarnya dengan harta benda yang juga diperoleh secara ikhlas dan jujur pula.

Zakat fitrah merupakan Zakat diri di mana Allah memberikan umur panjang; bentuk pertolongan kepada umat Islam secara global, baik itu kaya maupun tidak sehingga mereka dapat beribadah kepada Allah dan bersyukuria atas anugerahNya.

Akan tetapi, keadaan fitrah itu bagi Muslim ada dengan seizin Allah sendiri bukan atas usaha dan kemampuan dirinya sebagai masing-masing manusia. Pula, banyak atau sedikitnya Zakat kefitrahan Muslim tidak menjadi satu takaran utama akan kembali fitrah. Tapi itu karena dan sebagai bentuk nyata dari ekspresi sebagai Muslim serta tindakan bersyukur kepada Allah atas izinnya kembali ke fitrahnya sebagai umat Allah sendiri.

Tinggalkan Balasan