Menengok Kiprah Muhammadiyah

Dalam hal melaksanakan masyarakat belajar, Kelurahan Notoprajantidak dapat dipastikan secara ilmu matematis sejak kapan. Akan tetapi, itu hanya dapat dibuat periodisasinya berdasarkan pemahaman apa yang dilakukan oleh K.H. Ahmad Dahlan di Kampung Kauman. Ia, untuk mendidik dan membelajarkan masyarakat di Kauman mendirikan sekolah lanjutan yang telah berdiri sejak 1919 juga dapat dijumpai di kampung ini. Awal berdirinya, sekolah itu bernama Hooge School Muhammadiyah dan kemudian diganti menjadi Kweek School pada tahun 1923. sekolah yang juga didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan itu pada tahun 1930 dipecah menjadi dua, untuk laki-laki dan perempuan. Sekolah untuk laki-laki dinamai Mualimin dan untuk Perempuan dinamai Mualimat.

Sekolah ini merupakan sumber pembelajaran yang berpengaruh ke kelurahan Notoprajan. Kampung Kauman pada jaman kerajaan merupakan tempat bagi 9 ketib atau penghulu yang ditugaskan Kraton untuk membawahi urusan agama. K.H Ahmad Dahlan yang menjadi pendiri gerakan tersebut merasa prihatin karena banyak warga terjebak dalam hal-hal mistik. Disana ia mengajarkan seluk beluk Islam, mengaji dengan Tekun dan mendalami sambil mendakwahkan Al-Qur’an. Oleh karena itu, ia mendirikan podok atau asrama untuk menampung para pelajar. Selanjutnya, ia juga mendirikan sekolah yang pertama secara formal yakni Madrasah Ibtidayah setingkat SD dan Madrasah Diniyah di rumahnya. Sekolah ini mulai dikelola secara modern, (Mulkan, 1990).

Pusat pembelajaran dilakukan di kompleks Kampung Kauman adalah Masjid Agung. Masjid yang menjadi masjid pusat di wilayah Kesultanan itu didirikan sejak 16 tahun setelah berdirinya Kraton Yogyakarta. Arsitektur masjid yang sepenuhnya bercorak Jawa dirancang oleh Tumenggung Wiryakusuma. Masih ada satu tempat lagi yaitu Langgar Ahmad Dahlan. Dahulu, bangunan itu digunakan K.H. Ahmad Dahlan untuk mengadakan acara Sidratul Muntaha, sebuah pelajaran mengaji dan berdakwah. Langgar lain yang cukup legendaris adalah Langgar Putri Ar Rosyad yang merupakan langgar putri pertama di Indonesia.

Pemahaman lainnya adalah, Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah pada 1912. Tahun 1911 telah mendirikan sekolah Muhammadiyah. Tradisi mendirikan dan mengasuh sekolah adalah salah satu jati diri Muhammadiyah. Secara ringkas KH Ahmad Dahlan memulai aktivitasnya menjadi guru mengaji, lalu mendirikan pondok. Hal ini menegaska bahwa, pendidikan sebagai variabel yang tidak terpisakan dalam perubahan dan perkembangan hidup Islam dan Muhammadiyah, (Mulkan, 1990).

Baginya, kunci persoalan untuk meningkatkan kemajuan umat Islam, Muhammadiyah dan manusia ialah pemahaman terhadap berbagai ilmu pengetahuan yang sedang berkembang pesat dan ilmu akal pikiran yang dapat mempertajam kemampuan. Ini diperlukan untuk menata kehidupan masyarakat. Untuk mencapai hal ini, perlu kader dan pengkaderan generasi muda. Mereka bukan hanya bermanfaat untuk fungsionaris gerakan organisasi Muhamadiyah, tetapi juga masyarakat luas.

Bukti lain bahwa pendidikan merupakan satu bidang penting strategis yang mendapat prioritas  dari perhatian KH. Dahlan, karena pendidikan menjadi amal usaha pertama Muhammadiyah sejak awal berdirinya dan ini tetap mendapat perhatian dalam perjalanan Muhammadiyah selanjutnya. Kini setelah Muhammadiyah hampir berumur satu abad (bersama Aisyiyah), amal usahanya dalam bidang pendidikan sejak dari TK-ABA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA, sampai perguruan tinggi Muhammadiyah disamping Pondok pesanten keseluruhannya berjumlah ribuan. Ini merupakan kontribusi nyata Muhammadiyah dalam bidang pendidikan kepada bangsa dan negara Indonesia.

Setelah Ahmad Dahlan melakukan hal ini, tidak lama setalah itu maka ia juga mendirikan Aisyiyah yang beranggotakan perempuan Muhammadiyah pada tanggal 22 April 1917. Aisyiyah sebagai organisasi dakwah amar makruf nahi munkar yang sasaran dakwahnya meliputi semua umur, mulai dari usia pra sekolah sampai dengan usia lanjut. Aisyiyah terpanggil kepada lansia yang oleh sebahagian masyarakat dianggap tidak produktif. Hal itu dilakukan untuk para lansia dapat mempertahankan hidup dengan baik dengan banyak berdoa dan kesehatannya lebih banyak untuk beribadah kepada Allah SWT, (Suara Aisyiyah, 2007). Untuk mengupayakannya Aisyiyah melakukan berbagai usaha organisasi melakukan dakwah dengan tajdid di segala bidang kehidupan. Usaha organisasi itu diwujudkan  dalam program organisasi dengan pelaksanaannya dalam bentuk amal usaha dan beragam kegiatan.

Usaha membina generasi muda itu telah dipersiapkan bersama K.H.A. Dahlan. Dengan melalui pendidikan asrama yang ada di rumahnya, para generasi muda telah diberi pendidikan dan bekal yang cukup tinggi, terutama bekal hidup mereka di hari kemudian. Nyai Ahmad Dahlan sadar bahwa pendidikan adalah soko guru guna menopang beban berat yang harus disangganya. Maka usaha Nyai Ahmad Dahlan berupa pondok (internaat) untuk membina anak-anak perempuan Indonesia. Pemikiran dan usaha Nyai Ahmad Dahlan ini terketuk dari kenyataan yang ada, karena umumnya pondok-pondok menampung anak laki-laki. Tetapi usaha Nyai Ahmad Dahlan dapat mengadakan pondok khusus perempuan. Sejak Muhammadiyah berdiri Nyai Ahmad Dahlan selalu bekerjasama, bergotong royong dengan suaminya, (Pimpinan Pusat Aisyiyah, 2007).

Sejak berdiri Aisyiyah yang menjadi warga Aisyiyah terdiri dari gadis-gadis remaja, di samping ibu-ibu muda yang sudah berumah tangga. Perkembangan Aisyiyah tidak hanya di Yogyakarta, tetapi juga di beberapa tempat di pulau Jawa dan bahkan di luar pulau Jawa. Dalam perkembangan selanjutnya, amal usaha rintisan K.H. Ahmad Dahlan dan Nyai Ahmad Dahlan telah menjadi keputusan Muktamar dengan dibukanya sekolah-sekolah kejuruan, umpamanya Sekolah Bidan, Sekolah Perawat, Sekolah Kepandaian Puteri, Sekolah Guru Kepandaian Puteri, Sekolah Guru Taman Kanak-Kanak dan sebagainya. Usaha ini merupakan dorongan dan semangat dari Nyai Ahmad Dahlan kepada Aisyiyah untuk memperhatikan kemajuan puteri-puteri pada umumnya dan gadis-gadis khususnya dengan harapan kelak mereka dapat mengganti meneruskan orang-orang tua yang telah merintisnya.

Adapun maksud dan tujuan gerakannya ialah dakwah Islam dan amar makruf nahi munkar. Muhammadiyah menggerakkan masyarakat menuju terwujudnya masyarakat utama, adil dan makmur yang diridlai Allah Subhanahu wata’ala. Dalam perjuangan melaksanakan usahanya menuju terwujudnya masyarakat utama, dimana kesejahteraan, kebaikan dan kebahagiaan luas merata. Dengan demikian, upaya kedua tokoh ini untuk membudayakan masyarakat Notoprajan adalah sebuah pertanda terwjudnya masyarakat belajar.

Masyarakat belajar di Kelurahan Notoprajan yakni untuk mengoptimalkan sumber daya yang telah tersedia di masyarakat. Ada sejumlah masyarakat yang disebut pembelajar di Kelurahan Notoprajan. Mereka adalah Masyarakat kelurahan Notoprajan terdiri dari pembelajar lanjut usia, orang dewasa, pemuda, yang sekolah di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Aisyiyah di RW II Serangan, remaja yang sekolah di Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah 6 Gendingan, Anak SD yang sekolah di Sekolah Dasar Negeri Serangan, SD Negeri Ngabean, SD Muhammandiyah Notoprajan, SD Muhammadiyah Suronatan. Anak usia Pra sekolah atau Taman kanak-kanak atau Taman Penitipan Anak mereka sekolah di TK Aisyiyah Bustanul Atfal Notoparajan dan TK Aisyiyah Bustanul Atfal Suronatan, anak di TK Bella Ceria Suronatan dan Taman Penitipan Anak Amalia RW 04 RT 29 Kelurahan Notoprajan. Dan Anak-anak yang belajar di tempat-tempat les privat di rumah-rumah penduduk yang menyelenggarakan kursus seperti kursus bahasa Inggris dan pelajaran sekolah. Atau Anak balita yang biasanya memiliki pertemuan di Posyandu sekali sebulan. Semua yang disebut aktor atau pembelajar ini sebenarnya dapat diarahkan atau dikondisikan oleh pemerintah lewat kebijakan dan kerjasama hirakhis lewat aparat Kelurahan, pengurus Rukun Warga dan pengurus Rukun Tetangga untuk gemar belajar.

Di sana juga ada tempat untuk belajar di pendidikan formal. Tempat untuk belajar di pendidikan formal yakni di Sekolah Tinggi Ilmu kesehatan Aisyiyah, SMP, SD, TK, TPA. Pendidikan Nonformal untuk orang dewasa ada di PKBM ”Bangun Usaha Bersama”: Kelompok Usaha Bersama (KUBe) untuk usaha tempe dan tahu, usaha jajanan pasar. Kelompok-kelompok seperti arisan Hapsari setingkat kelurahan dan arisan ibu-ibu setingkat RW/RT. Dari 8 RW dan 51 RT di Kelurahan Notoprajan semuanya memiliki arisan ibu-ibu. Kelompok-kelompok pengajian ibu-ibu dan bapa-bapa setingkat RW/RT di Kelurahan memiliki kedua kelompok pengajian ini. Pertemuan RW/RT. Kelompok-kelompok seni dan budaya. Kelompok pemuda RW, RT. Kelompok pemuda remaja mesjid. Asrama Mualimat. Pada acara hajatan, misalnya pernikahan dan sunatan. Pada acara-cara perayaan kebangsaan dan dan hari-hari besar keagamaan. Di Radio Prakosa 97,4 FM. Panti Asuhan Aisyiyah. Kelompok kepanduan Pramuka Hizbul Waton milik Muhammadiyah di RW, V,VI, VII dan VIII. Taman Pendidikan Anak di Mesjid se-Kelurahan Notoprajan. Kelompok Aisyiah, Rumah Belajar  Anak usia Prasekolah dan sekolah dan “Pembinaan Rohani Umat Gereja Pantekosta di Indonesia di RW 04, RT 27 Klurahan Notoprajan. Masyarakat di lapangan sepakbola atau bulu tangkis yang tersedia di seluruh RW. Pendidikan informal yakni di keluarga atau di rumah-rumah penduduk. Di papan-papan pengumuman dan tempat baca koran yang dipajang di tiap RW/RT. Di puskemas Kecamatan Ngampilan di RW II Serangan.

Di sana ada pula aktifitas sosial masyarakat. Aktifitas sosial masyarakat lewat interaksi sosial masyarakat yang dilakukan dalam rangka belajar. Di sekolah formal belajar terorgansisir atau terlembaga. Di pendidikan norformal belajar bebas tidak terstruktur atau terlembaga. Di organisasi soasial kemasyarakatan dan partai politik yang cenderung bebas, sesuai dengan kebutuhan dan pilihan pembelajarnya. Misalnya. Di kelompok pengajian mereka belajar kaderisasi dan tentang nilai-nilai keagamaan. Di arisan mereka belajar informasi tentang ekonomi, kesehata ibu dan anak dan kebersihan lingkungan. Umumnya hal ini diperoleh dari fasilitator yang didatangkan pihak kelurahan atau dari nara sumber lainnya yang dicari oleh kelompok tersebut. Di TPA di rumah-rumah, masjid belajar tentang nilai-nilai agama dan belajar membaca Al Quran. Di Kelompok KUBe mereka belajar tentang teori dan praktek usaha yang berhubungan dengan ekonomi keluarga. Di Hizbul Waton mereka belajar tentang ajaran Muhammadiyah dan olah raga seperti karate, silat dan ilmu beladiri lainnya. Di Aisyiah pada umumnya wanita mereka belajar tentang  organisasi dan kepartaian, isu-isu gender dan tema-tema sosial lainnya. Di pertemuan-pertemuan RW/RT biasanya bapak-bapak belajar issu lingkungan. Pertemua ini umumnya juga sebagai media perantara atau sosialisasi kebijakan pemerintah provinsi, kota, kabupaten DIY. Di kelompok seni dan budaya mereka belajar tentang nilai-nilai estetika dan kebudayaan jawa.

Yang tak ketinggalan ada di sana ialah kelompok pemuda RW/RT. Di kelompok pemuda RW/RT mereka belajar organisasi kepemudaan dan belajar tentang keamanan lingkungan serta belajar berkontribusi kepada masyarakat sekitarnya. Di kelompok pemuda remaja mesjid mereka belajar tentang nilai-nilai keagamaan yang berorientasi mesjid dan wawasan Islami. Di Asrama Mualimat mereka belajar bersosialisasi dan pelajaran sekolah umum Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Ibtidayah. Pada acara hajatan, misalnya pernikahan dan sunatan mereka belajar tentang sosialisasi dan gotong royong atau acara-acar yang bersifat kemasyarakatan. Pada acara-cara perayaan kebangsaan mereka belajar tentang nilai-nilai kebangsaan seperti peringatan dan lomba tujuh belasan. Di hari-hari besar keagamaan mereka belajar tentang nilai-nilai keagamaan sesuai dengan hari raya besar saat itu. Misalnya hari raya Idulfitri, hari raya Maulid Nabi SAW, Natal, Paskah dan lainnya.

Selain itu, di sana juga ada stasiun Radio Prakosa 97, 4 FM. Di Stasiun Radio Prakosa 97, 4 FM, masyarakat mendengar lagu-lagu atau news pada jam siaran berita seputar Yogyakarta dan Nasional. Di Panti Asuhan Aisyiyah anak berjumlah 66 anak tersebut belajar tentang bersosialisasi dalam panti asuhan dan pekerjaan rumah sekolah. Di Rumah Belajar  mereka belajar tentang nilai Iman Kristen dan pelajaran sekolah lainnya. Di Posyandu untuk lansia dan PAUD mereka belajar tentang kesehatan, imunisasi, ibu-ibu hamil dan informasi kesehatan rumah tangga. Di lapangan sepakbola atau bulu tangkis di seluruh RW mereka belajar bersosialisasi dan belajar olah raga dari pengalaman setiap orang yang dipelajari lewat televisi dan koran atau majalah tentang sepakbola atau bulu tangkis yang jelas tidak diajarkan di pendidikan formal. Juga terdapat internet El Data. Di internet El Data pada umumnya mahasiswa yang tinggal mondok di PPM Muhammadiyah Attqwa, siswi Madrasah Muailimat dan masyarakat Notoparan dan di luar Notoprajan yang datang untuk relajar dan mengakses Internet tersebut sesui dengan kebutuhannya.

Yang tak kalah menarik ialah di sana ada juga sekolah informal di keluarga atau di rumah. Sekolah informal bagi orang tua atau orang dewasa belajar tentang nilai keluarga dan kehidupan lainnya. Bagi anak-anak prasekolah dan sekolah mereka belajar pelajaran sekolah dan pekerjaan rumah mandiri lainnya yang umumnya bersifat instruksional guru sekolah, atau belajar dari telivisi dan radio atau tape recorder di rumah masyarakat. Di papan-papan pengumuman yang dipajang di tiap RW/RT mereka belajar tentang pengumuman dari pihak pemerintah lewat Kelurahan atau dari RW/RT tentang infomasi lingkungan. Dari tempat baca koran yang dipajang di tiap RW/RT belajar mandiri lewat membaca berita di koran harian biasanya Jawa Pos, Bernas dan Kedaulatan Rakyat, Kompas. Di puskemas Kecamatan mereka belajar infomasi kesehatan yang dipelajari dari pamphlet yang di pajang di papan pengumuman atau saat mereka berobat.Sumber daya masyarakat Notoprajan tersebut dapat dijadikan sebagai infrastruktur  untuk menciptakan organisasi-organisasi belajar, keluarga-keluarga belajar, kelompok-kelompok lembaga-lembaga belajar dan kota-kota belajar. Semuanya itu untuk mengupayakan semua masyarakat belajar seumur hidup. Pada waktunya, setiap orang dapat mengakses program-program belajar.

Terlaksananya praksis masyarakat belajar disana tak lepas dari kontribusi pendidikan tinggi Muhammadiyah terdekat yang giat melakukan pemindahan pengetahuan (transfer of knowledge) guru ke siswa yang berjenjang dan tersusun dan berurutan yakni sejak dari Tempat Penitipan Anak sampai Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Aisyiyah di kelurahan Notoprajan-Yogyakarta. Sistem pendidikan sekolah dan pengelolaan pendidikan dirancang teratur, seragam dan terorganisir, terstruktur bahkan terlembaga tanpa membebaskan pelajarnya menemukan sendiri pengetahuannya sesuai dengan kebutuhan hidup lokal. Belajar masih berorientasi ruangan kelas. Jarang sekali murid keluar dari kompleks sekolahnya untuk belajar bersama dengan masayarakat. Padahal, sebenarnya dapat dilakukan misalnya di sungai Winongo, di pabrik tahu tempe dan jajanan pasar di kegiatan usaha ekonomi atau PKBM “Bangun Usaha” dan sebagainya. Kecuali hanya pada saat shalat Jumat berjamaah di Mesjid Paertiwi di RW 03. Banyak orang tua yang mampu menyekolahkan anak di sekolah yang sesuai dengan kemampuan, agama dan yang paling dekat rumah. Misalnya beragama Islam sekolah di SD Serangan. Orang tua yang miskin dan tidak mampu khususnya masyarakat RW I Serangan, II Serangan, III Gendingan dan IV Tejokusuman di Kelompok bermain, TK ABA, SD dan SMP Muhammadiyah. Masyarakat RW V Notoprajan, VI Ndalem Notoprajan, VII Suronatan dan VIII Suronatan sekolah di Kelompok bermain ‘Aisyiyah, TK ABA, SD. Masyarakat sekuler mengikuti aktivitas belajar di Taman Penitipan Anak Amalia. Masyarakat beragama Kristen dan Katolik di Rumah Belajar Tejokusuman.

Tujuan dari masyarakat belajartersebut ialah untuk menciptakan budaya Islam. Itu digarap dengan beberapa cara. Pertama, pengajian silahturahmi wali murid,guru,komite sekolah sebulan sekali dilaksanakan pada minggu ke-Muhammadiyah dengan penyelenggara tiap kelas secara bergilir. Kedua, pertemuan guru dengan wali murid sebulan sekali membahas perkembangan pelajar siswa. Ketiga,  pembiasaan shalat dhuha kkepada sluruh siswa. Keempat,  shalat dhuhur berjamaah di sekolah setiap hari (siswa kelas III s.d VI ). Kelima, shalat jumat di mushola sekolah. Keenam, pukul 06.30-07.30 dilangsungkan iqra’untuk kelas  I s.d III. Ketujuh,Sebelum jam pertama di mualai dilaksanaka tadarus Al Qur’an. Kedelapan,semua sekolah senantiasa berpakaiyan sesuai sarikat islam. Kesembilan,gambar bermuansa islam dan kaligrafi terpampang di setiap dinding sekolah. Kesepuluh, diadakan pesantren Ramadhan,malam taqarub,dan kegiatan lain yang islami. Kesebelas, pengumpualan dan sosial harian untuk menumbuhkan semangat bershadaqah. Kedua belas, bakti sosial kemasyarakat. Ketigabelas, dialaksanakan pantauan shalat serta beda siswa melalui buku pantauan oleh orang-oarang tua/guru.

Dimana Masyarakat Belajar Dilakukan?

Sesuai dengan studi kasus yang dilakukan di kelurahan Notoprajan, maka ada beberapa tempat pelaksanaannya yang dapat dijelaskan di sini. Pertama, di pendidikan formal yakni di Sekolah Tinggi Ilmu kesehatan ‘Aisyiyah, SMA, SMP, SD, TK, TPA. Kedua, di pendidikan nonformal untuk orang dewasa ada di PKBM ”Bangun Usaha Bersama”: Kelompok Usaha Bersama (KUBe) untuk usaha tempe dan tahu, usaha jajanan pasar. Kelompok-kelompok seperti arisan Hapsari setingkat kelurahan dan arisan ibu-ibu setingkat RW/RT. Dari delapan RW dan 51 RT di Kelurahan Notoprajan semuanya memiliki arisan ibu-ibu. Kelompok-kelompok pengajian ibu-ibu dan  bapa-bapa setingkat RW/RT di Kelurahan memiliki kedua kelompok pengajian ini. Pertemuan RW/RT. Kelompok-kelompok seni dan budaya. Kelompok pemuda RW/RT. Kelompok pemuda remaja mesjid. Asrama Mualimat.

Pada acara hajatan, misalnya pernikahan dan sunatan. Pada acara-cara perayaan kebangsaan dan dan hasri-hari besar keagamaan. Di Radio Prakosa 97,4 FM. Panti Asuhan Aisyiyah. Kelompok kepanduan Pramuka Hizbul Waton milik muhammadiyah di RW, V,VI, VII dan VIII. Taman Pendidikan Anak di Mesjid se-Kelurahan Notoprajan. Kelompok ‘Aisyiah, Rumah Belajar  Anak usia Prasekolah dan sekolah dan “Pembinaan Rohani Umat Gereja Pantekosta di Indonesia di RW 04, RT 27 Klurahan Notoprajan. Di lapangan sepakbola atau bulu tangkis yang tersedia di seluruh RW. Pendidikan informal yakni di keluarga atau di rumah-rumah penduduk. Di papan-papan pengumuman dan tempat baca koran yang dipajang di tiap RW/RT. Di puskemas Kecamatan.

Aktifitas sosial yang dilakukan dalam rangka belajar. Di pendidikan formal belajar terorgansisir atau terlembaga. Di pendidikan norformal belajar bebas tidak terstruktur atau terlembaga, cenderung bebas, sesuai dengan kebutuhan dan pilihan pembelajarnya. Misalnya. Di kelompok pengajian mereka belajar tentang nilai-nilai keagamaan. Di arisan mereka belajar informasi tentang ekonomi, kesehatan ibu dan anak dan kebersihan lingkungan. Umumnya hal ini diperoleh dari fasilitator yang didatangkan pihak kelurahan atau dari nara sumber lainnya yang dicari oleh kelompok tersebut.

Di TPA di rumah-rumah, masjid belajar tentang nilai-nilai agama dan belajar membaca Al Quran. Di Kelompok KUBe mereka belajar tentang teori dan praktek usaha yang berhubungan dengan ekonomi keluarga. Di Hizbul Waton mereka belajar tentang ajaran Muhammadiyah dan olah raga seperti karate, silat dan ilmu beladiri lainnya. Di ‘Aisyiah pada umumnya wanita mereka belajar tentang  organisasi dan kepartaian, isu-isu gender dan tema-tema sosial lainnya. Di pertemuan-pertemuan RW/RT biasanya bapa-bapa belajar issu lingkungan. Pertemua ini umumnya juga sebagai media perantara atau sosialisasi kebijakan pemerintah provinsi, kota, kabupaten DIY. Di kelompok seni dan budaya mereka belajar tentang nilai-nilai estetika dan kebudayaan Jawa.

Di kelompok pemuda RW/RT mereka belajar organisasi kepemudaan dan belajar tentang keamanan lingkungan serta belajar berkontribusi kepada masyarakat sekitarnya. Di kelompok pemuda remaja mesjid mereka belajar tentang nilai-nilai keagamaan yang berorientasi mesjid dan wawasan Islami. Di Asrama Mualimat mereka belajar bersosialisasi dan pelajaran sekolah umum Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Ibtidayah. Pada acara hajatan, misalnya pernikahan dan sunatan mereka belajar tentang sosialisasi dan gotong royong atau acara-acar yang bersifat kemasyarakatan. Pada acara-cara perayaan kebangsaan mereka belajar tentang milai-nilai kenagsaan seperti peringatana dan lomba tujuh belasan. Di hari-hari besar keagamaan mereka belajar tentang nilai-nilai keagamaan sesuai dengan hari raya besar saat itu. Misalnya hari raya Idulfitri, hari raya Maulid Nabi SAW, Natal, Paskah dan lainnya.

Di Stasiun Radio Prakosa 97, 4 FM. Masyarakat mendengar lagu-lagu atau news pada jam siaran berita seputar Yogyakarta dan Nasional. Di Panti Asuhan Aisyiyah anak berjumlah 66 anak tersebut belajar tentang bersosialisasi dalam panti asuhan dan pekerjaan rumah sekolah. Di Rumah Belajar  mereka belajar tentang nilai Iman Kristen dan pelajaran sekolah lainnya. Di Posyandu untuk lansia dan PAUD belajar kesehatan, imunisasi, ibu-ibu hamil dan informasi kesehatan rumah tangga. Di lapangan sepakbola atau bulu tangkis di seluruh RW mereka belajar bersosialisasi dan belajar olah raga dari pengalaman setiap orang yang dipelajari lewat televisi dan koran atau majalah sepakbola atau bulu tangkis yang tidak diajarkan di pendidikan formal.

Ketiga, di pendidikan informal keluarga atau di rumah, bagi orang tua atau orang dewasa belajar tentang nilai keluarga dan kehidupan lainnya. Bagi anak-anak prasekolah dan sekolah mereka belajar pelajaran sekolah dan pekerjaan rumah mandiri lainnya yang umumnya bersifat instruksional guru sekolah, atau belajar dari telivisi dan radio atau taperecorder di rumah masyarakat. Di papan-papan pengumuman yang dipajang di tiap RW/RT mereka belajar tentang pengumuman dari pihak pemerintah lewat Kelurahan atau dari RW/RT tentang infomasi lingkungan. Dari tempat baca koran yang dipajang di tiap RW/RT belajar mandiri lewat membaca berita di koran harian biasanya Jawa Pos, Bernas dan Kedaulatan Rakyat, Kompas. Di puskemas Kecamatan mereka belajar infomasi kesehatan yang dipelajari dari pamphlet yang di pajang di papan pengumuman atau saat mereka berobat.

Terlaksananya, masyarakat belajar di Kelurahan Notoprajan menghasilkan aktifitas dan interaksi sosial masyarakat. Intraksi sosial yang dilakukan inilah yang dimaknai sebagai proses pembelajaran dari dan untuk kehidupan. Oleh karena itu, hubungan ini akan tampak jelas dalam keseharian masyarakat. Masyarakat dalam beraktivitas melakukan interaksi yang disebut dengan interaksi simbolik. Masyarakat dalam beraktivitas melakukan interaksi yang disebut dengan interaksi simbolik. Untuk memahami interaksi masyarakat harus dipahami prinsip umum interaksionisme simbolik masyarakat.

Dalam berinteraksi terjadi sebab musabab interaksi sosial. Dalam hal ini masyarakat menggunakan simbol dan lewat bahasa dalam aktivitas setiap harinya. Studi kasus masyarakat di RW VII yang dilakukan menggambarkan bahwa ”masyarakat di RW ini melakukan aktivitasnya dengan sangat bernuansa agamis. Hal inilah yang menyebabkan masyarakat non Notoprajan berkeinginan kumpul disini karena mencari suasana yang Islami”, demikian diungkapkan oleh Bpk Zainul Aini ketua RW VIII Suronatan.

Realitas setiap harinya misalnya tergambar adanya pengajian yang dilakukan setiap senin dan kamis juga setiap jumat dan minggu pagi harinya. Juga diadakan pengajian malam oleh kepala-kepala keluarga setiap minggu kedua setiap satu bulan sekali. Aktivitas ini dilakukan di pesantren Masjid Attaqwa. Aktivitas ekonomi lainnya adalah banyak masayarakat di RW VIII ini yang membuka usaha rumah tangga sekitar dari Suronatan yang berasal dari lulusan pesantren Muhammadiyah Attaqwa Suronatan. Hal ini menunjukkan dalam aktivitas atau interaksi sosial alinnya mereka mudah untuk saling memahami sati dengan yang lainnya.

Interaksi sosial lainnya adalah masyarakat disini bergotong royong bersama setiap minggu paginya dalam rangka mengikuti lomba taman di setiap rumah di setiap RT di seluruh wilayah RW 8. Hal ini karena ditunjuk Kelurahan sebagai wakil kelurahan Notoprajan. Hal ini sebagai tindak lanjut dari program Pemerintah Kota Yogyakarta dalam ”Jogjaku Hijau sejak tahun 2007. Lalu, Aktivitas interaksi sosial masyarakat lain adri kelompok ibu-ibu PKK RW Hapsari, Posyandu, ibu-ibu PKK RT, PAUD pertemuannya setiap 2 kali dalam sebulan, setiap minggu pertama dan Taman Kanak-Kanak. Kemudian, interaksi sosial di Play Group yang dikelola Aisyiyah Ranting Suronatan. Ada juga interaksi soaial bagi lansia yang dilakukan di Pondok Pesantren Muhammadiyah Masjid  Attaqwa.

Lalu, interaksi sosial yang fasilitasi pengurus RW VIII Suronatan lainnya dalam hal membantu masyarakat setingkat RT yang tergolong dalam ekonomi tidak mampu, ataupun di bawah garis kemiskinan didata oleh RT disampaikan ke RW. Lalu RW mendaftarkan mereka ke dinas sosial Aisyiyah,  Program Keluarga Miskin (KAKIN), Departemen Sosial dan Badan Pusat Statistik agar pihak-pihak ini membantu mereka. Interaksi lainnya adalah bantuan bagi masyarakat usia sekolah atau dewasa yang tidak mampu atau putus sekolah, tidak memiliki pekerjaan diikutsertakan untuk belajar di PKBM ”Bangun Usaha” Gendingan.

Pemahaman interaksi sosial masyarakat Notoprajan yang telah diteliti di atas menunjukkan masyarakat terstratifikasi dan memiliki  kelas sesuai dengan Fungsionalisme Struktural Stratifikasi Masyarakat ini memerlukan stratifikasi. Artinya untuk saling membatu sesuai dengan kebutuhan mereka. Stratifikasi sebagai struktur tidak mengacu kepada individu di dalam sistem stratifikasi, tetapi dalam sistem posisi atau kedudukan. Yakni bagaimana cara posisi tertentu mempengaruhi. Dan, bagaimana cara struktur masyarakat dalam hal ini pengurus RW dan RT memotifasi, menempatkan dan persyaratan individu pada posisi mereka yang tepat. Masyarakat RW VIII  menjalankan  struktur sosialnya. dinyatakan dalam aktivitasnya. Selanjutnya, ada sistem yang berlaku dalam fungsionalisme sturuktural masyarakat. Sistem tersebut adalah mereka saling membantu. Misalnya pengrus RW dan RW mendata warganya yang tergolong KAKIN dan putus sekolah untuk dibantu untuk mendapatkan subsidi pemeritah tentang beras miskin sedangkan warga dewasa atau putus sekolah diberdayakan dengan cara mengikutkannya belajar di PKBM ”Bangun Usaha” Gendingan Notoprajan.

Interaksi sosial lainya, misalnya masyarakat belajar dari simbol yang mereka kenakan. Misalnya, hal ini setidaknya terlihat dari bukti fisik dalam hal busana yang mereka gunakan. Misalnya baju koko, peci, beberapa orang mengenakan celana panjang di atas tumit kaki dan jilbab bagi wanita. Sering pada saat akan melakukan wawancara apabila yang menjadi sumber data adalah wanita, sebelum mereka bertemu dengan peneliti, wanita di sana sebelumnya tidak mengenakan jilbab sebelumnya di dalam rumah, tetapi saat bertemu peneliti mereka akan menggunakan jilbab dahulu lalu akan memulai wawancara, tanpa ada salaman tangan. Ditemukan alasannya adalah karena bukan mukrim dan makromnya maksudnya bukan istri atau suami sah mereka sendiri. Umumnya ini sering ditemui saat akan mewawancarai atau observasi di  pengurus Aisyiyah, pengurus Nasyiatul, pamong dan ustadzah, mujdjanibah dan siswi Madrasah Mualimat, ibu-ibu pengurus PKK, ibu-ibu arisan, guru kelompok bermain Belia Ceria, pendidik dan pendamping TK ABA Notoprajan, pendidik dan pendamping TK ABA Suronatan, pendidik dan pendamping TK ABA Gendingan, guru dan staf SD Suronatan, guru dan staf SD Serangan, guru dan staf SD Ngabean, guru dan staf SMP Muhammadiyah 6 Notoprajan, PKBM, dosen dan staf Stikes Aisyiyah Serangan, dan ibu-ibu jika akan keluar rumah mereka. Bagi laki-laki banyak juga ditemukan busana muslim ditempat yang sama. Penampilan fisik mereka yang lain seperti berjanggut dan tanda-tanda fisik lainnya. Hal itu jika diamati sesuai teori interaksi sosial.

Dalam proses interaksi sosial, manusia secara simbolik mengkomunikasikan arti terhadap orang lain yang terlibat. Orang lain menafsirkan simbol komunikasi itu dan mengorientasikan tindakan balasan mereka berdasarkan penafsiran mereka. Dengan kata lain, dalam interaksi sosial para aktor terlibat dalam proses saling mempengaruhi, (Ritzer & Goodman, 2003: 294). Masyarakat Notoprajan mempelajari simbol dan makna di dalam interaksi sosial. Mereka menanggapi simbol dengan cara berpikir. Tanda-tanda mempunyai artinya sendiri. Simbol adalah objek sosial yang dipakai untuk merepresentasikan atau menggantikan apapun yang disetujui orang yang akan mereka representasikan

Kasus yang lain, banyak di gang di seluruh kelurahan Notoprajan tertulis antara lain; 1) tolong matikan mesin; 2) jam belajar masyarakat pukul 19.00-21.00 wib; 3) dilarang parkir di depan pintu; 4) jam berkunjung hari biasa pukul 09-21.00 wib hari sabtu dan libur 08.00-22.00 wib; 5) dilarang buang sampah disungai; 6) dilarang kencing disini; 9) pos klamling; 10) gang buntu; 11) dilarang meminta sumbangan kecuali izin dari RW atau RT; 12) keluarga miskin;13) Jl. Nyai Ahmad Dahlan; 14) dan sebagainya. Banyak dijumpai tulisan dan bahasa simbol seperti ini di Notoprajan. Seperti telah ada konsensus hal itu adalah sebuah keharusan untuk ditaati. Apa yang telah dijelaskan di atas adalah sebuah bahasa tertulis. Yang harus dipahami oleh setiap orang yang membacanya untuk berpikir. Jadi, dengan melihat apa yang tertulis itu, setiap orang langsung paham apa maksudnya.            

untuk mengakhiri tulisan ini, secara tegas saya tuliskan bahwa terlihat tanggung jawab pembangunannya bergantung kepada pemerintah dan persyarikatan Muhammadiyah dengan segala amal usahanya saja. Masyarakat lainnya hanya menunggu perubahan yang akan terjadi. Masyarakat kurang berpartisipasi. Meskipun ada, media teknologi dan informasi lewat internet dan Radio belum dimanfaatkan secara optimal untuk menyebarluaskan budaya edukasi masyarakat kecil urban tersebut. Pemerintah telah menjawab peluang ini namun ergerak dengan model konvensional walaupun beberapa bagian layanan publiknya masih layak pakai dan terus dikembangkan. Hadirnya, tulisan ini seharusnya menjadi “lovely notice”, maksudnya memperingatkan dengan kasih sayang agar  seluruh lapisan masyarakat yang ada secara bersama-sama aktif dan berpartisipasi. Selamat Milad 107 Muhammadiyah.

Tinggalkan Balasan