Siapa yang bilang bahwa Muhammadiyah hanya mau mendidik anak-anak dan masyarakat kaya di kota? Siapa pula yang  berani sesumbar bahwa “Wong cilik” itu hanya kaplingan Partai tertentu saja? Saya, sebagai pendeta Kristen dalam rangka memberikan sumbangsih perayaan Milad 107 tahun Muhammadiyah ada di dunia oleh ridha Allah menjukkan sisi unik dari organisasi dakwah masyarakat Islam ini dari sisi lain, Muhammadiyah juga mendidik masyarakat miskin urban. Tulisan ini, saya ambil dari tesis sendiri yakni, Elia Tambunan, Learning Society: Studi Kasus Kelurahan Notoprajan–Yogyakarta. Yogyakarta: Program Pascasarjana, Universitas Negeri Yogyakarta, 2008.

Secara teoritis, dalam dunia pendidikan dikenal konsep learning society atau masyarakat bejalar yang dapatdilakukan dimana saja dan kapan saja. Maknanya adalah terdapat aktivitas belajar di dalamnya. Aktivitas belajar diperoleh lewat interaksi sosial masyarakat. Dalam konsep larning society itu belajar ada dalam kehidupan nyata yang pada awalnya digagas untuk masyakarat kota yang tidak punya akses berpendidikan oleh kegagalan sistem kapitalisme direngkuh oleh masyarakat biasa tetapi sukses dimonopli oleh kaum kaya.Agar mudah memahami konsep ini, silahkan baca Torsten Husen, The Learning Society, Oxford, England: Pergamond Press, Ltd, 1986.

Saya dengan konsep masyarakat belajar itu hendak menunjukkan bahwa pengembangan pendidikan Muhammadiyahsangat tepat dilihat.Jadi, dari bingkai pemikiran masyarakat belajar maka organisasi dakwah ini mencoba untuk merumuskan kembali ide dasar dan filosofi Muhammadiyah agar mampu mengantisipasi perubahan masyarakat dan perkembangan peradapan. Hal ini dilakukan lewat amal usahanya dalam bidang pendidikan sejak dari TK ABA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA, sampai Sekolah Tinggi Kesehatan Aisyiyah dan Pondok Pesantren, (Suara Muhammadiyah. No 09/Th. Ke-92/1-15 Mei 2007).

Apabila dicermati model-model sekolah Muhammadiyah dari kaca mata Kelurahan Notoprajan berbasis pada empat jenis lembaga pendidikan Islam yang dapat mengambil peran dalam memberdayakan umat yaitu sekolah Islam berbasis pondok pesantren, sekolah Islam berbasis pada Masjid, sekolah Islam pada sekolah atau madrasah, dan sekolah Islam berbasis pada pendidikan umum. Artinya, masyarakat belajardi Kelurahan Notoprajan dilakukan untuk mengoptimalkan infrastruktur atau sumber daya yang telah tersedia di masyarakat dan untuk mengatasi hambatan dalam membudayakan learning society.masyarakat belajar dilakukan di pendidikan formal, nonformal, informal keluarga dan di Pemerintah kelurahan Notoprajan. Tetapi pelaksanaannya perlu mengupayakan integrasi, keterhubungan, kombinasi, dan transformasi agar terciptamasyarakat belajar.

Baca Juga:  Re-Branding Islam Indonesia: Menyoal Islam Kepulauan

Praksis nyata dari masyarakat belajardiperkirakan terjadi diawali oleh K.H. Ahmad Dahlan di Kampung Kauman, saat mendirikan sekolah Muhammadiyah tahun 1911 dan Aisyiyah tanggal 19 Mei 1917. Tetapi, jika dilihat secara administrativ pemerintahan, learning society dimulai saat pembentukan Kelurahan Notoprajan berdasarkan Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor: 23 Tahun 1989. Pelaku learning society adalah seluruh populasi penduduk Kelurahan Notoprajan yakni sebanyak 9632 orang. Praksis edukasi masyarakat kecil terpinggirkan yang hidup di pinggiran kali lewat pendidikan formal, nonformal, informal dan pemerintah kelurahan Notoprajan sebagai jaringan masyarakat belajarmenunjukkan bibit-bibit kerjasama dari semua lapisan namun masih secara hibrids.

Kinerja Metodologis Yang Dilakukan

Tempat penelitian di Kelurahan Notoprajan, Kecamatan Ngampilan, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.Objek kajian dari tulisan ini ialah masyarakat belajaryang dihendel oleh organisasi masyarakat Islam di Indonesia yakni Muhammadiyah.Pada awalnya, penelitian untuk keperluan tesis ini sebenarnya tidak direncanakan. Melainkan dahulu merupakan “ide liar” karena kegiatan pengembangan masyarakat lewat “Rumah Belajar” bagi anak usia prasekolah dan sekolah, yang saya lakukan ketika menjadi pendeta perintis jemaat Kristen dalam bidang “pembinaan rohani jemaat Gereja Pantekosta di Indonesia “Tejokusuman NG II/516 Rt 27 Rw 04 Kelurahan Notoprajan sejak 3 Juni 2004 hingga 19 Juli 2012. Lokasi inilah awalnya tempat penelitian tetapi berkembang menjadi seluruh kelurahan Notoprajan, Kecamatan Ngampilan, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Notoprajan dengan caracase study, atau stdui kasus. Cara ini adalah bentuk penelitian yang mendalam tentang suatu aspek lingkungan sosial termasuk manusia di dalamnya, dapat pula mengenai perkembangan sesuatu, dapat pula memberi gambaran tentang keadaan yang ada, tepatnya ialah situasi sosial.Untuk memahami situasi sosial tersebut maka digunakan tehnik mengumpulkan data dengan cara kepustakaan, tehnik dokmentasi, dan mengumpulkan data lapangan secara observasi dan wawancara.

Sumber data yang ada ialah Lurah Notoprajan, pegawai kelurahan Notoprajan, pegawai Pukesmas, koramil, pengurus RW, pengurus RT, pengurus arisan ibu-ibu, pengurus dan peserta belajar di PKBM “Bangun Usaha”, pengurus ibu-ibu PKK, pengurus ibu-ibu Aisyiyah, pengurus, ibu-ibu dan bapak-bapak pengajian, guru dan peserta mengaji, pengurus dan anak-anak tempat penitipan anak Amalia, pengurus panti asuhan Aisyiyah, pengurus taman bacaan di mesjid, takmir mesjid, pengurus usaha tahu tempe dan jajanan pasar, pengurus asrama dan siswa-siswi Mualimat, pengurus rumah belajar, dosen dan mahasiswi sekolah tinggi ilmu kesehatan Aisyiyah, kepala sekolah, guru TK Bustnul Atfal, SD Muhammadiyah Notoprajan dan Suronatan, Negeri Serangan dan Ngabean  SMP 6 Muhammadiyah, pengelola les privat, staff radio Sonora FM, pengelola internet “El Data”, orang tua di rumah warga kelurahan Notoprajan, penjual dan masyarakat di angkringan, penjaga warung, tukang parkir, peronda pos kamling, pemilik rumah bordir dan konveksi pakaian, pemilik kursus menjahit, pemilik usaha kordin, dan masyarakat lainnya sampai data penelitian dirasa telah mewakili data yang dibutuhkan.

Baca Juga:  Penolakan Ustad Firanda Andirja: Problem Akal Sehat dan Hati Nurani

Studi kasus dilakukan di RW I Serangan, RW II Serangan, RW III Gendingan, RW IV Tejokusuman, RW V Notoprajan, RW VI Ndalem Notoprajan, RW VII Suronatan dan VIII Suronatan. Lokasi penelitian ini sangat dipengaruhi oleh pendidikan Islam dan organisasi masyarakat Muhammadiyah Karena itu,  lokasi ini kental dengan kedua hal itu, Namun demikian, ada juga beberapa daerah pengaruhnya semakin lemah atau semakin kuat. Lokasi penelitian ini juga dipengaruhi langsung oleh budaya Kraton Yogyakarta.Tetapi, di bagaian barat ke arah Kali Winongo dan arah Timur kali Code yang secara langsung membatasi pengaruh langsung pendidikan Islam dan organsasi masyarakat Muhammadiyah. Hal ini terlihat karena masyarakatnya sangat sekuler dan heterogen, misalnya, RW I dan II Serangan, RW III Gendingan, RW IV Tejokusuman di bagian Barat Kauman dan Gondomanan, Prawirodirjan dan Tungkak di bagian Timur Kauman.

Masyarakat Islam Kelurahan Notoparajan ialah gambaran luas dari “Wong Cilik”Indonesia yang hidup di kawasan urban Indonesia setiap hari. Masyarakat Islam Muhammadiyah tepatnya, satu lapisan sosial masyarakat Indonesia dari komunitas beriman Islam yang tergolong manusia biasa saja tetapi menunjukkan semangat juang tak terbendung untuk berhasil menduduki kota metropolitan di Indonesia, yakni Yogyakarta. Akan tetapi keklahan kapital ekonomi menggiring mereka untuk mendidami sisi sungai kota tetapi bukan lantas mentalistas mereka menjadi orang-orang kalah seperti yang biasa dijustifikasi oleh para peneliti Barat dan pengikutnya.  Memang, harus diterima apa adanya bahwa semakin jauh masyarakat Muhammadiyah dari pusat ajarannya, misalnya dari Kauman atau dari kelurahan Notoprajan, pengaruh sekolah, kehidupan sehari-hari ajaran Islam Muhammadiyah pengruhnya semakin melemah. Untuk mengantisipasi kenyataan tersebut, Muhamadiyah dengan segala amal usahanya harus meningkatkan kualitas.

Baca Juga:  Setelah Puasa, Lalu Apa?

Dahulu, pendiri Muhammadiyah memandang pendidikan sebagai salah satu cara strategi memajukan kehidupan umat Islam. Oleh karena itu, K.H. Ahmad Dahlan ketika memulai gerakan Muhammadiyah, Ia memprioritaskan pada upaya pendidikan disamping usaha sosial lainnya. Akan tetapi, bagaimanapun juga, kenyataan Kelurahan Notoprajan hendak menegaskan satu dalil yang menetapkan bahwa kontribusi Muhammadiyah lewat lembaga pendidikan tidak dapat diingkari oleh siapapun.

Untuk itu perlu kiranya data yang ada ditelusurusi. Sedikitnya, berdasarkan data monografi kelurahan notoprajan semester I tahun 2006, Kelurahan Notoprajan terbentuk berdasarkan Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor: 23 Tahun 1989. Kelurahannya adalah kelurahan Notoprajan. Bernomor Kode 34.71.00.0000. Di bawah Kecamatan Ngampilan. Kabupaten Kota Dati II Yogyakarta Propinsi Dati I Daerah Istimewa Yogyakarta. Luas wilayah kelurahan adalah 36050 Ha. Batas wilayah sebelah utara Kelurahan Ngampilan, sebelah selatan Kelurahan Gedongkiwo, sebelah Barat Kelurahan Wirobrajan, sebelah Timur Kelurahan Ngupasan

Kondisi geografis berada di ketinggian tahah dari permukaan laut 114 M. Banyaknya curahan hujan 1500-2500 mm/thn. Tofografinya (dataran rendah, tinggi, pantai) dataran rendah. Suhu udara rata-rata 32 c. Orbitan jarak dari pusat pemerintahan kelurahan. Jarak dari pusat pemerintah kecamatan 3 Km. Jarak dari ibu Kota kabupaten/kotamadya daerah tingkat II 3 Km. Jarak dari ibu Kota  propinsi Dati I 25 Km. Jarak dari ibu Kota  Negara 565 Km. Keamanan lingkungan dilakukan dengan pembinaan hansip sejumlah anggota laki-laki sebanyak 75 orang, perempuan sebanyak 21 orang. Alat pemadam kebakaran sebanyak 1 buah. Jumlah hansip telatih  sebanyak 96 orang. Ketentraman dan ketertiban serta jumlah kejadian kriminal 1 kali. Jumlah operasi penertiban 3 kali, jumlah penyuluhan 2 kali, jumlah pos kamling 17 kali, jumlah peronda kampung 52 kelompok, jumlah satpam 7 orang.

Di kawasan ini terdapat Kelembagaan kelurahan dengan jumlah pengurus LKMD/LPMK sebanyak 27 orang. Jumlah kader pembangunan desa 18 orang. PKK, jumlah tim penggerak PKK 33 orang, jumlah kader PKK 108 orang.  Pada bidang kemasyarakatan, keagamaan yakni majelis Ta’lim 11 kelompok, 240 anggota, Majelis gereja 2 kelompok, 175 anggota, remaja masjid 11 kelompok, 225 anggota. Pemeluk agama Islam sebanyak 7222 orang, Kristen sebanyak 961 orang, Katholik sebanyak 1433 orang, Budha sebanyak 6  orang. Peternakan ayam kampung 1435 ekor, itik 20 ekor. Perdagangan atau jasa toko 102 buah, warung 30 buah, kaki lima 155 buah, super market 1 buah. Jasa bank 1 orang, travel biro 1 orang, notaris 2 orang, pengacara 1 orang. Perkoperasian lumbung kelurahan 1 buah, badan-badan kredit 3 buah, usaha ekonomi desa 1 buah, lain-lain 8 buah. Perumahan dan jenis pemukiman rumah permanen 1586 buah, rumah semi permanen 125 buah, rumah  non permanen 11 buah. Jumlah proyek di kelurahan yang dibiayai oleh swadaya masyarakat 5 buah. Di bidang kesehatan ada jumlah pos KB 1 buah. Jumlah posyandu 8 buah. Jumlah Puskesmas 1 buah. Tenaga dokter Puskesmas 4 orang. Tenaga perawat Puskesmas 4 orang. Tenaga bidan Puskesmas 3 orang.

Tinggalkan Balasan