Strategi siar yang jenius

Ada pendapat menarik dari Aksin Wijaya, dalam seminar Literasi Islam Nusantara bersama Ahmad Baso (keduanya adalah penulis buku-buku tentang Islam Nusantara) pada momen pelantikan PC ISNU Ponorogo, 27 Desember 2018 – yang kebetulan penulis menjadi moderatornya. Mengawali pendapatnya, ia menyatakan kegelisahan bahwa saat ini Islam Nusantara masih tetap ditolak oleh sebagian kelompok.

Menurut penulis buku Menusantarakan Islam ini, penolakan tersebut tidak terlepas dari kondisi intelektual masyarakat kita yang terbagi dalam empat kategori: pertama, rasional pro Barat, kedua, tekstual pro Arab, ketiga, pecinta tradisi dan nasionalisme tetapi kikuk atau bahkan jumawa saat berhadapan dengan Barat ataupun Arab, dan keempat, berlatarbelakang sama seperti kelompok ketiga tetapi tidak bermasalah dengan Barat-Arab.

Dalam upaya mendiseminasikan hakikat Islam Nusantara, diperlukan strategi siar yang jenius. Kelompok keempat-lah yang mestinya mengambil peran ini, karena ia ada pada posisi yang lebih ideal untuk melakukannya. Dengan tidak memiliki masalah secara epistemologis, karena ia menyadari pentingnya tradisi atau budaya dan gairah nasionalisme, maka kelompok ini dapat secara tulus menjalankan ikhtiyar tersebut. Kemudian karena tidak memiliki rasa inferior atau sebaliknya terhadap peradaban lain, dengan beranggapan bahwa semua manusia adalah setara, maka kelompok ini dapat lebih adil dalam bersikap. Dan tentu saja bukan sebatas istilahnya saja yang disiarkan, melainkan juga substansi dari istilah Islam Nusantara itu sendiri.

Dengan mengerahkan berbagai kemampuan kalangan terdidik (santri) di lingkungan NU, salah satu cara strategis adalah dengan memanfaatkan media baru (new media), yakni internet. Selain menggunakan metode dakwah “konvensional” dari panggung ke panggung, dari podium ke podium, dari artikel ke artikel, dan seterusnya, penggunaan media baru adalah mutlak dilakukan. Di masa kini, di mana lebih banyak sasaran dakwah adalah kalangan milenial, maka menggunakan cara berkomunikasi ala mereka tak dapat dihindari. Dan NU terbukti dapat menjalankan strategi ini dengan baik.

Baca Juga:  NU dan Upaya Diseminasi Islam Nusantara (2)

Dari kalangan muda NU, dapat dengan mudah ditemukan karya-karya mereka untuk menyiarkan Islam Nusantara dalam berbagai genre. Komunitas yang bergerak mandiri seperti Islam Nusantara Center, Islami.co, Alif.id, Bincangsyariah.com, Langgar.co, dan lain sebagainya, maupun yang ada di bawah koordinasi pengurus NU seperti NU Online, TV9, Bangkit Media, Ayo Mondok, dan lain sebagainya, dapat mengambil peran untuk menjadi komunikator yang baik bagi nilai-nilai esensial Islam Nusantara di kalangan milenial. Belum lagi komunitas atau individu lain seperti Dunia Santri Community, Santri Design Community, AIS (Admin Instagram Santri) Nusantara, Pusaka Nusantara, dan masih banyak lagi.

Upaya-upaya sistematis maupun sporadis yang ditempuh oleh generasi muda NU ini harus diakui bermuara pada visi yang sama, yakni mendunianya ajaran Islam yang ramah sebagaimana karakter khas masyarakat Nusantara. Untuk menyebutkan beberapa hasil dari strategi siar yang jenius tadi, dapat dilihat sebagaimana dicatat oleh Arifi Saiman, salah seorang direktur di Kemenlu RI (The Jakarta Post, 2019), bahwa Islam Nusantara telah menjadi semacam soft power diplomacy yang dilakukan oleh bangsa ini dan berguna untuk bangsa di negeri lain. Di antaranya adalah di Afghanistan, dengan adanya pendirian Nahdlatul Ulama Afghanistan (NUA) dan diminati pula oleh Lebanon, Sudan, Turki, hingga Rusia dan Belgia. Bahkan negara terakhir ini dikabarkan tertarik untuk mengundang para ulama NU untuk menjadi imam di 168 masjid yang ada di negeri ini. Ragam kabar ini tentu menjadi sesuatu yang menggembirakan.

Penutup

Jika menghitung Muktamar 2015 adalah saat “lahir’-nya Islam Nusantara, maka tahun 2019 ini adalah tahun keempatnya. Masih sangat dini bagi sebuah “proyek besar” NU untuk mendiseminasikan ajaran Islam untuk harmoni dunia. Namun, tanpa mengenal tahun sekalipun, karena memang sejatinya Islam Nusantara telah berabad lamanya eksis sebagai pemahaman, pengamalan, dan pengalaman Islam khas Nusantara, ia akan senantiasa membawa berkah untuk kita semua. Islam ahlussunnah wal jama’ah, Islam rahmatan lil alamin, itulah jua Islam Nusantara.

Baca Juga:  NU dan Upaya Diseminasi Islam Nusantara (1)

Berlayar dan menyelam bersama Syekh Fansuri

Ngopi dan ngerokok dengan Syekh Ihsan

Itulah sepotret kisah dakwah NU untuk negeri

Juga untuk seru sekalian alam

Wallahul muwaffiq ila aqwamit thariq.Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan