Dalam tasawuf terdapat pembahasan tentang kondisi yang menandakan puncak pengalaman sufistik. Kondisi ini disebut wajd atau ekstase sufistik, yaitu kondisi pasivitas total pikiran dan ketiadaan kesadaran. Ekstase sufistik berkaitan erat dengan peleburan diri sufi dalam perjumpaannya dengan al-Haqq (Allah).

Ekstase sufistik mendorong seorang sufi melakukan atau mengucapkan sesuatu secara spontan (tanpa disadari). Perilaku dan ucapannya itu disebut syathahāt shūfiyyah atau ekspresi ekstase. Dalam sejarah panjang tradisi tasawuf, syathahāt kerap dianggap aneh (nyeleneh) oleh orang-orang yang tidak memahaminya atau tidak ikut mengalami apa yang dialami si sufi. Kemudian mereka menuduhnya sesat. Tuduhan semacan ini pernah diterima oleh al-Hallaj yang mengatakan, “أنا الحق”(Akulah al-Haqq/Allah). Bahkan tuduhan tersebut membuatnya dihukum mati.

Lalu apa sebenarnya syathahāt shūfiyyah itu? Abu Nashr as-Sarraj dalam kitab al-Luma’ mendefinisikan syathahāt dengan ungkapan berikut ini:

عبارة مستغربة في وصف وجد فاض بقوته، وهاج بشدة غليانه، وغلبته.

“Ekspresi yang tampak aneh; yang menggambarkan ekstase yang meluap karena kekuatannya, dan menimbulkan keributan karena tenaga dari semangat yang meluap-luap dan berlebihan.”

Namun secara etimologis, as-Sarraj mengatakan bahwa syath (bentuk tunggal dari kata syathahāt)mengacu pada kata harakah (gerakan). Karena syathahāt merupakan pergolakan batin sufi ketika ekstase yang dia alami semakin kuat. Dia mengekspresikan pengalaman ekstasenya dengan gerakan serta ucapan spontan yang terlihat dan terdengar aneh. Orang-orang yang tidak memahami ekspresi tersebut akan menganggapnya sebagai sebuah kesesatan.

Dengan demikian, munculnya syathahāt berawal dari ekstase yang meluap-luap atau syiddah al-Wajd. Dalam buku Shathahāt ash-Shūfiyyah, Abdurrahman Badawi menyebutkan bahwa syiddah al-Wajd muncul usai Munājah bi Sirr (munajat dengan Sang Misteri); yaitu pertemuan antara yang zahir dan yang zahir,  yang batin dan yang batin (secara berhadapan);atau pertemuan identikal antara seorang hamba (al-‘Abd al-Wāshil) dan Allah (al-Ma’būd al-Maushūl Ilaih). Dalam kondisi tersebut dimensi-dimensi paradoks yang saling bertentangan bertemu dan menyatu. Allah adalah yang batin dan hamba adalah yang zahir, batin-nya hamba adalah zahir-nya Allah dan batin-nya Allah adalah zahir-nya hamba.

Baca Juga:  Bolehkah Nikah Beda Agama?: Mengurai Argumen dan Meneroka Hal-Hal di Baliknya

Ekstase sufistik mengarah pada dua pencapaian. Pertama, fanā’ yaitukondisi yang menjadikan seorang sufi berada dalam ketiadaan diri; ketiadaan kesadaran dan pasivitas pikiran. Hal ini menjadikan seorang sufi masuk dalam keadaan mabuk kepayang (sakr). Kedua, penyatuan sebagai puncak pengalaman sufistik. Penyatuan ini mencakup segala bentuk penyatuan dalam terminologi tasawuf, baik hulūl, ittihād maupun penyatuan dalam arti wahdah al-Wujūd. Karena menurut Abdurrahman Badawi segala bentuk penyatuan sufistik sama-sama memungkinkan terjadinya syathahāt.

Ketika tahapan-tahapan kondisi tersebut dialami seorang sufi, pada saat itu syathahāt muncul dari dirinya secara spontan, tanpa kontrol pikiran dan kesadaran, sebagai ekspresi dari puncak pengalaman sufistiknya. Orang-orang yang tidak memahaminya akan menganggapnya sebagai racauan yang mengada-ada. Ketidakmampuan mereka menangkap dan memahaminya bisa jadi dikarenakan dua hal.

Pertama, mereka tidak mengalami pengalaman batin yang dialami oleh si sufi. Kedua, syathahāt terucap dalam bahasa penuh simbol, dalam logika bahasa yang kacau karena memuat hal-hal kontradiktif, paradoks dan berlawanan dengan penalaran rasional bahkan nalar syariat, sebagaimana yang diucapkan oleh Abu Yazid al-Busthami, “سبحاني” (Maha Suci aku), atau ucapannya berikut ini:

طاعتك لي يا رب أعظم من طاعتي لك

“Ketaatan-Mu kepadaku, oh Tuhanku, lebih agung dari ketaatanku kepada-Mu.”

Ucapan-ucapan syathahāt yang susah dipahami ini menunjukkan bahwa pengalaman sufistik (tersingkapnya rahasia-rahasia ilahi) yang dialami seorang sufi, meskipun terucap dalam bahasa dan terekspresikan dalam gerakan yang bisa dilihat, tampaknya memang tidak bisa dibahasakan (diurai) secara utuh, runut dan konseptual dengan bahasa yang mudah dipahami oleh banyak orang.

Lantas, mengapa bahasa syathahāt sedemikian rumit dan susah dipahami? Terkait ini Adonis dalam buku ash-Shūfiyyah wa as-Suryāliyah menyebutkan bahwa di dalam syathahāt terdapat dua proses kehancuran dalam diri sufi, yaitu kehancuran subjek “aku” si sufi (infijār al-Anā) dan kehancuran bahasa yang terucap dari mulutnya (infijār al-Lughah). Kehancuran subjek menyebabkan eksistensi si sufi lenyap dalam perjumpaannya (penyatuan) dengan al-Haqq. Sedangkan kehancuran bahasa menyebabkan tutur katanya susah dipahami.

Baca Juga:  Mengaji Poligami

Kehancuran subjek dan kehancuran bahasa menandakan bahwa yang berbicara sesungguhnya bukan si sufi dalam kesadarannya, melainkan Sang Misteri (as-Sirr). Si sufi berbicara bukan atas kesadaran atau kehendaknya, melainkan atas kehendak al-Haqq. Sebagaimana yang diucapkan oleh al-Hallaj:

أنا من أهوى ومن أهوى أنا

“Aku adalah Dia yang kucintai, dan Dia yang kucintai adalah aku.”

1 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan