Hasil penelitian terakhir menyimpulkan bahwa tafsir tertua di Nusantara adalah tafsir yang masih berbentuk manuskrip, tafsir Surah al-Kahfi asal Aceh. Informasi ini pertama kali diperoleh melalui katalog berbahasa Belanda karya Van Ronkel, berjudul: “Account of Six Malay Manuscript of The Cambridge University Library”. Tokoh yang paling serius mengupas tentang manuskrip ini adalah Peter G. Riddell, seorang peneliti senior Australian Collage of Theology dan SOAS University of London, ia juga berhasil mengupas intertekstualitas tafsir Jalālayn dalam Tarjamān al-Mustafīd

Manuskrip ini terdiri atas 134 halaman, setiap halamannya memiliki 11 baris, tanpa kolofon dan identitas penulis. Manuskrip anonim ini menyertakan kisah-kisah menarik, terutama tentang “Tujuh Pemuda yang tertidur” (Aṣhāb al-Kahf) yang menjadi cerita menarik sepanjang surah ini, sehingga diabadikan sebagai nama surah ke-18 dalam al-Qur’an. Tulisan dalam manuskrip ini sangat jelas dan indah, namun terdapat beberapa halaman yang tidak lengkap. Sebagaimana manuskrip tafsir di Nusantara pada umumnya, teks ayat diberi warna merah, sedangkan teks terjemahan dan tafsir berwarna hitam.

Sekarang manuskrip surah al-Kahfi ini tersimpan rapi di perpustakaan Universitas Cambrigde dengan kode katalog MS Ii.6.45. Pertanyaan tentang mengapa manuskrip berharga ini bisa sampai ke sana? Tentu sebagai imbas dari kolonialisasi bangsa Eropa di Asia Tenggara. Manuskrip ini dibawa dan dijadikan koleksi oleh seorang pelaut Belanda yang bernama Thomas Erpenius (w. 1624) sekembalinya berpetualang di Aceh pada awal abad ke-17. Jadi, paling dini dapat disimpulkan manuskrip ini telah ada sekitar tahun 1600-an.

Surah al-Kahfi memang menjadi idola tersendiri bagi muslim Nusantara, terutama karena kisah-kisah menakjubkan yang terdapat di dalam surah ini, misalnya tentang Zulkarnain (Alexander), Ya’juj dan Ma’juj (Gog and Magog), utama sekali kisah Tujuh orang pemuda yang bersembunyi di gua (The Seven Sleepers). Bahkan nama Tujuh orang pemuda bersama anjingnya yang bernama Qitmir kerap dijadikan sebagai jimat dan penangkal bencana oleh sementara masyarakat Nusantara yang gemar dengan dunia mistis.

Penemuan manuskrip al-Kahfi ini sangat penting, sebab manuskrip ini diperkirakan sezaman dengan masa hidupnya dua tokoh ulama terkenal Aceh, Hamzah Fansuri (w. 1600) dan muridnya Syamsuddin al-Sumatrani (w. 1630), sehingga wajar bila kerap dikaitkan sebagai buah karya dari salah satu di antara mereka. Ditambah lagi uraian dalam Manuskrip MS Ii.6.45 mengacu pada dimensi sufistik yang serupa dengan ajaran dua ulama di atas. Timbul anggapan bahwa manuskrip ini adalah karya yang terselamatkan atas pemusnahan dan pembersihan paham sufisme yang dilakukan Nuruddin al-Raniri (w. 1658). Walaupun anggapan ini bisa saja salah, tetapi manuskrip ini tetap berharga karena merupakan karya yang lahir sebelum dan lebih awal dari Tarjuman al-Mustafid (1675) karya Abdurrauf al-Sinkili (w. 1693).

Riddel telah berupaya membandingkan manuskrip MS Ii.6.45 dengan Tarjuman al-Mustafid. Ia menyimpulkan dua point penting titik beda antara keduanya. Pertama, tafsiran dalam manuskrip ini sangat bebas, tidak terkesan merujuk pada satu referensi manapun. Berbeda dengan Tarjuman al-Mustafid yang kaku mengikuti pola tafsir al-Jalalayn. Kedua, ketika berhadapan dengan teks ayat yang sulit, penulis manuskrip ini menggunakan tafsir al-Khazin sebagai sebagai sumber penafsiran. Ini berbeda dengan Tarjuman al-Mustafid, yang merujuk ke tafsir al-Khazin bukanlah Abdurrauf al-Singkili, melainkan muridnya Dawud Rumi.

Keterbukaan penafsiran yang terdapat dalam manuskrip MS Ii.6.45 menunjukkan era kebebasan berfikir di Aceh awal abad ke-17. Keadaan ini tentu saja bertentangan dengan ideologi Nuruddin al-Raniri yang sunni dan anti mistisme. Seandainya karya ini tidak dibawa oleh Thomas Erpenius, mungkin saja akan menjadi abu dibakar otoritas al-Raniri. Kasus ini tentu akan berbeda bila sekedar saduran terhadap karya tafsir berbahasa Arab.

Fakta ini menunjukkan tentang pergeseran wacana keagamaan di Aceh abad ke-17, dari kebebasan berfikir menjadi lebih konservatif dan kaku. Kondisi ini menguntungkan karir Abdurrauf al-Sinkili pasca al-Raniri. Kenyataan ini membuat empat sultanah Aceh bersimpati pada al-Sinkili hingga wafatnya 1693. Selain itu, Tarjuman al-Mustafid tampaknya dijadikan sebagai panduan pedagogik untuk masyarakat umum sehingga bahasa dan kandungan materinya tidak terlampau sulit.

Keberadaan manuskrip MS Ii.6.45 mengindikasikan telah terjadi usaha penafsiran sebelum abad ke-17, atau paling minimal karya-karya tafsir berbahasa Arab seperti tafsir al-Khazin dan al-Baydhawi telah beredar dan menjadi panduan pengajaran tafsir al-Qur’an di Nusantara, khususnya di Aceh. Diperkirakan pula banyak karya-karya serupa di Aceh, tetapi tidak mampu terselamatkan dengan baik, terutama karena faktor pemusnahan al-Raniri dan faktor ketahanan kertas yang tidak mampu bertahan lebih lama di iklim tropis Asia Tenggara.

Bahan Bacaan:

Peter G. Riddel, “Earliest Quranic Exegetic Activity in the Malay Speaking States”, Archipel, Vol. 38, 1989.

S. Van Ronkel, Account of Six Malay Manuscript of The Cambridge University Library, tanpa tahun.

R. Michael Feneer, “Notes Towards the History of Qur’anic Exegesis in Southeast Asia, Studi Islamika: Indonesian Journal for Islamic Studies 5(3), 1998.

Tinggalkan Balasan