Kerajaan Mataram Islam pernah menjadi kerajaan Islam terbesar di Nusantara sekitar abad ke-17. Mataram Islam terlihat kuat dan kekuasaannya luas saat dipimpin oleh Raden Mas Rangsang atau biasa dikenal dengan nama Sultan Agung Hanyakrakusuma. Sultan Agung memindah memindahkan Ibukota kerajaan dari Kotagede ke Kerta, yang saat ini merupakan salah satu dusun di Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Setelah Sultan Agung meninggal dunia, tahta Mataram Islam jatuh ke tangan anaknya bernama Raden Mas Sayidin atau dikenal dengan Amangkurat I. Amangkurat I memindahkan Ibukota kerajaan dari Kerta ke Plered (Pleret). Pemindahan tersebut tidaklah jauh, hanya beberapa ratus meter di wilayah timur Kerta. 

Istana (keraton) Kerta yang sebagian besar terbuat dari kayu, diratakan dengan tanah. Sehingga, saat ini sulit dicari di mana letak sebenarnya keraton Kerta berada. Bukti reruntuhan yang ditemukan adalah sebuah penyangga tiang (umpak) yang terbuat dari batu dan bongkahan batu berbentuk persegi yang saat ini bisa dilihat di dusun Kerta.

Berbeda dengan Kerta, Keraton Pleret mempunyai lebih banyak peninggalan dan situs. Dikarenakan, bangunan Mataram Islam saat Amangkurat I bertahta, mayoritas berbahan batu bata tebal dan besar. Salah satu peninggalan yang bisa ditemukan saat ini adalah Situs Masjid Agung Kauman Pleret. 

Perintah perpindahan ibukota dari Kerta ke Pleret pembuatan batu bata dapat diketahui dalam Babad Tanah Jawi. Dalam serat itu, Amangkurat I berkata, “…semua rakyatku, kalian buatlah bata. Saya akan pindah dari Kerta, karena saya tidak mau tinggal di bekas (kediaman) ayahanda. Saya akan membangun Kota Pleret….”

Berdasarkan keterangan Babad Tanah Jawi di atas, dapat diketahui bahwa setelah Sunan Amangkurat I dinobatkan sebagai raja Mataram Islam, ia tidak ingin bertahta di Kerta bekas kediaman ayahnya, Sultan Agung. Beliau kemudian memerintahkan kepada rakyatnya untuk mencetak bata guna membangun istana baru di Pleret yang sebelumnya memang telah direncanakan sebagai bakal calon Mataram yang baru. Semenjak itu, pembangunan istana oleh Amangkurat I terus dilakukan.

Baca Juga:  Bung Karno, Api Islam dan Problem Khilafah

Masjid Agung Pleret dibangun setelah Amangkurat I pindah ke Pleret selama 2 tahun yaitu sekitar bulan Muharram tahun 1571 Jawa atau 1649 Masehi. Serat Babad Momana menyebutkan bahwa pada tahun 1571 Jawa atau sekitar 1649 Masehi adalah waktu pembangunan Masjid Agung Kauman Pleret. Pendapat ini diperkuat oleh Ricklefs yang menyatakan bahwa pendirian Masjid Agung Kauman Pleret juga disebutkan dalam Babad ing Sangkala yaitu pada bulan Muharram tahun 1571 J. Dua babad tersebut tentunya cukup untuk dijadikan dasar informasi mengenai waktu pembangunan Masjid Agung Kauman Pleret.

Menurut catatan Lons, ketika berkunjung tahun 1733 masehi, Masjid Agung Pleret berukuran besar, berbentuk segi empat namun telah mengalami kerusakan. Lons masih sempat menyaksikan masjid tersebut mempunyai tiga pintu di sebelah timur dan mempunyai serambi depan yang besar. Masjid tersebut dikelilingi tembok tebal dan tinggi.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Yogyakarta maupun Dinas Kebudayaan D.I Yogyakarta, Masjid Pleret merupakan masjid yang besar pada zamannya. Masjid ini berukuran 40 x 40 meter. Ruang utama masjid ini diperkirakan ditopang oleh empat soko guru dan beberapa tiang penyangga atau perimeter. Saat ini umpak yang masih ditemukan secara in situ (belum berpindah tempat) berjumlah 22 buah. Masjid dibangun dengan bahan bata dan batu putih dengan teknik pengerjaan tanpa spesi atau teknik kosod.

Kondisi Masjid Agung Kauman Pleret Saat Serangan Trunojoyo dan Zaman Kolonialisme

Akhir masa Keraton Pleret sebagai pusat pemerintahan Mataram Islam ditandai dengan serbuan pasukan Trunajaya yang mengakibatkan Amangkurat I meninggalkan kota itu pada tanggal 28 juni 1677 M. Setelah menguasai Pleret, Trunajaya memerintahkan untuk menghancurkan keraton Pleret, namun Masjid Agung Pleret tidak ikut dihancurkan. 

Baca Juga:  Mengenal Literatur Qur'an Generasi Awal di Indonesia

Disebutkan pula bahwa Pangeran Puger (Pakubuwono I) salah seorang putera Amangkurat I kembali ke Pleret dan berhasil merebut kerajaan dari tangan Trunajaya. Ia tinggal di Pleret hingga tahun 1644 J (1722 Masehi) kemudian pindah ke Kartasura. Alasan pemindahan ini adalah karena Keraton Pleret telah ditaklukkan. Dalam filosofi Jawa, ketika sebuah keraton ditaklukkan, maka tidak laik (layak) lagi untuk ditempati. Sejak saat itu, Keraton Pleret tidak berfungsi lagi. 

Pada masa kolonial Belanda, sekitar tahun 1860-an bekas-bekas bangunan di Pleret diambil batanya untuk membangun Pabrik Gula Kedaton Pleret. Begitu pula dengan bata Masjid Agung Pleret. Bata dan batu masjid tersebut juga diambil untuk membangun pabrik gula. Meskipun demikian, ketika Rouffaer mengunjungi tempat itu pada tahun 1889, ia masih dapat membuat peta sketsa keraton berdasarkan peninggalan-peninggalan yang masih ada. Ia memperkirakan bahwa tembok istana dulu tingginya antara 5-6 m, tebalnya 1,5 m, dan terbuat dari bata. Bagian atasnya di beri penutup berbentuk segitiga yang terbuat dari balok-balok batu putih. 

Informasi mengenai Masjid Agung kembali diketahui setelah sekitar delapan dekade kemudian yaitu tahun 1940-an. Kala itu Jepang tengah menjajah Indonesia dan membangun terowongan bawah tanah di kompleks Masjid Agung. Terowongan tersebut digunakan sebagai tempat persembunyian. 

Situs Masjid Agung Kauman Adalah Cagar Budaya

Masjid Agung Kauman Pleret adalah salah satu cagar budaya peninggalan Kerajaan Mataram Islam. Situs Masjid Kauman Pleret secara administratif berada di Dusun Kauman, Desa Pleret, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Secara astronomis terletak pada 070 51’ 53,7’’ Lintang Selatan – 1100 24’ 20,4’’ Bujur Timur dan berada pada ketinggian 57 meter di atas permukaan laut (mdpl). Lingkungan fisik Situs Masjid Kauman Pleret meliputi dataran rendah pada bentang lahan dataran fluvio gunung api yang diapit oleh dua buah sungai yaitu Sungai Gajahwong di sebelah barat dan Sungai Opak di sebelah timur.

Baca Juga:  Lilik

Mengacu pada Peraturan Gubernur D.I. Yogyakarta nomor 74 Tahun 2008, Kawasan Cagar Budaya Pleret merupakan salah satu kawasan cagar budaya kategori kelas C di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Kawasan Cagar Budaya Pleret telah menarik perhatian para pemerhati sejarah maupun arkeolog dari berbagai instansi. Penelitian di Kawasan Cagar Budaya Pleret ini sudah memasuki hampir tiga dekade yang diawali pada tahun 1976 hingga tahun 2017.

Saat ini situs tersebut terbuka untuk umum dan tidak Dipungut biaya Sepeser pun uang untuk memasukinya. Situs itu diatapi tumpukan seng yang berbentuk seperti atap joglo. Di dalamnya terdapat replika kecil Masjid Agung Kauman, tujuannya agar pengunjung dapat memperkirakan bentuk sesungguhnya masjid tersebut. Bentuknya mirip seperti Masjid Agung Kauman Keraton Ngayogyakarta saat ini.

Di sana kita bisa melihat bekas-bekas galian yang di dalamnya tersusun tumpukan bata-bata ukuran besar. Di bagian barat, terluhat bilik untuk imam yang dufah tidak utuh lagi. Di beberapa tempat terdapat umpak yang berbentuk setengah bulat, khas Masjid Agung  Kauman Pleret masa Amangkurat I.

Di dalamnya kita juga bisa melihat replika tiang-tiang masjid yang berbentuk tabung memanjang berwarna cokelat. Ukurannya diprediksi sama dengan aslinya yang di bawahnya disangga oleh replika umpak setengah bulat berwarna hitam.

Kebijakan-kebijakan Amangkurat I yang Kontroversial

Kalau berbicara tentang masjid, maka tidak terlepas dari para ulama dan masyarakat yang setiap harinya datang ke tempat tersebut. Saat Amangkurat I berkuasa, ada sejarah pahit terkait perlakunnya terhadap para ulama dan keluarganya. 

Diceritakan, saat perpindahan istana ke Pleret, diwarnai dengan pemberontakan Raden Mas Alit (Pangeran Danuproyo), adik Amangkurat I yang menentang penumpasan tokoh-tokoh senior.  Pemberontakan tersebut mendapat dukungan dari para ulama, namun berakhir dengan kematian Raden Mas Alit. Para ulama dan keluarganya yang mendukung pemberontakan tersebut, yang berjumlah sekitar 5000 orang dikumpulkan di alun-alun kemudian dibantai. Pembantaian tersebut salah satu peristiwa terkelam dari Kerajaan Mataram Islam. 

Kebijakan-kebijakannya pun banyak yabg kontroversial, apabila saat zaman Sultan Agung, kekuasaan Mataram Islam sangat luas dan ditakuti wilayah-wilayah bawahannya, maka kebalikannya saat Amangkurat I berkuasa. Pada zaman itu, terdapat banyak pemberontakan serta beberapa kabupaten melepaskan diri dari Mataram Islam. Amangkurat I juga justru lebih mementingkan perluasan, penguatan benteng, dan memperindah istananya daripada menjaga daerah bawahannya tidak lepas. 

Hubungan dengan VOC pun berbalik 180 derajat. Ketika zaman ayahandanya, Mataram Islam sangat anti dengan VOC, bahkan menyerang markasnya di Batavia (sekarang Jakarta) sebanyak 2 kali. Amangkurat I justru sebaliknya, Mataram Islam mendukung dan berkerjasama dengan VOC. Semenjak itu, keturunan-keturunan Amangkurat I tidak bisa lepas dari kerjasama dengan VOC. 

Tinggalkan Balasan