Sebelumnya saya akan menuliskan berupa catatan kecil tentang salah satu ulama besar dari sekian banyaknya ulama yang dihasilkan oleh tanah Mandailing. Mudah-mudahan nantinya, saya masih bisa menuliskan para ulama yang  berasal dari tanah ini. Saya berada dan menetap di sini pada kurun waktu yang baru, kurang lebih satu tahun, disebabkan amanah yang diberikan kepada saya untuk mendidik pada Madrasah Aliyah Negeri 1 Mandailing Natal. Saya meminta maaf jika banyak kecacatan dalam menuliskan tentang beliau Syekh Musthafa Husein al-Mandili.

Mandailing Natal atau sering disebut dengan Madina adalah sebuah kabupaten yang berada pada provinsi Sumatera Utara. Dibentuk berdasarkan Undang-undang nomor 12 tahun 1998, secara formal diresmikan oleh Menteri dalam Negeri pada tanggal 9 Maret 1999. Dalam Konstelasi regional, kabupaten Mandailing Natal berada di bagian selatan wilayah Propinsi Sumatera Utara yang secara geografis terletak pada 0°10′-1°50′ Lintang Utara dan 98°10′-100°10′ Bujur Timur dengan rentang ketinggian 0-2.145 m di atas permukaan laut di atas permukaan laut (madina.go.id).

Memiliki nama Musthafa Husein Nasution, lahir di desa Tano Bato pada tahun 1886 dan dikenal sebagai pendiri Pondok Pesantren Musthafawiyah Purba Baru. Beliau merupakan anak ketiga dari sembilan bersaudara. Ayahnya bernama Haji Husen dan ibunya bernama Hj. Halimah. Kedua orang tua Musthfa Husein terkenal taat dalam menjalankan ajaran Islam, sehingga hal itu jugalah yang menjadi cerminan bagi keluarga mereka. Seperti anak-anak pada umumnya, beliau juga menghabiskan waktunya untuk bermain dengan teman sebayanya, namun oleh teman-temannya ia dikenal sebagai seorang anak yang menjalankan perintah agama, melaksanakan salat, menhindari perkelahian dan melakukan perbuatan sehari-harinya sesuai dengan ajaran Islam. Maka tidak jarang pula, Musthafa Husein mengajarkan ilmu agama kepada teman-temannya, setelah ia mendapatkannya dari Haji Husen.

Baca Juga:  Islam Kepulauan: Ragam Ekspresi tanpa Hegemoni

Tepat menginjakkan usia 7 tahun, Musthafa Husein bersekolah di Volk School (Sekolah Rakyat) yang berada di daerah Kayu Laut, atas dasar pilihan ayahnya. Dengan masa waktu belajar lima tahun. Setelah selesai pada volk school di tahun 1898, beliau melanjutkan pendidikan ke desa Huta Pungkut. Di Huta Pungkut beliau mengenyam pendidikan agama non formal. Musthafa Husein dipertemukan dengan Syekh Abdul Hamid Lubis selama kurang lebih tiga tahun. Pembelajaran bersama Syekh Abdul Hamid adalah cikal bakal yang membawanya menjadi seorang ulama besar. (Abbas Pulungan, 2012) menyebutkan bahwa “atas bimbingan Abdul Hamid muncul lah semangat pada diri Musthafa Husein untuk memperdalam ilmu agamanya di Makkah. Pada akhirnya di tahun 1900, Musthafa Husein melanjutkan studinya ke Makkah dan pergi bersama rombongan jamaah haji yang berasal dari Mandailing.

Beliau mendalami ilmu agama Islam di Makkah dalam kurun waktu 1900-1912. Sebenarnya, pendidikan beliau sudah selesai pada tahun 1907, namun Musthafa Husein masih sangat ingin memperdalam ilmu agamanya sampai dengan tahun 1912, yang membuatnya berada di Makkah selama kurang lebih dua belas tahun lamanya. Beliau juga sempat mengajar di sana, terutama mengajar untuk mereka jamaah haji yang berasal dari Mandaling. Begitupun komunikasi yang ia bangun untuk menitipkan kabar dirinya bersama keluarganya dititipkan kepada mereka para jamaah haji dari tanah Mandailing, sebab selama dua belas tahun lamanya, Musthafa Husein tidak pernah pulang ke Mandailing.

Dalam pendidikannya, saya mencoba mempetanyakannya kepada salah satu santri yang sudah senior pada ponpes Musthafawiyah, mengenai bidang yang dikuasai oleh Syekh Musthafa Husein al-Mandili, santri itu menjawab bahwa bidang keilmuan yang dimiliki beliau meliputi Ulumul Qur’an, Ulumul Hadis, Mustolahul Hadis, Ilmu Tafsir, Bahasa Arab, Tata Bahasa (Nahwu dan Saraf), Fiqh, Ilmu Fiqh, Falak, dan Tasawuf. 

Mendirikan Musthafawiyah Purba Baru

Baca Juga:  Islam Kepulauan: Ragam Ekspresi tanpa Hegemoni

Setelah kepulangannya dari Makkah pada tahun 1912, beliau langsung mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat, khususnya pada wilayah Tano Bato. Pendidikan agama itu ia ajarkan di masjid Jami’. Sebelumnya pada masjid ini memang sudah ada pengajian yang dipimpin oleh Syekh Muhammad yang juga pernah mengenyam pendidikan agama di Makkah. Di tahun yang sama juga, beliau menikah dengan wanita yang bernama Habibah, wanita yang berasal dari Huta Pungkut. Mereka dikaruniai oleh dua orang anak laki-laki dan delapan orang anak perempuan.

Disebabkan permintaan pada masyarakat Tano Bato untuk mengajarkan agama bagi mereka dan anak-anaknya, Mustafa Husein akhirnya menerima dan mengajar pada maktab yang telah didirikan masyarakat. Pembelajaran dilakukan dengan model halaqah (duduk bersila mengelilingi guru). Mereka yang mengikuti pendidikan agama yang dibawakan oleh Mustafa Husein diwajibkan membawa sebuah catatan. Pegajian ini hanya berjalan selama kurang lebih tiga tahun lamanya (1912-1915), disebabkan maktab yang didirikan oleh masyarakat itu hancur oleh banjir bandang. Walaupun demikian, tidak membuat Mustafa Husein surut dalam mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat. Beliau akhirnya memutuskan pindah ke lokasi Purba Baru dan melanjutkan pengajian yang sebelumnya dilakukan di Tano Bato.

Setelah pindah ke Purba Baru, pada tahun 1916 murid-murid Mustafa Husein kian bertambah banyak, mereka juga sampai mendirikan gubuk-gubuk atau biasa mereka sebut dengan banjar untuk tempat tinggal para santri. Jika kita berkunjung kesana, maka kita akan disuguhi oleh pemandangan yang unik, berupa gubuk yang didirikan oleh para santri, disetiap pinggiran jalan Purba Baru, bahkan ada yang sampai berada di atas tanah bebukitan. Beberapa diantara tempat berdirinya gubuk para santri, merupakan tanah yang diwakafkan masyarakat kepada mereka para santri. Pesantren Musthafawiyah Purba Baru merupakan pondok pesantren dengan model salaf. Pendidikan pada pesantren Musthafawiyah sangat mendalami kitab ulama-ulama salaf terdahulu, dan besar kemungkinan mereka menutup diri terhadap pemikiran modern. Mengingat kitab yang mereka gunakan dalam pembelajaran.

Baca Juga:  Islam Kepulauan: Ragam Ekspresi tanpa Hegemoni

Kepindahan Syekh Musthafa Husein al-Mandili ke Purba Baru menjadikan pesantren yang ia rintis telah berkembang pesat dan hingga saat ini masih berdiri megah. Musthafawiyah Purba Baru kini dilanjutkan oleh cucunya H. Mustafa Bakri Nasution. Pesantren Musthafawiyah telah berdiri 1 abad lebih lamanya, dan membuatnya termasuk salah satu pesantren tertua di Sumatera. Tercatat untuk saat ini, pesantren Musthafawiyah Purba Baru memiliki kurang lebih 10.000 santri dan santriwati aktif, dan telah memiliki puluhan ribu alumni yang telah tersebar di seluruh Indonesia. Diantara para alumni juga melanjutkan studi ke Mesir, Makkah, Sudan, Yordania, Suriah, India, Pakistan, dan lain sebagainya.

Tinggalkan Balasan