Menjelang pertengahan abad ke 13, tasawuf merupakan corak yang dominan dalam dunia Islam, pada fase itu pula lah dapat dikatakan bahwa tarekat mencapai puncak kejayaannnya, hingga dalam proses islamisasi di Indonesia menampakkan hasilnya secara budaya dan politik (Bruinessen, 1996). Hal ini juga yang menjadi sebuah landasan bahwa proses islamisasi di Nusantara tentunya tidak terlepas dari peranan besar para sufi, yang mampu menembus batas politik hingga mengislamkan raja-raja di Nusantara.

Masyarakat Nusantara yang oleh para sufi memeluk Islam, tidak sedikit dari masyarakat itu melanjutkan studi keagamaan pada pusat-pusat peradaban Islam, seperti Makkah, Madinah, dan Mesir. Diantara mereka nantinya akan lahir ulama-ulama Nusantara yang hebat dan termasuk dalam jaringan ulama dunia. (Azra, 2006) menjelaskan bahwa “mereka masuk dalam jaringan ulama dunia Islam, yang peran sebagian mereka tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di wilayah lainnya. Para ulama Nusantara di Haramayn, setelah menuntut ilmu beberapa dari mereka kembali ke tanah air, namun tidak sedikit pula dari mereka yang menetap di Haramayn.” Mereka yang kembali ke tanah air, melanjutkan pengabdiannya dengan mendirikan berbagai lembaga-lembaga keagamaan, misalnya madrasah, pesantren, tarekat, dan persulukan. Maka dengan melihat lebih dalam, tarekat yang merupakan bahagian dari tasawuf memiliki posisi penting dalam penyebaran Islam di Nusantara.

Tarekat dan Perkembangannya

Kata Tarekat berasal dari bahasa Arab yaitu “thariqah” yang memiliki arti jalan, keadaan, aliran atau garis pada sesuatu.Imron Aba memberikan definisi luas mengenai tarekat sebagai jalan atau petunjuk untuk menjalankan ibadah yang sesuai dengan ajaran Rasulullah dan dicontohkan olehnya, sehingga diikuti oleh para sahabat, tabi’in, turun temurun sampai kepada guru-guru, ulama secara bersambung dan jelas silsilahnya. Ringkasnya bahwa yang dimaksud dengan tarekat adalah praktik ibadah oleh para sufi untuk membuat dirinya sedekat mungkin dengan Allah swt.

Baca Juga:  Tafsir Tertua di Nusantara: Manuskrip Tafsir Surah al-Kahfi Abad Ke-17

Ditinjau dari sudut historis, kapan dan darimana tarekat mula-mula timbul menjadi sebuah lembaga sangat sulit diketahui dengan pasti. Walau demikian, Harun Nasution menyebutkan tasawuf berkembang setelah Al- Ghazali menghalalkannya, ketika sebelumnya dikatakan sesat. Ilmu tasawuf berkembang disebabkan oleh adanya tarekat. Tarekat yang dimaksudkan adalah sebuah organisasi dari pengikut sufi-sufi besar yang bertujuan untuk melestarikan ajaran-ajaran tasawuf gurunya. Tarekat ini memakai suatu tempat pusat kegitan yang disebut ribat (disebut juga zawiyah, hangkah atau pekir). Ini merupakan tempat para murid berkumpul melestarikan ajaran tasawufnya, ajaran tasawuf walinya, dan ajaran tasawuf syaikhnya.

Oleh (Asmaran As, 1994) dijelaskan perkembangan tasawuf terbagi bagi menjadi empat periode. Yaitu periode pertama pada abad ke 1 dan 2 H, periode kedua abad ke 3 H dan 4 H, periode ketiga abad ke 5 H, dan periode keempat abad ke 6 H, dan seterusnya.” Pembagian pada periode ini tentunya berdasarkan proses perubahan yang ada pada masyarakat Islam, dipengaruhi oleh fenomena yang ada dari setiap generasinya. Sehingga melahirkan berbagai macam tarekat pada masing-masing generasi.

Tarekat di Mandailing Natal

            Adanya tarekat di Mandailing Natal (Madina) merupakan sebuah gambaran terhadap perkembangan dan penyebaran Islam di Mandailing Natal atau biasa disebut dengan Madina. Madina mempunyai ragam julukan yang membuat daerah ini terlihat khas dengan corak dan identitas keislamannya, mulai dari ‘kota santri’, ‘rumahnya para ulama’, ‘kabupaten taat beribadat’, ‘kota seribu masjid’, bahkan julukan ‘serambi Makkah’ juga tersemat untuk daerah ini. Julukan yang demikian itu memang pantas disematkan pada kabupaten ini, sebab banyaknya ulama yang dihasilkan oleh daerah ini, dan diantara para ulama yang berasal dari Madina tidak hanya berkiprah di daerahnya saja, melainkan para ulama itu turut berkiprah pada negeri Malaya/Melayu (Malaysia saat ini), hingga Makkah. Dan diantara mereka para ulama tersebut mayoritasnya memahami sekaligus menguasai ilmu tasawuf, mendirikan sebuah tarekat atau persulukan untuk masyarakat. Sehingga tidak jarang pula diantara mereka, sebagai guru-guru tarekat dianggap para jamaahnya merupakan ‘wali Allah’ yang memiliki berbagai macam kelebihan dibandingkan dengan manusia biasanya. Hal ini dapat dilihat ketika masyarakat bertawasul kepada mereka, menziarahi makamnya dengan mengharap keberkahan, serta tidak sedikit pula yang minta untuk didoakan.

Baca Juga:  Sejarah Pinggiran: Datu Sumangerukka Perintis Lembaga Pendidikan Islam di Desa Rompegading

             Tarekat Naqsabandiyah merupakan berasal dari nama seorang pendiri tasawuf yang terkenal Muhammad bin Muhammad Baha’ al-Din al-Uwais al-Bukhari Naqsyabandi lahir 1318 M dan wafat 1389 M. dilahirkan di sebuah desa Qashrul Arifah kurang lebih 4 mil dari Bukhara tempat lahirnya Imam Bukhari. Ciri menonjol dari tarekat Naqsyabandiyah adalah mengikuti syariat secara ketat, keseriusan dalam beribadah yang menyebabkan penolakan terhadap musik dan tari, dan lebih menyukai berdzikir dalam hati, lalu upaya yang serius dalam memengaruhi kehidupan dan pemikiran golongan penguasa serta mendekati Negara pada agama (Fuad Said, 1996).   

Lalu (Azra, 1994) menjelaskan mengenai asal muasal tarekat Sammaniyah “pendiri tarekat ini bernama Muhammad bin’ Abd al-Karim al-Qadiri al-Hasani al-Samman al-Madani. Beliau dilahirkan di Madinah pada tahun 1719 M, dan meninggal di kota yang sama pada tahun 1776 M. A1-Samman mengajar di Madrasah Sanjariyah, yang didatangi banyak murid dari negeri-negeri jauh. Ia diriwayatkan pernah bepergian ke Yaman dan Mesir pada tahun 1760 M. untuk mendirikan cabang-cabang tarekat Sammaniyah.” Salah satu ajaran tarekat Sammaniyah adalah tawassul, yaitu meminta keselamatan atau dikabulkannya hajat dengan menyebut nama al-Samman. Tarekat Sammaniyah juga terkenal dengan zikirnya yang keras dengan suara melengking. Disamping itu, para pengikut Sammaniyah ditekankan untuk memurnikan tauhidnya, memperbanyak ibadah, dan memperbaiki tingkah laku sesuai dengan ajaran Tuhan. Kedua tarekat ini, Naqsyabandiyah dan Sammaniyah merupakan tarekat yang paling menonjol dan dominan diikuti oleh masyarakat Madina.

Masyarakat Madina merupakan masyarakat dengan mayoritas pemeluk agama Islam. Keberadaan tarekat pada kabupaten ini, menjelaskan kepada kita bahwa ajaran Islam telah berkembang di dalamnya. Beberapa desa di Madina yang terkenal dengan tarekatnya yaitu,  Simaninggir, Saba Purba, Maga, Huta Godang, Huta Tinggi, Tombang Kaluang, Hatupangan, Ampung Julu, Banjar Malayu, Aek Nabara, Manisak, dan lain sebagainya. Dari banyaknya desa, Simaninggir merupakan salah satu contoh bahwasanya desa ini memiliki dua tarekat secara langsung yaitu Naqsyabandiyah dan Sammaniyah. Kedua tarekat ini dibawakan oleh Syekh Bahauddin pada tahun 1930 M. Sebelumnya beliau berguru di desa Tolang, kemudian mengamalkannya kepada keluarganya. Sehingga ketika beliau wafat, Syekh Mukhtar anaknya lah yang meneruskan.

Baca Juga:  Masjid Agung Kauman Pleret dan Kebijakan Kontroversial Amangkurat I

Di tangan Syekh Mukhtar, tarekat ini dianggap cukup berkembang, sebab tercatat murid yang dimiliki oleh tarekat ini kurang lebih telah berjumlah seratus orang, dan tidak dapat di identifikasi mengenai dominan marga apa saja yang bergabung pada tarekat ini, namun yang pasti tarekat ini diisi oleh berbagai jamaah dengan latar belakang dan daerah asal yang berbeda. Tarekat ini aktif melakukan ritual pada bulan Sya’ban, Ramadhan, dan bulan Haji. Tempat pelaksanaan tarekat ini berada di ruangan tertutup, dilakukan di rumah Syekh Mukhtar. Jamaah yang dimiliki oleh tarekat ini terdiri dari laki-laki dan perempuan. Tarekat telah memberi mereka sebuah jalan untuk selalu dekat dan ingat kepada Tuhan. Keberadaan tarekat tidak ubahnya seperti sebuah spirit untuk menjaga akidah pemeluknya hingga sampai ke pelosok negeri.

Tinggalkan Balasan