Islam adalah agama yang kedatangannya selalu membawa pembebasan bagi masyarakatnya. Kehadiran Islam pada awal penyebarannya di kota Mekah Al-Mukarromah mampu menyelesaikan persoalan-persoalan rasisme, hedonisme dan brutalisme. Agama yang dipahami dan diimplementasi nilai-nilainya, pasti tidak akan keluar dari konsep kemanusiaan dan penghambaan kepada pemiliknya.  Eksistensi Islam sebagai agama yang norma-norma dan nilai-nilai otentisitasnya terbingkai dalam kitab suci untuk konsisten menjunjung kemaslahatan pluralistik dan heterogenitas. Oleh sebab itu, menurut Fazlur Rahman, Islam pada hakikatnya merupakan dokumen keagamaan dan etika yang bertujuan praktis menciptakan masyarakat yang bermoral dan adil (Fazlurrahman, 2010:30)

Ekspresi keberagamaan di setiap tempat pasti memiliki perbedaan yang signifikan, baik dalam ritual-ritual wajib dan sunnah,seperti halnya sholat taraweh dan witir pada bulan Ramadhan. Di Yogyakarta, misalnya, formasi-sistematis empat-empat dan tiga raka’at(4-4-3) lebih jamak ditemui. Sedangkan di kalangan masyarakat Muslim pulau Lombok, formasi dua-dua dan tiga raka’atakan lebih banyak dijumpai. Refleksi keberagamaan semacam ini tidak luput dari pengaruh ideologi dan sosio-kultural masyarakat, yakni kaum Muslim perkotaan dan pedesaan. 

Dalam ingatan saya, paling tidak menjelang tahun 2000-an, nuansa keberagamaan di pulau Lombok sebelum derasnya pengaruh modernisme, intonasi Islam kultural masyarakat pesisir masih dilestarikan secara kolektif. Kita jarang sekali menemui konflik antar masyarakat perihal ziarah kubur pada malam akhir bulan Ramadhan, tahlilan sebelum dan pasca-Ramadhan di  masjid-masjid kampung, budaya tadarrus al-Qur’an dan tradisi panggilan sahur. Dengan demikian, saat itu religiusitas masyarakat Lombok dalam rangkaian perayaan ibadah puasa Ramadhan menjadi unik sebagai sebuah identitas keislaman: identity description. Mengutip Cassanova, dengan istilah “derivatisasi agama” ia menjelaskan bahwa fakta bahwa agama menolak untuk ditempatkan di posisi marjinal sebagaimana dikehendaki oleh teori modernitas dan sekularisasi modern. Akulturasi budaya dalam implementasi agama terhadap interaksi sosial tidak selalu dibingkai dengan ruang modernitas (Cassanova, 1994:5).

Baca Juga:  Puasa dan Pesan Eco-religious di Baliknya

Belakangan ini,  modernitas seolah menjadi “bom waktu”, yakni ketika produk modernitas dapat mengimitasi gaya hidup kian berwarna. Modernitas tidak hanya menghasilkan kemudahan dalam mengkases kesejahteraan dan kemakmuran, namun di sisi lain, ia juga mengubah perilaku sosial masyarakat Muslim dari sumber agamanya. Hal ini terutama disebabkan oleh kecepatan informasisehinggakonstruksi sosial masyarakat bukan hanya berasal dari interaksi sosial, melainkan konstruksi media auditif sampai audio visual seperti radio, televisi dan media sosial. 

Konstruksi sosial dalam kasus Islam-Lombok jelas adanya relasi otoritas antara Tuan guru dan jama’ahnya. Namun, di zaman modern ini, otoritas kearifan lokal, tradisi keberagamaan dan identitas sosial telah dipengaruhi oleh konstruksi media. Sebagaimana yang dipetakan Berger, bahwa konstruksi media dapat membentuk masyarakat dalam tiga proses, yakni eksternalisasi, objektivasi dan internalisasi (Sobur, 2013:69). Hal ini, mengindikasikan bahwa akan terjadi semacam beyond otoritarianyang menyebabkan kesamaran kebenaran (post-truth). Dalam kaitan itu, fenomena baru ini akan menyebabkan konsumsi keagamaan masyarakat menjadi gaya hidup semata. Prinsipnya, jika belajar ilmu agama di media sosial dengan adanya ruang publik baru, ulama baru dan audien baru, maka akan tercipta ibadah yang bersifat simulasistis. Karena memilih guru agama tidak secara selektif.

Dalam konteks itu, saya tertarik dengan istilah yang digunakan oleh Munirul Ikhwan, tentang “islamisme”. Menurutnya, istilah tersebut mengalami metamorfosis yang terpupuk melalui literatur keagamaan Islam. Media internet agaknya juga tidak bisa diabaikan, karena ia telah menjadi salah satu kanal yang paling produktif membentuk wacana keislaman, untuk selanjutkan mengalami proses transmisi dan diseminasi di ruang publik yang kuat. Terutama sekali ketika memperhatikan bahwa aktor atau produsen utama wacana keagamaan di media internet ini didominasi oleh apa yang bisa diistilahkan sebagai “santri baru”, yaitu adalah kalangan terpelajar baru yang tidak murni merepresentasikan tradisi keilmuan pesantren (Ikhwan, 2018:71).

Baca Juga:  Refleksi 107 Tahun Muhammadiyah: Mendidik Masyarakat Miskin Urban di Indonesia (Bagian 2)

Media agaknya berperan penting dalam kemunculnya kaum islamisme gaya baru ini. Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan media dalam mengonstruksi tatanan sosial sangat signifikan. Oleh karenanya, promosi ‘hijrah instan’ sebagai tiket “surgasentris” cenderung mendelegitimasi ke-islaman masyarakat Sasak yang notabene tumbuh dalam kultur pesantren. Proliferasi pemahaman islamis-jihadi di Lombok tentu saja ditunjang oleh arus modernitas, terutama melalui massifnya konten-konten keislam di media. Oleh karenanya, menurut saya,  perlu adanya kolaborasi antara kaum intelektual dan agamawan dalam upaya penyaringan ideologi tersebut, yakni dengan bersama-sama merumuskan metode dakwah baru dengan melakukan proses kreatif mengakulturasikan kearifan lokal, nilai-nilai agama, dan atribut modernitas sebagai media dakwah dalam mempublikasikan Islam yang ramah dan tamah.

Tinggalkan Balasan