Bugis merupakan salah satu dari puluhan etnik yang mendiami pulau Sulawesi. Khusus di Sulawesi Selatan, terdapat belasan etnik selain Bugis seperti Makassar, Mandar, Toraja dan sebagainya. Walaupun bahasa mereka berasal dari sub-rumpun bahasa yang sama yaitu Austronesia Barat, masing-masing etnik memiliki bahasa percakapan yang berbeda dan mereka tidak memahami bahasa etnik yang lain ketika berkomunikasi (Pelras, 2006). Bahkan, bahasa Bugis yang digunakan pada masing-masing daerah memiliki perbedaan yang disebut dialek. Penelitian linguistik menunjukkan setidaknya ada sebelas dialek dalam bahasa Bugis.

Sama halnya di belahan Nusantara yang lain, para tokoh agama di Bugis atau yang dikenal Anregurutta (disingkat AG) juga menyusun tafsir Alquran dalam bahasa lokal. Aksara lokal yang digunakan disebut Lontarak Ogi’ yang terdiri dari 22 suku kata, 1 huruf dan 5 tanda bunyi (Rustan, 2018). Sebenarnya, ada banyak karya yang ditulis sejak masuknya Islam di tanah Bugis, namun penulisan tafsir Alquran baru berkembang di awal abad 20 terutama setelah datangnya ulama kelahiran Mekkah keturunan Bugis, yaitu AG. H. Muhammad As’ad (1907-1952) di tanah Bugis pada tahun 1928 M.

Murid-murid hasil didikan beliau kemudian membentuk jaringan ulama di Sulawesi Selatan abad ke 20. Walaupun AG. H. Muhammad As’ad tidak memperkenankan membuka cabang pesantren yang beliau dirikan di Wajo, tetapi beliau mengijinkan para muridnya untuk membangun pesantren masing-masing di berbagai daerah, seperti di Mangkoso, Pare-pare, Soppeng, Bone dan lain-lain. Para tokoh agama yang pernah berguru kepada beliau ini dikemudian hari menulis sejumlah karya tafsir Bugis.

Semenjak awal abad 20 inilah bermunculan sejumlah karya terjemahan dan tafsir Alquran dalam bahasa lokal Bugis (Muhsin, 2015). Di antaranya, AG. H. Muhammad As’ad (1907-1952) pendiri pesantren As’adiyah yang memiliki sekitar 22 karya, menulis tafsir Bugis yang berjudul Tafsir Surah ‘Amma bil Lugah al-Bugisiyah. Murid beliau generasi awal yaitu AG. H. Muhammad Yunus Martan (1914-1986) menulis tafsir yang diberi judul dalam bahasa Arab dan Bugis, yaitu Tafsir al-Qur’an al-Karim bi Qalam al-Haj Muhammad Yunus Martan dan Tafsere Akorang Bettuan Bicara Ogi Buah Kallanna Hajji Muhammad Yunus Martan pertama kali terbit 1958.

AG. H. Abdul Qadir Khalid (1920-1994) pendiri Ma’hadud Dirasatil Islamiyah wal Arabiyah (MDIA) di Makassar, menulis Tafsir  al-Quran al-Hakim bi Qalam Hajji Abdul Kadir Khalidi atau Tafserene Akorang Malebbi’e Mabasa Ugi Ukina Hajji Abdul Kadir danterbit cetakan kedua 1971. Karya ini merupakan tafsir surah al-Fatihah yang terdiri dua jilid.  AG. H. Muhammad Abduh Pabbaja (1918-2009) pendiri pesantren di Pare-pare menulis tafsir dengan judul Tafsir Al-Qur’an al-Karim bil Lughah al-Bugisiyah. Karya yang diterbitkan tahun 1977 ini sering disebut dengan tafsir Juz ‘Amma walaupun hanya menafsirkan enam surah pendek; al-Fatihah, al-Nas, al-Falaq, al-Ikhlas, al-Lahab, dan al-Nasr. Pada tahun 1979, beliau juga menerbitkan dua karya tafsir dalam bahasa Bugis, yaitu Tafsir Surah al-Ahqaf dan Tafsir Surah Muhammad.

AG. H. Daud Ismail (1908-2006) pendiri pesantren Yayasan Perguruan Islam Beowe (YASRIB) di Soppeng menulis Tafsir Munir 30 Juz dalam bahasa Bugis. Dalam proses penulisan tafsir ini, AG. H. Daud Ismail harus menafsirkan lebih awal juz ‘amma untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Setelah itu, beliau menyelesaikan sampai 30 juz selama 14 tahun dari 1980-1994.

Baca Juga:  Puasanya Orang-orang Urban

AG. H. Abdul Muin Yusuf pendiri pesantren Al-Urwatul Wutsqa di Sidrap juga menulis tafsir Tafsir Akorang Bahasa Ogi. Awalnya tafsir ini disusun oleh tim MUI Sulawesi Selatan yang diketuai oleh AG. H. Abdul Muin Yusuf. Karena tim yang dibentuk hanya menyelesaikan juz pertama, akhirnya AG. H. Abdul Muin Yusuf melanjutkan sampai juz terakhir dari tahun 1988-1996.

Selain karya di atas, ada pula beberapa karya terjemahan Alquran. Bagaimanapun juga, karya terjemahan adalah hasil proses penafsiran dalam bentuk yang sederhana. Di antaranya, AG. H. Hamzah Manguluang (1925-2000) melakukan penerjemahan Alquran 30 juz ke dalam bahasa Bugis dengan judul Tarejumanna Akorang Malebbi’e Mabbicara Ogi (Terjemahan Alquran Karim Berbahasa Bugis). Karya ini diterbitkan tahun 1978. AG. H. Junaid Sulaiman pendiri pesantren Ma’had Hadis Bone (sekarang pesantren Al-Junaidiyah) menulis Tarjamah Al-Qur’an dalam dua bahasa yaitu Bugis-Indonesia dan diterbitkan pada tahun 1970 (Muhsin, 2015).

Ada beberapa faktor  kenapa penulisan tafsir lebih lambat dibanding karya dalam bidang agama lainnya. Pertama, para tokoh agama lebih fokus menjelaskan ilmu tauhid, fiqih dan tasawuf kepada masyarakat. Kedua, butuh waktu lama untuk mempelajari tafsir. Ketiga, anggapan bahwa mempelajari ilmu tafsir harus hati-hati dan membutuhkan waktu yang lama membuat mereka tidak serta merta menulis tafsir lokal.

Jika dicermati, tafsir lokal Bugis lebih subur pada masa orde baru (1968-1998) di banding masa awal abad ke 20. Ada kemungkinan hal ini disebabkan pada periode sebelum orde baru, para tokoh agama dihadapkan dengan gerombolan Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang mulai beroperasi 1950 di Sulawesi. Pada masa ini, para tokoh agama di Bugis mendapat imbas dari situasi politik yang terjadi. Bahkan, terjadi penculikan beberapa tokoh agama sebagai strategi DI/TII untuk merebut simpati masyarakat, walaupun secara ideologi para tokoh agama di Bugis berseberangan dengan pihak DI/TII (Muhsin, 2015). Hal ini diungkapkan oleh AG. H Abdurrahman Ambo Dalle, yang juga menulis sekitar 30 karya dan pendiri Darud Da’wah Wal-Irsyad (DDI), ketika bercerita tentang penculikannya ke dalam hutan oleh DI/TII.

Baca Juga:  Yang Tersisa Dari Ramadhan: Media dan Budaya Populer Muslim Kepulauan

“Kami berada di tengah-tengah pasukan DI/TII yang tidak sependapat dengan aliran yang kami anut, ahlus-sunnah wal-jamaah. Sebagian besar anggota pasukan Kahar Muzakkar (DI/TII) tidak menghiraukan mazhab. Maka, tidak mengherankan jika sering timbul konflik mengenai paham keagamaan antara kami dan mereka…” (Nasruddin, 2009).

Pada kondisi tersebut aktivitas penulisan tafsir Alquran menjadi terhambat sampai akhirnya pada masa orde baru situasi politik dan keamanan mulai kondusif. Namun, penyebaran penafsiran masih bisa dilakukan dengan rubrik khusus tafsir Alquran dalam majalah bulanan, Risalah al-As’adiyah. Majalah inidiasuh oleh AG. H. Daud Ismail dan sahabatnya AG.H. Muhammad Yunus Martan dan AG. H. Hamzah Manguluang. Selain melalui media cetak, pengajian-pengajian juga menjadi media untuk menyampaikan tafsir Alquran kepada masyarakat.

Pada tahun 1968 AG. H. Yunus Martan memprakarsai pendirian stasiun radio yang bernama PT Radio Suara As’adiyah yang jangkauannya mencapai beberapa kabupaten di derah Bugis. Radio ini kemudian mejadi media dakwah dan sosial terutama pengajian-pengajian di masjid dan pesantren As’adiyah (Kadir, 2005). Tentunya, melalui media radio ini pula pengajian tafsir Alquran yang juga menggunakan bahasa Bugis bisa disebarkan ke masyarakat luas.

Tinggalkan Balasan